Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKAR DENDAM SANG PEMANGSA.
Di ruang kendali keamanan dirumah sakit Ferdiansyah, suasana terasa begitu tegang. Jemari Yuda menari lincah di atas papan ketik, matanya fokus menatap barisan kode yang terus berjalan di layar monitor. Sesuai instruksi Ferdiansyah, ia tidak butuh waktu lama untuk membedah jaringan komunikasi Rina yang sempat terbuka saat ia menghubungi sang adik.
"Dapat, Tuan Besar," ujar Yuda sambil menekan satu tombol terakhir. "Panggilan itu ditujukan kepada Rusdi. Posisi terakhirnya terdeteksi di Singapura, namun ia menggunakan server bayangan yang terhubung ke jaringan bisnis internasional yang sangat besar."
Ferdiansyah mendekat, menatap profil pria bernama Rusdi yang kini terpampang di layar. "Rusdi. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di bursa saham Asia. Apa yang kau temukan tentang hubungannya dengan Erwin?"
Yuda menggeser kursor, menampilkan dokumen-dokumen lama yang telah ia retas dari arsip rahasia. "Rusdi bukan sekadar adik tiri Rina. Dia adalah rival lama Pak Erwin. Dendamnya berakar dari dua hal besar. Pertama, Pak Erwin pernah menggagalkan akuisisi perusahaannya yang ilegal dua puluh lima tahun lalu. Kedua, dan ini yang paling personal, Rusdi pernah sangat terobsesi pada almarhumah Ibu kandung Arumi."
Ariya yang sejak tadi mendengarkan dengan tangan mengepal, kini menoleh tajam. "Maksudmu, dia menginginkan Ibu mertuaku?"
"Benar, Tuan Muda. Rusdi sempat menyusun rencana busuk untuk menjebak Ibu Arumi agar terpaksa menikah dengannya. Namun, Pak Erwin mencium rencana itu dan menyelamatkannya. Pada akhirnya, Ibu Arumi memilih Pak Erwin. Sejak saat itulah Rusdi bersumpah akan menghancurkan kebahagiaan mereka melalui tangan kakaknya, Rina," jelas Yuda panjang lebar.
Ferdiansyah menggebrak meja dengan geram. "Jadi Rina hanyalah pion untuk menyusup ke rumah Erwin, sementara Rusdi adalah dalang yang merencanakan kecelakaan maut itu? Manusia macam apa yang tega membunuh wanita yang katanya ia cintai hanya karena tidak bisa memilikinya?"
"Kumpulkan semua bukti, Yuda. Aku ingin kau memancing Rusdi keluar dari persembunyiannya. Gunakan Lusi sebagai umpan. Beritakan bahwa Lusi bisa bebas jika ada jaminan dari keluarga terdekat di pengadilan. Dia pasti tidak akan membiarkan investasinya, yaitu Lusi, membusuk di penjara begitu saja," perintah Ferdiansyah dengan nada dingin.
Namun, pembicaraan yang seharusnya menjadi rahasia itu mendadak terinterupsi. Pintu ruang rawat yang terhubung dengan ruang kerja pribadi itu terbuka perlahan. Arumi berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi. Ia rupanya terbangun dan tidak mendapati Ariya di sampingnya, lalu tanpa sengaja mendengar seluruh percakapan mengerikan itu.
"Apa yang terjadi? Apa hubungan Om Rusdi dengan kematian Mamaku?" suara Arumi bergetar, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Ariya tersentak. Ia segera berlari menghampiri istrinya dan merangkul bahunya yang gemetar. "Arum? Sejak kapan kamu di sini?"
Arumi menatap Ariya dengan tatapan menuntut penjelasan. "Jawab aku, Ariya! Om Rusdi itu Om-nya Lusi, kan? Kenapa kalian bilang dia yang membunuh Mama?"
Ariya menghela napas panjang. Ia tahu tidak ada gunanya lagi menutupi kebenaran ini. Ia membimbing Arumi kembali masuk ke tempat tidur dan membantunya berbaring. Ariya duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat.
"Dengarkan aku baik-baik, Arum. Kami baru saja menemukan bukti bahwa kecelakaan yang menimpa Mamamu dulu bukan sekadar musibah. Rusdi, adik Rina, yang merencanakan semuanya karena dendam masa lalu kepada Papamu," ujar Ariya dengan suara lembut namun tegas.
Tangis Arumi pecah seketika. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. "Jadi selama ini... aku tinggal satu atap dengan orang yang membunuh Mamaku? Rina masuk ke rumah kami hanya untuk merusak kami dari dalam?"
"Benar, Sayang. Seluruh drama kehidupanmu, termasuk fitnah yang membuat kita renggang dulu, kemungkinan besar adalah skenario yang disusun Rusdi agar kamu menderita," lanjut Ariya sambil mengusap air mata di pipi istrinya.
Arumi tersedak di antara isak tangisnya. "Keluargaku yang dulu sangat bahagia... semuanya dirampas hanya karena keserakahan dan obsesi gila satu orang. Mama meninggal, Papa sakit karena diracun, dan aku harus kehilangan ingatan."
"Tenanglah, Arum. Aku berjanji padamu, demi nyawaku sendiri," Ariya mengecup punggung tangan Arumi dengan sangat tulus. "Aku akan membuat Rusdi, Rina, dan siapa pun yang terlibat membayar setiap tetes air mata yang kau keluarkan. Mereka tidak akan lolos kali ini."
Ferdiansyah yang berdiri di dekat pintu menatap menantunya dengan rasa iba sekaligus bangga. "Arumi, Papa sudah mengerahkan seluruh jaringan keamanan kami. Rusdi mungkin punya kekuatan di luar negeri, tapi dia sudah masuk ke wilayah kekuasaanku sekarang. Kita akan menyeretnya pulang untuk menerima pengadilan yang setimpal."
Arumi mencoba mengatur napasnya yang sesak. Kemarahan perlahan mulai menggantikan rasa sedihnya. "Aku ingin melihat mereka hancur, Pa. Aku ingin keadilan untuk Mama."
"Kamu akan mendapatkannya, Arum. Sekarang, fokuslah pada pemulihanmu. Biarkan aku dan Papa yang menangani tikus-tikus itu," ujar Ariya meyakinkan.
Ariya kemudian menoleh ke arah Yuda yang masih bersiaga di depan layar. "Yuda, jalankan rencana pemancingan itu sekarang. Jangan beri dia waktu untuk bernapas atau memindahkan asetnya. Aku ingin Rusdi menginjakkan kaki di Jakarta dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam."
"Baik, Tuan Muda. Proses dimulai," sahut Yuda tegas.
Di dalam kamar yang sunyi itu, Arumi bersandar di dada Ariya. Meski hatinya hancur berkeping-keping mendengar kenyataan pahit tentang kematian ibunya, ia merasa lebih kuat karena kini ia tahu siapa musuh yang sebenarnya. Ia bukan lagi Arumi yang lemah dan bisa dipermainkan. Dengan dukungan keluarga Ferdiansyah dan cinta Ariya yang telah kembali, ia siap menghadapi badai terakhir sebelum mencapai kedamaian yang sesungguhnya.
Sementara itu, di tempat yang jauh, seorang pria menatap layar televisi yang menampilkan berita penangkapan Lusi. Rusdi mengepalkan tangannya, urat-urat di dahinya menegang. Ia merasa jaring-jaring yang ia tenun selama belasan tahun mulai koyak oleh dua orang pria bernama Ariya dan Ferdiansyah.