Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elang Badai
Nama "Puncak Awan Awan" bagaikan mantra pembungkam yang dijatuhkan ke tengah Alun-Alun Utama. Bahkan Chu Tian, sang Murid Inti Peringkat Pertama yang selalu memandang langit dengan dagu terangkat, merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya.
Puncak Awan Awan adalah ranah kekuasaan mutlak Tetua Tertinggi Feng Wuya. Tidak ada murid yang pernah diizinkan menetap di sana, apalagi menyandang nama puncak tersebut sebagai asal-usulnya.
Penatua Zhao yang memimpin barisan segera menangkupkan kedua tangannya, memberikan penghormatan yang jauh melampaui kedudukannya kepada seorang pemuda. "Tuan Muda Jian Chen, Tetua Tertinggi telah mengirimkan pesan suci kepada kami semalam. Kehadiran Anda melengkapi barisan tiga puluh murid elit. Jika Anda sudah siap, kita akan segera memanggil tunggangan."
Sikap hormat Penatua Zhao yang berlebihan membuat Chu Tian menggertakkan giginya. Harga dirinya sebagai penguasa generasi muda akademi tercoreng. Ia menatap lekat-lekat pada Jian Chen, mencari-cari riak Qi yang membuktikan bahwa pemuda ini adalah monster yang disembunyikan.
Namun, tidak ada apa-apa. Jian Chen berdiri diam, auranya tertutup rapat layaknya batu karang di dasar lautan. Jubah hitamnya tidak memancarkan kemegahan, dan pedang raksasa berbalut kain rami di punggungnya terlihat kasar, tidak ubahnya perkakas pandai besi fana.
Hanya seorang manusia fana yang mengandalkan nama besar Tetua Tertinggi untuk unjuk gigi? batin Chu Tian, matanya menyipit penuh permusuhan. Di dalam Reruntuhan Kuno nanti, tidak ada Tetua yang bisa melindungimu. Gelar dan kedudukan tidak bisa menangkis bilah pedang.
"Panggil tunggangannya," jawab Jian Chen dengan nada sejuk, seolah ia adalah raja yang memerintahkan panglimanya.
Penatua Zhao mengeluarkan sebuah peluit yang terbuat dari tulang binatang purba dan meniupnya. Suara pekikan nyaring merobek awan di atas akademi.
Tiga titik hitam melesat dari langit tinggi, menukik turun dengan kecepatan yang membelah angin. Dalam sekejap, tiga ekor Elang Badai Raksasa—Binatang Iblis Tingkat Dua Kelas Atas—mendarat di tengah alun-alun. Setiap kepakan sayapnya yang selebar lima tombak menghasilkan badai kecil yang membuat para murid pelataran luar terhuyung mundur.
Mata Jian Chen memindai ketiga elang itu. Tunggangan yang lumayan untuk sekte tingkat fana, meski masih terlalu lambat dibanding keretaku yang ditarik Naga Langit di masa lalu, pikirnya pelan.
"Naik! Sepuluh orang per elang! Kita memiliki perjalanan selama tujuh hari tujuh malam untuk mencapai tepi Hutan Kematian!" perintah Penatua Zhao seraya melompat ke punggung elang yang berada di tengah.
Chu Tian, Yan Ting, dan kelompok inti pertama segera mengambil tempat di elang tengah bersama Penatua Zhao. Jian Chen tidak repot-repot berdesakan. Ia melangkah tenang menuju punggung elang di sebelah kanan. Delapan murid pelataran dalam lainnya yang berada di elang yang sama segera menyingkir, memberinya ruang lega di bagian ekor, sebagian karena segan, sebagian lagi karena tekanan tak kasat mata dari pedang raksasanya.
Hanya satu orang yang tidak menyingkir. Seorang pemuda berbadan kurus dengan tatapan licik, bernama Lu Feng. Ia adalah bawahan setia Chu Tian yang berada di Tingkat Delapan Puncak. Sebelum naik, ia telah bertukar pandang penuh makna dengan tuannya.
Tiga Elang Badai mengepakkan sayap mereka, membawa tiga puluh satu orang itu melesat menembus awan dan meninggalkan hamparan Ibu Kota Kerajaan Angin Langit.
Di atas ketinggian ribuan tombak, udara luar biasa tipis dan sangat menusuk tulang. Angin memukul-mukul dengan kekuatan yang bisa melempar manusia biasa ke bawah. Para murid segera memancarkan pelindung Qi murni mereka untuk menahan hembusan maut tersebut.
