Aruna anak keturunan Atmadja juga brata kini menjalani masa remaja nya dengan penuh warna. pertemuan nya dengan seorang pria dewasa mampu membuat pria itu langsung jatuh cinta pada aruna si gadis kecil dan imut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK의 할루 아내, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
posesif seorang Delhito
"kamu ngga apa-apa kan dek... Mana yang sakit" dengan wajah paniknya ethan langsung masuk kedalam ruang rawat aruna yang sudah di informasikan oleh devan sebelum nya
"kak.. Kakak gini aruna malah tambah sakit loh" keluh aruna memegang tangan ethan di kedua bahunya
"kakak cuma khawatir sama kamu dek"
"maafkan tante nak, karena nolongin tante aruna jadi begini" ujar tante cantika yang menemani aruna sedangkan devan sedang mengecek hasil rontgen aruna
"saya ngga masalah tante, saya percaya adek saya berbuat seperti itu karena dia sudah berfikir mateng-mateng"
"sekali lagi tante minta maaf dan terima kasih aruna karena sudah menolong tante, tante ngga tau gimana jadinya kalau kamu ngga narik tante saat itu" tante cantika menundukan kepalanya sambil menitikkan air matanya dengan rasa bersalah
"tante udah ya, dari tadi tante minta maaf terus. Siapapun yang ada dalam posisi tante aruna tetap akan tolong koq, ngga mungkin aruna diam aja kalo liat kejadian kaya gitu di depan mata aruna"
"kayanya tante perlu istirahat juga, apa mau rawat inap tan.?" tanya ethan khawatir melihat wajah pucat tante cantika
"ngga usah nak, tante cuma masih shock aja koq. Kalau boleh tante mau izin pulang aja istirahat"
"iya tante, apa perlu saya antarkan..?" tanya ethan
"ngga usah nanti tante pesan taxi aja di depan. Aruna cepat sembuh ya sayang, dan terima kasih"
"makasih tante, tante juga istirahat ya, jangan lupa di di obati lagi lukanya" aruna mengingatkan
Tante cantika pun pergi setelah berpamitan dengan ethan juga aruna. Walau sebenarnya ia ingin sekali tinggal dan menemani penolongnya. Namun ia sadar kalau ia juga butuh istirahat seperti saran devan sebelumnya
Brak.....
Tak lama pintu ruangan aruna kembali terbuka dengan tergesa, seorang pria masuk dengan terburu-buru dan langsung memeluk aruna dengan erat
"kamu ngga apa-apa kan..? Maafin kakak ya, maafin..." lirih yudistira meminta maaf
"aru ngga apa-apa kak, lagian kenapa kak yudis minta maaf gini sih..?" heran aruna
"ehm...." ethan berdehem membuat yudis melepaskan pelukannya " untung papi belum sampe, kalo udah, bisa di cincang langsung kak" ujar ethan membuat yudistira malu karena ia langsung memeluk aruna di depan ethan
"kakak ih..." keluh aruna
"lain kali kalo kita janjian kakak akan jemput kamu dimana pun itu, kakak ngga mau kejadian kaya gini keulang lagi" ucap yudistira yakin
"iya.. Iya..." jawab aruna pasrah.
Tak lama pintu ruangan kembali terbuka kini hito yang datang bersama dengan leana juga rafael dan rora yang tadi memang sedang makan siang ber empat
"sayang gimana keadaan kamu" tanya hito dengan mata merah nya, jelas terlihat kekhawatiran yang sangat dalam terhadap anak perempuan nya
Yudistira langsung bangkit dan memberikan ruang pada hito juga leana yang baru datang untuk melihat keadaan aruna
"I'm ok pi, tenang ya. Aruna masih kuat koq"
"sekarang aja bilang kuat, tadi siapa yang ngeluh sakit sama ayah pas baru dateng" devan datang dengan hasil rontgen di tangannya terkekeh mendengar apa yang di ucapkan aruna untuk menenangkan orang tuanya
"ayah ih jangan buka kartu dong" kesal aruna pada ayahnya sambil mengembungkan pipinya lucu dan hal itu membuat yudistira tersenyum
"hahaha... kalian tenang aja, anak kita ini memang kuat, cuma lecet-lecet aja koq sama lebam dikit" devan menjelaskan
"gimana dengan luka dalam nya mas..?" tanya leana
"ngga ada masalah, mas baru aja ambil hasil rontgen nya dan ngga ada yang mengkhawatirkan"
Mereka semua bernafas lega mendengar penjelasan devan. Sambil aruna menceritakan kejadian yang membuat dia ada di rumah sakit
