NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghancuran Kontrak

Liana berguling ke sisi kanan ranjang King Size milik Morgan, namun permukaan seprai katun Mesir yang dingin itu justru membuatnya semakin terjaga. Kamar ini terlalu Morgan—terlalu rapi, terlalu beraroma kayu cendana, dan terlalu sunyi. Ia menarik kerah kemeja putih milik Morgan yang ia kenakan, menghirup aromanya yang maskulin, lalu mendengus kesal.

"Kenapa dia menatapku seperti itu tadi?" gumam Liana pada kegelapan kamar.

Bayangan tatapan Morgan di depan pintu tadi terus berputar di kepalanya. Tatapan yang biasanya setajam silet itu mendadak goyah. Ada kilatan lapar yang tertahan, sebuah guncangan pada pertahanan pria es itu yang selama ini Liana anggap mustahil untuk ditembus. Morgan Bruggman, sang pemuja logika, baru saja melarikan diri ke sofa hanya karena melihat istrinya memakai kemejanya.

Liana duduk tegak, sebuah ide gila mulai bersemi di otaknya yang nakal. Ia menyalakan lampu nakas, membiarkan cahaya kuning temaram menerangi kamar, lalu ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di sudut ruangan.

"Hanya tinggal dua tahun dan beberapa bulan lagi sampai aku berusia dua puluh satu," bisiknya pada bayangan di cermin. "Tapi aku tidak bisa menunggu selama itu. Jika aku bisa membuat pria kaku ini melanggar kontrak itu sekarang—jika aku bisa membuatnya menyentuhku karena nafsu—kontrak itu akan batal secara hukum karena kesalahannya. Kak Liam pasti akan sangat marah padanya dan membebaskanku."

Liana menyeringai. Ini adalah rencana balas dendam paling sempurna. Ia tidak perlu lagi berteriak atau menyetel musik keras-keras. Ia hanya perlu menjatuhkan martabat Morgan sebagai pria yang berprinsip.

"Mari kita lihat seberapa 'brilian' kau saat imanmu kugoyahkan, Pak Dosen," gumamnya penuh tekad.

Liana turun dari ranjang, berdiri di depan cermin panjang untuk mulai 'berlatih'. Ia harus terlihat alami, namun mematikan. Ia memperhatikan bagaimana kemeja putih itu jatuh di bahunya. Ia menurunkan kerah kemeja itu sedikit lebih rendah hingga mengekspos satu bahunya sepenuhnya.

"Terlalu murahan," komentarnya sendiri. Ia menaikkan kembali kerahnya, namun kali ini ia membuka satu kancing lagi di bagian bawah, membiarkan kakinya yang jenjang terlihat lebih banyak saat ia berjalan.

Ia mencoba berpose. Liana menyandarkan satu tangannya ke dinding, memiringkan kepalanya, dan mencoba memberikan tatapan sayu yang sering ia lihat di film-film. Ia membasahi bibirnya dengan ujung lidah, lalu mencoba berbicara dengan suara yang sengaja diberatkan.

"Morgan ... aku tidak bisa tidur. Bolehkah kau menemaniku di sini?"

Liana seketika bergidik ngeri. "Ugh, menjijikkan! Itu terdengar seperti suara kucing terjepit pintu!"

Ia mengatur napas, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sebenarnya merasa aneh melakukan ini. Bagaimanapun, Liana belum pernah benar-benar merayu pria dengan cara sefrontal ini. Bersama Derby, semuanya terjadi begitu saja karena suasana klub yang bising. Tapi dengan Morgan? Ini membutuhkan strategi militer.

Ia kembali berlatih. Kali ini ia mencoba gaya yang lebih 'elegan namun provokatif'. Ia duduk di pinggiran ranjang, menyilangkan kakinya yang panjang, lalu menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya ke satu sisi. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan Morgan masuk ke kamar ini dengan wajah datarnya, lalu ia akan menatap pria itu tepat di matanya tanpa berkedip.

"Pak Morgan ... kemejamu ini sedikit ... sesak di bagian sini," bisiknya sambil menyentuh tulang selangkanya sendiri, jemarinya bergerak perlahan menelusuri garis leher kemeja.

Liana menatap pantulan matanya di cermin. Kali ini, ia merasa sedikit lebih yakin. Ia berjalan menuju pintu kamar, memegang gagang pintu namun tidak membukanya. Ia membayangkan skenarionya: ia akan keluar menuju ruang tamu dengan alasan haus, lalu ia akan "tidak sengaja" menunduk di depan Morgan untuk mengambil sesuatu.

"Dia pria normal. Dia punya hormon," Liana menyemangati dirinya sendiri. "Kekakuannya itu pasti cuma kedok agar terlihat berwibawa di depan Kak Liam. Aku akan membongkar kedok itu malam ini juga."

