NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

🏆🥉 Juara 3, Yaww 2026, Periode 1 Kategori 1, dan Juara Tema Kreatif.



Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru eg

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Malam turun perlahan di desa. Lampu bohlam kuning menggantung di gudang bawang, menerangi karung-karung besar yang tersusun rapi. Bau tanah dan bawang menyatu dengan udara dingin malam.

Alvar dan Pak Yono duduk di bangku kayu rendah, memilah bawang yang masih lembap. Tangan mereka bergerak pelan, ritmis.

“Kiara sekarang sering ikut kamu ke sawah,” ucap Pak Yono sambil mengikat karung. “Ibumu senang, kelihatan dia mau belajar.”

Alvar mengangguk singkat. “Iya, Pak.”

Pak Yono melirik anaknya. “Bukan cuma belajar. Dia juga mulai menyesuaikan diri. Nggak gampang buat orang kota tinggal di desa.”

Alvar terdiam sejenak, lalu kembali menunduk.

“Hari ini di sawah, orang-orang mulai ngomong baik,” lanjut Pak Yono. “Bapak senang dengarnya.”

Lampu bohlam berayun pelan tertiup angin. Suara jangkrik mengisi jeda. Pak Yono menarik napas, lalu bertanya pelan, seolah tak ingin memaksa.

“Var … kamu sudah ada rasa sama Kiara?”

Tangan Alvar berhenti bergerak, beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab.

“Kiara itu cantik, Pak,” katanya jujur. “Baik juga dan dia mau berusaha.”

Pak Yono menunggu.

“Tapi kalau soal cinta…” Alvar menghela napas pendek. “Sepertinya belum, Pak.”

Tak ada ragu dalam suaranya, bukan dingin, tapi jujur. Pak Yono tak langsung menanggapi. Dia hanya mengangguk pelan, seolah sudah menduga.

“Cinta itu nggak bisa dipaksa,” katanya akhirnya.

“Bapak tahu.”

Alvar kembali memilah bawang. “Alvar nggak mau bohong sama Bapak, sama Kiara juga.”

Pak Yono tersenyum tipis. “Yang penting kamu nggak menyakiti. Perasaan bisa tumbuh, asal dijaga.”

Angin malam masuk lewat celah dinding kayu. Dari kejauhan, lampu rumah terlihat temaram.

Alvar terdiam, entah memikirkan Kiara yang mungkin sedang tidur, atau bayangan masa lalu yang belum sepenuhnya pergi.

Gudang itu kembali sunyi dan menyimpan kejujuran yang tak semua orang berani ucapkan.

Keesokannya.

Pagi itu udara desa terasa lebih sejuk dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di halaman rumah Pak Yono, sementara Kiara berdiri di dapur membantu Bu Sulastri menyiapkan air panas. Ia mencuri pandang ke arah Alvar yang duduk di teras, menyesap kopi hitamnya dengan wajah tenang.

Entah sejak kapan, Kiara mulai memperhatikan hal-hal kecil itu. Cara Alvar selalu memastikan pintu terkunci sebelum tidur. Cara suaranya merendah saat bicara dengan orang tua. Dan caranya menahan diri dan tak pernah memaksanya meski mereka sah sebagai suami istri.

Tanpa disadari, hatinya lebih dulu jatuh cinta pada Alvar. Namun, Kiara memilih diam dan dia tak ingin terburu-buru. Ia ingin mengenal Alvar perlahan, tanpa memaksakan perasaan.

Kiara melihat Alvar masih di rumah dan belum pergi ke sawah. Kiara sempat heran, tapi belum sempat bertanya ketika suara motor berhenti di depan rumah. Seorang perempuan turun, berjas putih, rambut terikat rapi.

Itu adalah Dokter Hesti, wajah Kiara menegang tanpa ia sadari.

“Mas Alvar,” ucap Hesti cepat, nada suaranya serius.

“Ada ibu bersalin di puskesmas. Dokter pendamping hari ini nggak masuk. Aku butuh bantuan.”

Alvar berdiri, tidak langsung menjawab.

“Maaf, Hesti,” jawabnya tegas.

“Aku nggak bisa.”

Hesti terkejut. “Ini darurat.”

“Aku nggak akan pegang ibu bersalin sebelum memegang istriku sendiri,” kata Alvar pelan, tapi jelas.

Ucapan itu membuat Kiara tercekat.

Hesti terdiam sejenak, lalu melirik Kiara yang berjalan ke arah mereka. Tatapannya tajam namun tenang.

“Aku tahu itu janji kamu dulu … sama aku.”

Kiara menahan napas.

“Tapi sekarang aku yang memohon,” lanjut Hesti.

“Aku nggak minta kamu memegang persalinan. Cukup temani aku di ruang bersalin. Aku yang menangani semuanya.”

Alvar ragu, tetapi lagi-lagi, Hesti melirik Kiara.

“Nona Kiara … kamu nggak keberatan, kan?”

Kiara merasa dadanya mengencang. Bukan karena ditanya, tapi karena ia baru sadar, ada begitu banyak hal tentang Alvar yang tak pernah ia tahu. Di a menatap Alvar, wajah pria itu berubah dan merasa bersalah.

“Maaf, Dokter Hesti,” ujar Kiara akhirnya, suaranya tenang tapi dingin.

“Itu urusan Mas Alvar, jangan tanya saya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan jujur,

“Saya bahkan baru tahu sekarang … kalau suami saya dokter obgyn.”

