NovelToon NovelToon
Sistem Kepelatihan Xiao Han

Sistem Kepelatihan Xiao Han

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.

Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)

Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Jam istirahat masih belum usai.

Xiao Han sedang duduk di bangku panjang dekat lapangan, membolak-balik catatan tentang calon anggota baru. Dari kelas 7, dia sudah punya Jiang Tao yang belum bergabung, dan satu anak lain yang tertarik tapi minta izin orang tua dulu.

“Siapa ini? Zhao Peng? Aku belum bertemu dengannya. Jadi dia tertarik dengan sepak bola?”

Sedangkan dari kelas 8, baru Chen Lili, bukan sebagai pemain, tapi manajer yang mengatur keperluan tim, tapi dia juga belum memutuskan.

Semua ini belum cukup, masih butuh banyak anggota. Xiao Han sadar, dia tidak boleh lengah-lengah.

“Pak Han!” Wei Ying berlari kecil dari arah kantin, wajahnya sumringah. Di tangannya ada dua bungkus makanan ringan.

“Pak Han, aku lihat tadi di kelas 8! Pak Han ngobrol sama anak perempuan!”

Xiao Han mengerut, sangat lucu didengar, dia sudah terbiasa dipanggol Bapak di lingkungan sekolah oleh Wei Ying, tapi yang keluar dari bibirnya justru. “Kau memata-matai aku?”

“Bukan! Aku kan tadi disuruh Bu Guru ke ruang BK, lewat kelas 8 sih.” Wei Ying duduk di samping Xiao Han, menyodorkan satu bungkus makanan yang dirinya bawa. “Yang penting ini! Makan dulu, Pak. Ini enak.”

Xiao Han menerima, meski tidak terlalu lapar. “Kau tahu anak itu?”

“Chen Lili. Sebentar.”

Wei Ying mengunyah makanan dengan cepat, lalu menelan. “Dia terkenal di kelas 8. Katanya dulu pernah mau ikut ekskul, tapi tidak diterima karena tidak ada tim putri. Terus dia main sama kakaknya, tapi kakaknya sekarang sibuk. Jadi dia sering di perpustakaan, baca buku tentang taktik.”

“Buku taktik?”

“Iya. Kata teman sekelasnya, dia punya koleksi buku taktik dari dulu. Sampe di rumahnya ada rak khusus.”

Xiao Han terdiam. Seorang anak perempuan, tidak punya teman bermain, tidak punya tim, tapi punya rak buku taktik di rumah. Dia membayangkan Chen Lili duduk sendirian membaca formasi, menggambar lapangan, mempelajari strategi yang tidak pernah dipraktikkan.

Itu bukan sekadar suka, pikir Xiao Han. Itu obsesi. Sama seperti aku dulu.

“Wei Ying.”

“Ya?”

“Kalau Chen Lili datang ke lapangan nanti, kau temani dia. Perkenalkan ke yang lain. Bantu kalau ada yang, kalau ada yang kurang ramah.”

Wei Ying mengangguk cepat. “Siap! Aku juga mau lihat dia main. Kata teman-teman, dia jago waktu kecil. Dulu kakaknya ajarin.”

“Kau percaya gosip?”

“Bukan gosip. Aku lihat sendiri.” Wei Ying menunjuk ke arah lapangan belakang. “Dulu sebelum ekskul mulai, aku sering lihat dia di sana. Sendirian. Tendang bola ke tembok. Tapi pas ada orang lewat, dia langsung berhenti.”

Xiao Han tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah cukup mengerti. Tapi dia mengatakan satu hal pada Wei Ying. “Nanti, dia datang bukan jadi pemain.”

“Eh?“ Alis Wei Ying terangkat satu. “EHHHHH!!”

“Jangan teriak-teriak, Wei Ying.” Xiao Han lemas wajahnya. “Memangnya, kau tega seorang perempuan bermain bola dengan laki-laki?”

Seorang perempuan bermain bola pada tim putra, itu akan terdengar seperti cerita yang aneh. Walau di dunia fiksi sekalipun, hanya akan memperburuk estetika sepak bola.

“Tapi ... Chen Lili memang orang yang hebat, Wei Ying.”

Menurut Xiao Han, Chen Lili memasuki sekolah yang diisi dominan laki-laki. Tapi, tak punya tempat khusus sepak bola perempuannya. Mau bagaimanapun, tim putranya juga hampir mati di tempat ini.

Baginya, akan disayangkan jika gadis kecil ini harus memangkas rambut indahnya seperti Ronaldo Nazario.

***

Sore pun datang menyibak langit.

Di kala senja yang indah ini, latihan berlangsung seperti biasa. Diikuti delapan orang anggota. Wei Ying, Maling'sheng, Lin Feng, Wang Lei, Li Wei, Hu Tao, Huang Lei, dan Sun Xiao.

Chen Hao datang terlambat karena keperluan rapat dengan wali kelas. Xiao Han memimpin pemanasan. Tapi dengan batin yang berkata. Apa benar orang tua itu rapat?

“Hari ini kita latihan umpan satu-dua. Wei Ying sama Maling'sheng di tengah. Wang Lei sama Li Wei di sayap. Lin Feng, kau bantu Hu Tao di gawang.”

Latihan berlangsung tidak mulus. Maling'sheng masih terlalu egois, lebih suka menembak daripada mengembalikan umpan satu-dua pemantul ke Wei Ying. Li Wei masih kesulitan kontrol bola. Wang Lei tekel terlalu keras sampai bola menggelinding liar. Sama kacaunya dengan Huang Lei dan Sun Xiao yang baru saja mengikuti sesi latihan beberapa saat kemarin.

Tapi ada yang berbeda hari ini.

