NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Akibat

Tak lama kemudian, Revan yang telah diperiksa dokter perlahan sadar sepenuhnya. Wajahnya masih memerah, napasnya belum sepenuhnya stabil.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi,” katanya serak.

“Minumanku, ada sesuatu di dalamnya.”

Tatapan matanya mengeras. “Sepertinya ada masalah dengan salah satu bawahanku.”

“Ada kamera pengawas di setiap sudut. Tidak akan sulit mencari tahu siapa yang mengambil uang yang bukan haknya,” kata Renan sambil menuangkan segelas air untuk kakak laki-lakinya.

Ia meletakkan gelas itu di meja, lalu melirik Asisten Gery.

“Tapi, Asisten Gery sudah terlalu lama tidak bisa menemukan kakakku. Tetap saja, itu kelalaian. Dia harus menerima hukuman.”

Asisten Gery menunduk tanpa membela diri. “Saya mengerti. Saya akan menerimanya.”

Revan mengambil obat dari tangan dokter keluarga, menghirup aromanya perlahan hingga raut wajahnya sedikit membaik.

“Aku tidak akan turun lagi. Kondisiku belum memungkinkan.”

Ia melirik adiknya dan tersenyum tipis. “Renan, pergilah. Aku yakin para petinggi itu bukan lawanmu.”

Meskipun Renan belum pernah benar-benar bertindak sebagai tuan rumah dalam jamuan bisnis sebesar ini, Revan tetap mempercayakannya kepadanya.

Bahkan jika Renan membuat masalah di tengah jalan, Revan tahu ia mampu membereskannya. Dan jika perlu, Revan akan berdiri di belakangnya.

Renan memutar bola matanya dengan malas. “Aku tahu. Kau istirahat saja.”

Lalu, dengan nada santai namun penuh arti, ia menambahkan, “Ngomong-ngomong, kencan buta yang Mama atur untukmu itu, mungkin semua ini akan berhenti begitu aku punya kakak ipar sungguhan.”

“Omong kosong,” potong Revan ringan.

Baru saat itu ia menyadari Ayuna berdiri tak jauh dari sana. “Maaf kalau kejadian tadi menakutimu, adik ipar. Kalau kamu bosan menunggu Renan, minta saja seseorang mengantarmu ke ruang santai.”

Ayuna menggeleng cepat. “Tidak perlu, Kak. Istirahatlah dulu. Jangan memikirkan hal lain.”

Renan melihat waktunya sudah tepat. “Aku turun dulu. Kamu istirahat.”

Ia lalu meraih tangan Ayuna dan menariknya pergi sambil berbisik, “Nanti aku tunjukkan kekuatan suamimu.”

Ayuna terkekeh kecil. “Kalau begitu aku harus serius mendukungmu. Jangan sampai aku mempermalukanmu.”

Renan mendengus. “Di tempat ini, bahkan kalau kamu kentut, orang-orang akan bilang aromanya wangi.”

“Kamu benar-benar menyebalkan,” gumam Ayuna cemberut, ia merasa pria itu semakin kekanak-kanakan.

Renan hanya meliriknya sambil tersenyum tipis. Ia mengambil segelas sampanye dari pelayan, lalu melangkah langsung ke arah kelompok staf perusahaan asing yang bekerja sama dengan Grup Morris.

Tanpa ragu, ia mulai berbicara dalam bahasa Inggris yang lancar dan percaya diri.

Ayuna sedikit terkejut.

Selama ini Renan selalu terlihat santai, bahkan cenderung sembrono, seolah urusan seperti ini bukan dunianya. Ia tidak menyangka pria itu bisa beralih begitu mulus dari bercanda ringan menjadi sosok yang sepenuhnya menguasai situasi.

Setelah pihak asing itu menyambut Renan dengan antusias, perhatian mereka beralih padanya. Ayuna segera menenangkan diri dan membalas sapaan mereka dalam bahasa Inggris yang sopan.

Saat mereka memuji kecantikannya, pipinya memerah samar. “Terima kasih,” ucapnya lembut.

Setelah itu, ia berdiri tenang di sisi Renan, cukup menjadi pendamping yang anggun.

Di sekitar mereka, para mitra Grup Morris mulai menyadari satu hal penting, pusat perhatian telah berpindah.

Renan bukan hanya hadir sebagai tuan muda kedua Morris Grup.

Ia jelas memahami urusan bisnis keluarga.

