Kiana Elvaretta tidak butuh pangeran. Di usia tiga puluh, dia sudah memiliki kerajaan bisnis logistiknya sendiri. Baginya, laki-laki hanyalah gangguan—terutama setelah mantan suaminya mencoba menghancurkan hidupnya.
Namun, demi mengamankan warisan sang kakek, Kiana harus menikah lagi dalam 30 hari. Pilihannya jatuh pada Gavin Ardiman, duda beranak satu yang juga rival bisnis paling dingin di ibu kota.
"Aku tidak butuh uangmu, Gavin. Aku hanya butuh statusmu selama satu tahun," cetus Kiana sambil menyodorkan kontrak pra-nikah setebal sepuluh halaman.
Gavin setuju, berpikir bahwa memiliki istri yang tidak menuntut cinta akan mempermudah hidupnya. Namun, dia salah besar. Kiana tidak datang untuk menjadi ibu rumah tangga yang penurut. Dia datang untuk menguasai rumah, memenangkan hati putrinya yang pemberontak dengan cara yang tak terduga, dan perlahan... meruntuhkan tembok es di hati Gavin.
Saat g4irah mulai merusak klausul kontrak, siapakah yang akan menyerah lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Aliansi Para Mantan
"Nggak mungkin, Gavin. Kamu dengar sendiri kan? Dua puluh tahun. Dia sudah kerja ikut Kakek dari aku masih piyik. Dia yang ngajarin aku cara hitung stok di gudang. Masa dia bakar rumah keduanya sendiri?"
Kiana meremas sabuk pengamannya, wajahnya pucat pasi. Mobil Gavin melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai macet di siang hari, menuju kantor polisi.
Gavin menyetir dengan satu tangan, tangan kirinya menggenggam tangan Kiana yang dingin dan berkeringat.
"Bukti forensik nggak punya perasaan, Kiana. Sidik jari itu fakta," jawab Gavin realistis, meski hatinya juga kesal melihat istrinya hancur. "Orang bisa berubah. Terdesak kebutuhan, sakit hati, atau keserakahan bisa bikin orang paling setia jadi pengkhianat dalam semalam."
"Tapi Pak Ujang..." suara Kiana pecah. "Kemarin dia nangis di depan aku. Dia ikut madamin api sampai tangannya melepuh."
"Itu bisa jadi akting untuk menutupi jejak. Kriminal sering balik ke TKP, Kiana. Ingat itu."
Mobil berhenti di pelataran parkir kantor polisi yang gersang. Gavin mematikan mesin, lalu menatap Kiana lekat-lekat.
"Siapkan mental kamu. Apa pun yang akan kamu dengar di dalam sana, jangan biarkan emosi menguasai logika. Kamu CEO. Kamu harus dengar pengakuannya langsung."
Kiana menarik napas panjang, mengangguk kaku. Dia membetulkan letak blazernya, memasang topeng boss lady-nya kembali, meski hatinya berdarah.
Ruang interogasi itu sempit, dingin, dan bau rokok apek. Dindingnya dicat warna abu-abu kusam, menambah suram suasana.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya mengenakan baju tahanan oranye. Tangannya diborgol ke meja besi. Wajahnya lebam-lebam—mungkin sisa perkelahian saat penangkapan atau mungkin dipukuli penagih utang, entahlah.
Itu Pak Ujang.
Begitu pintu besi terbuka dan Kiana melangkah masuk diikuti Gavin dan penyidik, Pak Ujang langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya berguncang hebat.
Kiana berdiri di seberang meja. Dia menatap ubun-ubun pria itu.
"Angkat kepala Bapak," perintah Kiana. Suaranya datar, tapi dinginnya menusuk tulang.
Pak Ujang tidak bergerak. Isak tangisnya makin kencang.
"SAYA BILANG ANGKAT KEPALA!" bentak Kiana, menggebrak meja besi itu dengan telapak tangannya. BRAK!
Pak Ujang tersentak. Dia mendongak perlahan. Matanya merah, bengkak, dan penuh ketakutan. Dia tidak berani menatap mata Kiana.
