NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Fragmen Kosong

[FRAGMEN I: DUNIA — PUKUL 21.00 WIB]

Layar raksasa di Times Square mendadak hitam, sebelum berubah menjadi barisan kode hijau yang statis. Di London, bursa saham ditutup paksa setelah ribuan klaim kepemilikan aset minyak mentah menguap dalam satu detik.

Dunia sedang menahan napas. Chernobog bukan sekadar virus; ia adalah penghapus sejarah finansial. Di berita internasional, wajah Zerya Omerly muncul sebagai Most Wanted, namun hanya dalam hitungan menit, foto itu pixelated dan hilang dari database Interpol.

Seseorang telah menekan tombol delete pada eksistensi seorang manusia.

[FRAGMEN II: JAVIAN — LANTAI 24 TALANDRA GROUP]

Asap putih granat masih menyisakan bau belerang yang mencekik. Javian berdiri di tengah ruang server yang mati total, menatap Silas Vane yang duduk bersandar di rak server, terbatuk darah, namun masih sempat memperbaiki letak kerah jasnya.

"Di mana dia, Silas?" suara Javian rendah, bergetar oleh kemarahan yang belum pernah ia tunjukkan. Ia mencengkeram kerah baju Silas, mengangkatnya hingga kaki pria itu menggantung.

Silas tertawa, suara parau yang terdengar seperti gesekan amplas. "Kau datang terlambat, Javian. Mahakaryamu... dia tidak diculik. Dia tidak mati."

"DI MANA DIA?!"

Silas menatap mata Javian, pupil abu-abunya berkilat puas. "Dia melarikan diri dari dunia yang kau bangun untuknya. Kau ingin dia jadi ratu, tapi kau lupa... ratu butuh kerajaan. Dan dia baru saja membakar kerajaannya sendiri hanya untuk memastikan kau tidak bisa lagi mengaturnya."

Javian melepaskan cengkeramannya. Silas jatuh merosot ke lantai. Javian menatap tangannya yang gemetar. Ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kematian: Zerya tidak menghilang untuk selamat. Zerya menghilang untuk memutus rantai dari Javian.

"Dia bebas, Javian," bisik Silas. "Dan sekarang, kau adalah satu-satunya orang yang masih terikat pada bangkai Talandra ini."

[FRAGMEN III: ZERYA — TEMPAT YANG TIDAK ADA DALAM PETA]

Zerya membuka matanya. Suara pertama yang ia dengar bukan sirene atau helikopter, melainkan suara tetesan air yang jatuh ke lantai beton yang lembap. Paru-parunya terasa terbakar sisa gas asap.

Ia berbaring di atas tempat tidur besi yang keras. Di sudut ruangan, seorang pria tua duduk merokok pipa, wajahnya penuh kerutan sejarah, mengenakan jaket trench coat kumal.

"Chernobog," pria itu bicara tanpa menoleh. "Sudah lama aku tidak mendengar melodi itu. Javian benar-benar gila memberikan kunci itu padamu."

Zerya mencoba duduk, kepalanya berdenyut.

"Siapa kau?"

"Panggil saja aku Arkhiv. Aku adalah alasan kenapa Javian masih hidup di Praha delapan tahun lalu," pria itu berdiri, berjalan mendekati Zerya dan melemparkan sebuah amplop cokelat ke pangkuannya.

Zerya membuka amplop itu. Di dalamnya ada paspor biru tanpa logo negara yang ia kenal, kartu kredit tanpa nama, dan sebuah kunci lama.

"Identitas barumu," ucap Arkhiv. "Di sana tertulis namamu adalah Nadia. Nama yang cukup umum untuk seseorang yang ingin menghilang di kerumunan."

Zerya menatap paspor itu. Ia menyentuh foto dirinya yang tampak dingin, tanpa emosi. Ia mengingat wajah CEO Zerya yang memakai setelan merah darah dan putih gading. Ia mengingat bau parfum mahal dan ruang rapat yang wangi cendana.

"Nadia..." Zerya membisikkan nama itu, lalu ia melemparkan paspor itu kembali ke meja. "Nama ini... terlalu lemah. Terlalu banyak harapan di dalamnya."

Arkhiv berhenti di ambang pintu, menaikkan alisnya. "Lalu kau ingin dipanggil apa? Di dunia bawah, nama adalah harga dirimu."

Zerya berdiri, meskipun kakinya masih lemas. Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak di dinding. Rambutnya berantakan, wajahnya kotor, tapi matanya... matanya sekarang memiliki kegelapan yang sama dengan Javian.

"Panggil aku Vesper," ucap Zerya, suaranya tajam dan final. "Bintang malam yang muncul saat semua cahaya sudah mati."

Arkhiv tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang hampir menyerupai rasa hormat. "Bagus. Berarti kau sudah siap memilih namamu sendiri. Tapi ingat, Vesper... sekali kau keluar dari pintu ini, kau bukan lagi mangsa. Kau adalah predator yang tidak punya rumah untuk pulang."

Zerya melangkah menuju pintu, meninggalkan amplop itu. Ia tidak butuh identitas pemberian orang lain. Ia akan membangun identitasnya di atas puing-puing dunia yang baru saja ia hancurkan.

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!