Jian Chen duduk bersila di bagian ekor. Ia tidak memancarkan satu pun pelindung Qi. Angin ganas itu menghantam wajah dan tubuhnya, namun bahkan tidak mampu membuat sehelai rambutnya pun bergetar lebih dari sewajarnya. Raga Tirani Kekacauan miliknya terlalu padat dan berat untuk digoyahkan oleh angin sekasar ini.
Lu Feng, yang duduk tidak jauh darinya, mengawasi dengan saksama. Benar-benar tidak ada Qi. Dia murni menggunakan kekuatan fisiknya untuk melawan angin langit? Konyol. Jika aku mendorongnya sedikit saja dari belakang, beban pedang raksasanya itu akan menyeretnya jatuh hingga hancur berkeping-keping di bawah sana.
Terdorong oleh niat buruk untuk memenangkan hati Chu Tian, Lu Feng merayap perlahan saat Elang Badai itu menukik menembus gumpalan awan gelap.
Dengan cekatan, Lu Feng mengarahkan dua jarinya ke punggung Jian Chen. Ia tidak menggunakan tenaga fisik yang akan memicu pertarungan terbuka, melainkan menembakkan seutas Jarum Angin Tak Kasat Mata—sebuah teknik membunuh rahasia yang tidak meninggalkan jejak. Hembusan angin langit akan menutupi fluktuasi Qi-nya dengan sempurna.
Jarum Qi melesat lurus menuju titik punggung Jian Chen, bertujuan menembus kulitnya dan menghantam titik akupuntur keseimbangannya agar ia terjatuh.
Di dalam kesadarannya, Jian Chen bahkan tidak membuka matanya. Jaring Indra Spiritual-nya yang terbentang luas telah mengunci niat membunuh sekecil apa pun sejak mereka masih berada di alun-alun.
Hanya semut bodoh yang menguji tebalnya tempurung kura-kura dewa, batin Jian Chen geli.
Tepat saat jarum angin itu menyentuh punggungnya, Jian Chen tidak menangkis maupun menghindar. Ia hanya membiarkan Qi dari Meridian Primordial-nya membentuk satu riak kecil di bawah pori-pori kulitnya, berpadu dengan kekokohan tulang giok putihnya.
Ting!
Suara benturan nyaring seperti jarum baja menghantam gunung besi terdengar samar tertiup angin.
Jarum Angin Tak Kasat Mata milik Lu Feng hancur lebur seketika saat bersentuhan dengan punggung Jian Chen!
Tidak berhenti sampai di situ, kekuatan pantul yang mutlak membalikkan sisa-sisa tenaga teknik tersebut. Sebuah gelombang kejut kecil yang tak kasat mata melesat balik ke arah Lu Feng dengan kecepatan ganda.
"Akkkh...!"
Lu Feng terbelalak. Ia mencengkeram tangan kanannya dengan ngeri. Dua jari yang baru saja ia gunakan untuk menembakkan teknik itu kini patah dan terpelintir ke belakang dengan cara yang sangat mengerikan, seolah baru saja disambar palu godam raksasa. Darah merembes membasahi lengan bajunya.
Jeritan tertahannya tertelan oleh deru angin Elang Badai. Ia menatap punggung Jian Chen yang masih duduk diam, layaknya arca iblis yang tak tersentuh dewa kematian. Rasa dingin yang murni mengalir dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun Lu Feng. Mulai detik itu, hingga tujuh hari perjalanan berakhir, Lu Feng tidak berani lagi menggeser pandangannya ke arah Jian Chen, apalagi mencoba menyentuhnya.
Tujuh hari tujuh malam berlalu di atas hamparan langit Kerajaan Angin Langit.
Ketika matahari pagi menyingsing di hari kedelapan, ketiga Elang Badai raksasa itu akhirnya menurunkan kepakan sayap mereka. Di bawah mereka, terhampar sebuah lautan pepohonan hitam legam yang ujungnya tak terlihat oleh mata memandang.
Hawa di atas hamparan hutan itu sangat suram, diselimuti oleh kabut keunguan yang mematikan. Burung-burung fana tidak berani terbang melintasinya. Itulah Hutan Kematian.
Di tepian hutan tersebut, sebuah lembah batu yang lapang telah dipenuhi oleh puluhan kemah dan ratusan kultivator. Panji-panji raksasa berkibar menantang angin.
