Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: RETAKAN PADA POROS
Suara dengung lampu neon di atas kepala mereka terasa seperti bor yang melubangi kesadaran Keyla. Waktu seolah melambat, meregangkan detik menjadi jam, saat tatapan Bintang berpindah dari wajah pucat Keyla, ke senyum tipis di bibir Reza, dan berakhir pada layar laptop yang masih menyala terang.
Dokumen itu. Kop surat yayasan. Tanda tangan ayahnya.
"Bintang, ini nggak seperti yang kamu pikirin," suara Keyla keluar sebagai cicitan lemah, kontras dengan gemuruh panik di dadanya. Ia reflek bergerak, mencoba menutup laptop Reza, tapi Reza lebih cepat. Cowok itu membiarkan layarnya terbuka, seolah sengaja memamerkan 'bangkai' yang baru saja ia gali.
Bintang tidak bergerak. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Ia tidak melihat Keyla lagi. Matanya terkunci pada baris angka dan paraf di layar LCD itu. "Itu... laporan keuangan pembangunan gedung olahraga baru," gumam Bintang, suaranya terdengar asing. Dingin. "Kenapa ada di laptop lo, Za? Dan kenapa ada tanda tangan bokap gue di situ?"
Reza menyandar santai di kursi plastiknya, menikmati setiap detik kehancuran di hadapannya. "Well, Kapten," ucapnya dengan nada yang dibuat-buat sopan, "gue lagi diskusi sama cewek lo. Tentang jurnalisme investigasi. Tentang kebenaran yang kadang... pahit."
"Keyla?" Bintang menuntut jawaban, kali ini matanya menyorot tajam ke arah gadis itu. Tatapan hangat yang biasa Keyla terima kini lenyap, digantikan oleh campuran kebingungan dan pengkhianatan yang menyengat. "Kamu bilang kamu di rumah. Kamu bilang mau tidur. Kenapa kamu di sini? Sama dia? Membahas ayahku?"
Keyla merasakan kerongkongannya tercekat. Ia ingin berteriak bahwa ia melakukan ini untuk melindunginya. Bahwa ia sedang bernegosiasi dengan iblis demi menjaga nama baik Bintang agar tidak hancur sebelum final basket. Tapi kalimat itu tertahan. Jika ia mengatakannya sekarang, di depan Reza, ia mengakui bahwa ancaman Reza valid.
"Gue yang minta dia dateng," sela Reza sebelum Keyla sempat menyusun kebohongan baru. "Cassiopeia punya bakat, kan? Gue cuma nawarin kesepakatan. Dia tulis artikel buat gue, dan gue... menunda penerbitan dokumen ini."
"Menunda?" Bintang menyambar kata itu. Ia melangkah maju, menepis jarak di antara mereka. Aura intimidasi seorang kapten basket yang biasa terlihat di lapangan kini memenuhi ruang sempit warkop itu. "Lo meras dia? Lo ngancem Keyla pakai data sampah ini?"
"Sampah?" Reza tertawa kecil, lalu dengan gerakan cepat memutar laptopnya menghadap Bintang sepenuhnya. "Cek tanggalnya, Bin. Dana cair tiga bulan lalu. Pembangunan mangkrak. Dan bokap lo penanggung jawab utamanya. Ini bukan sampah. Ini headline."
Bintang menatap layar itu sekilas, lalu beralih menatap Keyla. Ada harapan di matanya—harapan putus asa agar Keyla menyangkalnya. "Key... kamu nggak percaya ini, kan? Kamu ke sini bukan karena kamu percaya Ayah korupsi, kan?"
Keyla membeku. Ia tidak bisa berbohong. Fakta yang ia lihat di dokumen itu terlalu nyata, terlalu detail. Keheningannya menjadi jawaban yang paling menyakitkan bagi Bintang.
"Ya Tuhan," desis Bintang, langkahnya mundur perlahan. "Kamu percaya."
