NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:265.4k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Mulai Mencangkul

Setelah mendapat lampu hijau dari Pak Rahmat, Banyu langsung tancap gas.

Tentu saja, cerita soal "teman di IPB" itu cuma akal-akalan supaya Pak Rahmat tidak curiga kenapa dia tiba-tiba sok jadi petani. Banyu pergi ke toko pertanian terdekat di pasar, membeli sebungkus besar bibit Sawi Hijau (Caisim) seharga sepuluh ribu perak. Murah meriah, cepat panen, dan laku keras di pasaran. Ini langkah awal yang realistis untuk startup pertaniannya.

Dengan bibit di saku jaket, Banyu berjalan pulang dengan langkah lebar. Dia merasa seperti jenderal yang membawa strategi perang mematikan.

Namun, baru saja dia melintasi jembatan masuk kampung, dia dihadang lagi. Siapa lagi kalau bukan Joni dan dua kacungnya.

Melihat Banyu yang biasanya jalan sempoyongan kini melangkah tegap, Joni sedikit kaget. Tapi, ego premannya lebih besar dari otaknya.

"Woi, Banyu! Nyali lu makin gede ya? Siapa yang bolehin lu ngangkat gerobak dari sungai tanpa izin gue? Kurang bonyok lu kemaren?"

Banyu menatap Joni datar. Tidak ada lagi rasa takut atau gemetar di lututnya.

"Gue gak mau cari ribut, Jon. Minggir. Urusan kita udah kelar."

"Wah, anjing! Udah berani ngelawan lu ya!" Joni meludah ke tanah, lalu berteriak ke anak buahnya. "Sikat dia! Biar tau rasa!"

Dua kacung Joni langsung menerjang. Dulu, Banyu pasti sudah pasrah jadi samsak hidup. Tapi kali ini, entah kenapa gerakan mereka terlihat... lambat.

Bugh!

Satu pukulan melayang ke arah wajah Banyu. Dia menangkis dengan tangan kiri. Aneh, rasanya tidak sakit. Malah terasa seperti dipukul bantal kapuk.

Refleks, Banyu membalas dengan dorongan keras.

Brak!

Satu kacung terpelanting jatuh ke aspal. Banyu kaget dengan tenaganya sendiri.

"Pasti gara-gara Cairan Ajaib itu!" batin Banyu girang. Ternyata efeknya bukan cuma menyembuhkan jantung, tapi juga bikin badannya sekeras beton.

Dengan percaya diri penuh, Banyu meladeni kacung satunya. Dia menangkis tendangan, lalu membalas dengan pukulan lurus ke dada. Si kacung langsung mundur terhuyung-huyung, sesak napas.

Joni melongo. Dia tidak percaya Banyu "Si Penyakitan" bisa bikin KO dua anak buahnya dalam sekejap.

"Lu... lu pake ilmu apaan?!" Joni mundur selangkah, nyalinya ciut.

"Ilmu Kepepet," jawab Banyu dingin. "Udah gue bilang, jangan ganggu gue lagi. Cabut!"

Joni, yang sadar dia bakal kalah kalau maju sendirian, memilih taktik mundur teratur.

"Awas lu ya! Urusan kita belum kelar! Tunggu pembalasan gue!" Joni lari terbirit-birit diikuti dua anak buahnya yang pincang.

Banyu tersenyum puas. "Pembalasan? Boleh aja. Gue tungguin."

Keesokan paginya, Banyu mulai proyek besarnya.

Lahan di belakang kosan Pak Rahmat ukurannya tidak luas, paling cuma 200 meter persegi. Tapi kondisinya parah. Ilalang setinggi pinggang, tanah keras, banyak batu kali.

Beruntung Pak Rahmat masih menyimpan cangkul dan sabit tua di gudang.

"Bismillah, Operasi Babat Alas!"

Banyu mulai membabat rumput liar. Sret! Sret! Sabit di tangannya menari lincah. Setelah rumput bersih, dia mulai mencangkul. Tanah yang keras dia balik, akar-akar liar dia cabut sampai ke umbinya. Terakhir, dia membuat bedengan-bedengan rapi memanjang.

Kerja bakti sendirian ini memakan waktu dari pagi sampai sore. Banyu bahkan lupa makan siang.

Ajaibnya, dia tidak merasa lelah sedikit pun. Keringat memang bercucuran, tapi napasnya tetap stabil, tenaganya seperti tidak ada habisnya. Semakin dia bekerja, semakin dia merasa segar.

"Gila, stamina gue udah kayak kuda sumbawa," gumam Banyu kagum sambil memandangi hasil kerjanya. Lahan yang tadinya hutan mini kini sudah jadi calon kebun sayur yang rapi.

Banyu menaburkan bibit sawi ke atas bedengan tanah yang sudah gembur, lalu menyiramnya dengan hati-hati. Dia bekerja dengan teliti, penuh harapan, sampai tak sadar ada sepasang mata indah yang memperhatikannya dari gerbang samping.

Itu Laras.

Gadis itu baru pulang kerja, masih pakai seragam kantor yang rapi. Dia terpukau melihat perubahan drastis di halaman belakang kosannya. Melihat punggung Banyu yang tegap dan bermandi keringat di bawah sinar matahari sore, ada desiran aneh di hatinya.

Banyu menyiram bedengan terakhir, lalu menegakkan punggung. Saat berbalik, dia kaget melihat Laras tersenyum manis padanya.

"Eh, Laras. Udah balik?" sapa Banyu, sedikit salah tingkah karena sadar badannya bau matahari.

"Udah, Mas. Wah, rajin banget sih? Sehari doang udah jadi begini?" Laras mendekat, matanya berbinar melihat bedengan tanah yang rapi. "Hebat banget lho."