Di bangku panjang pinggir lapangan, seorang anak perempuan duduk dengan tas di pangkuan. Tidak ada yang mengundangnya. Tidak ada yang melihatnya datang. Dia hanya ada di sana, memperhatikan.

Wei Ying yang pertama menyadari. Dia menoleh ke arah bangku, lalu tersenyum kecil tanpa sepatah kata. Xiao Han hanya diam. Dirinya melanjutkan melatih ekstrakurikuler tanpa memerdulikannya, seakan Chen LiLi adalah makhluk yang ghaib dipandang.

Tapi setiap kali Xiao Han memberi instruksi, Dirinya memastikan suaranya cukup jelas.

“Wei Ying, jangan hanya umpan ke Maling'sheng. Lihat ke sayap. Wang Lei sudah membuka ruang.”

“Maling'sheng, setelah umpan, bergerak. Jangan hanya berdiri.”

“Li Wei, kontrol dadamu terlalu kencang. Bayangkan bola itu telur. Pikirkan, jangan buat telur itu pecah.”

Dari bangku panjang, Chen Lili mematung. Matanya mengikuti bola, mengikuti pergerakan pemain. Kadang, tangannya bergerak kecil di pangkuan, seperti sedang menggambar sesuatu di udara.

Latihan pun berlangsung satu jam.

Tidak ada yang berbicara dengan Chen Lili. Tidak ada yang mengusirnya. Gadis kecil itu hanya duduk di sana, menonton.

Dan ketika latihan telah selesai, anak-anak berhamburan mengambil minum. Wei Ying menghampiri bangku panjang dengan dua botol air.

“Minum,” katanya, menyodorkan satu. “Panas, kan, sore-sore begini?”

Chen Lili menerima botol itu. “Terima kasih.”

“Kau Wei Ying?” tanyanya pelan. “Murid ajaran baru dari kelas 7?”

“Iya. Aku baru bulan ini. Tapi aku suka bola dari kecil.” Wei Ying duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. “Kak Han bilang, kau orang yang hebat.”

Chen Lili tersentak. “Aku tidak— aku cuma …”

“Kak Han tidak pernah bohong soal bola.” Wei Ying menatap lapangan, ke arah Xiao Han yang sedang merapikan perlengkapan. “Dia bilang aku cocok jadi gelandang. Awalnya aku tidak percaya. Tapi sekarang, aku suka.” Dirinya menoleh ke Chen Lili. “Besok kau datang lagi?”

Chen Lili tidak menjawab. Tapi tangannya menggenggam botol air lebih erat.

Wei Ying lalu tersenyum. “Kalau kau datang, aku akan beri minuman lagi. Sejujurnya, aku butuh teman yang bisa umpan. Maling'sheng sih jago, tapi dia suka marah kalau tidak dikasih bola.”

Dari kejauhan ...

“Wei Ying! Aku dengar itu!” Maling'sheng berteriak.

Tawa Wei Ying pecah ringan di udara sore.

Chen Lili tidak ikut bersuara, tapi sudut bibirnya bergerak pelan, seperti sesuatu yang lama terkunci, akhirnya menemukan celah untuk terbuka.

1
Hong Biyeon Adolebit
keren bgt kak, Xiao Han😍
heroestupai: berakkkkkk
total 1 replies
Apakah transgender disunat?
sudah 39 chapter dan tidak ada insect😡
heroestupai: /Smug//Smug//Smug/
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
Pak Chen Hao kerjanya ngapain? Eh iya motivasinya kan kecil 🗿
Limian Avina
Iyap, aku pun malas baca itu, jadi diskip/Proud/
Limian Avina: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Ini kayaknya enggak terlalu diperlukan deh/Sweat/
heroestupai: skill issue aja kak, maklumin, cmn ngindarin yg repetitif aja
total 3 replies
Limian Avina
Kebelet ganti PoV😂
Limian Avina
Kenapa jadi PoV satu/Sweat/
heroestupai: ahh iya, bocor POV, nanti saya revisi kak
total 3 replies
Limian Avina
Iya, mengerikan seperti ...
Limian Avina: Enggak jadi/Blackmoon/
total 2 replies
Limian Avina
Beliau terlalu percaya diri :v
Limian Avina: 🗿🗿🗿🗿🗿
total 2 replies
Limian Avina
Gambarnya kayak kamar pribadi🗿
Manusia Biasa: wkwkw tapi masih bagus kok kak, dari ai sih😂🙏
total 1 replies
Limian Avina
Ada gacha-nya/Scare/
heroestupai: masih jauh sih di gacha sistem itu /Facepalm/
total 1 replies
Limian Avina
/Curse//Curse/ Namanya kenapa harus Gacheng?!
heroestupai: Kepikiran itu aja 🗿
total 1 replies
Limian Avina
Nulisnya "Goal" deh seharusnya/Sweat/
Limian Avina: /Scare//Scare/ Secara arti goal = tujuan/sasaran/Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Woah~! Riset sejarah .../Blush//Blush/
heroestupai: huum 🗿🗿
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
cukup menghibur
heroestupai: makasih kak
total 1 replies
Penjaga Gerbang
keren
Ren si Pegawai Kantoran
ditunggu Thor updatenya
Ren si Pegawai Kantoran
developmentnya sedikit terasa di sini, sistem gak semata-mata Deus ex machina, ada konsekuensi juga dari analisa MC, dan emang jadi pelatih itu harus mikirin pemain, bukan semata2 sistem novel lain yg bikin pemain jadi OP kah? 🤔
Ren si Pegawai Kantoran
Thor, jangan lupa huruf miring kalo monolog batin PoV 3 ya 🗿
Ren si Pegawai Kantoran
kambek 4-3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!