Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25- CKOD 25
Suara pintu terbuka, membuat Bella membuka kelopak matanya perlahan. Tapi, begitu pintu itu tertutup lagi dan tidak ada drama teriakan, bentakan dan makian atau semacamnya. Bella kembali memejamkan matanya, dia tahu yang masuk ke dalam kamar adalah Leo.
Bella saat ini sedang berbaring di sofa, dengan posisi membelakangi pintu dan menghadap ke jendela.
Langkah Leo perlahan terdengar semakin keras. Pria itu berjalan ke arah sofa.
'Kenapa dia kemari?' batin Bella yang merasa ada hembusan angin di belakang punggungnya.
Dia yakin, kalau Leo saat ini pasti sedang berada di belakangnya. Dan itu memang benar. Leo memang tengah berdiri di belakang Bella saat ini.
Brukk
Suara jatuh ke lantai, perlahan terdengar. Bella kembali membuka matanya perlahan. Tapi, dia sama sekali tidak berniat untuk bergerak atau berbalik.
"Kenapa keras kepala sekali, Bella?"
Suara Leo terdengar seperti mabukk. Suaranya tidak seperti orang yang bicara dalam keadaan sadar.
"Tinggal menurut, mengakui kesalahan, apa sulitnya? jika ibu marah, dia benar-benar bisa menyiksamu dengan sangat berat. Dia adalah wanita yang kehilangan anaknya Bella. Anak kesayangannya matii kecelakaan. Kakakmu yang mengemudi mobil itu, kakakmu mabukk dan mencelakai Lucy. Kenapa tidak menurut padaku! kamu akan semakin terluka kalau tidak menurut padaku..."
Suara itu semakin lama semakin terdengar kecil. Dan tak lama terdengar...
Brukk
Bella mendengar suara itu lebih keras dari sebelumnya. Maka, Bella pun berbalik dan melihat Leo sudah tersungkur di lantai. Di tangannya, Bella melihat ada sebuah salep.
Bella menghela nafas berat. Lalu turun dari sofa.
"Aku kenal kakakku, dia tidak pernah minum. Kamu harusnya juga kenal adikmu, dia akan lakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Kenapa kamu terus memerintahkan aku menurut. Aku lelah mas..."
Tes
Tes
Air mata Bella menetas begitu saja. Dia duduk di lantai sambil melihat ke arah Leo yang sudah tak sadar karena mabukk.
"Katamu jika aku menurut. Aku tidak akan di siksaa. Tapi kenyataannya tidak begitu kan? selama satu tahun lebih aku patuh padamu, pada ayah dan ibumu. Bahkan pada kakakmu, juga keponakanmu. Tapi rasa sakit setiap hari harus aku rasakan, mas. Lebih dari 365 hari. Rasa sakit itu terus aku rasakan. Kamu masih bilang aku harus menurut?"
Bella menyeka air matanya. Kenapa dia malah bicara dengan orang yang sedang tidur seperti Leo.
Bella menghela nafas pajang. Dia mengambil salep yang ada di tangan Leo dan meletakkannya di nakas. Bella membuka selimut, membantu Leo untuk berbaring di tempat tidurnya dengan susah payah. Lalu kembali menutup tubuh pria itu dengan selimut.
Bella melirik sepatu yang ada di kaki Leo. Terakhir kali, Leo marah karena sepatunya tidak di lepas.
"Anggap saja aku membalas niat baikmu yang membawa salep! jadi aku sama sekali tidak punya hutang budi padamu!" ujar Bella yang langsung membuka sepatu Leo.
Setelah itu, Bella kembali ke sofa dan berbaring dengan posisi membelakangi Leo.
**
Pagi menjelang, ketika Leo membuka matanya. Bella sudah tidak ada di sofa.
Salep yang dia bawa, ada di atas nakas. Dan ketika dia melihat isinya, masih utuh. Artinya Bella tahu dia bawa salep, tapi Bella tidak menggunakannya.
Dan bagi Bella, daripada dia berlama-lama dengan Leo di dalam kamar. Dia lebih suka segera menyelesaikan pekerjaannya. Ya, layaknya pelayan di rumah ini, dia harus mengerjakan pekerjaan seperti Rara, bibi Okta dan Dini tapi tanpa gaji.