Namun, di balik semangatnya, ada bagian kecil di hati Liana yang merasa ragu. Apakah ia benar-benar ingin melakukan ini? Jika Morgan benar-benar tergoda, bukankah itu berarti ia akan kehilangan "kesuciannya" demi sebuah kebebasan? Liana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir keraguan itu.

"Ini demi kebebasan, Liana! Ingat brokoli! Ingat jam malam! Ingat tugas sepuluh ribu kata!" ia mengingatkan dirinya sendiri tentang "kekejaman" Morgan.

Liana menarik napas dalam-dalam, mengatur ritsleting kemeja agar terlihat sedikit miring, lalu perlahan membuka pintu kamar.

Koridor apartemen gelap. Suara hembusan AC terdengar lirih. Liana berjalan berjinjit menuju ruang tamu. Di sana, ia bisa melihat siluet Morgan di atas sofa. Pria itu tampak tidak tidur; ia bersandar pada lengan sofa dengan satu tangan menutupi matanya, sementara bantal di bawah kepalanya tampak tidak tersentuh.

Liana merasa jantungnya berpacu lebih cepat saat ia mendekat. Ini dia. Momen penentuan.

Ia sengaja berjalan menuju dispenser air di dekat sofa, memastikan setiap langkahnya menghasilkan bunyi gesekan kain kemeja yang halus. Ia mengambil gelas kaca, lalu sengaja menjatuhkannya ke atas karpet tebal—bunyinya tidak keras, namun cukup untuk membuat pria sepeka Morgan bereaksi.

"Liana?" suara Morgan terdengar berat dan dalam dari arah sofa.

Liana membeku, berpura-pura terkejut. Ia perlahan berbalik, membiarkan cahaya lampu dapur yang remang-remang menyinari sisi tubuhnya. Ia menunduk untuk mengambil gelas, sengaja membiarkan rambutnya jatuh menutupi separuh wajahnya dan kemejanya sedikit tersingkap.

"Oh ... maaf, Morgan. Aku tidak bermaksud membangunkanmu," ucap Liana dengan suara yang sudah ia latih di depan cermin tadi—lembut dan sedikit manja.

Morgan duduk tegak di sofa. Ia mengusap wajahnya, lalu menatap Liana. Dalam kegelapan, Liana tidak bisa melihat dengan jelas sorot mata Morgan, namun ia bisa merasakan kehadiran pria itu yang mendominasi ruangan.

"Kenapa kau belum tidur?" tanya Morgan. Pria itu tidak beranjak dari sofa, suaranya tetap terkendali, namun ada nada waspada di sana.

Liana berjalan mendekati sofa, membawa gelas berisi air itu. Ia tidak duduk di kursi lain, melainkan berdiri tepat di depan Morgan, begitu dekat hingga lututnya hampir menyentuh kaki Morgan yang selonjoran.

"Aku merindukan aromamu ... maksudku, kemeja ini baunya sangat enak," Liana memberikan tatapan paling sayu yang ia miliki, jemarinya dengan sengaja memainkan kancing kedua kemejanya. "Tapi ranjangmu terasa terlalu luas jika aku sendiri di sana. Morgan ... apa kau tidak merasa dingin di sini?"

Liana bisa melihat Morgan menelan ludah. Jakun pria itu bergerak naik turun. Morgan mencengkeram pinggiran sofa hingga urat-urat di tangannya menonjol. "Kembali ke kamar, Liana," perintah Morgan, suaranya kini terdengar seperti geraman tertahan.

"Kenapa kau selalu mengusirku?" Liana sedikit menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah Morgan hingga aroma parfum mereka bercampur di udara. "Apakah kau takut padaku? Atau kau takut pada dirimu sendiri?"

Morgan tetap diam, namun tatapannya kini mengunci mata Liana dengan intensitas yang mengerikan. Liana merasa menang. Ia merasa benteng Morgan sedang digempur habis-habisan oleh godaannya. Ia selangkah lagi menuju kebebasan. Ia hanya perlu satu sentuhan lagi, satu dorongan lagi agar Morgan kehilangan akal sehatnya.

"Aku istrimu, Morgan ... secara hukum, kau boleh melakukan apa pun malam ini," bisik Liana tepat di telinga Morgan.

Morgan tiba-tiba berdiri dengan gerakan yang sangat cepat, membuat Liana tersentak mundur. Morgan kini menjulang di hadapannya, auranya terasa sangat panas sekaligus mengancam. Ia mencengkeram kedua bahu Liana dengan tangan yang kokoh, menatapnya dengan pandangan yang membuat keberanian Liana seketika menciut.

"Kau tidak tahu apa yang sedang kau mainkan, Liana Shine," ucap Morgan, suaranya sangat rendah dan berbahaya.

Liana menelan ludah, rencananya yang matang mendadak terasa seperti bumerang yang siap menghantamnya kembali.

Apakah Morgan akan benar-benar melanggar kontrak itu sekarang, ataukah ia justru sedang menggali lubang kuburnya sendiri?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!