NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. ANTARA PARIS Dan Yogyakarta

Di sisi lain dunia, di rumah bergaya Jawa-Eropa di kawasan Sleman, Yogyakarta, Samuel Hadinata sedang menyelesaikan rapat dengan tim manajemen ketika teleponnya berdering. Layar menunjukkan nama yang jarang muncul di jam kerja—Marcell de Lenoir dari Paris.

“Maafkan saya sebentar,” ujar Samuel kepada para karyawan sebelum keluar ke ruang tamu yang tenang. “Marcell, apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bicara secara langsung.”

Suara Marcell terdengar sedikit lelah di ujung saluran. “Samuel, maaf mengganggu waktu kerja kamu. Saya baru saja berbincang sulit dengan Aslan tentang rencana perjodohan kita yang sudah kita bahas lama.” Dia kemudian menceritakan percakapan di atas atap apartemen Paris, mulai dari kemarahan Aslan hingga kesalahpahaman antara ayah dan anak. “Saya tidak ingin memaksakan sesuatu yang akan membuat anak-anak kita tidak bahagia, tapi saya juga yakin kerja sama kedua keluarga akan membawa manfaat besar bagi semua pihak,” tambah Marcell dengan nada penuh keraguan.

Samuel menghela nafas perlahan, memahami perasaan sahabatnya yang sudah berjalan puluhan tahun. “Kita sama-sama menghadapi tantangan, Marcell. Alana juga belum bisa menerima ide ini dengan lapang dada. Saya akan berbicara dengan Helena tentang hal ini—mungkin dia bisa menemukan cara untuk menghubungi hati putri kita.”

Marcell terdengar lega di ujung saluran. “Saya juga punya sesuatu yang ingin usulkan. Setelah berbicara dengan Aslan, kami menyetujui memberi mereka waktu satu tahun untuk saling mengenal tanpa tekanan apapun. Aslan bahkan akan mengejar impiannya menjadi arsitek selama masa itu. Bagaimana pendapatmu tentang hal yang sama untuk Alana?”

“Bagus sekali!” jawab Samuel dengan senyum. “Alana baru saja menerima tawaran magang dari rumah sakit ternama di London dan Lausanne. Mungkin ini adalah kesempatan yang tepat untuknya—mengembangkan karirnya sambil mengenal Aslan dengan cara yang lebih alami.”

Setelah mengakhiri panggilan, Samuel melihat ke arah lantai atas, tahu bahwa putrinya sedang menghadapi pertarungan batin yang sama beratnya dengan apa yang dialami Aslan di Paris.

Di lantai atas rumah yang sama, Alana Hadinata duduk di teras belakang yang dipenuhi tanaman kembang segar, matanya menatap kolam ikan hias di tengah halaman dengan wajah penuh kesedihan. Buku kedokteran yang seharusnya dia baca terlunta-lunta di pangkuannya. Sejak Samuel memberitahukan rencana perjodohannya dengan pria bernama Aslan Lenoir yang belum pernah dia kenal secara mendalam, hati Alana terasa seperti terikat rantai berat.

“Kamu sudah lama duduk di sini, sayang.”

Suara lembut Helena, ibunya, membuat Alana terkejut sejenak. Ia melihat ibunya mendekat dengan cangkir teh hangat di tangan, kemudian duduk di kursi sebelahnya.

“Bu,” ujar Alana dengan suara sedikit bergetar, “mengapa harus seperti ini? Mengapa saya tidak bisa memilih sendiri dengan siapa saya akan hidup?” Air mata sudah mulai mengumpul di sudut matanya. “Saya sudah bekerja keras menyelesaikan studi kedokteran, membangun praktik kecil saya. Tapi sekarang tiba-tiba saya harus meninggalkan semua itu hanya karena perjanjian antara keluarga?”

Helena menepuk tangan putrinya dengan lembut, kemudian memberikan cangkir teh padanya. “Aku tahu kamu merasa tidak adil, Alana. Aku juga pernah merasakan hal yang sama ketika muda.” Ia menghentikan bicara sejenak, melihat jauh ke arah langit Yogyakarta yang mulai berpucuk awan kemerahan menjelang senja. “Ketika ayahmu dan aku menikah, bukan karena cinta pada pandangan pertama. Keluarga kita juga memiliki perjanjian untuk mempererat hubungan bisnis dan sosial. Pada awalnya, aku merasa seperti barang yang diperjualbelikan—seolah keinginan dan impian ku tidak ada artinya.”

