NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Mulai Mencangkul

Setelah mendapat lampu hijau dari Pak Rahmat, Banyu langsung tancap gas.

Tentu saja, cerita soal "teman di IPB" itu cuma akal-akalan supaya Pak Rahmat tidak curiga kenapa dia tiba-tiba sok jadi petani. Banyu pergi ke toko pertanian terdekat di pasar, membeli sebungkus besar bibit Sawi Hijau (Caisim) seharga sepuluh ribu perak. Murah meriah, cepat panen, dan laku keras di pasaran. Ini langkah awal yang realistis untuk startup pertaniannya.

Dengan bibit di saku jaket, Banyu berjalan pulang dengan langkah lebar. Dia merasa seperti jenderal yang membawa strategi perang mematikan.

Namun, baru saja dia melintasi jembatan masuk kampung, dia dihadang lagi. Siapa lagi kalau bukan Joni dan dua kacungnya.

Melihat Banyu yang biasanya jalan sempoyongan kini melangkah tegap, Joni sedikit kaget. Tapi, ego premannya lebih besar dari otaknya.

"Woi, Banyu! Nyali lu makin gede ya? Siapa yang bolehin lu ngangkat gerobak dari sungai tanpa izin gue? Kurang bonyok lu kemaren?"

Banyu menatap Joni datar. Tidak ada lagi rasa takut atau gemetar di lututnya.

"Gue gak mau cari ribut, Jon. Minggir. Urusan kita udah kelar."

"Wah, anjing! Udah berani ngelawan lu ya!" Joni meludah ke tanah, lalu berteriak ke anak buahnya. "Sikat dia! Biar tau rasa!"

Dua kacung Joni langsung menerjang. Dulu, Banyu pasti sudah pasrah jadi samsak hidup. Tapi kali ini, entah kenapa gerakan mereka terlihat... lambat.

Bugh!

Satu pukulan melayang ke arah wajah Banyu. Dia menangkis dengan tangan kiri. Aneh, rasanya tidak sakit. Malah terasa seperti dipukul bantal kapuk.

Refleks, Banyu membalas dengan dorongan keras.

Brak!

Satu kacung terpelanting jatuh ke aspal. Banyu kaget dengan tenaganya sendiri.

"Pasti gara-gara Cairan Ajaib itu!" batin Banyu girang. Ternyata efeknya bukan cuma menyembuhkan jantung, tapi juga bikin badannya sekeras beton.

Dengan percaya diri penuh, Banyu meladeni kacung satunya. Dia menangkis tendangan, lalu membalas dengan pukulan lurus ke dada. Si kacung langsung mundur terhuyung-huyung, sesak napas.

Joni melongo. Dia tidak percaya Banyu "Si Penyakitan" bisa bikin KO dua anak buahnya dalam sekejap.

"Lu... lu pake ilmu apaan?!" Joni mundur selangkah, nyalinya ciut.

"Ilmu Kepepet," jawab Banyu dingin. "Udah gue bilang, jangan ganggu gue lagi. Cabut!"

Joni, yang sadar dia bakal kalah kalau maju sendirian, memilih taktik mundur teratur.

"Awas lu ya! Urusan kita belum kelar! Tunggu pembalasan gue!" Joni lari terbirit-birit diikuti dua anak buahnya yang pincang.

Banyu tersenyum puas. "Pembalasan? Boleh aja. Gue tungguin."

Keesokan paginya, Banyu mulai proyek besarnya.

Lahan di belakang kosan Pak Rahmat ukurannya tidak luas, paling cuma 200 meter persegi. Tapi kondisinya parah. Ilalang setinggi pinggang, tanah keras, banyak batu kali.

Beruntung Pak Rahmat masih menyimpan cangkul dan sabit tua di gudang.

"Bismillah, Operasi Babat Alas!"

Banyu mulai membabat rumput liar. Sret! Sret! Sabit di tangannya menari lincah. Setelah rumput bersih, dia mulai mencangkul. Tanah yang keras dia balik, akar-akar liar dia cabut sampai ke umbinya. Terakhir, dia membuat bedengan-bedengan rapi memanjang.

Kerja bakti sendirian ini memakan waktu dari pagi sampai sore. Banyu bahkan lupa makan siang.

Ajaibnya, dia tidak merasa lelah sedikit pun. Keringat memang bercucuran, tapi napasnya tetap stabil, tenaganya seperti tidak ada habisnya. Semakin dia bekerja, semakin dia merasa segar.

"Gila, stamina gue udah kayak kuda sumbawa," gumam Banyu kagum sambil memandangi hasil kerjanya. Lahan yang tadinya hutan mini kini sudah jadi calon kebun sayur yang rapi.

Banyu menaburkan bibit sawi ke atas bedengan tanah yang sudah gembur, lalu menyiramnya dengan hati-hati. Dia bekerja dengan teliti, penuh harapan, sampai tak sadar ada sepasang mata indah yang memperhatikannya dari gerbang samping.

Itu Laras.

Gadis itu baru pulang kerja, masih pakai seragam kantor yang rapi. Dia terpukau melihat perubahan drastis di halaman belakang kosannya. Melihat punggung Banyu yang tegap dan bermandi keringat di bawah sinar matahari sore, ada desiran aneh di hatinya.

Banyu menyiram bedengan terakhir, lalu menegakkan punggung. Saat berbalik, dia kaget melihat Laras tersenyum manis padanya.

"Eh, Laras. Udah balik?" sapa Banyu, sedikit salah tingkah karena sadar badannya bau matahari.

