Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinopsis
Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
Hingga muncul Abyasa Raditya Bagaskara (Kara).
Kara adalah matahari. Dia cerdas, disiplin, dan bersinar dengan kekuatan yang sanggup menembus kedalaman samudera Aira. Kara tidak percaya pada kutukan. Baginya, takdir adalah ketetapan Tuhan yang harus dihadapi dengan disiplin dan iman, bukan ketakutan. Kara berjanji akan menjadi satu-satunya matahari yang tidak akan pernah tenggelam dalam samudera duka Aira.
Namun, ketika "Matahari" mulai kehilangan cahayanya dan "Samudera" mulai meluap karena ketakutan, mereka dipaksa memilih: Berhenti mencintai demi menyelamatkan nyawa, atau tetap bersama hingga takdir lelah memisahkan mereka?
...***...
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
...READY FOR READ THIS?...
...ENJOY YOUR FEELINGS 🫦...
...Baca ini dulu, prennn 😌😌...
***
Di bawah langit Jawa yang kental dengan aroma tanah dan rahasia, Kasyaira Lawana hidup seperti namanya: samudera. Luas, tenang di permukaan, namun menyimpan palung duka yang tak terukur dalamnya. Sebagai seorang anak bungsu Punggelan, Aira tumbuh dengan satu keyakinan pahit—bahwa setiap detik kebahagiaan yang ia rasakan adalah lonceng kematian bagi orang-orang di sekitarnya. Baginya, mencintai adalah kutukan. Ia percaya pada Ain, sebuah pandangan kagum yang tak sengaja ia lontarkan, namun sanggup memutus tali nyawa siapa pun yang ia sayangi. Aira memilih menjadi teratai di tengah samudera; cantik, suci, namun menjaga jarak dari daratan agar tak ada lagi nyawa yang terseret arus nasibnya.
Lalu, datanglah Abyasa Raditya Bagaskara.
Sosok pria yang adalah manifestasi dari matahari pagi. Kara—begitu ia akrab disapa—adalah pemuda yang memegang teguh disiplin dan logika. Baginya, matahari tidak pernah memilih kepada siapa ia bersinar, dan takdir tidak seharusnya ditakuti seperti hantu di kegelapan. Kara masuk ke dunia Aira bukan sebagai pengunjung, melainkan sebagai fajar yang memaksa masuk ke kedalaman samudera yang paling kelam. Ia mengganti panggilan "Kasya" yang berjarak menjadi "Aira" yang intim, dan memaksa gadis itu memanggilnya "Kara"—sebuah simbol bahwa sang matahari siap mempertaruhkan cahayanya.
Aira terus memperingatkan, "Matahari akan padam jika jatuh ke samudera, Kara." Namun Kara hanya menjawab dengan keyakinan seorang hamba yang taat, bahwa tidak ada satu pun daun yang gugur tanpa izin-Nya, apalagi sebuah nyawa.
Ujian yang sesungguhnya tiba saat takdir mulai bermain dengan ironi. Kara, sang Matahari yang menjadi satu-satunya alasan Aira berani menatap masa depan, perlahan-lahan mulai kehilangan cahayanya. Penyakit degeneratif mulai merayap, menggerogoti penglihatan Kara hingga dunianya perlahan meredup menuju kegelapan abadi. Aira hancur; ia merasa "pandangan matanya" yang penuh cinta justru telah membutakan mata sang kekasih. Ia merasa mitos Jawa itu telah menang, dan hadis tentang Ain yang ia dengar di pojok pesantren menjadi saksi atas kesalahannya.
Di antara aroma rumah sakit dan doa-doa yang tercekik di tenggorokan, keduanya beradu pada satu titik balik: Apakah Aira harus kembali menjadi samudera yang sepi untuk menyelamatkan Kara? Ataukah ia harus membiarkan Kara tetap tinggal, meskipun itu berarti sang matahari harus kehilangan cahayanya demi terus bersinar di dalam hati Aira?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta remaja, melainkan sebuah perjalanan spiritual tentang bagaimana manusia berdamai dengan kehilangan yang beruntun. Sebuah kisah tentang teratai yang tetap mekar meski air samuderanya mulai menguap, dan matahari yang tetap memberi hangat meski ia tak lagi bisa melihat dunia. Karena terkadang, Tuhan tidak mengambil sesuatu untuk menyakiti kita, melainkan untuk memastikan bahwa yang tersisa di hati kita hanyalah Dia.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