"Maaf, Neng... Maafin Bapak, Neng Kiana..." rintih Pak Ujang, menggunakan panggilan masa kecil Kiana.
"Jangan panggil saya Neng!" potong Kiana tajam. "Panggilan itu cuma buat orang yang setia sama keluarga Adijaya! Kamu... kamu bakar gudang itu, Pak Ujang? Gudang tempat kamu cari makan dua puluh tahun? Tempat Kakek kasih kamu THR setiap tahun? Kamu bakar?!"
"Saya terpaksa, Bu... Saya nggak punya pilihan..." Pak Ujang menangis meraung-raung.
Gavin maju selangkah, berdiri di samping Kiana sebagai pelindung. "Terpaksa bagaimana? Siapa yang maksa kamu? Setan?"
"Anak saya, Pak... Si Raka..." Pak Ujang sesenggukan. "Dia... dia main judi online. Utangnya ratusan juta sama rentenir. Rentenirnya datang ke rumah, mereka bawa parang. Mereka sandera istri dan cucu saya. Mereka bilang kalau saya nggak bayar malam itu juga, rumah saya bakal dibakar sama isinya."
Kiana terdiam. Judi online. Wabah penyakit yang merusak banyak keluarga.
"Terus? Apa hubungannya sama gudang saya?" tanya Kiana, suaranya sedikit melunak tapi tetap tegas.
"Ada orang... ada orang yang datang nawarin bantuan," lanjut Pak Ujang terbata-bata. "Dia bilang dia bakal lunasin semua utang Raka. Asal... asal saya mau melakukan satu hal kecil."
"Bakar gudang," simpul Gavin dingin.
Pak Ujang mengangguk lemah. "Mereka kasih saya jerigen bensin. Mereka kasih saya instruksi lewat telepon. Saya... saya gelap mata, Bu. Saya takut cucu saya mati. Saya pikir... gudang ada asuransinya... Ibu nggak bakal rugi banyak... Saya bodoh, Bu! Saya bodoh!"
Pak Ujang membenturkan kepalanya sendiri ke meja besi berkali-kali karena menyesal. Polisi di sudut ruangan segera menahannya.
Kiana memejamkan mata, menahan rasa sakit di dadanya. Lima puluh miliar hangus dan reputasi hancur hanya karena utang judi anak buahnya.
"Siapa?" tanya Kiana. Dia membuka matanya kembali. Tatapannya kini bukan lagi kesedihan, tapi dendam yang membara.
"Siapa orang yang bayar kamu, Pak Ujang? Siapa yang kasih perintah?"
Pak Ujang menggeleng takut. "Saya nggak berani, Bu... mereka ancam bakal bunuh saya di penjara..."
"Kalau kamu nggak ngomong," Gavin mencondongkan tubuhnya, menatap Pak Ujang dengan tatapan predator, "Saya pastikan kamu membusuk di penjara seumur hidup dan keluarga kamu di luar sana tidak akan dapat perlindungan apapun. Tapi kalau kamu ngomong, saya akan kirim pengacara terbaik untuk minta keringanan hukuman dan saya akan lindungi keluargamu dari rentenir itu."
Tawaran Gavin adalah satu-satunya sekoci penyelamat. Pak Ujang menatap Gavin, lalu menatap Kiana.
"Bicara, Pak Ujang. Siapa dalangnya?" desak Kiana.
"Ada dua orang..." bisik Pak Ujang gemetar. "Laki-laki dan perempuan."
Jantung Kiana berdegup kencang. Firasatnya tentang pemantik api itu semakin kuat.
"Laki-laki itu... namanya Pak Radit," aku Pak Ujang.
Kiana menghembuskan napas kasar. Benar. Radit. Mantan suaminya yang psycho.
"Dan perempuannya?" tanya Gavin cepat. "Siapa perempuannya? Pacar baru Radit?"
Pak Ujang menelan ludah. Dia terlihat ragu menyebut nama ini.
"Bukan pacar Pak Radit... tapi... dia bilang dia kenal Bapak. Dia bilang dia dendam sama Bapak dan Bu Kiana."
Gavin mengerutkan kening. "Siapa?"
"Namanya... Non Celine."
