NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08 - Malam Tahun Baru dan Perhatian Kecil

...“Di tengah keramaian, perhatian yang tulus selalu menemukan jalannya.”...

Happy Reading!

 

Setelah masa video call kelompok itu, waktu berjalan seperti biasa—tenang, datar, dan nyaris tak meninggalkan jejak. Hari-hari dipenuhi kelas online dan tugas yang datang silih berganti. Shaira dan Raven tetap berada dalam lingkar yang sama, tapi tak pernah benar-benar saling menyapa.

Sekarang mereka sudah naik kelas 3 SMA. Sekolah tetap online, dan hubungan mereka pun tidak berubah—hanya sebatas teman sekelas. Walaupun terkadang mereka bertemu secara tak sengaja di rumah Keno, itu pun hanya sesaat—cukup untuk mengingatkan Shaira pada perasaan lama yang belum sepenuhnya hilang.

Malam itu, Shaira baru saja pulang dari acara pengajian di rumah temannya, Dinda. Libur semester ganjil sudah dimulai, jadi malam pengajian yang tenang seharusnya membuatnya bisa langsung pulang dan beristirahat. Aroma minyak wangi sajadah masih menempel samar di bajunya saat ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Keno:

"Shaira, mau ikut gak bakar-bakar di rumah gue ngerayain tahun baru?"

Shaira menatap layar ponselnya, ragu sebentar. Awalnya ia tidak berniat ikut apa pun malam itu. Malas, capek, dan sudah membayangkan mengakhiri malam sendiri di kamar. Tapi pesan itu berbeda—Keno sendiri yang menawari, dan rasanya sulit menolak.

Setelah berpikir sebentar, Shaira membalas:

"Oke, jemput gue aja ya, males bawa motor sendiri."

Beberapa menit kemudian, motor Keno sudah menunggu di depan rumah. Shaira mengenakan jaket tebal, helm, dan langsung naik di belakang Keno.

“Yaudah, ayo cepet,” ucapnya sambil menarik napas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya.

Perjalanan malam itu singkat tapi terasa menegangkan. Angin malam menerpa wajah Shaira, rambutnya sedikit terbang ke belakang. Sepanjang jalan, percakapan mereka ringan—tentang acara pengajian tadi, rencana malam tahun baru, dan cerita receh yang membuat Shaira tersenyum tipis.

“Jadi malam ini rame juga di rumah lo ya?” tanya Shaira, matanya menatap jalan yang gelap diterangi lampu jalan.

“Yup, udah mulai rame. Nara juga udah di sana,” jawab Keno sambil mengendarai motornya dengan santai.

Shaira mengangguk, mencoba menenangkan diri. Malam ini, ia tahu kemungkinan besar akan bertemu dengan sosok yang… selalu membuat hatinya berdebar.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di halaman rumah Keno. Dan benar saja—suasana sudah ramai. Teman-teman berkumpul, beberapa sudah menyalakan petasan kecil, tertawa, dan melempar ke udara. Shaira menoleh ke kanan, dan matanya otomatis tertuju pada sosok yang sudah terlalu familiar untuk diabaikan.

Deg.

Raven.

Dia tampak akrab dengan teman-temannya, sesekali menyalakan petasan kecil, tertawa lepas, melemparnya, dan bersenda gurau. Shaira menoleh ke Keno dan Nara, mencoba menahan gugupnya. Nara tersenyum nakal, seakan tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala Shaira.

“Dia juga ada di sini,” bisik Nara sambil menahan tawa.

“Ya… cuma liat aja. Jangan ribut, nanti malu gue,” jawab Shaira tipis, menahan napas.

Teman-teman lain terlalu sibuk dengan petasan dan keributan mereka, jadi Shaira dan Nara bisa menonton dari pinggir halaman. Shaira memilih diam, menikmati kekonyolan teman-teman laki-laki yang saling lempar kembang api. Tawa mereka membuat Shaira tersenyum ringan, tapi matanya tetap mengawasi Raven dari kejauhan.

