Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SINGA YANG TERUSIK.
Ketegangan di jalur protokol itu memuncak saat sebuah SUV hitam lainnya mendadak memotong jalur dari arah depan, memaksa Ariya menginjak rem sedalam mungkin. Ban mobil berdecit keras, meninggalkan bekas hitam di aspal. Ariya terkepung. Di belakang ada pengejar, di depan ada penghadang. Ia tidak langsung keluar, matanya yang tajam mengamati setiap pergerakan melalui kaca film yang gelap.
Pintu mobil di depan mereka terbuka. Seorang pria bertubuh besar dengan otot-otot yang menonjol keluar. Wajahnya dihiasi bekas luka, memberikan kesan bengis yang nyata. Pria itu melangkah tenang seolah sudah memenangkan perburuan ini.
"Dia... Dia..." suara Arumi tercekat. Tubuhnya bergetar hebat hingga sandaran kursi ikut bergetar. Wajahnya yang semula segar kini pucat pasi bagai kertas.
Ariya menoleh cepat. "Kamu kenal dia, Rumi?"
"Dia orang yang dulu dibawa Lusi. Dia yang ingin memperkosa aku, Ariya!" jerit Arumi dengan suara yang pecah karena trauma yang mendalam.
Mendengar pengakuan itu, darah di sekujur tubuh Ariya seolah mendidih. Amarah yang selama ini ia tekan meledak seketika. Sorot matanya berubah menjadi dingin dan mematikan. Ia melepaskan sabuk pengamannya dengan sekali sentak.
"Jangan, Ariya! Jangan keluar! Pria itu gila, dia tidak punya belas kasihan!" Arumi menahan lengan suaminya dengan cengkeraman yang sangat kuat, air mata mulai membasahi pipinya.
Ariya menatap Arumi, lalu menggenggam tangan istrinya sejenak untuk memberikan ketenangan semu. "Tenanglah, Rumi. Kalau dia gila karena nafsu, maka aku bisa lebih gila lagi karena dia telah menyentuh kehormatanmu. Diamlah di dalam dan kunci semua pintu."
Ariya menyingkirkan tangan Arumi dengan lembut namun tegas, lalu ia keluar dari mobil. Doni, pria bengis itu, tersenyum lebar melihat Ariya mendekat. Tanpa memberikan aba-aba atau sekadar basa-basi, Ariya langsung melayangkan hantaman keras ke wajah Doni.
Bugh!
Hantaman itu telak, namun Doni hanya memiringkan kepalanya sedikit. Ia mengusap sudut bibirnya dan tertawa mengejek. "Hanya segitu saja kemampuanmu, Pak Dokter? Bagaimana kamu bisa melindungi perempuan itu kalau memukul saja tidak bertenaga begitu?"
Anak buah Doni yang sudah mengepung tempat itu ikut tertawa terbahak-bahak. Mereka menganggap Ariya hanyalah pria kantoran yang tidak tahu cara bertarung. Namun, mereka salah besar. Ariya adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo yang sejak kecil dilatih keras oleh instruktur pribadi kiriman ayahnya.
"Akan kutunjukkan padamu kekuatan yang sebenarnya," desis Ariya.
Dengan kecepatan yang tidak terduga, Ariya melakukan gerakan memutar dan melayangkan tendangan Dollyo Chagi tepat ke rahang Doni. Suara retakan tulang terdengar samar. Doni tersungkur ke aspal, memuntahkan darah segar. Tawa anak buahnya seketika terhenti.
"Hajar dia! Cepat habisi pria ini!" teriak Doni sambil memegangi rahangnya yang bergeser.
Empat orang anak buah Doni maju bersamaan. Ariya bergerak lincah, menghindari pukulan dan membalas dengan serangan-serangan presisi yang menjatuhkan mereka satu per satu. Di tengah baku hantam itu, dua mobil hitam milik tim keamanan Ferdiansyah tiba di lokasi. Enam pria berseragam safari turun dan langsung bergabung dalam pertempuran. Suasana jalanan berubah menjadi medan tempur yang sengit.
Melihat situasi berbalik, Doni yang sudah kepayahan bermaksud melarikan diri ke mobilnya. Namun, Ariya tidak akan membiarkan mangsanya lepas begitu saja. Sebelum Doni sempat menyentuh gagang pintu, Ariya melompat dan mendaratkan tendangan kuat di punggungnya.
Tubuh Doni terlempar ke depan, wajahnya menghantam badan mobilnya sendiri hingga hidungnya mengeluarkan darah kental. Ia merintih kesakitan di atas aspal.
"Ringkus dia! Bawa ke ruang bawah tanah rumah sakit. Pastikan tidak ada yang tahu," perintah Ariya kepada komandan tim keamanan ayahnya.
"Siap, Tuan Muda," jawab petugas itu sambil memborgol tangan Doni dengan kasar.
Setelah memastikan keadaan terkendali, Ariya segera masuk kembali ke dalam mobil. Ia mendapati Arumi sedang meringkuk di dekat dashboard dengan kedua tangan menutupi telinganya. Trauma masa lalu itu rupanya menghantam Arumi lebih keras daripada benturan fisik mana pun.
"Rumi, lihat aku. Semuanya sudah berakhir. Dia tidak akan menyentuhmu lagi," bisik Ariya sambil menarik Arumi ke dalam pelukannya.
Arumi menangis sesenggukan di dada Ariya. "Aku takut, Ariya. Aku sangat takut."
Ariya mengusap punggung istrinya dengan lembut. Melihat kondisi mental Arumi yang sangat terguncang, Ariya memutuskan untuk membatalkan rencana pergi ke rumah sakit. Ia memutar balik mobilnya dan melaju kembali menuju kediaman Ferdiansyah. Baginya, ketenangan jiwa Arumi adalah prioritas utama saat ini.
Sesampainya di rumah, Heni dan Nenek langsung menyambut dengan wajah cemas. Melihat Arumi yang pucat dan gemetar, mereka segera mengerti bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Bawa dia ke kamar, Arya. Biar Mama dan Nenek siapkan teh hangat dan minyak aroma terapi," ujar Heni dengan nada khawatir yang mendalam.
Ariya menuruti perintah ibunya. Ia menggendong Arumi menuju kamar mereka di lantai atas. Setelah merebahkan tubuh Arumi, Ariya ikut naik ke atas ranjang dan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Ia menarik Arumi ke dalam dekapannya, membiarkan istrinya bersandar di dadanya yang bidang.
"Tidurlah, Sayang. Aku di sini. Tidak akan ada yang berani masuk ke rumah ini untuk menyakitimu," gumam Ariya sambil terus mengusap kepala Arumi yang masih terbalut hijab.
Ia memberikan kecupan lembut di dahi Arumi, mencoba menyalurkan keberanian dan kedamaian melalui sentuhan itu. Perlahan, isak tangis Arumi mereda. Napasnya mulai teratur, menandakan ia telah kelelahan dan akhirnya jatuh tertidur.
Ariya menunggu beberapa saat untuk memastikan Arumi benar-benar terlelap. Ia kemudian beranjak perlahan agar tidak membangunkan istrinya. Di depan pintu kamar, ia mendapati Heni yang sedang menunggu.
"Ma, tolong jaga Arumi sebentar. Jangan biarkan dia bangun sendirian," pinta Ariya dengan sorot mata yang dingin.
"Kamu mau ke mana, Arya? Kamu baru saja berkelahi," tanya Heni cemas.
Ariya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku harus ke rumah sakit sekarang, Ma. Ada seseorang di ruang bawah tanah yang butuh 'pelajaran' tambahan. Aku ingin tahu siapa yang menyuruhnya, meski aku sudah bisa menebak namanya."
Heni menghela napas panjang, ia tahu ia tidak bisa menghentikan kemarahan putranya yang sudah mencapai puncaknya. "Hati-hati, Arya. Jangan sampai kamu melewati batas hukum."
"Dia hampir menghancurkan hidup istriku, Ma. Bagiku, itu sudah melampaui segala batas," sahut Ariya singkat sebelum melangkah pergi dengan aura yang sangat mengancam.
🍃
Jangan lupa berikan dukungannya ya guys. Dan selagi menunggu Author update kembali. Yuk, kunjungi karya terbaru Ramanda. Dan jangan lupa berikan dukungannya juga ya guys terimakasih.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra