Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
negosiasi damai
Suasana di lorong kos "Griya Widya" setelah pingsannya Mbak Widya lebih mirip adegan film aksi yang kehabisan anggaran. Tiga member LUMINOUS Kenji, Satya, dan Rian berdiri mematung menatap Javi yang masih setia bersembunyi di balik punggung Aruna sambil memegang ujung dasternya.
"Hyung... ayolah. Ini aku, Rian! Yang sering kamu suapin brokoli kalau aku susah makan!"
Rian mencoba merayu dengan wajah memelas yang biasanya sanggup meluluhkan hati jutaan fans.
Javi mengintip dari balik bahu Aruna. Tatapannya penuh kecurigaan.
"Bambang Kecil, saya tidak ingat pernah menyuapi brokoli pada siapa pun. Tugas saya di sini adalah menyikat kamar mandi dan memastikan daster Majikan Aruna kering tepat waktu. Jadi, tolong jangan buat cerita fiksi tentang sayuran."
Kenji menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya.
"Aruna, atau siapa pun namamu... tolong jelaskan pada dia. Dia itu Javier. Dia leader kami. Dia bukan Ujang si asisten kelembapan daster!"
Aruna, yang sudah mulai pulih dari keterkejutannya, berkacak pinggang.
"Heh, Bambang Empat! Kamu lihat sendiri kan? Dia nggak ingat! Kalau kalian paksa dia pulang sekarang ke gedung mewah kalian itu, dia bakal makin stres. Bisa-bisa dia mikir kalian itu agen penculik organ kloningan!"
"Kloningan lagi?!"
Satya mengerang frustrasi.
"Hyung, kami ini manusia! Kita sering mandi bareng di sauna..."
"TIDAK! JANGAN CERITAKAN HAL PORNO ITU!" Javi berteriak, menutup telinganya dengan kedua tangan.
"Majikan, mereka ini benar-benar tidak beradab! Masa mengajak saya mandi bersama di tempat umum? Saya adalah kloningan yang menjaga martabat!"
Karena Mbak Widya masih tergeletak pingsan di depan pintu dan para penghuni kos lain sibuk mengambil foto dari balik jendela, Aruna terpaksa mengizinkan ketiga member itu masuk ke kamarnya untuk negosiasi damai.
Kini, di dalam kamar sempit itu, duduklah lima orang manusia yang total kekayaannya dikurangi Aruna bisa membeli satu kecamatan, namun mereka semua duduk lesehan di atas tikar mendong yang ujungnya sudah brudul.
"Oke, kita bicara singkat," ucap Aruna, memegang penggaris besi sebagai palu sidang.
"Javi maksudku Ujang, nggak mau ikut kalian. Dan jujur, aku juga nggak tahu cara ngembaliin ingatannya. Jadi, rencana kalian apa?"
Rian melihat sekeliling kamar Aruna yang penuh dengan tumpukan kertas gambar dan bau cat.
"Hyung, kamu beneran tidur di sini? Di tempat yang ukurannya bahkan lebih kecil dari lemari sepatu kita?"
Javi mengangguk dengan bangga.
"Tempat ini memiliki aura pelindung. Dan di sini ada es mambo. Di tempat kalian, apakah ada es mambo?"
"Ada kulkas dua pintu yang isinya air mineral dari mata air pegunungan Alpen, Hyung!" sahut Satya gemas.
"Air dari Alpen? Pasti dingin sekali. Pasti itu air yang digunakan untuk membekukan kloningan sebelum dikirim ke pembeli," gumam Javi ketakutan, makin merapat ke arah Aruna.
Kenji menyadari bahwa cara paksa tidak akan berhasil. Dia menatap Aruna dengan serius.
"Aruna, kami tidak bisa meninggalkan dia begitu saja. Agensi sudah mulai curiga kita kabur. Tapi kalau kami bawa Javi dalam kondisi dia mikir dia itu Ujang, karier LUMINOUS bisa tamat dalam satu konferensi pers."
"Bayangkan beritanya," Satya menambahkan.
"'Javier LUMINOUS Ditemukan, Mengaku Sebagai Karyawan Swasta Spesialis Cuci Daster. Habis kita, Ar."
Javi tiba-tiba berdiri. Dia membenarkan letak sarung yang melilit lehernya.
"Dengar, para pria tampan yang mengaku teman saya," ucap Javi dengan nada bicara yang mendadak sangat berwibawa membuat ketiga member LUMINOUS refleks duduk tegap karena teringat aura leader mereka.