Beberapa menit kemudian, Keno berseru:

“Eh, kita bakar jagung di rumah Kak Beni aja. Lebih luas, aman, nggak ganggu tetangga!”

Shaira menatap Keno sebentar. “Jadi kita pindah ke rumahnya Kak Ben sekarang?”

“Yup. Tapi Shaira, Raven yang bonceng lo. Gue males bawa lo,” ucap Keno sambil tersenyum nakal.

Shaira menelan ludah, campur malu dan gugup. Ia tak bisa menolak, akhirnya turun dari motor Keno dan pindah ke motor Raven.

Jelas sekali teman-temannya sedang menjebaknya—membuatnya bisa berada dekat dengan Raven, meski Shaira berusaha menenangkan diri dan pura-pura tenang.

Posisi Shaira di belakang membuatnya menahan diri agar tidak kelihatan terlalu canggung, tapi jantungnya tetap berdetak lebih kencang dari biasanya.

Sepanjang jalan, angin malam menyentuh wajahnya, rambut sedikit terbang ke belakang. Dari depan, Raven sesekali bersuara ringan.

“Barusan pengajiannya gimana?” tanyanya, suaranya pelan tapi cukup terdengar di telinga Shaira.

Shaira menunduk sedikit, mencoba menyesuaikan posisi, lalu menjawab, “Ya gitu, Dinda emang tiap tahun baru ngadain pengajian, udah biasa aja.”

Raven mengangguk tipis. “Keno bilang tadi lo habis dari situ, makanya gue penasaran.”

Shaira tersenyum samar. Diamnya Raven di depan membuat perjalanan terasa aneh tapi nyaman—seolah ada banyak hal yang tak perlu diucapkan, tapi tetap bisa dipahami.

 

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah Beni. Shaira masih canggung karena ini pertama kalinya ia masuk ke rumah Kak Ben. Ia berdiri di teras, ragu menatap halaman yang sudah ramai dengan teman-teman mereka. Raven menyadari itu, menoleh ke belakang dan hanya berkata:

“Masuk aja, gapapa.”

Shaira mengangguk, tersenyum tipis, dan mengikuti langkahnya masuk. Semua terasa aneh tapi nyaman—Raven selalu tahu kapan harus bicara, kapan harus diam.

Begitu di halaman, teman-teman sudah mulai menyalakan api unggun untuk bakar jagung, sambil melanjutkan main kembang api kecil. Shaira dan Nara berdiri di sisi yang aman, tertawa melihat kekonyolan teman-teman laki-laki yang saling melempar petasan dan teriak-teriak kegirangan.

Kak Ben baru saja menyiapkan beberapa jagung yang sudah matang, meletakkannya di piring. Shaira berdiri di dekat situ, masih bingung dan canggung. Ia tidak berani mengambil sendiri atau minta pada Kak Ben—malu, suasana ramai, dan rasa tidak enak membuatnya tetap diam, menatap jagung yang ada di piring Kak Ben.

Ia melirik ke arah kursi kosong, tapi kursi itu agak jauh dan penuh barang—tas, jaket, dan minuman—membuatnya semakin ragu untuk mendekat dan duduk sendiri. Shaira tetap berdiri sambil memegang tatapan kosong, bingung harus mulai dari mana.

Raven, yang duduk tidak jauh, langsung menyadari kebingungan Shaira. Tanpa banyak bicara, ia berdiri sebentar, menyingkirkan barang-barang di kursi itu, lalu membawa kursi tersebut ke samping Shaira.

“Duduk sini aja,” ucapnya singkat, matanya menatap Shaira dengan senyum ringan yang membuatnya lega.

Belum selesai, Raven mengambil satu jagung bakar dari piring Kak Ben dan menyerahkannya langsung ke Shaira.

“Makan,” ucapnya singkat tapi tegas.

Shaira sempat menatap jagung itu beberapa detik, seolah mencoba memastikan bahwa perhatian kecil itu benar-benar nyata.

