NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang Lebih Baik

Liam berdiri sendirian di ruang kerja pribadinya, ruangan yang jarang ia gunakan kecuali saat ia perlu berpikir tanpa gangguan. Lampu di dalamnya dibiarkan menyala redup. Ponsel ada di tangannya, dan ia tidak ragu saat menekan satu nama di kontaknya, yaitu salah satu orang kepercayaannya yang ia tugaskan mengawasi Anna dan Mrs. Portman.

Panggilan itu dijawab hampir seketika.

“Bagaimana dia?” tanya Liam tanpa basa-basi.

“Aman, Bos,” jawab suara di seberang. “Dan, sampai detik ini tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitar sini. Nona baru meninggalkan apartemen. Sekarang dalam perjalanan kembali ke rumah, bersama Cole dan Phil.”

Liam mengangguk meski orang itu tidak bisa melihatnya. “Baiklah. Pastikan mereka mengantarnya dengan selamat.”

“Baik, Bos. Akan saya pastikan.”

Panggilan itu berakhir dengan cepat. Liam menurunkan ponselnya perlahan. Dan baru saat itulah ia menyadari sesuatu yang membuat rahangnya mengeras. Bahwa ia sudah terlalu peduli pada seorang perempuan bernama Rachel. Dan mungkin itu bukan sesuatu yang baik untuk dirinya dan perempuan itu.

Kesadaran itu datang terlambat dan terlalu jujur. Kini dadanya terasa mengencang, bukan oleh kemarahan atau kewaspadaan, melainkan oleh sesuatu yang lebih sulit dikendalikan. Ia telah memikirkan bagaiamana perjalanan Rachel, memastikan ia tidak diganggu oleh siapapun, dan memastikan ia sampai dengan selamat.

Liam tidak terbiasa memikirkan keselamatan orang lain di luar lingkar kepentingannya. Dan Rachel seharusnya hanya bagian dari transaksi yang bisa ia lepaskan kapanpun. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Selama ini Liam selalu hidup dengan pertimbangan yang matang. Maka ia memaksa dirinya berpikir dingin. Kali ini, rasanya ia terlalu peduli pada Rachel dan dunianya. Dan itu mungkin berbahaya.

Dalam dunianya yang dipenuhi ancaman dan bahaya, perasaan bukanlah sebuah keuntungan, melainkan titik kelemahan. Ketertarikan adalah celah dan empati adalah pintu yang bisa dibobol musuh kapan saja. Ia sudah belajar itu sejak lama, dengan cara yang keras.

Rachel bukan lagi sekadar perempuan yang perlu dilindungi dari masalahnya sendiri. Bukan sekadar utang yang harus dilunasi dengan cara tertentu. Tapi, Rachel mulai masuk ke wilayah yang tidak seharusnya, yaitu perasaannya. Dan itu membuat Liam takut.

Ia berjalan ke jendela, lalu menatap kegelapan di luar. Keputusan itu harus dibuat sebelum semuanya bergerak terlalu jauh. Jika ia membiarkan ini berlanjut, mak ia akan kehilangan kendali—dan kehilangan kendali bukanlah pilihan yang baik.

Rachel tidak boleh merasa terlalu nyaman dengannya. Pikirnya, akan lebih aman jika ia menjaga jarak dari Rachel. Atau setidaknya Rachel perlu merasa tidak nyaman, bahkan takut padanya, jika perlu. Namun, satu hal yang ia pastikan, bahwa ia tidak akan menggunakan kekerasan dan cara kotor seperti Tom. Ia tidak akan menyentuh Rachel dengan cara yang membuatnya hancur.

Strategi pun mulai tersusun di kepalanya. Mulai sekarang, ia akan menjaga jarak secara emosional. Ia akan memperjelas hubungan mereka sebagai transaksi, tidak lebih. Ia akan membuat aturan yang cukup ketat untuk menciptakan ketidaknyamanan bagi Rachel terhadap dirinya. Dan ia akan membiarkan Rachel melihat sisi dirinya yang gelap, secukupnya, agar ia tidak tertarik masuk terlalu dalam. Jarak adalah perlindungan. Dan jika jarak itu tidak muncul dengan sendirinya, maka Liam akan menciptakannya.

Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan rumah Liam saat senja mulai turun. Rachel turun tanpa banyak berbicara, hanya mengucapkan terima kasih singkat pada sopir dan anak buah Liam sebelum pintu ditutup kembali. Lalu, mesin mobil terdengar menjauh, meninggalkan keheningan yang langsung menyelimuti halaman besar itu.

Rumah itu kembali terasa seperti sebelumnya—luas, sunyi dan dingin. Rachel masuk dan menutup pintu perlahan, seolah takut mengganggu sesuatu yang tidak terlihat. Keamanan yang ia rasakan di tempat itu tidak pernah terasa benar-benar hangat, melainkan lebih seperti ruang kosong yang tidak mengancam, tapi juga tidak memeluk.

Rachel berjalan menyusuri lorong rumah itu dengan langkah pelan, seolah setiap pijakan harus dipastikan tidak salah arah. Ia tidak langsung kembali ke kamarnya, melainkan menuju dapur, tempat yang terasa paling netral di rumah besar itu.

Ia berdiri di sana cukup lama, menatap meja dapur yang bersih dan rapi. Rumah ini tampak tidak membutuhkan dirinya. Segalanya sudah tertata bahkan sebelum ia datang. Dan justru itulah yang membuat posisinya semakin jelas, bahwa ia ada di sini bukan karena dibutuhkan, tapi karena diizinkan.

Rachel tidak ingin lari. Dan pikiran itu muncul dengan tegas, hampir seperti keputusan hukum yang tidak bisa diganggu gugat. Lari hanya akan mengulang pola lama, yaitu menghindar, bersembunyi, dan menyerahkan kendali pada keadaan. Ia sudah terlalu sering hidup seperti itu. Dan ia tidak ingin melakukannya lagi.

Jika ia harus bertahan, maka ia akan melakukannya dengan caranya sendiri. Rachel mulai menyusun rencana dengan kepala dingin. Ia mungkin akan menawar, bukan meminta belas kasihan. Hubungan mereka sudah terlanjur berada di wilayah transaksi, maka ia akan memperjelas bentuknya.

Ia mungkin akan menawarkan diri sebagai pelayan rumah, untuk membersihkan ruangan-ruangan besar yang jarang disentuh, memasak makanan sederhana, mencuci pakaian, dan mengurus hal-hal kecil yang tidak ingin dilakukan orang lain.

Tenaga, waktu dan konsistensi. Mungkin dengan ketiga hal itu, hutang budinya pada Liam bisa dibayar—bukan dengan tubuh, melainkan dengan bekerja padanya. Ide itu terasa lebih mudah diterima baginya—terdengar lebih aman dan lebih masuk akal. Ia tahu batas kemampuannya, dan ia tahu apa yang sanggup ia berikan tanpa menghancurkan dirinya sendiri. Baginya, tubuhnya bukanlah alat tukar, bukan juga barang yang bisa diperdagangkan, dan ia tidak siap untuk itu—mungkin tidak akan pernah siap, jika itu yang Liam minta.

Rachel menggeser kursi dan duduk, sembari menautkan jemarinya di atas meja. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia membayangkan percakapan itu. Ia membayangkan wajah Liam yang sulit dibaca, juga tatapan matanya yang terlalu tenang. Ia tidak tahu apakah pria itu akan tertawa, menolak mentah-mentah, atau justru melihatnya sebagai bentuk pelecehan terselubung. Tapi ia harus mencobanya. Sebab, untuk saat ini diam bukan lagi pilihan.

Malam pun akhirnya datang perlahan, seperti tirai yang ditarik tanpa suara. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di setiap dinding. Rachel kembali ke kamarnya untuk bersiap—bukan secara fisik, melainkan mental.

Ia berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Rambutnya dibiarkan terurai sederhana—tidak ada riasan berlebihan di wajahnya. Sebab, Rachel tidak ingin terlihat menggoda, juga tidak ingin terlihat rapuh di hadapan Liam. Ia ingin terlihat apa adanya sebagai seorang perempuan yang tahu posisinya, tapi tidak ingin harga dirinya diinjak.

Ia mengulang kalimat yang sama di dalam kepalanya, seperti mantra yang menahan kepanikan, bahwa ini adalah negosiasi, dan ini bukan penyerahan.

Rachel menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mencoba membayangkan berbagai kemungkinan. Jika Liam menolak, ia harus siap. Jika Liam marah, ia tidak boleh mundur. Jika Liam menekan, ia harus tetap berdiri di tempatnya. Ia mungkin tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan Liam. Ia hanya tahu apa yang tidak bisa ia berikan.

Rachel menatap cermin sekali lagi. “Ini caramu,” bisiknya pada diri sendiri. Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menguatkannya.

Lalu, ia melangkah keluar kamar, menyusuri lorong yang sama, tapi dengan perasaan berbeda. Setiap langkah terasa berat, namun terarah. Tidak ada lagi keraguan yang berputar-putar tanpa tujuan, melainkan hanya satu niat yang jelas, bahwa malam ini ia akan berbicara, menawar, dan mempertahankan martabatnya.

Rachel tidak tahu apakah Liam akan menerima tawaran itu. Ia tidak tahu apakah pria itu akan melihatnya sebagai solusi atau sebagai penolakan terselubung. Tapi malam ini, ia akan mencoba. Karena jika ia tidak bersuara sekarang, maka ia mungkin akan kehilangan hak untuk menentukan apa pun setelahnya.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!