Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori yang Terpilih
Lampu ruang operasi akhirnya padam. Pintu geser terbuka, menampilkan Dokter Aris yang wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dalam semalam. Ara bangkit dari kursi roda dengan bantuan Alaska yang juga masih meringis menahan nyeri di perutnya.
"Dokter, bagaimana Mas Devan?" suara Ara nyaris tak terdengar, tenggelam dalam kecemasan.
Dokter Aris melepas maskernya, menghela napas panjang. "Pelurunya berhasil diangkat. Beruntung tidak mengenai arteri utama. Tapi... ada komplikasi akibat paparan reagen kimia yang dia pecahkan sendiri di ruangan tertutup."
"Maksudmu?" Alaska menyela, matanya menyipit tajam.
"Ada benturan di kepala saat dia terjatuh, ditambah reaksi gas tersebut pada sistem saraf pusatnya. Devan sudah sadar, tapi dia mengalami dissociative amnesia. Dia kehilangan ingatan tentang peristiwa traumatis selama beberapa bulan terakhir."
Ara mematung. "Beberapa bulan terakhir? Artinya..."
"Artinya, bagi Devan, ini masih bulan Februari. Dia tidak ingat tentang malam ulang tahun pernikahan kalian, dia tidak ingat tentang kecelakaan orang tua kalian, dan yang paling berat... dia sama sekali tidak ingat bahwa kau sudah mengajukan gugatan cerai, Ara."
Dunia Ara seolah berputar. Di satu sisi, ada rasa syukur karena Devan hidup. Di sisi lain, ini adalah hukuman baru. Bagaimana dia bisa membenci pria yang menatapnya dengan cinta yang murni karena dia lupa pada luka yang dia torehkan?
Di dalam Kamar Perawatan Devan...
Bau obat-obatan yang biasanya sangat disukai Devan kini terasa asing. Saat Ara melangkah masuk, ia melihat Devan sedang duduk bersandar di tempat tidur, bahunya dibalut perban tebal. Begitu melihat Ara, mata Devan yang biasanya dingin mendadak berbinar—binar mata yang belum pernah Ara lihat selama lima tahun pernikahan mereka.
"Ara..." Devan tersenyum, suaranya serak namun hangat. "Kenapa kau menangis? Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama lagi?"
Ara membeku di ambang pintu. "Mas Devan..."
"Mendekatlah," Devan mengulurkan tangannya yang tidak terluka. "Maafkan aku. Aku ingat aku sedang menangani kasus besar semalam, lalu tiba-tiba aku bangun di sini. Apa aku melewatkan makan malam kita?"
Alaska yang berdiri di belakang Ara mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Dia benar-benar lupa, Ra. Dia pikir semuanya masih baik-baik saja."
Devan mengalihkan pandangannya ke arah Alaska, keningnya berkerut. "Alaska? Sedang apa kau di sini? Dan kenapa kau memakai baju pasien?"
"Aku..." Alaska menatap Ara, meminta petunjuk. Haruskah dia membongkar semuanya sekarang? Haruskah dia berteriak bahwa Ara sudah ingin pergi?
"Mas," Ara memotong, ia berjalan mendekat dan memberanikan diri menyentuh tangan Devan. Tangannya gemetar. "Kau terluka parah semalam. Ada insiden di kediaman Kakek."
"Kakek?" Devan tertawa kecil, seolah itu hal yang mustahil. "Kakek sedang di luar negeri untuk bisnis, kan? Ara, kau aneh sekali hari ini. Sini, duduk di sampingku."
Devan menarik tangan Ara, membawa istrinya itu ke dalam pelukannya yang lemah. Ia membenamkan wajahnya di leher Ara, menghirup aroma lily yang sangat ia rindukan tanpa ia tahu sebabnya.
"Aku bermimpi buruk sekali, Ara. Aku bermimpi kau meninggalkanku. Aku bermimpi rumah kita sangat sunyi. Jangan pernah lakukan itu, ya?" bisik Devan tepat di telinga Ara.
Ara memejamkan mata, air matanya jatuh membasahi baju rumah sakit Devan. Ini sangat menyakitkan. Devan yang sekarang adalah Devan yang ia impikan selama lima tahun—pria yang hangat dan mendamba kehadirannya. Tapi pria ini hadir karena memorinya terhapus.
"Mas... ada banyak hal yang harus kita bicarakan setelah kau sembuh," ucap Ara lirih.
Alaska tidak tahan lagi. Ia melangkah maju. "Devan, kau tidak bisa terus hidup dalam fantasi ini. Kau tahu tidak, Ara sudah membawa surat cer—"
"Alaska, cukup!" teriak Ara.
"Kenapa cukup, Ra?! Dia harus tahu kalau dia sudah menghancurkan hidupmu! Kau tidak bisa merawatnya hanya karena dia mendadak jadi pria manis!" Alaska emosi, napasnya memburu hingga luka di perutnya terasa perih kembali.
Devan melepaskan pelukannya, menatap Alaska dengan bingung. "Surat cerai? Apa yang kau bicarakan, Al? Aku dan Ara baik-baik saja. Kami baru saja merayakan ulang tahun pernikahan ke-4 beberapa bulan lalu. Kenapa harus ada cerai?"
Melihat kebingungan di mata Devan, Ara menyadari sesuatu. Devan tidak hanya lupa kecelakaan itu, dia seolah menghapus semua memori menyakitkan yang membuat Ara menderita. Pria di depannya sekarang adalah Devan yang "bersih" dari dosa tiga bulan terakhir.
"Al, tolong keluar dulu," perintah Ara tanpa menoleh.
"Tapi Ra—"
"Keluar, Alaska. Biarkan aku bicara dengannya."
Dengan berat hati, Alaska keluar sambil menabrak pintu, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar. Devan menatap Ara dengan cemas.
"Ara, apa yang Alaska bicarakan? Apa aku melakukan kesalahan besar sampai dia bicara soal cerai?"
Ara menatap mata suaminya. Haruskah ia menjadi "pembunuh" memori itu? Haruskah ia mengingatkan Devan tentang video hotel, tentang kematian orang tuanya yang diabaikan Devan, dan tentang pengkhianatan Kakek?
"Tidak, Mas," bohong Ara, sebuah kebohongan yang ia tahu akan menjeratnya dalam labirin baru. "Alaska hanya sedang kacau karena stres pekerjaan. Sekarang, tidurlah. Aku di sini."
Devan tersenyum lega, ia menggenggam tangan Ara erat-erat sebelum akhirnya terlelap karena pengaruh obat bius.
Ara berdiri di sana, menatap suaminya.Devan mengejar Ara bukan karena dia merasa bersalah, tapi karena dia "merasa" mereka pasangan suami-istri yang dalam angannya saling mencintai, sementara Ara harus menanggung beban kebenaran sendirian.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/