Namun hari ini berbeda. Di bagian laundry, Bella dan Rara malah tampak sangat bersemangat ketika mereka menjemur pakaian di tempat jemuran di lantai dua. Bahkan Rara juga sudah membawa sarapan untuk mereka berdua. Sarapan yang sangat lezat, yang dulu biasa Bella makan saat tinggal bersama kakaknya.
Setelah sarapan, mereka kembali melakukan pekerjaan. Tentu saja, Rara mengambil pekerjaan yang lebih banyak. Dan Bella hanya melakukan sesuatu yang tidak akan membuatnya lelah.
"Nona, lihat ini... mereka suka pakai warna norak begini. Selera keluarga ini payah!"
"Benarkah?"
"Tentu saja, aku belum pernah lihat keluarga yang seleranya payah kompak semuanya begini. Termasuk memilih calon menantu. Si Rachel itu, dia bahkan tidak memiliki aura istri pengusaha, auranya lebih mirip Tante minta pulsa!"
Bella tersenyum, Rara memang selalu bisa membuatnya merasa senang. Bahkan deterjen untuk mencuci pakaian, Rara sama sekali tidak menggunakan yang biasanya. Yang masih harus disikat dan di cuci dengan hati-hati. Dia menggunakan deterjen yang bisa mengangkat kotoran dari pakaian tanpa di kucel dan disikat. Deterjen yang sangat mahal. Dan tidak membuat tangan kasar atau alergi.
Sementara di lantai satu, Leo sejak tadi celingak-celinguk mencari keberadaan Bella. Namun, dia tidak menemukannya. Leo yang melihat bibi Okta di dapur, segera bertanya pada bibi Okta.
"Bi, dimana Bella?"
"Non Bella ada..."
"Non Bella ada di ruangan laundry tuan. Tadi memang ada di sini mau bantu masak, tapi di suruh pergi sama nona Desy! katanya nona Desy tidak mau makan masakan adiknya...!"
"Dini!"
Bibi Okta menyenggol lengan Dini, sampai wanita itu sudah bisa melanjutkan ucapannya.
Leo pun segera beranjak ke lantai dua. Namun baru naik beberapa anak tangga, Vivian memanggilnya.
"Leo, mau kemana? cepat ke meja makan. Ayahmu mencarimu!"
Mendengar ucapan ibunya, Leo segera mengurungkan niatnya ke lantai dua. Dia pun beranjak ke ruang makan.
Disana Desy dan Davin sudah duduk bersama Bima. Leo menarik kursinya dan duduk.
"Leo, aku dengar pembunuhh itu berada di rumah sakit. Sudah berapa lama?" tanya Bima.
"Sudah beberapa hari ayah!"
"Enak sekali!" sela Desy, "jangan-jangan dia cuma pura-pura!" lanjutnya lagi.
"Oscar terus berjaga disana. Dia memang masih koma!"
"Desy benar! siapa yang bisa menjamin dia hanya berpura-pura!"
Leo menoleh ke arah ayahnya.
"Oscar bukan orang bodohh, ayah. Ada perbedaan antara orang yang koma dan hanya berpura-pura koma. Orang yang tidur, apa kalian pernah lihat mereka buang air besar..."
"Leo, kita sedang di meja makan!" sela Vivian.
Leo mendengus pelan.
"Jika ayah tidak percaya pada Oscar, ayah bisa datang sendiri ke rumah sakit!"
Dan Bima Alexander mengangguk setuju.
"Baiklah, aku akan datang ke rumah sakit! setelah sarapan, temani ayah ke rumah sakit!"
"Baiklah!" sahut Leo cepat.
Sementara itu, di rumah sakit. Perawat Mega sudah mengurus semuanya tanpa ketahuan. Karena dia juga di bantu oleh orang-orang Aditya. Apalagi, hari ini ada dokter yang ada di pihak mereka mulai bekerja. Mau itu Bima Alexander yang datang dan memastikan, hasilnya akan tetap sama. Bagas Abimanyu Prasetya, masu dinyatakan koma.
***
Bersambung...
masa cuma seekor leo yg lagi kesurupan udah KO
masih ada yg lebih baik dari Leo yg pasti nya cinta tulus
Author, boleh ngamuk gak, sama suami & keluarga nya..?
Karena menurut ku keluarga suaminya ada gila²nya.. 🤭
Pengen aja jadi psikopat jika di posisi si Bella..
Biar di babat habis mereka semua.. 🤭
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