Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 GADIS LUGU DAN GETARAN ASING SANG ASISTEN
Jumat, 25 April 2025, Musim Semi
Pagi hari di kediaman utama Aurevyn dimulai dengan kesibukan yang cukup kontras. Di dalam kamar luasnya, Olivia Elenora Aurevyn sedang berlutut kecil di depan putra semata wayangnya, Leon Alexander. Tangannya dengan telaten merapikan kerah kaos polo berwarna biru laut yang dikenakan bocah itu, sementara Alex hanya berdiri diam dengan wajah mengantuk yang menggemaskan.
Tepat saat Olive hendak menyisir rambut halus Alex, ponsel di atas meja riasnya bergetar nyaring. Nama Liam terpampang di layar. Olive menghela napas sedikit panjang sebelum menggeser tombol hijau dan menjepit ponsel itu di antara bahu dan telinganya agar tangannya tetap bebas mengurus Alex.
"Halo, Liam?" sapa Olive lembut.
"Selamat pagi, Olive," suara bariton yang berat dan maskulin di seberang sana seketika membuat bulu kuduk Olive sedikit meremang. "Apa aku mengganggumu?"
"Tidak, aku hanya sedang memakaikan baju untuk Alex. Ada apa?"
"Aku hanya ingin memberitahu bahwa siang nanti aku akan mampir ke butikmu. Aku merindukan jagoan kecilku... dan mungkin juga mamanya," nada suara Liam terdengar sedikit lebih hangat, meski ia mencoba menutupinya dengan alasan Alex. "Marcus bilang kau harus merapatkan desain sentuhan terakhir untuk seragam operasional minggu depan. Jadi, aku pikir lebih efisien jika aku datang langsung."
Olive terdiam sejenak. Ia tahu Liam sedang menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk bertemu. "Baiklah, Liam. Kebetulan aku memang perlu persetujuanmu untuk beberapa material kancing dan bordir logo perusahaanmu. Aku akan ada di butik sampai sore."
"Bagus. Sampai jumpa siang nanti, Olive."
Setelah panggilan berakhir, Olive segera mempercepat gerakannya. Hari ini ia tidak bisa menitipkan Alex pada Bundanya, Feli. Sebagai arsitek utama hotel mewah Aurevyn, Feli sedang dalam kondisi darurat proyek karena ada kesalahan konstruksi pada area kolam renang yang harus ia tangani sendiri. Feli terus-menerus meminta maaf, namun Olive sangat memahami dedikasi bundanya.
Untungnya, Brian Sterling Aurevyn, sang kakak yang protektif, bersedia mengantar. "Ayo, Olive, Alex. Kita berangkat sekarang. Aku harus mampir ke rumah Vera dulu untuk mengantarkan obat dan makanan sehat. Kasihan gadisku, dia bilang kepalanya pusing karena terlalu banyak bergadang mengerjakan tugas kampus," ujar Brian sambil merapikan mantel wol panjangnya.
Siang harinya, butik Aurevyn Couture sedang dalam puncaknya. Pelanggan kelas atas Monako seolah tidak berhenti masuk, membuat Olive harus bergerak lincah dari satu sudut ke sudut lain. Saat ia sedang sibuk mengukur lingkar badan seorang pelanggan, pintu butik terbuka.
Seorang gadis berdiri di sana dengan sikap yang sangat canggung. Ia mengenakan kaos lengan pendek polos berwarna putih bersih dan celana jeans panjang yang sudah sedikit pudar namun rapi. Gadis itu terus menundukkan kepala, membiarkan rambut panjangnya yang lurus menutupi sebagian wajah cantiknya.
Olive segera menghampirinya setelah menyelesaikan urusan pelanggan. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?"
Gadis itu mendongak sedikit. Matanya yang jernih dan polos menatap Olive dengan rasa takut yang tertahan. "E-eh... saya temannya Nona Zaylee. Dia bilang... Nona sedang mencari bantuan di butik ini."
Olive langsung teringat janji Zee kemarin. "Ah! Kau Luna, ya? Luna Calista?"
Gadis yang bernama Luna Calista itu mengangguk cepat. "Iya, Nona. Maaf, Nona Zee tadi bilang dia ada urusan mendadak dengan tunangannya, Tuan Kenzo. Dia memberikan saya kertas alamat ini," Luna menyodorkan secarik kertas kecil yang sudah agak lecek.