Hening.
Ruangan interogasi itu mendadak sunyi senyap. Hanya suara dengungan lampu neon yang terdengar.
Kiana dan Gavin saling pandang. Mata mereka membelalak kaget.
Celine?
Celine, yang tergila-gila sama Gavin? Wanita yang disiram kopi oleh Kiana di kafe beberapa minggu lalu? Wanita yang katanya model papan atas itu?
"Kamu yakin namanya Celine?" tanya Kiana memastikan.
"Yakin, Bu. Dia yang kasih uang cash ke saya di parkiran pasar. Dia pakai kacamata hitam, tapi saya kenal dia. Dia yang pernah masuk majalah sama Pak Gavin dulu."
Gavin mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-bukunya memutih. Rahangnya mengeras.
"Brengsek," umpat Gavin pelan.
Jadi selama ini bukan hanya Radit. Tapi ada kolaborasi antara dua masa lalu yang sakit hati. Radit yang dendam pada Kiana karena diceraikan dan miskin, dan Celine yang dendam pada Gavin (dan Kiana) karena diabaikan dan dipermalukan.
Aliansi para mantan.
"Di mana mereka sekarang?" tanya Kiana pada Pak Ujang.
"Mereka... mereka janji mau ketemu saya sore ini di pelabuhan Sunda Kelapa. Buat kasih sisa bayaran dan tiket kabur ke luar pulau," jawab Pak Ujang.
Kiana langsung menoleh ke arah Kompol Aryo yang berdiri di belakang mereka.
"Pak Aryo," panggil Kiana tegas. "Bapak dengar itu? Sore ini. Pelabuhan Sunda Kelapa."
Kompol Aryo mengangguk, menyalakan handy talky-nya. "Kami akan siapkan tim penyergapan sekarang juga. Kita tangkap basah mereka."
Dua jam kemudian. Pelabuhan Sunda Kelapa.
Matahari sore bersinar terik, menciptakan bayangan panjang dari deretan kapal pinisi yang bersandar. Bau amis laut dan solar memenuhi udara.
Di sebuah dermaga sepi yang tertutup tumpukan peti kemas, sebuah mobil sedan hitam terparkir.
Di dalam mobil itu, Radit duduk di kursi pengemudi sambil merokok dengan gelisah. Di sebelahnya, Celine sedang memoles lipstik merah menyala, terlihat santai dan angkuh.
"Mana sih si tua bangka itu?" gerutu Radit, melihat jam tangannya. "Udah telat sepuluh menit. Jangan-jangan dia ketangkep."
"Tenang aja, Babe," kata Celine santai, mengatupkan bibirnya di cermin. " Paling si Ujang lagi macet naik bajaj. Yang penting, lo udah siapin tiket kita ke Singapura kan?"
"Udah. Begitu Ujang datang, kita kasih duit tutup mulut, terus kita cabut. Gue udah nggak sabar lihat berita kebangkrutan Kiana besok pagi," Radit tertawa jahat.
"Dan gue nggak sabar lihat muka Gavin hancur pas tahu bininya bangkrut. Biar dia tahu rasa, ninggalin gue demi janda kayak Kiana," timpal Celine sinis.
Tiba-tiba, sosok Pak Ujang muncul dari balik tumpukan peti kemas. Dia berjalan sendirian, menunduk, memeluk tas kresek hitam.
"Nah, itu dia," kata Radit. Dia membuka pintu mobil, keluar sambil membuang puntung rokoknya.
Celine ikut turun, melipat tangan di dada dengan gaya bossy.
"Lama banget sih lo, Pak!" bentak Celine. "Mana? Udah beres kan semua jejak?"
Pak Ujang berhenti lima meter di depan mereka. Dia tidak menjawab. Tubuhnya gemetar hebat.
"Heh! Budek lo?" Radit melangkah maju dengan agresif. "Gue tanya, aman nggak?!"
Pak Ujang mengangkat kepalanya. Air mata mengalir di pipinya.
"Maaf, Pak Radit... Non Celine..." bisik Pak Ujang.
"Maaf kenapa?" Celine mengerutkan kening.