Dan bukan sekadar paham, ia mengendalikannya dengan sangat mudah.

❀❀❀

Barulah saat itu orang-orang menyadari bahwa Renan yang selama ini tampak ceroboh dan bodoh itu, mungkin memang tidak sesederhana yang terlihat.

Berpura-pura bodoh demi mengelabui orang lain bukanlah hal langka di lingkaran ini. Bahkan, itu justru salah satu bentuk kecerdikan yang paling umum.

Ketika Papa Herman mendengar kabar bahwa putra sulungnya mengalami insiden dan bergegas datang, ia menduga suasana pesta akan kacau dan sunyi.

Namun yang ia lihat justru sebaliknya.

Jamuan tetap berjalan tertib, bahkan pusat perhatian perlahan berpindah.

Putra bungsunya yang selama ini ia anggap tidak patuh, hanya tahu bersenang-senang, makan, minum, dan hidup tanpa tujuan, kini berdiri di tengah kerumunan dengan sikap tenang dan penuh wibawa.

Untuk pertama kalinya, Papa Herman benar-benar terkejut.

Saat itulah ia akhirnya memahami perkataan Revan.

Renan bukan bodoh. Ia juga tidak sinis tanpa alasan.

Sebaliknya, ia cakap, tajam, dan memiliki naluri bisnis serta pemahaman teknologi yang jauh di atas rata-rata.

Ia hanya tidak ingin bersaing dengan kakak laki-lakinya.

Karena itu, ia memilih jalan yang berbeda, memulai segalanya sendiri, dari nol.

Renan sendiri tidak menyadari bahwa tindakannya malam ini telah mengubah pandangan papa dan kakaknya terhadap dirinya.

Ia tahu mengapa semua ini terasa begitu mudah baginya, bersosialisasi sudah merupakan kegiatan sehari-harinya di kehidupan pertamanya.

“Renan… sudah dewasa,” desah Papa Herman pelan.

Mama Reni menggenggam lengan suaminya dengan lembut. “Dan lihat menantu perempuan kita. Tadinya Mama mengira dia pemalu dan tidak pandai bersosialisasi.”

“Mama bahkan sempat berpikir harus mengajarinya lebih banyak ke depannya. Bagaimanapun, dia akan sering berada di situasi seperti ini.”

Ia tersenyum puas. “Tapi ternyata, dia melakukannya dengan sangat baik.”

Saat itu, Ayuna tengah berbincang dengan para wanita di lingkaran sosial kelas atas. Awalnya, banyak yang menganggapnya naif karena usianya yang masih muda.

Namun, semakin lama mereka mengamati, semakin jelas terlihat. Dia tenang, sopan, dan sama sekali tidak gentar.

Dengan keluarga Morris berdiri di belakangnya, sekalipun mereka tahu latar belakang keluarganya biasa saja, tak seorang pun berani meremehkannya.

Lagipula, menyinggung Ayuna sama saja dengan menyinggung keluarga Morris.

Sementara itu, di sisi lain kota.

Di kediaman keluarga Lubis, Pak Arya Lubis menatap putrinya dengan wajah murka. Urat di pelipisnya menegang, bibirnya bergetar menahan amarah.

Di belakangnya, Nyonya Lubis, Hanika —ibu tiri Silvia—sempat mengangkat sudut bibirnya tipis, lalu segera menutupinya dengan ekspresi cemas.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya, pura-pura khawatir.

Adik laki-laki Silvia mendengus, lalu berbalik menaiki tangga dengan wajah jijik.

“Bukankah sudah jelas? Dia mencoba merayu CEO Morris Grup. Ketahuan, lalu dipulangkan dalam keadaan seperti itu.”

“Bodoh,” gumamnya dingin.

“Kakak sepertinya benar-benar tidak punya otak. Jahat, tapi juga tolol.”

Benar-benar memalukan.

“Alex, jangan bicara sembarangan.” Bu Hanika berusaha angkat bicara, meski di dalam hati ia juga menganggap tindakan itu konyol dan tak berharga.

Ini bukan hanya soal harga diri.

Ini soal nama baik seluruh keluarga Lubis.

“Bodoh!”

Tamparan keras mendarat di wajah Silvia.

Pak Arya menatapnya dengan mata merah padam.

“Beraninya kamu melakukan hal seperti itu?!”

“Kamu telah mempermalukan keluarga Lubis!”

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Anonymous: oke lah tak apa.. menarik juga
total 8 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!