Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 17
Kenyataannya, tidak.
Kembali ke masa kini, Zenna akhirnya ambruk setelah berjalan lama dan tak tentu arah di bawah hujan. Kenangan buruk masa lalunya kembali menghantui, menyayat jiwanya di antara sensasi terang dan gelap yang menggulung kesadarannya.
"Na...! Zenna!"
Entah bagaimana, Zenna mendengar suara Bram sayup-sayup merasuki kepalanya. Kelopak matanya bergetar hebat saat ia berusaha melihat dunia, namun hanya bayang-bayang samar yang berpusar di sekitarnya.
"Zenna, bangun! Zenna!"
Panggilan Bram mengetuk gendang telinganya dengan nada panik. Zenna bisa merasakan sesuatu mendekap dan mengguncang tubuhnya. Hangat. Kuat.
Tetapi Zenna tak bisa menjawab. Kegelapan semakin menekannya, dalam dan dingin.
Kemudian ia tak ingat apa-apa lagi.
Ketika Zenna membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbaring menatap langit-langit terang dan putih. Tubuhnya terasa berat bagai ditimpa gundukan pasir. Aroma antiseptik lembut menyergap hidung. Terdengar irama detak jantung mengalun dari monitor di sebelah tempat tidur, dan sesuatu yang asing dan dingin menusuk punggung tangannya.
Jarum infus.
Aku... di rumah sakit?
Zenna mengerjap pelan. Netranya menangkap sesuatu yang lain.
Tak jauh darinya, Bram duduk di sofa. Tubuh besarnya condong ke depan dengan kedua siku bertumpu di lutut. Rambut lurus dan tebalnya sedikit berantakan. Kemeja putihnya kusut, dan matanya yang berkantong terpejam—seolah ia belum beristirahat berhari-hari.
"Bram...?" lirih Zenna.
Bram spontan membuka mata. Ekspresinya terkejut saat melihat Zenna sudah sadar dan bergerak lemah di atas tempat tidur.
"Kamu sudah sadar?" Bram dengan lekas dan sigap mendekat, lalu menekan tombol di dekat pembaringan Zenna.
"Kenapa kamu di sini...?" tanya Zenna lemah. Kepalanya berdenyut-denyut. "Apa yang terjadi...?"
Bram menatap tajam Zenna, rahangnya mengeras.
"Harusnya aku yang tanya--kenapa kamu pergi meninggalkan kantorku begitu saja malam itu?" tuntutnya. "Entah apa yang kamu lakukan--aku menemukanmu kehujanan dan pingsan di jalan. Sekarang diam dan jangan banyak bergerak dulu, biar dokter memeriksa kondisimu!"
Tak lama, dokter dan suster muncul untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Bram cepat.
"Kondisi Ibu Zenna sudah stabil, tetapi masih sangat lemah. Jadi sebaiknya ia tetap dirawat di sini selama beberapa hari ke depan," jelas dokter.
Bram menghela napas panjang.
"Oke. Terima kasih, Dokter."
Setelah dokter dan suster itu pergi, Bram berkata tanpa basa-basi, "Mulai detik ini, kamu dilarang pergi tanpa izinku lagi! Lihat apa yang terjadi! Kamu bisa saja celaka dan mati kalau berkeliaran tak jelas seperti itu lagi!"
Zenna memejamkan mata dan memalingkan wajah, enggan menghadapi Bram dan dunia.
"Lebih baik aku mati," gumamnya getir.
Bram menghembuskan napas kasar.
"Jangan bodoh. Kamu mau ibumu menangis di alam sana gara-gara melihatmu bersikap selemah ini? Kuatkan dirimu, Zenna!"
"Berhenti membawa-bawa ibuku. Kamu tak tahu apa-apa, Bram..."
"Kamu yang tidak tahu apa-apa!" sergah Bram dengan suara meninggi. "Apa kamu tahu, ibumu juga meninggalkan pesan wasiat untukmu?"
Zenna seketika membuka kedua matanya. Jantungnya berdetak kencang sekarang.
"Apa...?"
Bram mengeluarkan ponsel dari sakunya, menekan-nekan layarnya, lalu memutar sebuah video panjang untuknya.
Video itu menampilkan sosok Amalia terbaring lemah di kamar perawatannya yang mewah di rumah sakit, namun ia tampak menguatkan diri saat bicara perlahan dan memandang lembut ke arah kamera.
"Zenna, Sayang... Maaf selama ini Mama tak pernah mengungkap satu kebenaran padamu. Kamu adalah putri kandung Mama dan Zahir Atmaja. Hari ini, Mama dan Papa tak sengaja bertemu kembali di rumah sakit ini. Papamu juga sakit, Nak, dan seperti Mama, usianya tak akan lama..."
Netra Amalia mulai berkaca-kaca.
"Maaf jika kami harus meninggalkanmu. Maaf jika kami gagal melindungimu dan membesarkanmu dengan baik. Mama dan Papa... kami sangat menyayangimu, Nak. Kami ingin setelah ini, kamu hidup dengan baik. Layak dan bahagia. Kamu berhak mendapatkan semua itu, Sayang..."
