NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilema Moral Dareen

Malam di paviliun pengawal terasa lebih dingin dari biasanya. Dareen Christ duduk di tepi tempat tidurnya, menatap amplop cokelat berisi paket serbuk putih yang diberikan Seldin. Cahaya lampu meja yang remang memantul di permukaan plastik klip tersebut, menciptakan kilauan yang tampak seperti mata iblis yang sedang mengejeknya.

Di samping paket itu, tergeletak buku teks Hukum Acara Pidana yang baru saja ia pelajari. Ironi itu menghantamnya tepat di ulu hati. Di siang hari, ia belajar tentang bagaimana menjaga integritas hukum, namun di malam hari, ia dipaksa untuk meludahi prinsip tersebut. Seldin tidak hanya memintanya menjebak Julian; Seldin sedang memintanya untuk membunuh karakter mahasiswa di dalam dirinya.

"Ibu ... maafkan aku," bisik Dareen parau. Jemarinya yang gemetar menyentuh sampul buku itu. Ia bisa membayangkan wajah kecewa ibunya jika melihat tangan yang seharusnya memegang ijazah ini justru sedang menggenggam paket narkoba untuk menghancurkan hidup orang lain.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan pelan namun mendesak.

Dareen segera menyembunyikan amplop itu di bawah bantal dan meraih senjata apinya secara refleks, sebelum menyadari bahwa aroma parfum peony yang familiar merayap masuk melalui celah pintu. Ia membuka pintu dan menemukan Seraphina berdiri di sana dengan wajah pucat, masih mengenakan gaun tidurnya yang tertutup jubah sutra.

"Nona? Apa yang Anda lakukan di sini? Area ini dilarang untuk Anda," ujar Dareen, mencoba mengembalikan otoritas suaranya meski jantungnya berdegup kencang.

Seraphina tidak menjawab. Ia justru menerobos masuk ke dalam kamar yang sempit namun rapi itu. Matanya langsung tertuju pada bantal yang sedikit miring, memperlihatkan ujung amplop cokelat.

"Kau akan melakukannya, Babe?" tanya Sera, menggunakan panggilan khusus yang biasanya ia gunakan untuk menggoda, namun kali ini nadanya penuh kepedihan. "Kau benar-benar akan menaruh barang haram itu di loker Julian?"

Dareen membuang muka, rahangnya mengeras. "Saya tidak punya pilihan. Perintah Tuan Seldin adalah mutlak. Jika saya gagal, beasiswa saya dicabut dan saya akan dikirim kembali ke distrik kumuh."

"Tapi kau mencintai dunia ini, Dareen! Aku melihat cara kau menatap buku-bukumu. Kau bukan penjahat!" Sera mencengkeram lengan Dareen, memaksa pria itu menatapnya. "Jika kau melakukan ini, kau akan kehilangan dirimu sendiri. Kau akan menjadi persis seperti yang Seldin katakan: anjing penjaga yang hanya bisa menggigit."

"Lalu apa yang harus saya lakukan?!" Dareen membentak pelan, rasa frustrasinya tumpah. "Dia kakakmu, Sera! Dia pemilik dunia ini!"

Seraphina terdiam sejenak, matanya berkilat dengan tekad yang baru. "Kita akan memalsukan laporan itu. Kita akan menjebak Julian, tapi tidak dengan cara yang membuat tanganmu kotor atau menghancurkan masa depanmu sebagai pengacara."

Keesokan harinya, suasana kampus terasa mencekam bagi Dareen. Ia berjalan menyusuri lorong loker mahasiswa dengan tas yang terasa seberat timah. Sesuai rencana Seldin, ia harus meletakkan paket itu di loker nomor 402 milik Julian sebelum jam istirahat pertama.

Namun, di sudut lorong, Seraphina sudah menunggu dengan sebuah rencana sabotase balik. Ia mengenakan kacamata hitam dan berpura-pura sedang menelepon dengan suara keras untuk mengalihkan perhatian penjaga lorong.

"Sekarang," bisik Sera saat penjaga itu berbalik arah.

Dareen bergerak cepat. Namun, alih-alih memasukkan narkoba asli, ia memasukkan bubuk gula halus yang sudah dikemas serupa, yang telah disiapkan Sera pagi-pagi sekali.

Sementara itu, Sera melakukan bagiannya yang paling krusial. Ia menggunakan otoritasnya sebagai adik pemilik yayasan untuk meminta akses "pemeriksaan rutin" pada staf keamanan kampus, namun ia mengarahkan mereka untuk menemukan sesuatu yang lain.