Hesti tampak terkejut kecil.

“Oh … saya kira Nona Kiara sudah tahu.”

Kiara tersenyum tipis dan senyum yang lebih mirip luka.

“Iya sih,” lanjut Hesti tanpa sadar, “dulu Mas Alvar berjanji … kalau kelak dia jadi dokter obgyn, supaya bisa bantu persalinan aku ... sebagai istrinya.”

Kata-kata itu menghantam telinga Kiara seperti hujan es, dia menahan napas, menahan cemburu yang belum pantas ia akui.

“Tapi takdir berkata lain,” tambah Hesti lirih.

Alvar menatap Kiara, ingin bicara, tapi kata-kata seolah tertahan di tenggorokan.

Kiara menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Alvar dengan wajah tenang.

“Kalau cuma untuk menemani Dokter Hesti,” ucap Kiara akhirnya, suaranya datar namun tegas,

“kenapa nggak?”

Alvar menoleh.

“Pergi saja, Mas,” lanjut Kiara.

“Itu tugas yang mulia. Jangan ditunda-tunda. Siapa tahu ibu yang mau melahirkan itu memang butuh pertolongan kamu.”

Hesti sempat terdiam, dalam bayangannya, perempuan muda seperti Kiara akan cemburu berlebihan. Akan melarang dan akan bersikap kasar atau emosional.

Namun, yang berdiri di depannya sekarang justru istri sah Alvar yang dingin, rasional, dan sangat terkendali. Alvar memandang Kiara cukup lama. Ada sesuatu di sorot matanya dan rasa bersalah bercampur hormat.

Ia akhirnya mengangguk.

“Iya.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Alvar masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Hesti tersenyum kecil, senyum yang mengandung rasa menang dan dia mendekat selangkah ke arah Kiara.

“Lihat kan,” ucapnya pelan, seolah hanya untuk mereka berdua.

“Alvar memang nggak pernah bisa nggak memprioritaskan aku. Dari dulu begitu. Emang nggak bisa nolak permintaan aku.”

Nada suaranya sengaja dilembutkan,namun menusuk.

Kiara menatapnya dan lalu tersenyum.

“Tolong bedain,” kata Kiara ringan,

“mana yang memaksa … dan mana yang terpaksa.”

Hesti mengernyit.

“Sepertinya Mas Alvar terpaksa,” lanjut Kiara tenang.

“Kalau aku bilang nggak boleh pergi, Mas Alvar juga nggak akan pergi.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan yakin,

“Bedanya … aku memilih nggak melarang.” Percaya diri Kiara membuat Hesti tercekat.

Ia mencibir kecil, menoleh ke arah lain, menahan kesal. Saat itu Alvar keluar dari rumah. Jaket sudah dikenakan, kunci motor di tangan.

Ia menatap Kiara.

“Kamu ikut aku.”

Kiara terkejut kecil. “Ke puskesmas?”

“Iya,” jawab Alvar singkat.

“Kita satu motor.”

Alvar mengajak Kiara, karena Alvar dengan sadar tak ingin satu motor dengan Hesti.

Kiara tersenyum, kali ini tak ia sembunyikan.

“Ya.” Ia melangkah lebih dulu menuju motor.

Di belakang mereka, Hesti mengepalkan tangan, senyumnya langsung hilang.

1
Rini Benny
suka ceritax thor
Nuril Shafi
kalian lanjut aja deh, aku mau nyari yg lain, ngapa jadi pembakaran, pembunuhan, penculikan,, 🤦‍♂️🤦‍♂️
martabak rujak rasa kari
gimana kaga trauma orang ciuman juga, tatapan, nolongin mantan suruh nunggu istri mau beliin air katanya😒
Nanik Kusno
Akhirnya....
semua bahagia dengan jalan hidup masing masing
Nanik Kusno
Ikut tersipu2.....☺️☺️☺️😌😌😌😌
Nanik Kusno
Salah terka...🤭🤭🤭🤭🤭
Nanik Kusno
Mungkin Rome yang bertunangan ma Delia...
Nanik Kusno
Semua ibu sama....g tega lihat anaknya disuntik...
Nanik Kusno
Aduuuhhhhhh....😇😇😇😇😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Nanik Kusno
Semoga ibu dan twins selamat ...🤲🤲🤲🤲🤲
Nanik Kusno
Delia emang top markotop.....👏👏👏👏👍👍👍👍
Nanik Kusno
Berbahagialah liliput.... sekarang kamu dah bersama Yoga lagi..... selamat 👏👏👏
Nanik Kusno
Tamat riwayatmu liliput....
eeehhh......dia bareng ma Yoga dunk....👏👏👏👏👏👏👏
Nanik Kusno
Si liliput ini pasti sedang tertawa terbahak-bahak...dia mendapatkan momen yang tepat untuk menjatuhkan keluarga Kiara...
Nanik Kusno
Aduuuhhhhhh.... bakalan viral nih....
Nanik Kusno
Kenapa sih sekarang sering ketemu Liliput ini....😏😏😏😏😏😏😏
Nanik Kusno
Alvar....aq ikutan bingung nih ....😇😇😇😇😇
Anggi Ganteng
bsngke si Hesti,,
Mika Alpianus
mampus ko pelaso🤣🤣
Mika Alpianus
sini Kiara Ama ak aja biar CPT hamil nya itu bocah bego amat dah kalo kisah nyata udah ku ajak singel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!