Pak Ujang tiba-tiba menjatuhkan diri ke tanah, tiarap.
"SEKARANG!" teriak Pak Ujang.
Detik berikutnya, suasana dermaga yang sepi berubah menjadi neraka bagi Radit dan Celine.
Dari balik tumpukan peti kemas, dari atas kapal, dan dari segala penjuru, puluhan polisi berseragam lengkap dengan senjata laras panjang bermunculan.
"JANGAN BERGERAK! POLISI!"
"ANGKAT TANGAN!"
Suara bentakan polisi bersahut-sahutan.
Radit panik. Dia berbalik hendak lari kembali ke mobil, tapi dua orang polisi berpakaian preman sudah lebih dulu menendang pintu mobil hingga tertutup dan menodongkan pistol ke wajahnya.
"Raditya! Anda ditangkap atas tuduhan pembakaran berencana dan sabotase!"
Di sisi lain, Celine menjerit histeris saat seorang polwan menyergapnya dan memelintir tangannya ke belakang punggung.
"Lepasin! Gue nggak salah! Gue cuma nemenin dia!" teriak Celine, mencoba meronta. "Kalian tahu siapa gue?! Gue model! Gue kenal pejabat!"
"Simpan argumen Anda buat di pengadilan, Mbak," kata polwan itu dingin sambil memasang borgol besi yang dingin di pergelangan tangan Celine yang halus. Klik!
Di kejauhan, di balik garis aman polisi, Kiana dan Gavin berdiri berdampingan menyaksikan penangkapan itu.
Gavin merangkul bahu Kiana. Kiana menyandarkan kepalanya di bahu Gavin.
Mereka melihat Radit yang diseret paksa dengan wajah penuh ketakutan, dan Celine yang masih berteriak-teriak memaki dengan makeup luntur.
Kiana melangkah maju sedikit saat polisi menggiring kedua tersangka melewati mereka menuju mobil patroli.
Radit mendongak, melihat mantan istrinya berdiri tegak dengan tatapan dingin.
"Kiana..." desis Radit. "Lo jebak gue!"
"Lo yang gali kuburan lo sendiri, Dit," jawab Kiana tenang. "Nikmati masa tua lo di penjara. Gue pastikan pengacara gue bakal bikin lo dapet hukuman maksimal."
Lalu Celine lewat. Dia menatap Gavin dengan mata basah.
"Gavin! Tolongin aku! Aku dijebak Radit! Aku nggak tahu apa-apa!" Celine mencoba memanipulasi Gavin untuk terakhir kalinya.
Gavin menatap mantan pacarnya itu dengan tatapan datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Saya sudah lihat rekaman CCTV di mana kamu beli bensin, Celine," kata Gavin dingin. "Akting kamu lebih jelek dari guru les matematika anak saya. Selamat tinggal."
Polisi mendorong mereka masuk ke dalam mobil tahanan. Sirine menyala. Konvoi mobil polisi bergerak meninggalkan pelabuhan.
Debu beterbangan. Masalah selesai.
Kiana menghela napas panjang, sangat panjang. Rasanya semua beban di dadanya ikut terbawa pergi bersama mobil polisi itu.
Gudang terbakar. Uang hilang. Tapi pengkhianat sudah dibersihkan. Dan yang paling penting, dia masih berdiri tegak.
"Sudah selesai?" tanya Gavin lembut.
"Belum," Kiana menggeleng, lalu menatap Gavin sambil tersenyum tipis. "Sekarang aku harus bangun ulang gudang itu. Dan... aku laper. Mau makan bubur lagi nggak?"
Gavin tertawa lepas. "Asal jangan gosong lagi, Nyonya Ardiman."
"Nggak janji," Kiana tertawa.
Gavin meraih tangan Kiana, menggenggamnya erat. Meski tertawa, dia tahu, hati Kiana sedang tidak baik- baik saja. 50 miliar bukan jumlah yang sedikit dan Kiana harus berjuang keras memulihkan reputasinya.
"Ayo pulang. Alea nungguin kita."
trimakasih ya sudah buat cerita ini
ditunggu karya selanjutnya⚘️⚘️⚘️