Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Malam itu, sesuai janjinya, Alex benar-benar mengantar Tasya pulang.
Mobil hitamnya berhenti tepat di depan rumah sederhana milik Kakek Rockhi.
Lampu teras masih menyala. Mario sudah berdiri di luar lebih dulu, menunggu dengan sikap siaga.
Begitu mobil berhenti, Tasya langsung membuka pintu tanpa berkata apa pun dan berjalan cepat menuju teras.
Alex turun beberapa detik kemudian.
Di sana, Kakek Rockhi sudah berdiri menunggu. Wajah pria tua itu terlihat serius dan keras. Begitu melihat mereka, Kakek Rockhi langsung berkata tegas,
“Tasya,”
Tasya berhenti.
“Masuk ke dalam rumah!" Nada suaranya tidak memberi ruang untuk membantah.
“Kunci pintunya.”
Tasya menatap kakeknya dengan bingung.
“Kakek—”
“Sekarang!”
Tasya menelan napas. Ia akhirnya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan.
Di dalam, rumah terasa sunyi.
Bi Mirna sudah membawa Kenzo dan Kenzi ke kamar, seperti yang diperintahkan kakek mereka sebelumnya. Tasya berdiri di balik pintu dengan perasaan tidak tenang.
Sementara itu di luar, begitu pintu tertutup Kakek Rockhi tidak mengatakan apa pun lagi. Ia langsung melangkah maju, dan sebuah pukulan keras melayang tepat ke wajah Alex.
Tubuh Alex sedikit terdorong ke samping.
Mario yang berdiri beberapa langkah di belakang langsung terkejut.
“Tuan!”
Namun semuanya sudah terlambat, Alex sudah terkena pukulan itu. Sudut bibirnya langsung robek dan sedikit darah mengalir.
Kakek Rockhi berdiri tegak di depan Alex dengan mata penuh kemarahan.
“Jangan kamu kira saya takut!” Suaranya keras dan penuh emosi. “Saya tidak takut pada kamu!”
Ia menunjuk Alex dengan tajam.
“Dan saya juga tidak takut pada keluarga kamu!”
Mario langsung bergerak maju, bersiap melindungi Alex. Namun, Alex mengangkat tangan sedikit, memberi tanda agar Mario tidak ikut campur.
Alex kemudian berdiri tegak kembali. Ia menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jarinya. Beberapa detik ia melihat darah di tangannya. Lalu, ia menyeringai tipis. Tatapan Alex kembali pada pria tua di depannya.
“Meskipun Anda sudah tidak muda lagi…” Alex berkata santai dengan nada mengejek.
"Ternyata pukulan Anda masih sangat kuat.”
Kakek Rockhi menatapnya dengan tajam.
“Jangan bermain-main dengan cucu saya.”
Suasana malam di teras rumah itu langsung terasa tegang. Namun, Alex tidak terlihat tersinggung sedikit pun. Ia justru berdiri dengan tenang, seolah pukulan tadi tidak berarti apa-apa.
Alex masih berdiri di teras itu.
Darah tipis masih terlihat di sudut bibirnya, namun ekspresinya tetap tenang. Bahkan, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipukul.
Ia menatap Kakek Rockhi beberapa detik. Lalu berkata pelan, tetapi suaranya penuh tekanan.
“Jangan Anda kira…” Alex mengusap kembali sudut bibirnya.
"Kalau Anda pindah ke sini, saya sudah melupakan kejadian puluhan tahun lalu.”
Tatapan Kakek Rockhi berubah tajam. Alex melanjutkan dengan suara lebih rendah.
“Tidak,” Ia menggeleng pelan.
“Aku ingat.” Suaranya kini dingin.
“Aku ingat betul bagaimana orang tuaku mati.”
Kakek Rockhi langsung mengepalkan tangannya. Alex melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku juga ingat … seperti apa kehidupan kakekku setelah itu.” Nada suaranya semakin menekan.
