Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lamaran theor
Elena duduk dengan canggung di meja makan. Dia sangat berdebar sekali rasanya, apalagi sejak tadi Theor terus saja menatapnya.
Elena makan dengan susah payah, dia jadi kenyang. Tapi harus terlihat tenang, karena ada Ayahnya di sana. Duke terlihat sibuk makan dan santai, Elena ingin sekali pergi dari sana karena tidak nyaman.
Selesai makan, Duke mengajak keduanya bicara. Elena merasa berdebar, gebrakan apa lagi sekarang. Apa yang di rencanakan Theor sebenarnya, sangat membuat Elena penasaran sekaligus was-was.
"Elena, Grand Duke datang menemui Ayah untuk membahas sesuatu yang penting." Ucap Duke menatap Elena.
"Ya? apa itu ada hubungannya denganku?." Tanya Elena berusaha tenang.
"Ya. Grand Duke ingin melamarmu dalam waktu dekat, bagaimana jawabanmu?." Ucap Duke, membuat Elena serangan jantung.
"A-apa?!." Syok Elena, menatap Theor terkejut.
"Aku berpikir sudah saatnya kita lebih serius. Aku menyukai... tidak. Elena, aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu. Membangun sebuah keluarga dengan mu adalah impian terbesar dalam hidupku." Ucap Theor menatap Elena.
Wajah Elena memerah, bahkan sampai berasap saking saltingnya. Dia di lamar di depan Ayahnya, ini memalukan dan membuat semua sendinya lemas.
Duke yang melihat wajah merah Elena tersenyum geli, ternyata putrinya memang sudah dewasa dan tau akan cinta. Kali ini Duke akan merestui, karena menurutnya Theor bisa melindungi Elena dengan baik.
"Tapi.. Ayah?." Elena menoleh ke arah Duke.
"Ayah akan mendukung keputusanmu." Ucap Duke tersenyum.
"B-benar-benar deh, aku malu." Elena menutup wajahnya malu.
Theor tersenyum, dia berdiri dan menghampiri kursi Elena. Dia berlutut dan membuka sebuah kotak cincin, Elena merasa sangat salting dan terbaru. Tidak pernah terpikirkan dalam hatinya, dia akan merasakan sebuah lamaran cinta.
"Kenapa kau menangis?." Theor mengira Elena tidak suka.
"Aku.... sangat bahagia." Ucap Elena menangis terharu.
Duke yang melihat itu tersenyum penuh haru, ternyata kebahagiaan putrinya begitu sederhana. Duke merasa lega karena merestui, meskipun dia juga akan mengawasi Theor dengan ketat setelah ini.
Theor menyematkan cincin yang dirinya buat sendiri di jari manis Elena. Setelah itu dirinya memeluk Elena, pelayan yang menyaksikan merasa ikut senang dan salting juga. Bahkan Merida sudah menangis ikut bahagia, akhirnya nona nya mendapatkan restu.
"Kapan kau akan mengadakan lamaran secara resmi?." Ucap Duke, menganggu adegan pelukan pasangan baru.
"Saya berpikir bulan depan adalah waktu yang tepat." Ucap Theor.
"Bukan pilihan yang buruk. Aku memang merestui mu, tapi kau harus berjanji akan membahagiakan Elena dan jadikan dia satu-satunya pasanganmu. Aku sangat menyayangi Elena, aku tidak akan pernah rela jika dia sampai di duakan." Ucap Duke tegas.
"Saya tidak akan mengecewakan anda, Duke." Ucap Theor tegas.
"Hari sudah larut, kembali lah esok hari." Duke pergi dari ruang makan dengan langkah ringan.
Theor dan Elena saling pandang, lalu memalingkan wajah bersama. Ayahnya baru saja mengizinkan Theor menginap, sepertinya Duke tau sekali apa yang di inginkan anak muda.
"Saya akan menyiapkan kamar anda, nona." Ucap Merida membara.
"Apa yang kau bicarakan Merida, siapkan kamar sebelahku." Ucap Elena, harus jual mahal.
"Ah benar, saya akan segera menyiapkan kamar untuk Tuan Grand Duke." Merida langsung pergi cepat.
Elena mengajak Theor berjalan-jalan di taman sampai kamar siap. Elena menatap cincin di tangannya, cicin itu sangat indah dengan permata putih dan ring hitam mempesona.
"Indah sekali, dimana kau membelinya?." Tanya Elena.
"Aku membuatnya sendiri." Jujur Theor.
"Benarkah? ini barang berharga yang tidak akan pernah aku lepaskan." Elena menggenggam erat tangannya.
Theor tersenyum, dia perlahan mengulurkan tangannya untuk merangkul pinggang Elena. Keduanya sama-sama canggung, tapi berusaha skinship dengan natural karena mereka sudah menjadi pasangan.
"Aku jadi membayangkan bagaimana respon Roxane jika mendengar kabar ini." Elena tersenyum geli.
"Dia pasti berisik seperti biasa." Ucap Theor.
"Kau mengenalnya dengan sangat baik ya." Sindir Elena.
"Dia selalu datang menempel pada Putra mahkota dan bertengkar karena Isabella. Aku sampai muak melihatnya." Ucap Theor.
"Padahal dulu ada rumor yang mengatakan kau menyukai Isabella." Ucap Elena.
"Dulu, aku sempat berpikir jika Isabella adalah gadis yang menolongku di hutan. Karena Putra mahkota mengatakan asal usul Isabella berasal dari panti asuhan perbatasan utara. Untunglah aku bertemu denganmu, aku menemukanmu lebih dulu sebelum salah mengira orang lain." Jujur Theor.
"Bayangkan jika kau terhasut Isabella dan membunuhku." Ucap Elena, mengingat cerita asli.
"Aku pasti akan menyesal seumur hidupku dan mati dengan penyesalan itu." Jawab Theor.
"Kau menjawab dengan tepat Theor." Batin Elena.
Tiba-tiba Elena jadi teringat cerita di buku pemberian Bumi. Di cerita itu Theor merebut Isabella dari Daniel dan menikahi nya, setelah itu mereka memiliki anak. Entah berapa tapi di tuliskan mereka memiliki anak, Elena jadi cemburu dan galau tiba-tiba meskipun saat ini kejadian itu belum terjadi.
"Bumi, katakan jika anak itu bukan anak Theor." Batin Elena, menghubungi Bumi.
Elena bisa melihat ada tulisan "BUKAN" diatas daun, Elena jadi tersenyum lega. Untunglah Theor tidak memiliki anak dengan wanita gila itu, meskipun sempat menikah dan berakhir sadboy.
"Aku memiliki peliharaan harimau putih, apa kau mau melihatnya?." Tanya Elena.
"Ya, jika kau tidak keberatan." Ucap Theor.
Akhirnya mereka melihat harimau sebelum akhirnya tidur di kamar masing-masing. Pagi-pagi saat Elena bangun, dia melihat jubah Theor sudah menjadi selimutnya. Elena berpikir mungkin Theor menyusup ke kamarnya malam tadi.
Elena memeluk jubah itu lalu menyimpannya di lemari, Elena bersiap untuk sarapan tapi sayangnya Theor sudah pergi sejak pagi buta. Elena yang masih rindu merasa tidak rela tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Elena menulis surat pada Roxane untuk memberikan kabar jika dirinya sudah dilamar samalam. Di kediaman Marquez, Roxane sudah berjingkrak turut bahagia karena akhirnya Elena dan Theor menjadi pasangan resmi.
"Ahahahaha sudah aku duga, mereka pasti menggunakan cara yang mendebarkan untuk menemukan cinta." Gumam Roxane bahagia.
"Nona, ada surat yang datang untuk anda." Ucap Pelayan, membawa kotak surat.
"Ah ya, letakan saja di meja." Roxane tidak tertarik.
Setelah membalas surat milik Elena, Roxane akhirnya membuka surat tadi. Ternyata dari sepupu laki-laki Roxane, dia mengirimkan undangan untuk Roxane dan Daniel ke pesta ulang tahunnya.
Sepupu laki-laki Roxane adalah putra dari Duke kekaisaran seberang. Tempat Ibu Theor berasal, Roxane tentu saja harus datang tapi jika Daniel di undang maka Theor akan di undang.
"Apa Theor akan membawa Elena? seharusnya begitu." Gumam Roxane.
"Aku harus memastikan hal ini dan menemui Dane, jika Theor juga mendapatkan undangan maka dia harus membawa Elena." Ucap Roxane buru-buru hendak pergi ke istana.
kami tunggu karya selanjutnya💪💪💪💪
terbaik thor 😍
tetap semangat, semoga cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.
utamakan kesehatan 🥰
biar bisa berkarya lagi😍