"Biasa aja kok, Ras. Namanya juga usaha. Ini modal buat ngelamar anak orang nanti," canda Banyu sambil nyengir.

"Emang yakin bakal laku sayurnya?" tanya Laras penasaran.

"Yakin seratus persen. Ini sawi varietas super. Nanti pas panen, kamu orang pertama yang bakal nyicipin. Dijamin ketagihan," promosi Banyu.

"Oke, aku pegang janjinya ya. Awas kalau gak enak," Laras tertawa renyah.

Matahari sore menyinari wajah Laras yang tertawa, membuat Banyu sempat tertegun. Cantik banget, batinnya. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena penyakit, tapi karena pesona tetangganya.

Mereka berdua asyik mengobrol, tak sadar kalau Rudi sedang mengintip dari jendela kamarnya dengan wajah gelap.

Gigi Rudi bergemeretak menahan cemburu.

"Gak mungkin... Laras kok bisa-bisanya ketawa-ketiwi sama tukang macul itu? Pasti si Banyu pake guna-guna! Awas aja lu, Nyu. Gue bikin hidup lu gak tenang!"

Hari-hari berikutnya, Banyu fokus total merawat kebunnya.

Seminggu kemudian, bibit sawi mulai bertunas. Saat itulah Banyu menggunakan senjata rahasianya. Dia mencampurkan satu tetes Cairan Ajaib ke dalam dua ember besar air.

"Semoga dosisnya pas," gumamnya saat menyiramkan air campuran itu ke setiap bedengan.

Efeknya gila.

Tanaman sawi itu tumbuh dengan kecepatan tidak wajar. Setiap pagi Banyu bangun, sawi-sawinya tambah besar secara signifikan. Daunnya hijau pekat, tebal, dan berkilau seperti plastik baru. Batangnya putih bersih, renyah, dan gemuk.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, sawi yang biasanya butuh sebulan baru panen, kini sudah siap petik dengan ukuran jumbo.

Pak Rahmat dan Bu Yati sampai geleng-geleng kepala melihatnya.

"Walah, Ny... ini sawi apa raksasa? Subur bener!" puji Bu Yati. "Kalau dijual di pasar, ibu-ibu pasti rebutan nih. Buat pajangan di pot aja pantes saking bagusnya."

Banyu tersenyum puas. Eksperimen pertamanya sukses besar.

Tapi ada satu masalah baru. Stok Cairan Ajaib menipis. Kendi itu cuma menghasilkan satu tetes setiap tiga hari. Itu terlalu lambat. Dia harus membagi jatah antara menyembuhkan badannya sendiri dan menyiram tanaman.

"Harus ada cara buat upgrade ini kendi," pikir Banyu.

Dia mulai rajin ke perpustakaan daerah, cari buku sejarah atau mitologi. Nihil. Akhirnya, dia beralih ke pasar barang antik dan loak di pinggiran kota, berharap menemukan petunjuk atau "teman" si kendi.

Suatu sore, Banyu sedang jalan-jalan santai di pasar loak Jalan Surabaya (atau pasar loak lokal setempat). Dia melihat-lihat tumpukan barang bekas; keris karatan, uang kuno, patung kayu.

Tidak ada yang menarik. Sampai dia berdiri di depan sebuah lapak pedagang batu akik.

Tiba-tiba, Kendi Penyuling Jiwa yang tergantung di balik kaosnya bergetar halus.

Zzzzt!

Banyu terlonjak kaget. "Waduh, kenapa nih? Mode getar?"

Dia menekan dadanya, merasakan kendi itu menjadi hangat, seolah bereaksi terhadap sesuatu di dekat situ.

1
Sefran Yuanda
IPB d Bogor thor, bukan Bandung. Lagian di awal nulis Unpad. sekarang tiba-tiba jadi IPB
Sefran Yuanda
Awalnya Unpad, kok tiba-tiba jadi IPB. Jauh banget, awalnya kan dia mau ke bandung. ketemu mahasiswa Unpad. lah kok tiba-tiba pindah jadi IPB. Jadi Bogor dong
Was pray
beli lahan nyu udah punya modal Gedhe masak puas cuma nyewa terus .. peningkatan lah...kalau nyewa rentan dipermainkan sama pemilik lahan, predikat petani sultan kok gak punya lahan sendiri, mobil juga gak punya , apa gunanya punya duit banyak kalau lahan ngrental , mobil juga ngrental.... lucu deh... 🤣🤣
Naga Hitam
kapan banyu bisa nyetir...
sitanggang
mcnya kok goblok yaa
Jujun Adnin
up
Was pray
bos sultan kok hobinya nebeng .. komedi deh, buayapZ punya uang banyak mau bepergian aja ribet nyari Tebengan... 🤣
KETUA SEKTE
Picky Eater: Makan Pilih2
Was pray
katanya sultan motor aja gak punya... bantu tu sultan dalam dunia komedi .
Rizky Rizkun Karim Rizky
mampus lu jing....🤣🤣🤣
Jujun Adnin
ok
asammanis
thanks thor seru banget ceritanya 👍👍👍
Tio Kusuma
jossssss
Tio Kusuma
mantepppp....lanjut thor
muchamat efendi
banyu2 ngakak tingkahnya, 🤣🤣🤣🤭
muchamat efendi
wkwkwk🤭🤣
asammanis
jackpot 🤣
asammanis
umpan lambung yg sangat cantik dari bang anton🤣🤣
Rizky Rizkun Karim Rizky
ini bagus sih menrt ku...tetep semangat Thor....request dong bikin cerita tentang pemancing pake sistem gitu...😁
Rizky Rizkun Karim Rizky
emak2 emang sadis klo soal tawar menawar..🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!