NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: CETAK BIRU DI ATAS MEJA BERDEBU

Laboratorium Teknik Elektro di lantai tiga itu biasanya sepi setelah pukul delapan malam, menyisakan dengung rendah dari mesin pendingin ruangan dan kerlip lampu indikator dari osiloskop yang berjajar di meja panjang. Namun malam ini, di sudut ruangan yang paling remang, Jonatan masih terpaku di depan meja kerjanya. Di hadapannya, lembaran kertas kalkir berserakan, penuh dengan coretan garis-garis sirkuit dan perhitungan tegangan panel surya yang ia susun bersama Pak Johan.

Tangannya yang masih memiliki bekas luka solder dari toko loak itu kini memegang jangka sorong dengan presisi seorang ahli bedah. Ia sedang merancang sebuah modul kontroler pompa air otomatis yang bisa bekerja dengan daya minimal—sebuah solusi yang ia impikan untuk sumur-sumur di Oetimu. Punggungnya pegal, matanya terasa panas seperti kemasukan pasir, namun setiap kali ia merasa ingin menyerah, bayangan sumur kering di belakang rumahnya kembali muncul, menuntut jawaban.

"Kalau efisiensi konversinya hanya delapan belas persen, pompa ini tidak akan sanggup mengangkat air dari kedalaman lima puluh meter," gumamnya pada diri sendiri. Suaranya serak, tenggorokannya kering karena seharian hanya minum air keran masjid.

Tiba-tiba, pintu lab terbuka dengan dentuman pelan yang menggema di ruangan sunyi. Jonatan tidak menoleh, ia mengira itu Pak Johan yang kembali untuk memeriksa laporannya. Namun, bau parfum maskulin yang tajam, mahal, dan asing segera memenuhi hidungnya. Bau yang sangat kontras dengan aroma timah dan debu laboratorium.

"Masih di sini, 'Anak Emas'?"

Jonatan mendongak. Di sana berdiri Rendy, teman seangkatannya yang juga asisten lab, namun berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Rendy adalah putra seorang kontraktor besar di kota ini. Penampilannya selalu necis, kemeja bermereknya licin tanpa lipatan, berbanding terbalik dengan kaos oblong Jonatan yang sudah mulai menipis di bagian ketiak.

"Aku hanya ingin menyelesaikan simulasi ini, Ren. Ada beberapa variabel yang belum ketemu," jawab Jonatan tenang, mencoba kembali fokus pada kertasnya.

Rendy berjalan mendekat, langkah sepatunya yang mengkilap berbunyi angkuh di atas lantai tegel. Ia sengaja menyentuh pinggiran meja Jonatan yang penuh debu timah dengan jari telunjuknya, lalu mengelapkannya ke tisu dengan wajah jijik. "Pak Johan terlalu memujimu, Jon. Dia bilang ide irigasi tenaga suryamu ini revolusioner. Tapi menurutku? Ini cuma proyek romantis anak desa yang rindu kampung halaman. Terlalu banyak celah. Tanahmu itu berbatu dan keras, kan? Getaran pompa akan merusak struktur pipa dalam sebulan. Desainmu ini... terlalu 'murah'."

Jonatan menghentikan gerakannya. Ia meletakkan jangka sorongnya perlahan, lalu menatap Rendy lurus-lurus. Ada api kecil yang mulai menyala di matanya. "Justru karena aku tahu tanah itu berbatu, aku merancang sistem suspensi pada katupnya dengan pegas elastis. Variabel yang kau sebut 'romantis' itu adalah nyawa bagi orang-orang di sana, Rendy. Bukan sekadar angka di laporan praktikum atau simulasi komputer yang bisa kau reset kapan saja kalau salah."

Rendy tertawa sinis, sebuah tawa yang mengingatkan Jonatan pada Tuan Markus—tawa orang-orang yang merasa bisa membeli dunia dengan uang ayah mereka. "Kita lihat saja nanti saat presentasi di depan dewan dekan minggu depan. Jangan sampai beasiswamu dicabut hanya karena kau terlalu sibuk bermain-main dengan mimpi yang tidak masuk akal. Oh ya, kudengar kau kerja di pasar loak ya? Hati-hati, Jon. Jangan sampai bau barang bekas itu menempel di peralatan lab ini."

Setelah Rendy pergi, kesunyian lab terasa lebih menekan, seolah-olah dinding-dinding itu mulai merapat. Kata-kata Rendy seperti duri yang menyangkut di tenggorokan. Bagaimana jika Rendy benar? Bagaimana jika teknologi ini gagal saat menyentuh tanah merah Oetimu? Bagaimana jika batu-batu di sana memang terlalu keras untuk dilawan oleh otak seorang anak miskin sepertinya?

Jonatan menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang dingin. Ia mengambil ponsel tuanya yang layarnya sudah retak, menatap foto ibunya yang dikirimkan adiknya beberapa hari lalu lewat jasa titip pesan. Bu Maria tampak lebih kurus, duduk di teras sambil memegang kalung tenun yang sama dengan yang dipakai Jonatan. Di bawah foto itu ada pesan pendek dari ayahnya: "Mama sudah bisa jalan ke dapur, Jon. Dia tanya, kapan air dari Jawa itu sampai? Tanah kita sudah menangis minta minum."