"Bintang, datanya valid," bisik Keyla, matanya mulai berair. "Aku cuma mau nyegah Reza nyebarin ini sebelum final. Aku nggak mau konsentrasi kamu pecah, aku nggak mau—"
"Cukup." Bintang mengangkat tangannya. Wajahnya merah padam, menahan amarah yang siap meledak. Ia tidak membentak, tapi nada suaranya yang rendah jauh lebih menakutkan. "Ikut aku. Sekarang."
Bintang berbalik, tidak menunggu persetujuan. Keyla menyambar tasnya, menatap Reza dengan tatapan penuh kebencian. Reza hanya mengangkat bahu, mulutnya membentuk gerakan tanpa suara: *Tic-toc, Cassiopeia.*
Keyla berlari kecil mengejar Bintang yang sudah melangkah lebar menuju area parkir. Angin malam Surabaya yang biasanya gerah kini terasa menusuk tulang. Bintang membuka pintu penumpang mobilnya dengan kasar, lalu membantingnya setelah Keyla masuk. Tidak ada perlakuan manis, tidak ada tangan yang melindungi kepala Keyla dari atap mobil.
Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik. Bintang tidak langsung menyalakan mesin. Ia mencengkeram setir erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya berat.
"Kita baru aja bahas soal 'tim', Key," ucap Bintang akhirnya, tanpa menoleh. Pandangannya lurus ke kaca depan yang gelap. "Di rooftop perpustakaan. Kita janji nggak ada rahasia. Dan hal pertama yang kamu lakuin adalah nemuin Reza di belakang punggungku?"
"Aku takut, Bin," Keyla mencoba meraih lengan Bintang, tapi cowok itu menarik diri. Hati Keyla mencelos. "Reza ngancem bakal hancurin reputasi Ayah kamu dan sekolah. Aku panik. Aku pikir kalau aku bisa negosiasi—"
"Kamu pikir aku selemah itu?" potong Bintang tajam. Ia akhirnya menoleh, dan Keyla bisa melihat genangan kecewa di mata cokelat itu. "Kamu pikir aku nggak bisa handle masalah keluargaku sendiri? Atau lebih parah... kamu pikir Ayahku beneran maling?"
"Bukan gitu!" sanggah Keyla defensif. "Aku lihat buktinya, Bin! Tanda tangan itu asli. Aliran dananya mencurigakan. Aku nggak mau kamu tahu dari akun gosip atau headline mading sekolah! Aku mau lindungin kamu!"
"Dengan cara bohong? Dengan cara main detektif sama orang yang jelas-jelas benci sama aku?" Bintang tertawa hambar, suara yang terdengar asing di telinga Keyla. "Itu bukan ngelindungin, Key. Itu namanya nggak percaya. Kamu nggak percaya sama aku, dan kamu nggak percaya sama integritas keluargaku."
"Aku cuma nggak mau kamu terluka!" seru Keyla, air matanya akhirnya tumpah. "Kamu selalu bilang kamu capek dengan citra sempurna. Aku cuma mau jaga supaya dunia kamu nggak runtuh!"
"Duniaku nggak akan runtuh karena fitnah murahan," sahut Bintang dingin. Ia menyalakan mesin mobil. Raungan mesin terdengar seperti auman binatang buas yang terluka. "Tapi duniaku goyah kalau orang yang aku sayang justru lebih percaya sama musuh daripada tanya langsung ke aku."
Perjalanan menuju rumah Keyla adalah perjalanan terpanjang dalam hidup mereka. Tidak ada musik, tidak ada obrolan, hanya suara ban bergesekan dengan aspal dan isak tangis tertahan Keyla. Bintang menyetir dengan fokus yang menakutkan, tatapannya kosong namun tajam.
Sesampainya di depan pagar rumah Keyla, Bintang tidak mematikan mesin. Ia juga tidak turun untuk membukakan pintu.
"Turun, Key," ucapnya datar.
Keyla menatap profil samping wajah Bintang. Hidung mancungnya, garis rahangnya yang tegas, semua terlihat sama, namun terasa begitu jauh. "Bintang, kita... kita putus?" tanya Keyla lirih, suaranya bergetar hebat.