"Udah, Mas. Wah, rajin banget sih? Sehari doang udah jadi begini?" Laras mendekat, matanya berbinar melihat bedengan tanah yang rapi. "Hebat banget lho."

"Biasa aja kok, Ras. Namanya juga usaha. Ini modal buat ngelamar anak orang nanti," canda Banyu sambil nyengir.

"Emang yakin bakal laku sayurnya?" tanya Laras penasaran.

"Yakin seratus persen. Ini sawi varietas super. Nanti pas panen, kamu orang pertama yang bakal nyicipin. Dijamin ketagihan," promosi Banyu.

"Oke, aku pegang janjinya ya. Awas kalau gak enak," Laras tertawa renyah.

Matahari sore menyinari wajah Laras yang tertawa, membuat Banyu sempat tertegun. Cantik banget, batinnya. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena penyakit, tapi karena pesona tetangganya.

Mereka berdua asyik mengobrol, tak sadar kalau Rudi sedang mengintip dari jendela kamarnya dengan wajah gelap.

Gigi Rudi bergemeretak menahan cemburu.

"Gak mungkin... Laras kok bisa-bisanya ketawa-ketiwi sama tukang macul itu? Pasti si Banyu pake guna-guna! Awas aja lu, Nyu. Gue bikin hidup lu gak tenang!"

Hari-hari berikutnya, Banyu fokus total merawat kebunnya.

Seminggu kemudian, bibit sawi mulai bertunas. Saat itulah Banyu menggunakan senjata rahasianya. Dia mencampurkan satu tetes Cairan Ajaib ke dalam dua ember besar air.

"Semoga dosisnya pas," gumamnya saat menyiramkan air campuran itu ke setiap bedengan.

Efeknya gila.

Tanaman sawi itu tumbuh dengan kecepatan tidak wajar. Setiap pagi Banyu bangun, sawi-sawinya tambah besar secara signifikan. Daunnya hijau pekat, tebal, dan berkilau seperti plastik baru. Batangnya putih bersih, renyah, dan gemuk.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, sawi yang biasanya butuh sebulan baru panen, kini sudah siap petik dengan ukuran jumbo.

Pak Rahmat dan Bu Yati sampai geleng-geleng kepala melihatnya.

"Walah, Ny... ini sawi apa raksasa? Subur bener!" puji Bu Yati. "Kalau dijual di pasar, ibu-ibu pasti rebutan nih. Buat pajangan di pot aja pantes saking bagusnya."

Banyu tersenyum puas. Eksperimen pertamanya sukses besar.

Tapi ada satu masalah baru. Stok Cairan Ajaib menipis. Kendi itu cuma menghasilkan satu tetes setiap tiga hari. Itu terlalu lambat. Dia harus membagi jatah antara menyembuhkan badannya sendiri dan menyiram tanaman.

"Harus ada cara buat upgrade ini kendi," pikir Banyu.

Dia mulai rajin ke perpustakaan daerah, cari buku sejarah atau mitologi. Nihil. Akhirnya, dia beralih ke pasar barang antik dan loak di pinggiran kota, berharap menemukan petunjuk atau "teman" si kendi.

Suatu sore, Banyu sedang jalan-jalan santai di pasar loak Jalan Surabaya (atau pasar loak lokal setempat). Dia melihat-lihat tumpukan barang bekas; keris karatan, uang kuno, patung kayu.

Tidak ada yang menarik. Sampai dia berdiri di depan sebuah lapak pedagang batu akik.

Tiba-tiba, Kendi Penyuling Jiwa yang tergantung di balik kaosnya bergetar halus.

Zzzzt!

Banyu terlonjak kaget. "Waduh, kenapa nih? Mode getar?"

Dia menekan dadanya, merasakan kendi itu menjadi hangat, seolah bereaksi terhadap sesuatu di dekat situ.

1
Yandi Hidayat
sangat bagus
Wega Luna
papi Raka paling keren,,,,🤭🤭🤭🤭GK ada Raka Raka yg lain kalo GK Raka nya Vania Bella🤭🤭🤭
Gege
bener bener apik dan epic bangeed...asal ga kesurupan setan NT yang ngajarin kalimat mbuledd ajaa buat kejar setoran pasti rame terus ini novel...
Jujun Adnin
sampe tamat
Aji L
setengah hektar tu 5.000 m²
DipsJr: wah iya ya... 😅
makasih infonya tandi di revisi. 🙏
total 1 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣untung besar ,buat jajan di luar negeri
Gege
apik dan epic
Gege
sangat apik dan epic setiap episodenya... mungkin bisa dibuatkan cerita nelayan tajir... dengan pola yang sama tapi banyak mainan air..😄🤣
isnaini naini
gas lah pak mo..ayo brngkt...
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣 siapa yg nolak nyu ,gratis lagi
Jujun Adnin
lanjut
Apriyantho Apri
Perbanyak upgrade nya dong,please...
DipsJr: cuman bisa 3 kak. biar awet. 😔
total 1 replies
D'ken Nicko
kurang banyak babnya thor
Jujun Adnin
lagi
isnaini naini
siska mungkin pnya trauma masa lalu kali ya...kok klo liat orang bawaan nya skeptis melulu awas...nanti jth cinta loh...
isnaini naini
gpp nyu 100jt buat hdiah cuma2 tp scra tdk lngsng km sdh pnya koneksi aman lah...walau agak pait jg sih...100jt gt loh...😇
isnaini naini
smngt ya nyu buat author jg...
isnaini naini
benih lope2nih kyknya....
isnaini naini
gimana pak tomat busuk...kapok lu...
isnaini naini
ayo..pak tomat..eh p.somad siap2diratain sm nyonya galak...😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!