"Babe, berikan ponselnya padaku," pinta Sera saat mereka bertemu di belakang gedung olahraga.

Sera dengan lincah meretas akun media sosial Julian—sesuatu yang mudah baginya karena Julian pernah memberikan kata sandinya saat mereka masih "dekat". Ia mengunggah sebuah video lama Julian yang sedang memaki-maki staf kampus dan mengakui bahwa dia sering menyuap dosen untuk mendapatkan nilai.

"Apa yang Anda lakukan, Nona?" Dareen bertanya, bingung melihat taktik Sera.

"Seldin ingin Julian hancur, kan? Skandal etika dan penyuapan akan membuat ayahnya kehilangan posisi di bank lebih efektif daripada kasus narkoba yang bisa saja dibeli hukumannya dengan uang," jelas Sera sambil tersenyum licik. "Dan bagian terbaiknya? Polisi akan tetap datang karena laporan narkoba, tapi saat mereka menemukan itu hanya gula, mereka akan menganggap Julian sedang melakukan 'prank' bodoh yang meresahkan. Dia akan dikeluarkan karena perilaku buruk, tapi kau ... kau tetap bersih."

Siang harinya, drama dimulai. Polisi kampus menggeledah loker Julian di depan kerumunan mahasiswa dan media yang sudah disiapkan Seldin. Julian berteriak panik saat paket putih itu ditemukan.

"Itu bukan milikku! Aku dijebak!" teriak Julian saat borgol melingkari tangannya.

Namun, saat petugas laboratorium lapangan melakukan tes cepat di tempat, hasilnya negatif. Itu hanya gula. Kerumunan mulai menyoraki Julian, menganggapnya sebagai pencari perhatian yang gila. Di saat yang sama, berita tentang penyuapan dosen yang diunggah Sera meledak di portal berita kampus. Julian tidak ditangkap karena narkoba, tapi dia diusir dari kampus dengan hinaan sebagai penipu akademis.

Seldin yang menyaksikan kejadian itu melalui live streaming di kantornya, mengerutkan kening. Rencananya sedikit bergeser, namun hasilnya tetap sama: reputasi keluarga Julian hancur.

Sore harinya, Dareen dan Seraphina duduk di dalam mobil di area parkir yang mulai sepi. Dareen menatap tangannya yang bersih, lalu menatap Seraphina yang sedang asyik menghapus jejak digital mereka.

"Kenapa Anda membantu saya, Nona? Anda bisa saja membiarkan saya melakukannya dan tetap menjadi kesayangan kakak Anda," tanya Dareen lirih.

Sera meletakkan ponselnya dan menatap Dareen dengan tatapan yang dalam. "Karena aku tidak ingin melihat pria yang menciumku di perpustakaan itu menghilang, Dareen. Aku lebih suka pengawalku menjadi mahasiswa yang jujur daripada menjadi penjahat yang patuh."

Sera mendekat, tangannya mengusap rahang Dareen yang tegang. "Dan karena untuk pertama kalinya, aku merasa kita adalah sebuah tim. Bukan majikan dan pelayan."

Dareen merasakan dorongan yang kuat untuk memeluk gadis di sampingnya. Ia menyadari bahwa Seraphina, dengan segala sikap manjanya, baru saja menyelamatkan jiwanya. Ia mengambil risiko besar dengan memalsukan laporan pada Seldin demi dirinya.

"Terima kasih, Sera," bisik Dareen. Ia tidak memanggilnya 'Nona'. Ia memanggil namanya dengan penuh penghormatan yang tulus.

Dareen menarik napas panjang, lalu menyerahkan laporan fisik palsu yang sudah ia buat untuk Seldin—laporan yang menyatakan bahwa skandal narkoba "gagal" karena kesalahan teknis polisi, namun ia berhasil "mengimprovisasi" dengan membocorkan skandal penyuapan Julian sebagai gantinya.

"Kita baru saja membohongi orang paling berbahaya di Aeruland," ujar Dareen dengan senyum tipis yang langka.

"Selama kita melakukannya bersama, aku tidak takut," balas Sera dengan berani.

Namun, di tengah momen haru itu, ponsel Dareen bergetar. Sebuah pesan singkat dari Seldin masuk: "Kerja bagus dengan improvisasinya, Dareen. Tapi aku tahu itu bukan idemu. Temui aku di ruang kerja malam ini. Sendirian."

Wajah Dareen kembali memucat. Ternyata, Seldin Aeru tidak semudah itu dibodohi. Dilema baru muncul: apakah dia harus mengorbankan dirinya untuk melindungi Sera, atau membiarkan kebenaran terungkap?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!