Olive mengerutkan kening. "Kenapa dia memberimu kertas? Kenapa tidak mengirim pesan atau meneleponku saja untuk mengonfirmasi keberangkatanmu?"
Luna meremas ujung kaosnya, wajahnya memerah karena malu. "Saya... saya tidak memiliki ponsel, Nona. Saya belum bisa membelinya."
Hati Olive yang lembut seketika mencelos. Ia teringat betapa beratnya hidup di London dulu saat ia harus berhemat untuk setiap sen. Tanpa ragu, Olive langsung meraih tangan Luna. "Jangan panggil Nona, panggil Olive saja. Aku butuh bantuanmu sekarang karena pelanggan sedang ramai. Bisakah kau membantuku melayani pelanggan di depan? Cukup tawarkan minuman dan bantu mereka mencoba pakaian yang mereka pilih."
Luna mengangguk antusias. Ternyata, meski pemalu, Luna adalah gadis yang sangat rajin dan ramah. Ia bergerak cepat, menyambut setiap pelanggan dengan senyuman tulus yang sangat menyejukkan.
Satu jam kemudian, pintu butik kembali berdenting. Kali ini, sosok tinggi tegap Marcus asisten pribadi kepercayaan Liam melangkah masuk untuk membukakan pintu bagi sang Monarch. Marcus mengenakan setelan jas hitam formal yang sangat kaku, wajahnya sedingin es seperti biasa. Ia adalah pria yang dikenal tidak percaya pada cinta dan hanya mengabdikan hidupnya pada logika serta keamanan Liam.
Namun, langkah Marcus terhenti tepat di ambang pintu.
Alih-alih disambut oleh Olive, seorang gadis lugu dengan wajah imut dan polos tiba-tiba berdiri di hadapannya. Luna Calista tersenyum sangat ramah, sebuah senyuman yang belum pernah Marcus lihat di dunia korporat yang penuh kepalsuan.
"Selamat siang, Tuan. Selamat datang di Aurevyn Couture. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Luna dengan suara lembut yang terdengar seperti melodi di telinga Marcus.
Marcus mematung. Matanya yang biasanya tajam dan waspada kini terkunci pada sosok sederhana di depannya. Ada sebuah getaran asing yang merambat di dadanya, membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Marcus, yang biasanya selalu siap dengan segala protokol, mendadak kehilangan kata-kata.
Liam, yang masuk di belakang Marcus, segera menyadari asistennya itu sedang melamun. Liam melihat Olive sedang duduk di sofa pojok, sibuk mencatat pesanan pelanggan dengan raut wajah yang sangat lelah. Tanpa sepatah kata pun, Liam melangkah melewati Marcus, membiarkan asistennya itu terjebak dalam dunianya sendiri.
"Siapa namamu?" tanya Marcus tiba-tiba, suaranya sedikit serak karena gugup.
Luna sedikit terkejut, pipinya merona merah. "Nama saya Luna, Tuan. Saya karyawan baru di sini."
"Luna..." gumam Marcus tanpa sadar. Wajah polos dan cara bicara Luna yang tidak terkesan mencari perhatian justru membuat Marcus merasa sangat tertarik. Ia merasa ingin melindungi gadis ini dari dunia luar yang kejam.
Luna yang melihat Marcus terus menatapnya menjadi salah tingkah. "Tuan... apakah Anda ingin melihat koleksi jas pria? Atau sedang menunggu Tuan Liam?"
Marcus berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh. "Ehm... iya. Maksudku, tunjukkan padaku beberapa pakaian. Aku ingin mencoba beberapa kemeja... mungkin," ujar Marcus asal, padahal ia datang ke sana untuk mengawal Liam bertemu Olive dan Alex.
Di sisi lain ruangan, Liam sudah duduk di samping Olive, menatap wanita itu dengan binar mata yang penuh perhatian, sementara Alex sudah merangkak naik ke pangkuan Liam. Namun di depan butik, sebuah kisah baru mulai mekar. Marcus, sang pria dingin yang tak percaya cinta, kini justru sibuk menanyakan harga kemeja pada Luna hanya agar ia bisa berbicara lebih lama dengan gadis lugu yang baru saja mencuri fokus dunianya.