"Saya tidak tahu siapa Javier. Saya juga tidak tahu kenapa suara saya ada di dalam dinding kamar sebelah. Tapi di sini, saya merasa dibutuhkan."
Javi menunjuk ke arah tumpukan piring kotor di sudut kamar.
"Piring-piring itu menunggu sentuhan tangan saya. Dan Aruna... Aruna adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa saya suka es mambo melon. Kalian tadi malah menawari saya durian yang baunya seperti konspirasi tingkat tinggi."
"Tapi Hyung..." Rian mau protes.
"Keputusan saya sudah bulat,"
Javi memotong dengan gaya Ice Prince yang tak terbantahkan.
"Saya akan tetap di sini menjadi Ujang sampai ingatan saya benar-benar pulih. Jika kalian memang teman saya, kalian akan mendukung karier saya sebagai asisten rumah tangga berprestasi ini."
Aruna menelan ludah. Di satu sisi dia senang karena ada yang bantuin beresin kosan, di sisi lain dia ngeri membayangkan risiko menyembunyikan tiga member lainnya.
"Terus kalian gimana?" tanya Aruna pada Kenji dkk.
Kenji melihat Satya dan Rian. Mereka berkomunikasi lewat tatapan mata khas idol yang sudah bertahun-tahun bersama.
"Kami akan kembali ke basecamp," ucap Kenji akhirnya dengan berat hati.
"Kami akan bilang ke Manajer Han kalau kami belum menemukan tanda-tanda Javi di sini. Kami akan menutupi keberadaan kalian untuk sementara."
"Tapi dengan satu syarat!" Satya menuding Aruna.
"Jaga dia baik-baik. Kalau lecet sedikit saja, atau kalau dia sampai dipaksa pake daster warna kuning karena Javi benci warna kuning, kami akan balik lagi dengan pengacara!"
"Eh, yang butuh daster kan Mbak Widya, bukan aku!" balas Aruna sewot.
Ketiga member LUMINOUS berdiri, bersiap untuk pergi sebelum Mbak Widya bangun dan meminta foto selfie grup.
Rian memeluk Javi sekali lagi.
"Hyung... jaga diri ya. Ini nomor HP-ku yang baru. Kalau kamu butuh mi instan atau kalau cewek galak ini macem-macem, telepon aku!"
Javi menatap HP mewah yang diberikan Rian dengan bingung.
"Bambang Kecil, ini alat komunikasi kloningan ya? Kenapa layarnya bisa menyala tanpa dicolok ke tembok?"
"Itu namanya smartphone, Hyung! Astaga, amnesiamu parah banget!"
Satya menepuk jidat.
Saat mereka sampai di pintu, Kenji berbalik. Dia menatap Aruna.
"Aruna... makasih ya. Meski caramu aneh, tapi Javi kelihatan lebih... hidup. Dia nggak pernah tertawa selepas itu saat di agensi."
Aruna tertegun. Dia melihat Javi yang sekarang sedang asyik mencoba memasukkan HP pemberian Rian ke dalam saku sarungnya yang bolong.
"Dia emang beban, Ken. Tapi ya... dia beban yang cukup estetik buat dipandang."
Ketiga member itu pun menghilang di kegelapan lorong, mengenakan masker dan topi mereka kembali, berlari menuju van hitam yang sudah menunggu di ujung gang.
Radiasi Canggung Pasca-Penggerebekan
Kini tinggal Aruna dan Javi di dalam kamar. Keheningan kembali melanda, namun kali ini terasa lebih berat. Javi duduk di atas kasur Aruna, menatap kacamata renang birunya yang tergeletak di lantai.
"Ujang..." panggil Aruna pelan.
"Iya, Majikan?"
"Kamu beneran nggak mau ikut mereka? Mereka itu kaya banget lho. Kamu bisa tidur di kasur empuk, bukan di tikar yang bikin punggung encok ini."
Javi menatap Aruna. Tanpa kacamata renang, tanpa bedak di rambut, wajahnya benar-benar terlihat seperti malaikat yang salah alamat.
"Aruna, apakah di sana ada yang akan memarahi saya kalau saya tidak sikat gigi?" tanya Javi pelan.
"Pasti ada lah, manajermu mungkin."
"Apakah ada yang akan memaksa saya makan ayam geprek sampai lidah saya mati rasa?"
"Mungkin nggak ada, mereka kan makannya sehat-sehat."