NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejar Kejaran Di Ujung Realitas

Kala melompat melewati pagar pembatas trotoar, napasnya memburu seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas. Bus rute 402 itu sudah bergerak menjauh, membelah kemacetan sore Jakarta yang mulai merayap. Di balik kaca belakang bus, siluet Arumi tampak semakin kecil.

"Arumi!" teriak Kala, namun suaranya tenggelam oleh deru mesin dan klakson kota yang bising.

Tiba-tiba, aspal di bawah kaki Kala bergetar. Bukan gempa, tapi distorsi. Ia menoleh ke belakang dan melihat pemandangan yang mengerikan: tiga Pemulih itu tidak berlari, mereka meluncur menembus ruang. Di mana pun mereka melangkah, warna-warna di sekitar mereka terhisap menjadi hitam-putih, seolah-olah keberadaan mereka adalah penghapus bagi dunia yang berwarna.

"Henti, Subjek 601," suara mereka bukan lagi lewat telinga, tapi bergema langsung di dalam tengkorak Kala. "Keberadaanmu adalah erosi bagi dimensi ini."

Kala tidak peduli. Ia melihat sebuah ojek motor yang mesinnya masih menyala di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, ia melompat ke atasnya.

"Maaf, Pak! Pinjam sebentar!" seru Kala sambil menarik gas dalam-dalam.

Motor itu melesat, zig-zag di antara deretan mobil. Kala memacu motornya mengejar bus. Namun, setiap kali ia mendekat, kepalanya berdenyut hebat. Darah segar mulai mengucur dari lubang hidungnya, menetes ke setang motor. Alam semesta sedang memprotes kedekatan Kala dengan Arumi. Paradoks sedang terjadi.

"Vera! Kalau kamu masih ada di jaringan kota ini, bantu aku!" teriak Kala pada earphone yang masih terpasang.

Static... kshhh... "Kala! Jangan mendekat! Jika jarakmu dengan Arumi kurang dari sepuluh meter, frekuensi kalian akan saling membatalkan! Kamu akan meledakkan area ini!" suara Vera terdengar lewat speaker publik di pinggir jalan yang ia retas.

"Aku tidak punya pilihan lain!"

Kala melihat salah satu Pemulih mengangkat tangan peraknya. Tiba-tiba, sebuah truk tangki di depan Kala terangkat ke udara seolah gravitasi tidak lagi berlaku. Truk itu terlempar ke arahnya.

Kala membanting setir ke kiri, motornya miring hampir menyentuh aspal. Truk itu menghantam sebuah ruko dengan ledakan yang memekakkan telinga. Namun, tidak ada api. Ledakan itu berupa partikel-partikel kode digital yang beterbangan. Pemulih sedang "menghapus" materi di sekitar Kala.

Kala berhasil menyalip bus. Ia memotong jalannya, memaksa sopir bus mengerem mendadak. CIIIITTTTT!

Penumpang di dalam bus terjerembab. Kala melompat dari motor, berlari menuju pintu bus yang terbuka. Ia melihat Arumi berdiri di tengah lorong bus, wajahnya pucat karena ketakutan.

"Kamu..." Arumi berbisik. Matanya yang jernih menatap Kala dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Pria di kafe itu... dan pria yang ada di mimpiku."

Kala berhenti dua langkah di depan Arumi. Rasa sakit di kepalanya kini mencapai puncaknya. Dunianya mulai bergoyang. Di mata Kala, sosok Arumi mulai terbelah menjadi dua, tiga, hingga ratusan bayangan.

"Arumi, ikut aku," Kala mengulurkan tangannya. "Mereka datang untuk menghapusmu."

"Siapa mereka? Siapa kamu?" Arumi menangis, ia bingung sekaligus merasa sangat akrab dengan orang asing ini.

Tepat saat itu, atap bus itu terbelah seperti kertas yang digunting. Salah satu Pemulih mendarat di dalam bus. Udara di dalam bus seketika membeku. Para penumpang lain mematung, terjebak dalam waktu yang dihentikan oleh entitas perak itu.

"Kunci harus dikembalikan ke Gudang Realitas," ucap Pemulih itu. Tangan peraknya yang dingin terjulur menuju leher Arumi.

"JANGAN SENTUH DIA!"

Sesuatu meledak di dalam diri Kala. Bekas luka di pergelangan tangannya, tempat jam itu pernah tertanam, memancarkan cahaya biru yang sangat terang hingga menyilaukan seluruh isi bus.

Kala merasakan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tidak hanya bergerak dalam waktu; ia mengendalikan waktu di sekitarnya. Dengan satu sentuhan tangan kanannya ke lantai bus, sebuah gelombang kejut berwarna biru menyapu keluar.

Pemulih itu terlempar ke belakang, tubuh peraknya retak-retak seperti cermin yang dipukul palu.

Kala menarik Arumi ke pelukannya. Begitu kulit mereka bersentuhan, rasa sakit di kepala Kala hilang seketika, digantikan oleh ketenangan yang luar biasa. Paradoks itu tidak menghancurkan mereka; sebaliknya, mereka seolah saling melengkapi.

"Aku ingat..." bisik Kala di telinga Arumi. "Aku ingat janji itu. Di bawah menara jam sepuluh tahun lalu."

Arumi mendongak, air matanya membasahi kemeja Kala. "Kala... kamu benar-benar kembali."

Namun, kemenangan mereka hanya sesaat. Dua Pemulih lainnya sudah berdiri di atas mobil-mobil yang membeku di luar bus. Dan kali ini, mereka tidak sendirian. Langit Jakarta yang sore tadi berwarna jingga, kini berubah menjadi hitam pekat dengan jutaan angka yang jatuh seperti hujan.

Digital Collapse.

"Mereka menghapus seluruh koordinat tempat ini!" suara Vera bergema dari ponsel salah satu penumpang. "Kala, satu-satunya cara adalah melakukan lompatan buta! Gunakan resonansi di tanganmu! Kamu harus membawa Arumi ke 'Detik yang Hilang' sekarang juga, atau kalian berdua akan terhapus selamanya!"

Kala menatap Arumi. "Kamu percaya padaku?"

Arumi mengangguk kuat. "Selalu."

Kala memejamkan mata. Ia membayangkan detik ke-601. Ia memusatkan seluruh sisa ingatannya, seluruh cintanya, ke dalam bekas luka di tangannya. Cahaya biru itu menelan mereka berdua, tepat saat sosok Pemulih menerjang ke arah mereka.

ZAP!

Bus itu kosong. Hanya menyisakan puing dan debu digital. Kala dan Arumi telah menghilang dari permukaan bumi, masuk ke dalam celah waktu yang paling terlarang.

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!