Perhatian kecil itu membuat hatinya hangat—Raven selalu bisa membaca apa yang ia butuhkan, bahkan sebelum ia sendiri berani meminta.

Shaira duduk perlahan, menyeruput udara malam, sambil menahan senyum. Jagung bakar yang dipegangnya terasa lebih hangat, bukan hanya karena aroma bakarannya, tapi karena perhatian kecil Raven yang membuatnya merasa diperhatikan tanpa harus berkata apa pun.

Teman-teman mereka terus bermain kembang api dan saling melempar petasan kecil. Shaira menonton, kadang menatap Raven yang sibuk ikut melempar, tertawa lepas, dan kadang menoleh ke arahnya untuk memastikan Shaira duduk nyaman. Nara duduk tidak jauh darinya, sesekali ikut tertawa, tapi sebagian besar Shaira menikmati momen tenang itu—hanya mereka berdua, meski tetap di tengah keramaian.

Raven sesekali menyapa ringan,

“Jagungnya enak?”

“Enak… makasih ya,” jawab Shaira singkat, tersenyum tipis.

Senyum itu membuat Raven membalas dengan anggukan ringan, dan seakan mengatakan, “Gue tahu kok apa yang lo butuhin.”

Waktu terus berjalan. Lampu-lampu halaman berpendar lembut, suara tawa teman-teman dan letupan petasan bercampur jadi musik malam yang hangat. Shaira duduk di kursi, jagung bakar di tangan, tapi pikirannya lebih tersita oleh perhatian kecil Raven—kursi yang dipindahkan tepat di sampingnya, jagung yang diberikan tanpa ia minta, ucapan singkat tapi tegas yang membuatnya merasa diperhatikan.

Ia menatap sekeliling, melihat teman-teman tertawa, bermain kembang api, tapi tetap ada rasa tenang yang aneh—karena Raven ada di sampingnya, diam, tapi kehadirannya membuat Shaira merasa aman dan… hangat. Bukan hanya karena api unggun atau aroma jagung bakar, tapi karena rasa diperhatikan itu.

Detik-detik pergantian tahun semakin dekat. Lampu halaman mulai redup, petasan terakhir meluncur ke langit, menebar percikan cahaya yang memantul di mata Shaira. Ia menatap langit, tersenyum tipis, tapi dadanya terasa hangat—seperti ada sesuatu yang perlahan merayap masuk ke hatinya. Sesuatu yang dulu ia kubur rapih, karena pernah terluka saat Raven menjauh tanpa kata.

Raven menoleh, suaranya lembut.

“Happy New Year, Shaira.”

Shaira menelan napas, menatap sekilas wajahnya yang tersenyum ringan, lalu kembali menatap langit. Ada rasa hangat yang tak bisa ia sembunyikan—perlahan, hati yang sempat membeku mulai luluh, meski ia tahu harus berhati-hati.

“Ah… Happy New Year, Raven,” jawabnya, suaranya lembut, nyaris terselip di antara suara petasan yang sudah mereda.

Di sela-sela kebisingan malam dan tawa teman-teman, Shaira menyadari sesuatu. Perhatian kecil Raven—kursi yang dipindahkan tepat di sampingnya, jagung bakar yang diulurkan tanpa diminta, ucapan singkat tapi tegas—bukan hanya membuatnya merasa diperhatikan. Ia juga membuatnya percaya, sedikit demi sedikit, bahwa kedekatan ini bisa terasa aman lagi.

Hatinya luluh, pelan tapi pasti. Ada sisa was-was—kenangan Raven yang menjauh dulu masih berbisik di sudut pikirannya—tapi malam itu, Shaira memilih merasakan hangatnya momen yang ada, membiarkan dirinya tersenyum, dan menyadari: beberapa hal, meski rumit, kadang datang lagi untuk membuat hati yang sempat rapuh sedikit lebih ringan.

 

“Raven — malam tahun baru.”

1
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!