“Anda penyebab semuanya.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di antara mereka.
Angin malam berhembus pelan, membuat suasana terasa semakin berat. Kakek Rockhi menatap Alex dengan penuh kemarahan. Namun, Alex belum selesai dia menatap pria tua itu lurus-lurus.
“Kalau Anda berani melarangku mendekati anak-anakku…” Alex berhenti sebentar.
"Aku akan memastikan Tasya mengetahui semuanya.”
Tatapan Alex semakin tajam.
“Siapa sebenarnya kakeknya.” Ia menyebut nama itu dengan sengaja.
“Tuan Rockhi.”
Tangan Kakek Rockhi mengepal semakin kuat. Matanya menatap Alex dengan nyalang. Namun, ia tidak berkata apa pun. Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Dua orang dari masa lalu yang sama-sama menyimpan luka lama. Akhirnya Alex menarik napas pelan, dia tidak menunggu jawaban.
Alex hanya berbalik, langkahnya turun dari teras menuju mobil.
Mario yang sejak tadi berdiri tegang segera mengikuti di belakangnya. Keduanya masuk ke mobil, mesin mobil menyala. Tinggallah Kakek Rockhi berdiri sendirian di teras. Tangan pria tua itu masih mengepal.
Wajahnya terlihat keras, namun jauh di dalam matanya ada sesuatu yang lebih berat dari sekadar kemarahan. Masa lalu yang belum pernah benar-benar selesai.
Mobil hitam itu melesat menjauh dari rumah kecil itu. Lampu belakangnya perlahan menghilang di ujung jalan.
Tuan Rockhi masih berdiri di teras, napasnya berat. Tangannya perlahan melemah, namun pikirannya justru semakin dipenuhi oleh bayangan masa lalu.
Puluhan tahun lalu, tepatnya di Berlin.
Sebuah ruangan mewah di sebuah klub eksklusif dipenuhi asap cerutu dan gelas minuman mahal. Dua pria duduk berhadapan sambil tertawa.
Tuan Rockhi dan Tuan Vasillo. Saat itu, keduanya dikenal sebagai dua nama besar di kota itu.
Tuan Rockhi dikenal sebagai pengusaha properti yang sangat sukses, tetapi di balik itu ia juga dikenal sebagai pemasok senjata terbesar di Berlin. Sedangkan, Tuan Vasillo adalah pemimpin keluarga mafia besar yang menguasai banyak bisnis di kota itu. Meski begitu, hubungan mereka bukan sekadar bisnis, mereka sahabat lama.
Tuan Vasillo bahkan tidak pernah ragu mempercayai Rockhi dalam urusan apa pun.
“Selama senjatanya darimu,” kata Vasillo sambil tertawa waktu itu.
“Aku tidak pernah khawatir.”
Rockhi hanya tersenyum sambil mengangkat gelasnya. Namun, semua berubah ketika Arland mulai ikut campur. Arland, putra Tuan Rockhi, Ayah dari Tasya.
Saat itu Arland sudah menjadi pria dewasa yang memimpin sebagian bisnis keluarga. Namun, berbeda dengan ayahnya. Arland membenci bisnis senjata.
“Ini bukan bisnis yang benar, Ayah.” Suatu malam Arland berkata tegas.
“Orang-orang mati karena ini.” Saat itu Arland sudah menikah. Ia bahkan memiliki seorang putri kecil berusia lima tahun.
Arland ingin menghentikan semuanya. “Kita sudah punya perusahaan properti. Kita tidak butuh bisnis ini lagi.”
Namun, Tuan Rockhi menolak, bukan karena uang. Tetapi, karena persahabatannya dengan Vasillo.
“Keluarga Vasillo selalu mempercayai kita.” Rockhi berkata tegas. “Aku tidak akan mengkhianati itu.”
Arland marah, tetapi Rockhi tetap pada keputusannya. Akhirnya Arland menyerah. Ia hanya fokus memimpin perusahaan properti keluarga di Berlin, bersama adiknya, paman Tasya saat ini.