Bintang terdiam sejenak. Tangannya meremas setir sekali lagi sebelum melonggarkannya. "Aku butuh waktu. Aku harus cari tahu kebenaran soal dokumen itu. Dan aku harus mikir... apa artinya hubungan ini kalau dasarnya bukan kepercayaan."
Keyla mengangguk pelan, rasa sakit menghujam ulu hatinya. Ia membuka pintu mobil dengan tangan gemetar. "Maafin aku, Bin. Aku sayang kamu. Cuma itu alasan aku."
Bintang tidak menjawab. Begitu Keyla menutup pintu dan melangkah mundur, mobil hitam itu langsung melaju, meninggalkan Keyla yang berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang remang-remang. Bayangan mobil itu menghilang di tikungan, membawa serta separuh jiwanya.
***
Bintang memacu mobilnya membelah jalanan Surabaya yang mulai lengang. Pikirannya kacau balau. Marah, kecewa, takut, semua bercampur menjadi satu adonan emosi yang memusingkan. Ia marah pada Keyla karena berbohong, tapi jauh di lubuk hatinya, ada ketakutan yang lebih purba.
*Bagaimana kalau dokumen itu benar?*
Bayangan ayahnya yang selalu sibuk, pertemuan-pertemuan tertutup di ruang kerja, telepon-telepon larut malam dengan nada tinggi... kepingan-kepingan puzzle itu mulai berputar di kepalanya.
Bintang membanting setir memasuki pekarangan rumah mewahnya yang sepi. Satpam membukakan gerbang dengan hormat, tapi Bintang tidak peduli. Ia memarkir mobil sembarangan dan bergegas masuk.
Rumah itu sunyi. Orang tuanya mungkin sudah tidur, atau belum pulang dari acara sosialita mereka. Bintang melangkah menuju ruang kerja ayahnya di lantai dua. Ruangan yang selalu terkunci, namun Bintang tahu di mana ayahnya menyembunyikan kunci cadangan—di balik pot bonsai di koridor.
Jantungnya berpacu saat kunci itu memutar selot pintu. *Klik*. Terbuka.
Bau cerutu mahal dan kertas tua menyambutnya. Bintang menyalakan lampu meja. Ia tidak tahu apa yang ia cari, tapi instingnya menuntunnya ke laci meja kerja yang paling bawah. Terkunci. Bintang menariknya paksa. Kayu mahoni itu retak sedikit, tapi laci itu terbuka.
Tumpukan map. Laporan yayasan. Proposal pembangunan.
Tangan Bintang gemetar saat ia membalik lembar demi lembar. Ia mencari logo yang sama dengan yang ia lihat di laptop Reza. Dan di sana, di tumpukan paling bawah, terselip sebuah amplop cokelat tebal tanpa label.
Ia membukanya. Isinya bukan hanya dokumen yang Reza punya. Ini lebih parah. Ada bukti transfer ke rekening pribadi atas nama pejabat dinas pendidikan, dan catatan aliran dana dari uang gedung siswa yang dialihkan ke perusahaan properti milik paman Vanya.
Bintang merosot ke lantai, punggungnya menabrak kaki meja. Kertas-kertas itu berserakan di sekelilingnya seperti daun kering.
Keyla benar. Keyla tidak berbohong. Keyla berusaha melindunginya dari kenyataan bahwa pahlawan dalam hidupnya, ayahnya sendiri, adalah seorang penjahat.
Ponselnya bergetar di saku. Bintang mengambilnya dengan gerakan lambat. Sebuah notifikasi dari akun anonim sekolah—bukan akun gosip biasa, tapi akun *whistleblower* baru.
*"BREAKING: Kapten Basket SMA Cakrawala Terpadu menikmati fasilitas mewah hasil korupsi uang gedung? Bukti terlampir."*
Foto dokumen itu sudah tersebar. Reza tidak menunggu. Reza sudah menekan tombol nuklirnya.
Di layar ponsel yang menyala itu, Bintang melihat dunianya runtuh, bukan karena ia kehilangan Keyla, tapi karena ia sadar bahwa mulai detik ini, ia berdiri di sisi yang salah.