Alana menoleh ke arah ibunya, matanya penuh rasa ingin tahu meskipun rasa tidak puas masih terasa kuat. “Maka bagaimana bisa ibu menerima semuanya, Bu? Bagaimana bisa ibu bahagia dengan ayah?”

“Karena aku belajar bahwa cinta tidak selalu datang dengan sendirinya, sayang,” ujar Helena dengan senyum hangat. “Ayahmu dan aku tidak memaksakan diri untuk mencintai satu sama lain dalam sekejap. Kita memberi waktu satu sama lain untuk mengenal sisi yang sebenarnya—kebaikan hati yang ada di dalamnya, impian yang dia miliki, bahkan kekurangan yang membuat dia manusiawi.” Ia mengambil tangan Alana dan memegangnya erat. “Perjodohan bukan berarti kamu harus menyerahkan seluruh hidupmu. Aku baru saja mendengar dari ayahmu bahwa Marcell juga menawarkan waktu satu tahun bagi kalian berdua untuk mengenal satu sama lain. Selama itu, kamu bisa tetap mengejar karirmu—bahkan tawaran magang di Eropa bisa kamu laksanakan. Ini bisa jadi awal dari sesuatu yang lebih dalam, jika kamu bersedia memberinya kesempatan.”

“Tapi Bu, saya bahkan tidak tahu wajahnya Aslan, selain dari foto yang saya lihat beberapa tahun yang lalu ketika mereka berkunjung ke rumah nenek di Lyon,” ucap Alana dengan nada cemberut. “Bagaimana bisa saya membangun hubungan dengan seseorang yang hidup di belahan dunia lain, lagipula aku tidak tahu bagaimana cara Aslan memandang kehidupan ini, Bu. Kami......."

"Perbedaan bukanlah halangan, Alana, bisa jadi hal yang menyuburkan hubunganmu nantinya,” jelas Helena dengan suara penuh kebijaksanaan. "Kamu seorang perempuan kuat dan memiliki prinsip tegas.

Alana mengangguk perlahan, rasa tegang di dadanya sedikit mereda setelah mendengar kata-kata ibunya. Ia masih merasa ragu dan tidak puas dengan situasi ini, tapi mulai menyadari bahwa mungkin ada lebih banyak hal di balik rencana ini selain kepentingan keluarga. Bahkan, sedikit rasa penasaran mulai muncul dalam hatinya tentang sosok pria yang juga sedang berjuang untuk menemukan jalan hidupnya sendiri. Ia menatap kembali buku di pangkuannya, namun kali ini pikirannya sudah mulai berpindah pada Aslan Lenoir dari Paris.

Di bawah langit Yogyakarta yang semakin gelap, lampu-lampu taman mulai menyala perlahan, memberikan cahaya hangat yang menerangi kolam ikan hias di tengah halaman. Suara gemericik air dari kolam, seolah menjadi irama yang menemani langkah awal Alana menuju babak baru dalam hidupnya.

Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama. Rasa ingin tahu yang mulai tumbuh di benak Alana mendorongnya untuk bertanya lebih dalam, seolah-olah ia sedang membedah sebuah kasus medis yang rumit namun menarik. Ia menoleh kembali ke arah ibunya, matanya yang sebelumnya redup kini mulai menyala dengan semangat bertanya.

"Bu," ucap Alana pelan, jarinya masih memainkan ujung halaman buku kedokteran yang lusuh.

"Ibu bilang bahwa perbedaan bisa menyuburkan hubungan. Tapi bagaimana caranya, Bu? Aku tumbuh di sini, di Yogyakarta, di mana setiap sudut rumah ini berbau cendana dan rempah-rempah, di mana kita selalu mengutamakan sopan santun dan kearifan lokal. Sementara Aslan... dia tumbuh di Paris, kota mode dan seni, tempat di mana segalanya tampak begitu cepat dan berbeda. Bagaimana kita bisa menemukan titik temu jika dunia kita saja begitu jauh berbeda?"

Helena tersenyum bijak, matanya menatap jauh ke arah langit yang kini dihiasi bintang-bintang yang mulai bersinar terang. Ia menghela nafas panjang, seolah-olah sedang mengingat kembali perjalanan panjangnya sendiri bersama Samuel.