Bisnis mereka berkembang pesat. Namun, di balik semua itu, hubungan ayah dan anak mulai retak.
Sampai suatu hari, Tuan Vasillo memesan sejumlah besar senjata.
Senjata itu sangat penting. Untuk sebuah operasi besar yang akan dilakukan oleh anggota mafianya. Namun, tanpa sepengetahuan Tuan Rockhi pesanan itu dibatalkan.
Bukan oleh orang lain, tetapi oleh pihak dalam perusahaan. Ketika Vasillo mengetahui itu, kemarahannya meledak.
Ia langsung menemui Rockhi.
“Senjata itu sangat penting!” Vasillo membentak.
Rockhi juga terkejut, dia tidak tahu siapa yang membatalkannya. Namun, kecurigaan langsung mengarah pada satu orang, yaitu Arland. Sejak saat itu hubungan kedua sahabat itu mulai renggang.
Ancaman mulai muncul, kepercayaan mulai hancur. Namun, sebelum semuanya benar-benar meledak sebuah tragedi terjadi.
Sebuah kecelakaan mobil yang ditumpangi Arland dan istrinya mengalami kecelakaan tragis. Keduanya meninggal di tempat. Tasya kecil kehilangan kedua orang tuanya dalam satu malam.
Sejak saat itu Tuan Rockhi mulai membenci keluarga Vasillo. Ia yakin kecelakaan itu bukan kebetulan. Ia yakin itu adalah balas dendam.
Lima tahun berlalu.
Hubungan Rockhi dan Vasillo benar-benar hancur. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali.
Dalam sebuah acara amal besar di Berlin yang diselenggarakan oleh keluarga Rockhi. Acara itu sangat besar, banyak tokoh penting hadir. Dan malam itu keluarga Vasillo menjadi tamu kehormatan.
Saat itu, yang hadir adalah Roman Vasillo. Putra tertua sekaligus satu-satunya pewaris Tuan Vasillo. Roman datang bersama istrinya yang baru kembali dari Mesir. Mereka tertarik menghadiri acara amal tersebut.
Sementara itu, Alex yang saat itu sudah berusia dua puluh tahun memilih tidak ikut. Ia tidak suka acara seperti itu. Namun, malam itu sebuah tragedi lebih besar terjadi.
Ketika Roman dan istrinya keluar dari gedung amal itu dan masuk ke mobil mereka dan mobil itu meledak. Ledakan itu mengguncang seluruh jalan di depan gedung.
Roman dan istrinya tewas di tempat.
Berita itu sampai ke telinga Tuan Vasillo dalam hitungan menit. Dan malam itu Berlin berubah menjadi neraka. Vasillo yakin hanya satu orang yang mampu melakukan itu, yaitu Rockhi. Dalam kemarahannya, keluarga Vasillo melancarkan pembalasan.
Malam itu kota Berlin dipenuhi darah.
Orang-orang yang terlibat dalam bisnis Rockhi diburu satu per satu. Perang besar antara dua keluarga itu akhirnya tidak bisa dihindari. Rockhi dan Vasillo bahkan berhadapan langsung.
Pertarungan brutal terjadi, di dalam pertempuran itu Tuan Rockhi berhasil menghancurkan mata kanan Vasillo. Namun, ia juga menerima pukulan brutal. Kaki kanannya patah parah. Bahkan, beberapa organ dalam tubuhnya rusak.
Sejak saat itu ia harus hidup dengan penyakit yang tidak pernah benar-benar sembuh. Setelah perang itu, Rockhi akhirnya memilih melarikan diri ke Indonesia, dan dia dinyatakan meninggal kala itu. Sedangkan, Tasya di adopsi oleh Paman dan Bibinya.
Namun, ada satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Tidak diketahui oleh Vasillo. Dan sampai malam ini tidak ada yang tahu bahwa darah keluarga Rockhi masih hidup di Berlin.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal