Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat Sang ibu
Suasana makan malam di kediaman utama Remington malam itu terasa tenang namun penuh wibawa. Denting alat makan perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara di ruang makan yang luas itu, sebelum Ibu Sky, Nyonya Remington, meletakkan serbet nya dan menatap putranya dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Sky," panggil ibunya dengan nada yang elegan namun menyelidik. "Ibu masih memikirkan kekasih yang kau bawa ke acara yayasan kemarin. Ozora, bukan?"
Sky mendongak dari piringnya, ekspresinya langsung melunak setiap kali nama itu disebut. "Iya, Bu. Ozora Bellvania."
"Dia sangat cantik dan memiliki tata krama yang luar biasa," lanjut Nyonya Remington sambil menyesap anggurnya. "Tapi ada satu hal yang mengusik Ibu. Kemana dia selama ini? Ibu hampir selalu mengenal setiap putri dari keluarga rekan bisnis kita, tapi Ibu belum pernah melihatnya menghadiri pesta gala tahunan atau acara sosialita Moskow mana pun. Dia seperti... muncul begitu saja dari bayangan."
Ayah Sky, yang duduk di ujung meja, juga ikut menatap putranya, menunggu jawaban.
Sky meletakkan garpunya dan tersenyum tipis, senyum yang tulus. "Ozora memang berbeda dari gadis-gadis lain yang Ibu kenal. Dia adalah gadis yang tidak suka pesta, Bu. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan atau di galeri seni daripada harus berdiri berjam-jam di pesta gala hanya untuk berbasa-basi."
"Lalu bagaimana kau bisa mengenalnya sedalam itu jika dia tidak pernah keluar?" tanya Ayahnya dengan nada tegas namun penasaran.
"Kami satu universitas, Yah. Kami berada di kelas yang sama sejak tahun pertama," jelas Sky. "Dan sebenarnya, dia bukannya tidak pernah hadir sama sekali. Mungkin satu atau dua kali aku melihatnya datang ke pesta bersama sirkel Anastasia dan Stevani. Tapi biasanya dia hanya duduk diam di pojok, tidak menarik perhatian, seolah-olah dia memang tidak ingin dilihat oleh siapa pun."
Nyonya Remington mengerutkan kening. "Bersama sirkel Anastasia? Jika dia ada di sana, kenapa Ibu tidak pernah memperhatikannya?"
"Itulah kelebihannya, Bu," jawab Sky dengan nada bangga. "Ozora tidak butuh lampu sorot untuk merasa berharga. Dia tidak haus perhatian seperti Anastasia. Justru ketenangannya itulah yang membuatku sadar bahwa dialah yang paling bersinar di antara mereka semua, meskipun dia hanya diam."
Sky kemudian menyandarkan punggungnya, menatap kedua orang tuanya dengan serius. "Dia tulus, Bu. Dia mencintaiku jauh sebelum aku menyadari hal yang sebenarnya di kampus. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk sirkel lamaku atau bahkan Cristine, mengusiknya."
Ibunya mengangguk pelan, mulai memahami mengapa putranya begitu terobsesi pada gadis itu. "Jika dia benar setulus yang kau katakan, maka Ibu tidak keberatan. Tapi ingat Sky, di dunia kita, kesucian seringkali menjadi sasaran empuk bagi mereka yang iri."
"Aku tahu, Bu," gumam Sky dengan tatapan mata yang mendadak tajam. "Itulah sebabnya aku tidak akan melepaskannya sedikit pun."
Di sisi lain kota, di kamarnya yang gelap,
Setelah berhari-hari melakukan perburuan yang melelahkan dan nyaris tanpa hasil, keberuntungan akhirnya berpihak pada Cristine. Asistennya berhasil menemukan seorang perawat tua yang sudah pensiun, yang dahulu bekerja di klinik psikologi swasta yang sangat tertutup, klinik yang datanya telah dihapus dari sistem digital secara profesional.
Cristine duduk di ruang kerjanya dengan sebuah amplop cokelat tua di hadapannya. Tangannya gemetar karena kegembiraan yang meluap. Saat ia membuka amplop itu, sebuah dokumen fisik yang sudah menguning keluar.
Dokumen itu adalah catatan medis manual dari sepuluh tahun yang lalu. Di sana, tertulis nama Ozora Bellvania.
Cristine membaca baris demi baris diagnosa yang tertulis dengan tulisan tangan dokter yang cakar ayam, namun maknanya sangat jelas, "Gejala Disosiasi Identitas... kecenderungan obsesif terhadap objek yang diinginkan... perilaku manipulatif sebagai mekanisme pertahanan diri."
Tidak hanya itu, ada satu lembar tambahan berisi laporan insiden di sekolah menengah Ozora yang telah ditutupi rapat-rapat oleh keluarga Bellvania. Seorang Siswa pernah ditemukan pingsan di gudang sekolah setelah mencoba mendekati Ozora. Tidak ada bukti fisik yang mengarah pada Ozora, namun catatan medis itu menyebutkan bahwa Ozora berada di lokasi dengan ekspresi yang terlalu tenang.
"Aku menemukanmu, Ozora," bisik Cristine dengan tawa yang terdengar sangat puas. "Kau bukan murni, kau hanya... sakit."
Tanpa membuang waktu, Cristine langsung menuju kantor pribadi Sky di gedung Remington. Ia tidak ingin menunggu acara makan malam atau momen formal lainnya. Ia ingin menghancurkan ilusi Sky saat ini juga.
Sky sedang meninjau laporan keuangan saat Cristine masuk tanpa mengetuk pintu.
"Cristine? Aku sedang sibuk, kita bisa bicara nan—"
"Ini tentang Ozora, Sky," potong Cristine dengan nada suara yang sangat serius dan penuh simpati yang dibuat-buat. "Aku melakukannya karena aku peduli padamu. Aku tidak ingin kau hidup dalam kebohongan."
Sky meletakkan pulpennya, matanya menatap tajam. "Jika ini adalah fitnah lainnya, aku sarankan kau keluar sekarang."
Cristine tidak bicara. Ia hanya meletakkan dokumen medis itu di atas meja Sky.
"Baca sendiri. Ozora bukan gadis pemalu yang kau kira. Dia memiliki kondisi mental yang tidak stabil sejak kecil. Dia terobsesi padamu bukan karena cinta, tapi karena itu adalah bagian dari gangguannya. Dia bisa menjadi sangat berbahaya bagi dirinya sendiri, dan bagimu."
Sky perlahan meraih dokumen itu. Matanya bergerak cepat membaca istilah-istilah medis yang tertulis di sana. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Sky dengan suara rendah yang berbahaya.
"Itu tidak penting. Yang penting adalah, dia membohongimu, Sky. Dia memanipulasi seluruh sirkel mu, orang tuamu, bahkan kau sendiri dengan wajah polosnya itu. Dia butuh pengobatan, bukan hubungan asmara," ucap Cristine sambil melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahu Sky.
Sky terdiam cukup lama, menatap nama Ozora di dokumen itu. Cristine sudah bersiap melihat Sky marah dan langsung memutuskan hubungan dengan Ozora.
Namun, Sky justru perlahan mendongak. Matanya tidak memancarkan kemarahan pada Ozora, melainkan api yang menyala ke arah Cristine.
"Kau melanggar privasi medisnya, Cristine?" tanya Sky dengan nada yang sangat dingin.
"Sky, aku menyelamatkanmu! Dia berbahaya!" seru Cristine kaget.
"Berbahaya?" Sky berdiri, merobek dokumen itu tepat di depan wajah Cristine. "Jika dia memang menderita selama ini sendirian, jika dia harus berjuang dengan kepribadiannya hanya untuk terlihat normal di depanku, itu justru membuatku semakin ingin melindunginya."
Sky melangkah maju, mengintimidasi Cristine. "Kau pikir aku peduli dengan catatan medis sepuluh tahun lalu? Yang aku tahu, Ozora adalah satu-satunya orang yang mencintaiku dengan tulus saat semua orang, termasuk kau, hanya melihatku sebagai aset. Pergi dari sini, Cristine. Dan jika kau berani menyebarkan satu kata pun tentang ini, aku sendiri yang akan memastikan keluarga von Heist bangkrut dalam semalam."
Di luar ruangan, di balik pintu yang sedikit terbuka, Ozora berdiri di sana. Ia telah mendengar semuanya. Ia melihat bagaimana Sky membelanya meskipun telah mengetahui rahasia tergelap nya.
Ozora menyentuh dadanya. Sesuatu di dalam dirinya, sisi gelapnya, merasa sangat puas. Namun, ia juga tahu Cristine tidak akan berhenti.
Saat Cristine keluar dari ruangan dengan wajah pucat dan penuh amarah, ia berpapasan dengan Ozora di lorong yang sepi.
Ozora tidak memasang wajah polos lagi. Ia menatap Cristine dengan tatapan dingin yang tak beralas. "Sudah kubilang, Cristine," bisik Ozora tepat di telinga Cristine saat mereka berpapasan.
"Sky adalah milikku. Dan sekarang, karena kau sudah mencoba menyakitinya dengan rahasia itu, aku tidak punya alasan lagi untuk bersikap ramah padamu."
Ozora tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat Cristine menyadari bahwa ia baru saja membangunkan monster yang sesungguhnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