"Kau tahu, Nak, ketika aku pertama kali bertemu ayahmu, dunia kami juga terasa sangat berbeda. Ayahmu tumbuh dalam keluarga yang sangat memperhatikan tata krama Jawa dan bisnis yang ketat, sementara aku berasal dari keluarga yang sedikit lebih bebas dan artistik. Ada saat-saat di mana aku merasa tidak mengerti cara pikirnya, dan dia pun merasa bingung dengan caraku melihat dunia."

Helena memutar tubuhnya sedikit, menghadap Alana dengan lebih dekat, tangannya masih memegang tangan putrinya dengan lembut namun tegas.

"Tapi perbedaan itulah yang justru membuat kita belajar. Ayahmu mengajariku arti disiplin dan tanggung jawab, sementara aku mengajarinya untuk lebih santai dan melihat keindahan dalam hal-hal kecil.

" Kami tidak mencoba mengubah satu sama lain, Alana. Kami hanya saling melengkapi. Begitu juga denganmu dan Aslan. Mungkin dia bisa mengajarkanmu tentang seni dan perspektif baru dalam melihat dunia, dan kamu bisa mengajarkannya tentang ketenangan, kehangatan keluarga, dan kearifan budaya kita yang begitu kaya. Hubungan itu bukan tentang mencari orang yang sama persis denganmu, tapi tentang mencari orang yang bisa melengkapi kekuranganmu dan menghargai kelebihanmu."

Alana terdiam, merenungi kata-kata ibunya. Gambarannya tentang Aslan mulai berubah sedikit demi sedikit. Bukan lagi sebagai sosok asing yang mengancam kebebasannya, melainkan sebagai seseorang yang mungkin bisa membuka matanya pada dunia yang lebih luas.

"Tapi Bu, bagaimana jika... bagaimana jika nanti kami bertemu dan ternyata kami tidak memiliki apa-apa untuk dibicarakan? Bagaimana jika keheningan di antara kami terasa begitu berat dan canggung?" tanya Alana lagi, suaranya masih terdengar sedikit cemas.

Helena tertawa pelan, suara tawanya yang hangat memecah keheningan malam. "Keheningan itu tidak selalu buruk, sayangku. Ada keheningan yang tidak nyaman, tapi ada juga keheningan yang damai. Jika kalian benar-benar ditakdirkan untuk bersama, keheningan di antara kalian akan terasa nyaman, seperti saat kau sedang membaca buku atau menikmati secangkir teh sendirian. Dan jika tidak ada yang bisa dibicarakan, maka dunia ini begitu luas, kan? Kau bisa membicarakan tentang medis, tentang pasien-pasienmu, tentang impianmu untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dia bisa membicarakan tentang arsitektur, tentang gedung-gedung yang ingin ia bangun, tentang kota Paris yang ia cintai. Bahkan perbedaan pendapat pun bisa menjadi bahan pembicaraan yang menarik, asalkan kalian mau mendengar dengan hati yang terbuka."

Helena berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam hati Alana. Angin malam yang sejuk berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon mangga di sudut taman, menciptakan suara gemericik yang menenangkan.

"Ingatlah, Nak, satu tahun itu waktu yang cukup lama. Kamu tidak perlu terburu-buru untuk memutuskan segalanya dalam satu pertemuan. Gunakan waktu itu untuk benar-benar mengenalnya. Temanilah dia berjalan-jalan, makan bersama, bicarakan hal-hal kecil maupun hal-hal besar. Lihatlah bagaimana dia memperlakukan orang lain, bagaimana dia merespons situasi yang sulit, apa yang membuatnya tertawa, dan apa yang membuatnya sedih. Semua hal itulah yang akan membentuk gambaran yang sebenarnya tentang siapa dia."

Alana mengangguk perlahan, rasa takut yang sempat menghantuinya kini mulai berganti menjadi rasa penasaran yang lebih dewasa. Ia menyadari bahwa ibunya benar. Satu tahun adalah waktu yang cukup lama, dan ia memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Jika nanti ia merasa ini bukan jalan yang tepat, ia tahu orang tuanya akan mendukungnya. Namun, setidaknya untuk saat ini, ia bersedia memberikan kesempatan ini, bukan hanya untuk keluarganya, tapi juga untuk dirinya sendiri.

"Terima kasih, Bu," ucap Alana tiba-tiba, suaranya lembut namun penuh keyakinan. Ia memeluk ibunya erat, membenamkan wajahnya di bahu wanita yang telah melahirkannya itu. "Terima kasih sudah selalu mengerti, sudah selalu ada untukku, dan sudah memberikan nasihat yang begitu bijak. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi aku merasa lebih siap sekarang daripada sebelumnya."

Helena membalas pelukan putrinya dengan hangat, tangannya mengelus punggung Alana dengan penuh kasih sayang. "Itulah tugas seorang ibu, sayangku. Untuk mendukungmu, membimbing, dan mencintaimu apa pun yang terjadi. Aku sangat bangga padamu, Alana. Kamu telah tumbuh menjadi wanita yang kuat, cerdas, dan baik hati. Apa pun jalan yang kamu pilih nanti, aku yakin kamu akan bisa menjalaninya dengan kepala tegak."

Mereka berdua melepaskan pelukan itu, dan Alana tersenyum kepada ibunya, senyuman yang tulus dan lebih cerah daripada sebelumnya. "Aku akan mencoba menghubungi Ayah sekarang, Bu. Aku ingin memberitahunya bahwa aku setuju dengan rencana ini. Aku ingin memberitahunya bahwa aku bersedia untuk pergi ke Eropa, untuk magang, dan... untuk mengenal Aslan."

Mata Helena berbinar bahagia melihat perubahan pada putrinya. "Itu keputusan yang sangat bagus, Nak. Ayahmu pasti akan sangat senang mendengarnya. Dia sebenarnya sangat khawatir kamu akan menolak dan merasa terpaksa, tapi aku tahu dia akan lega mendengar bahwa kamu melakukannya dengan sukarela, atau setidaknya dengan hati yang terbuka."

Alana berdiri dari kursi rotannya, merapikan gaunnya yang sedikit kusut. Ia mengambil buku kedokterannya di pangkuannya, namun kali ini ia tidak merasa terbebani olehnya. Sebaliknya, buku itu terasa seperti simbol dari cita-citanya yang akan ia kejar, dan ia tahu bahwa perjalanannya ke Eropa bukan hanya tentang mengenal seseorang yang baru, tapi juga tentang menemukan dirinya sendiri yang sebenarnya.

"Aku akan ke dalam sekarang, Bu," ucap Alana. "Aku ingin mempersiapkan beberapa hal sebelum berbicara dengan Ayah. Dan mungkin... mungkin aku bisa mencari tahu sedikit tentang arsitektur Paris sebelum nanti berbicara dengan Aslan. Siapa tahu, itu bisa menjadi topik pembicaraan yang menarik."

Helena tertawa pelan, mengangguk setuju. "Itu ide yang cerdas, sayangku. Persiapan selalu membawa hasil yang baik. Pergilah, dan ingatlah, aku selalu ada di sini jika kamu butuh seseorang untuk berbicara atau sekadar untuk didengarkan."

Alana melangkah menuju pintu kaca yang menghubungkan teras dengan ruang dalam rumah. Sebelum masuk, ia menoleh kembali ke arah ibunya, melambaikan tangan kecilnya. "Selamat malam, Bu. Terima kasih untuk segalanya."

"Selamat malam, sayangku," jawab Helena, melambaikan tangan kembali. "Semoga malam ini membawamu pada ketenangan dan harapan baru."

Alana masuk ke dalam rumah, menutup pintu kaca itu perlahan di belakangnya. Helena tetap duduk di sana untuk beberapa saat lagi, menikmati keindahan malam Yogyakarta dan merasa lega karena putrinya mulai menemukan jalan pikirannya yang jernih. Di kejauhan, suara gamelan dari sebuah rumah tetangga terdengar samar-samar, menambah kehangatan suasana malam itu.

Sementara itu, di dalam kamarnya yang luas dan nyaman, Alana duduk di tepi tempat tidurnya. Ia mengambil ponselnya, membuka layarnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ragu atau takut. Ia mengetik pesan singkat untuk ayahnya: Ayah, bisakah kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.

Tak lama kemudian, balasan dari Samuel masuk: Tentu saja, Nak. Aku ada di ruang kerja. Silakan masuk.

Alana menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu berdiri tegak. Ia merasa siap. Siap untuk menghadapi ayahnya, siap untuk menghadapi masa depannya, dan siap untuk membuka pintu hatinya bagi kemungkinan-kemungkinan baru yang menanti di depan mata. Langkah kakinya yang mantap menuju ruang kerja ayahnya menandakan awal dari perjalanan baru—perjalanan antara cita-cita yang ia impikan dan kebersamaan yang mungkin sedang menantinya di belahan dunia lain.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!