"maafkan saya om, tante dan juga semuanya. Kalau saja saya jemput aruna di sekolah mungkin kejadian nya ngga seperti ini" yudistira langsung meminta maaf sambil membungkukkan badannya dengan rasa penyesalan juga kekhawatiran
"ethan juga salah pi, mi.. ethan ngga anterin aru tadi padahal perasaan ethan ngga tenang pas tau kak yudis ngga bisa jemput aru" tanpa di duga ethan yang berdiri di sebelah yudis pun ikut membungkukkan badannya seperti yudis dan meminta maaf
"udah lah, semua udah kejadian, yang penting aruna udah ngga apa-apa. Papi juga ngga bisa salahin kalian apalagi aruna. Papi cuma mau kalian lebih hati-hati lagi kedepannya. Dan kamu tolong lihat situasi kalau mau nolong orang ya, papi ngga melarang cuma tolong utamakan keselamatan kamu dulu sayang." hito meminta dengan penuh sayang dimatanya
"iya pi, aru minta maaf ya kalau aru bikin khawatir semua. aru janji akan lebih hati-hati lagi nanti" aruna berjanji membuat kedua orang tuanya sedikit lega
"kalau kaya gini lagi kamu bisa telpon mama sayang, biar mama yang jemput dan anter kamu" rora yang sejak tadi diam mengamati putri kecil yang sudah ia anggap anak perempuannya sendiri itu pun bicara
"iya ma, makasih ya." jawab aruna tulus melihat kasih sayang semua orang padanya
"oiya, tadi ibu kamu juga pesen, kalau mereka baru bisa ke sini sore nunggu papa kamu pulang dulu" rora memberikan kabar tentang jiana
"kalo bunda kamu lagi OTW kayanya" devan juga memberikan kabar perihal istrinya yang langsung ke rumah sakit padahal sedang arisan dengan teman-temannya
"waduh jadi ngerepotin semua ya.. Hehe... papi, hp aru rusak pas jatuh tadi..." keluh aruna sambil menatap lelaki cinta pertamanya
"iya nanti kakak kamu yang cariin ya, papi ngga sempet soalnya" jawab hito
Yudistira yang sejak tadi memperhatikan setiap interaksi semua orang disana pun membuat hatinya menghangat, keluarga besar yang sangat sayang pada wanita yang sudah membuat nya jatuh hati itu, semakin membuat yudis bertekat untuk lebih menjaga wanita ini dengan baik. Agar kedepannya tak ada kejadian seperti ini lagi.
"Ya udah ke kantor yuk kita ngopi, biar aruna istirahat" ajak devan pada adik-adik nya"
"boleh mas... Kak titip ya" ucap leana pada ethan
Aruna menarik hito yang enggan beranjak dari sana, rora yang tau maksud sang kakak ipar pun ikut menarik suaminya yang juga enggan pergi.
"dasar bapak-bapak protektif ngga bisa kasih kesempatan dikit" lirih rora melihat ke arah suaminya juga kakak nya saat mereka sudah di luar ruangan
"hooh, ngga ngerti situasi " tambah leana
"sayang.. Kamu koq gitu sih, kamu ngga ngerti apa yang di rasain aku loh" hito mengeluarkan jurus kesedihannya
"ngga usah lebay deh pi, mami tau papi khawatirkan pas tau ada yang lagi deketin anak kita, mami juga sama, mami takut hal buruk terjadi sama anak kita saat dia jauh dari kita, tapi seperti yang udah mamj kasih tau sama papi yudis itu bersih, apa yang papi ceritakan tentang perilakunya selama ini juga udah di periksa sama ethan dan semua yang dia lakukan ada sebab nya jadi mami bisa sedikit tenang. Papi tau kan kalau ethan juga sangat menjaga adiknya ngga mungkin ethan mengijinkan orang sembarangan dekat dengan adik nya, tapi lihat tadi bahkan ethan ikut minta maaf. jadi please kasih mereka ruang. Anak-anak sudah dewasa pi, sebentar lagi mereka kuliah jadi jangan perlakukan mereka sama seperti dulu"
Hito memeluk istrinya setelah leana menyelesaikan ucapannya sambil terisak
"papi cuma belum bisa terima aja kalau ada pria asing yang ikut sayang sama anak kita sayang..." lirih hito
"mami tau itu pi,tapi bagaimanapun juga anak kita perempuan cepat atau lambat ia akan menikah dan di bawa sama suaminya keluar dari rumah kita" leana mengingatkan
"masih lama sayang aruna baru 17 tahun loh... " hito memprotes sambil melepaskan pelukannya
"kalian ini." devan menggeleng kan kepalanya melihat orang tua aruna terlebih melihat sifat posesif hito