Rasa sesak kembali memenuhi dada Jonatan. Pertaruhan ini semakin nyata. Proyek ini bukan lagi sekadar tugas riset untuk mendapatkan uang saku dari Pak Johan agar ia bisa makan nasi jinggo setiap malam. Ini adalah janji yang sudah terlanjur terbang melintasi laut, menembus kabut, dan mendarat di hati orang-orang yang ia cintai.

Ia menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang kusam, lalu kembali membungkuk di atas meja. Ia mengambil pulpennya dan mulai mencoret ulang bagian suspensi katup yang dikritik Rendy. Ia tidak akan membiarkan keraguan orang lain menjadi tembok penghalang. Jika tanah Oetimu berbatu, maka ia akan membuat pipa yang lebih kuat dari batu itu sendiri. Ia menghitung ulang daya hantar, mengubah posisi kabel, dan memperkuat dudukan panel.

Pukul dua pagi, suara langkah kaki kembali terdengar. Kali ini lebih berat dan mantap. Pak Johan masuk ke lab, masih mengenakan kemeja batik yang sama dengan tadi siang, namun wajahnya tampak lelah. Pria tua itu terkejut melihat mahasiswanya masih terjaga.

"Belum pulang, Jonatan? Kau ini manusia atau mesin?"

"Sedikit lagi, Pak. Saya baru saja menemukan cara untuk memperkuat tekanan tanpa menambah daya panel. Saya merevisi sistem katupnya," jawab Jonatan tanpa menoleh, tangannya sibuk memutar baut pada prototipe kecil yang terbuat dari bahan-bahan sisa lab.

Pak Johan mendekat, memakai kacamata bacanya, dan memperhatikan detail pekerjaan Jonatan. Ia melihat coretan-coretan di pinggir kertas yang menunjukkan revisi hingga sepuluh kali. Pria tua itu tersenyum tipis, sebuah senyum bangga yang disembunyikan di balik kumis putihnya yang tebal.

"Rendy tadi ke sini, kan?" tanya Pak Johan pelan.

Jonatan mengangguk tanpa suara.

"Rendy itu cerdas, Jon. Sangat cerdas. Tapi dia tidak punya 'luka'. Orang tanpa luka seringkali tidak tahu bagaimana caranya membangun sesuatu yang Abadi. Mereka hanya membangun sesuatu yang megah untuk difoto," Pak Johan menepuk bahu Jonatan dengan mantap. "Desainmu ini punya jiwa. Jangan biarkan dia masuk ke kepalamu dan merusak frekuensi kerjamu. Fokus saja pada air itu."

Pak Johan kemudian meletakkan sebuah buku tua yang sampulnya sudah mengelupas di meja Jonatan. Judulnya Pemanfaatan Energi Terbarukan di Wilayah Arid. "Baca bab empat. Ada riset dari gurun di Timur Tengah tentang tanah berbatu. Mungkin bisa membantumu menjawab 'keraguan' dewan dekan besok. Sekarang, tidurlah di sofa itu. Besok pagi kita harus melakukan tes tekanan pertama."

Malam itu, di tengah kesunyian lab yang dingin, Jonatan merasa Pak Johan bukan sekadar mentor, melainkan pelindung mimpinya. Ia membaca bab demi bab buku itu dengan haus, seolah setiap kata adalah setetes air. Cahaya lampu meja menyinari wajahnya yang penuh tekad, menciptakan bayangan panjang di dinding lab yang seolah-olah berubah menjadi bayangan seorang raksasa yang sedang membangun dunianya sendiri.

Saat fajar mulai menyembul di balik gedung-gedung kampus Surabaya, Jonatan akhirnya meletakkan pulpennya. Prototipe kecil itu sudah berdiri tegak. Bentuknya tidak seindah milik Rendy yang menggunakan bahan impor mengkilap—banyak kabel yang menonjol dan bekas solder yang sedikit kasar—tapi saat ia menyambungkannya ke baterai cadangan, mesin itu bergetar halus.

Zzzzzzt...

Sebuah suara mesin yang sehat. Air dari gelas kecil di sampingnya naik melalui selang transparan, stabil, dan jernih.

Jonatan tersenyum untuk pertama kalinya sejak menerima pesan dari ayahnya. Air itu naik. Kecil memang, tapi baginya, itu adalah aliran kehidupan pertama yang ia ciptakan di tanah perantauan. Ia membayangkan air yang sama mengalir di Oetimu, membasahi bibir ibunya, dan mencuci kaki ayahnya yang penuh debu.

Ia membereskan mejanya, menyimpan cetak biru itu di dalam tas kainnya yang sudah mulai robek di bagian bawah. Saat berjalan keluar gedung kampus, ia berpapasan dengan mahasiswa-mahasiswa yang baru datang untuk kuliah pagi. Mereka tampak segar, harum, dan tanpa beban. Jonatan berjalan di antara mereka dengan baju yang kusut, rambut berantakan, dan bau timah yang menyengat, tapi kepalanya tegak.

Ia tahu, musuh dalam selimut seperti Rendy akan selalu ada. Orang-orang yang meragukannya akan terus bertambah seiring langkahnya yang semakin jauh. Namun, di dalam tasnya, ada sebuah rencana yang sudah matang. Sebuah rencana yang akan mengubah air mata ibunya menjadi air jernih yang membasahi tanah Oetimu.

"Tunggu aku, Oetimu," bisiknya saat melihat matahari pagi mulai menyinari gerbang kampus dengan warna emas. "Sebentar lagi, kalian tidak akan pernah haus lagi."

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!