"Kita tiba," seru Penatua Zhao dari atas elang. "Di bawah sana adalah Perkemahan Penyatuan Enam Sekte. Ingatlah kebanggaan kalian sebagai murid Akademi Angin Langit. Jangan merendahkan diri kalian, namun jangan pula mencari permusuhan bodoh sebelum pintu reruntuhan terbuka!"
Elang-elang itu mendarat dengan bunyi dentuman keras yang mengangkat badai debu. Ketiga puluh murid akademi melompat turun secara serentak, formasi mereka sangat teratur dan memancarkan wibawa. Chu Tian memimpin di depan, menengadah dengan dada membusung.
Namun, sambutan yang mereka terima tidaklah ramah.
"Hahaha! Lihat siapa yang datang paling akhir. Aku mengira Akademi Angin Langit terlalu takut untuk datang dan telah memberikan jatah Buah Inti Dewa mereka kepada kami!"
Sebuah tawa menggelegar dari arah timur lembah. Sepasukan pemuda berpakaian jubah biru cerah bersulam awan putih melangkah maju. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda berwajah tirus dengan kipas bulu elang di tangannya. Matanya memancarkan cahaya biru yang tajam, menandakan pemahaman mutlak pada elemen angin.
Ia adalah Lu Mofeng, Murid Inti Peringkat Pertama dari Sekte Awan Biru. Kultivasinya telah mencapai puncak batas tertinggi dari Kondensasi Qi Tingkat Sembilan.
Di arah berlawanan, sekawanan gadis berpakaian putih salju berdiri acuh tak acuh. Di sekeliling mereka, tanah berbatu tertutup oleh lapisan es tipis padahal saat itu adalah musim semi. Mereka adalah murid dari Lembah Pedang Es, faksi yang mematikan dan tak banyak bicara.
Chu Tian menghunuskan setengah pedangnya dari sarungnya, memancarkan Qi keperakan yang menderu. "Lu Mofeng, jaga mulut anjingmu. Akademi kami mungkin kalah lima tahun lalu, tapi kali ini aku yang akan memastikan darahmu membasahi altar reruntuhan kuno itu!"
Lu Mofeng mengibaskan kipasnya dan tertawa meremehkan. "Kau? Bahkan untuk mengalahkan wakilku saja kau butuh sepeminuman teh." Ia memicingkan matanya, mengamati barisan tiga puluh murid akademi, lalu tiba-tiba tawanya berhenti.
Matanya terkunci pada sesosok pemuda berjubah hitam di barisan paling belakang, yang memanggul pedang teramat besar hingga tampak tidak wajar.
"Kudengar dari bisik-bisik burung bangkai... bahwa seorang pemuda berjubah hitam telah membantai murid inti sektemu di Lembah Kabut Beracun beberapa purnama lalu," Lu Mofeng menyeringai, namun niat membunuhnya tidak bisa disembunyikan. Matanya menatap tajam ke arah Jian Chen. "Mungkinkah... akademi kalian begitu miskin hingga memungut gelandangan yang memusuhi sekte kami?"
Mendengar provokasi itu, seluruh murid akademi menoleh ke belakang, menatap Jian Chen dengan kerutan di dahi. Jian Chen membantai murid Sekte Awan Biru? Mereka sama sekali tidak tahu hal ini!
Penatua Zhao mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia bisa meredakan suasana, Jian Chen perlahan melangkah membelah kerumunan murid akademi, maju hingga ke barisan terdepan.
Ia menatap Lu Mofeng yang angkuh itu dengan kesunyian sebuah sumur kuno yang tak berdasar.
"Ya, aku membelah dua salah satu anjing sekte kalian," suara Jian Chen meluncur datar, namun menancap di telinga semua orang di lembah itu layaknya belati es. "Kupikir kalian akan mengirim orang tuanya untuk berlutut meminta jenazahnya. Siapa sangka kalian justru mengirim sekawanan anjing baru untuk menyusulnya."
Suasana lembah itu mendadak hening seketika. Bahkan para gadis dari Lembah Pedang Es yang acuh tak acuh pun membelalakkan mata mereka mendengar kelancangan yang melampaui batas kewarasan tersebut.
Lu Mofeng gemetar hebat. Kipas bulu elangnya hancur di genggamannya akibat amarah yang membludak. Tirai darah belum lagi terbuka, namun perang telah dibakar hingga ke titik didih tertinggi!