Amalia menarik napas dalam-dalam sejenak.
"Papamu berjanji akan mewariskan seluruh hartanya padamu. Tolong jangan benci Papamu, dia tak tahu memiliki kamu sebagai darah dagingnya, karena Mama tak pernah memberitahunya hingga hari ini... jika dia tahu, dia tak mungkin menelantarkanmu dan membiarkanmu menderita... ini semua salah Mama, maafkan Mama ya, Nak... maafkan Mama..."
Bahu Amalia berguncang saat ia meneteskan air mata.
"Karena kesalahan Mama, kamu terjerumus dalam hubungan yang keliru dengan Rendy. Tapi ketahuilah, Nak, itu bukan akhir segalanya. Kamu bisa meninggalkan laki-laki itu dan meraih masa depanmu sendiri. Jangan khawatir, Nak, meski Mama dan Papa tiada, kamu tak akan hidup susah dan sendiri."
Senyum lembut kembali terkembang di bibir pucat Amalia.
"Kami sepakat berwasiat agar Bram, anak tiri Papamu, menjadi suamimu dan menjagamu seumur hidup."
Tatapan Amalia tertuju ke satu titik di balik kamera, senyumnya kian merekah.
"Mama memang baru bertemu dengan Bram hari ini, tapi Mama bisa melihat dan merasakannya... dia pria yang sangat tulus dan baik. Berani dan jujur apa adanya. Jauh lebih baik dari Rendy. Dia juga sudah berjanji pada Mama akan melindungi dan membahagiakanmu sampai akhir."
Air mata Amalia kembali mengalir, tetapi kali ini, raut wajahnya lebih bercahaya.
"Hiduplah dengan baik bersamanya, Sayang. Kamu tak perlu menanggung semuanya sendiri sekarang. Berjanjilah, kamu tak akan pernah menyerah. Berjanjilah, kali ini, kamu akan meraih kebahagiaanmu sendiri."
Pertahanan Zenna runtuh. Ia tak kuasa lagi membendung air matanya.
Amalia menutup pesan wasiatnya dengan berkata lembut, "Terima kasih sudah lahir ke dunia sebagai putri Mama. Permata hati Mama. Sumber kebahagiaan Mama. Terima kasih sudah menjadi alasan bagi Mama untuk berjuang dan bertahan sejauh ini. Hiduplah dengan baik dan bahagia, anakku. Mama menyayangimu, Zenna. Selalu. Selamanya."
Zenna menekap mulutnya, dan menangis sejadinya.
Bram mengantongi kembali ponselnya, lalu berkata perlahan, "Kamu sudah dengar wasiat ibumu... ia memintamu hidup dengan baik dan bahagia. Itulah permohonan terakhirnya."
Butuh beberapa waktu bagi Zenna hingga tangisnya mereda. Ia pun mendongak dan memandang Bram dengan wajah memerah.
"Kamu berjanji pada ibuku... untuk melindungi dan membahagiakanku sampai akhir?"
Bram mengalihkan tatapannya dalam diam, lalu mengangguk.
"Kenapa kamu berjanji seperti itu...? Apa karena ayahku yang menyuruh begitu...?"
Hening. Bram seakan menimbang kata-katanya dengan hati-hati.
"Anggap saja begitu."
Zenna menatap Bram lekat dan lama. Kepedihan kembali mengoyak batinnya.
"Tapi kamu tak harus menurutinya... apa kamu sadar apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu janjikan? Kamu tahu..."
"Ya, aku tahu," Bram mengangguk dan kali ini kembali memandang Zenna, sorot netranya memancarkan keteguhan. "Aku sudah tahu dan menimbang semua itu. Rahasia masa lalu. Juga resiko yang mungkin terjadi jika aku berjanji memenuhi wasiat itu..."
"Tapi kenapa, Bram...?"
Bram memandang Zenna lekat dan lama.
"Perlukah alasan?"
Zenna terperangah.
"Aku tak tahu alasan seseorang menghancurkan hidup orang lain hingga membuatnya ingin mati... tapi untuk menolong dan melindungi orang yang hidupnya sudah serapuh dan sehancur ini, tak perlu alasan, bukan?"
Kata-kata Bram sama sekali tak teduga, dan terdengar tak masuk akal.
Tetapi entah bagaimana, kalimat itu begitu menghangatkan dan menggetarkan hati Zenna. Serupa cahaya matahari yang terbit lebih dekat dan mencairkan gundukan salju usai musim dingin panjang.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Zenna, cahaya itu ada.
"Hidup kita ke depannya memang terikat wasiat kedua orangtua kandungmu. Tapi aku tetap perlu menanyakan ini padamu..."
Bram tak melepaskan kedalaman netranya yang jernih dan berkata, "Zenna Amalia, maukah kamu menikah denganku?"
***