"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Cookies dan Maaf yang Terlambat
[POV: Vaya]
"Mici, jangan dimakan dulu adonannya! Itu masih mentah, Sayang!" seruku sambil tertawa, mencoba menangkap tangan mungil Mici yang sudah berlumuran tepung.
Dapur yang biasanya rapi dan dingin kini berubah menjadi medan perang putih. Tepung terigu bertebaran di mana-mana—di atas meja marmer, di lantai, bahkan di pipiku sendiri. Aku sedang mencoba resep chocolate chip cookies dari buku yang kupelajari tadi siang. Aku ingin memberikan kejutan kecil untuk Narev, sebuah tanda bahwa aku benar-benar ingin tinggal.
"Cokat! Mama... mau cokat!" Mici tertawa riang, wajahnya tidak kalah cemong dariku.
Ting!
Bunyi oven menandakan batch pertama sudah matang. Aroma manis mentega dan cokelat menyerbu seluruh ruangan, membuat suasana rumah terasa jauh lebih hidup. Di saat yang bersamaan, aku mendengar suara pintu depan terbuka.
"Papa uyang! Papa uyang!" Mici berteriak kegirangan, berlari dengan kaki pendeknya menuju ruang depan, meninggalkan jejak kaki putih di lantai kayu.
Aku segera menyusul dengan tangan yang masih memegang sodet kayu dan apron yang penuh noda cokelat. Begitu sampai di ruang tengah, aku melihat Narev berdiri mematung. Dia mengenakan jas kerjanya, tas kulit di tangan kanan, dan ekspresi wajah yang sangat bingung.
"Vaya?" Narev menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kenapa jam segini sudah di rumah? Bukannya biasanya kamu lembur di butik kalau ada koleksi baru?"
Aku tersenyum sumringah, mengabaikan rasa canggung yang tersisa dari kejadian kemarin. "Sengaja pulang cepat. Aku lagi belajar bikin cookies buat kamu sama Mici. Sini, Narev! Cobain, mumpung masih hangat!"
Narev meletakkan tasnya di sofa, matanya masih menyipit tidak percaya. Dia melangkah mendekat, mengamati wajahku yang penuh coretan tepung. "Wajahmu... kenapa bisa sekacau ini hanya untuk membuat kue?"
"Eh? Masa?" aku mencoba mengusap pipiku dengan punggung tangan, tapi bukannya bersih, tepungnya malah makin merata.
Narev terkekeh pelan—sebuah suara yang sangat kurindukan. Dia menarik tanganku pelan, menghentikan gerakanku. "Sini, diam dulu. Jangan makin dikucek."
Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sapu tangan kain yang bersih. Dengan gerakan yang sangat lembut, Narev mengusap pipiku dan ujung hidungku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang baru saja pulang dari udara dingin di luar.
"Maafkan aku, Vaya," bisiknya tiba-tiba, suaranya rendah dan sarat akan penyesalan. Tangannya berhenti di pipiku, ibu jarinya mengusap kulitku dengan sangat hati-hati, seolah takut aku akan hancur jika dia menekan terlalu keras. "Tentang kemarin... aku benar-benar keterlaluan. Aku hanya... aku sangat takut kamu pergi lagi."
Aku menatap matanya yang tulus. "Aku tahu, Aku sudah memaafkanmu, Narev. Dan aku sudah bilang, kan? Aku nggak akan pergi."
Narev terdiam sebentar, lalu dia menarikku ke dalam pelukan singkat namun sangat erat. "Terima kasih... Terima kasih sudah mencoba."
Aku melihat Mici sedang mengintip dari balik pilar ruang tengah, memegang boneka kelincinya sambil tersenyum lebar melihat kami berdua. Dan saat itulah, suara jernih itu kembali bergema di kepalaku.
“Akhirnya... Papa bisa tersenyum seperti itu lagi...”
Aku tersentak. Suara hati Mici terdengar begitu lega, begitu bahagia.
“Yay! Mama dan Papa baikan....Mici suka. Semoga tidak diam-diaman lagi.. Selamanya menjadi Mama Papa Mici...”
Hatiku berdenyut sakit sekaligus hangat. Mici ternyata merekam semua ketakutan kami. Aku melepaskan pelukan Narev dan berjongkok, merentangkan tangan ke arah Mici. "Sini, Mici! Ayo kita makan kue bareng Papa!"
Mici berlari memeluk leherku dan Narev sekaligus. Narev tertawa lepas, lalu menggendong kami berdua—raksasa itu benar-benar kuat, dia mengangkat Mici di satu lengan dan merangkul bahuku dengan lengan lainnya menuju dapur.
"Ayo, kita lihat seberapa enak kue buatan si 'Cebol' ini," goda Narev sambil mengerlingkan matanya padaku.
"Heh! Enak aja! Pasti enak, tahu!" balasku sambil mencubit pinggangnya.
Sore itu, dapur kami yang berantakan menjadi saksi bahwa luka lama mulai memudar, digantikan oleh aroma manis harapan baru.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa