Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOPENG DARI MEJA SEBELAH
Lampu neon di plafon ruangan itu terasa begitu menyengat, menusuk pupil matanya yang sudah tiga tahun terbiasa dengan remang-remang dunia antara. Arka mengerjapkan mata berkali-kali. Sensasi pertama yang ia rasakan adalah berat. Tubuhnya terasa seperti timah yang dipaksa menempel pada kasur. Paru-parunya terasa kaku, setiap tarikan napas terasa seperti gesekan amplas di tenggorokan.
Di sekelilingnya, bunyi bip dari monitor jantung terdengar ritmis, seolah sedang menghitung detak kehidupan yang baru saja kembali ke cangkangnya. Ia menoleh perlahan, lehernya berderit kaku. Di sana, seorang wanita dengan rambut yang jauh lebih memutih daripada yang ia ingat dalam bayangan samar, sedang menggenggam tangannya erat-alih-alih menggenggam udara kosong.
"Ini di mana? Kalian siapa?" ucap Arka. Suaranya pecah, serak, dan asing di telinganya sendiri.
Dokter paruh baya yang berdiri di ujung tempat tidur memeriksa refleks mata Arka dengan senter kecil, lalu menoleh ke arah wanita itu dengan senyum yang sangat lebar.
"Ini keajaiban. Ia bangun setelah koma tiga tahun," ucap dokter itu, nada suaranya sarat dengan ketakjuban medis yang jarang terjadi.
Ibu Arka tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya menangis tersedu-sedu, menciumi punggung tangan Arka, lalu beralih mencium pipi anaknya berkali-kali. Air matanya yang hangat jatuh mengenai kulit Arka, memberikan sensasi realitas yang paling nyata yang pernah ia rasakan sejak "Senja" menjadi namanya.
Arka menatap langit-langit dengan bingung. Memorinya tentang trotoar Asia Afrika, tentang Menara Kembar, tentang buku sketsa cokelat, dan tentang seorang gadis berkerudung tanpa kacamata, telah tersapu bersih. Seperti sebuah papan tulis yang dihapus dengan air hingga tak bersisa, Arka benar-benar kehilangan "Senja". Namun, ada satu hal yang tidak hilang: rasa aman saat melihat wanita di sampingnya.
"Ibu..." ucapnya lirih.
Hanya satu kata itu yang mampu diproduksi oleh otaknya yang baru saja terbangun dari mati suri.
"Iya, Nak. Ini Ibu. Kamu sudah pulang," bisik ibunya di sela tangis.
Arka mencoba menggerakkan jemarinya, namun koordinasi sarafnya masih kacau. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari hatinya—bukan sebuah nama atau wajah, melainkan sebuah "perasaan" bahwa ia baru saja menyelesaikan perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan.
"Aku kenapa?" tanya Arka lagi, mencoba memahami kenapa ia berada di ruangan serba putih ini dengan selang yang menusuk lengannya.
Ibunya mengusap dahi Arka dengan lembut, merapikan rambut anaknya yang sudah lama tidak dipangkas rapi. "Hanya butuh istirahat, walaupun tidurmu terlalu lama," jawab ibunya dengan nada yang menenangkan, berusaha menyembunyikan trauma tiga tahun menunggu dalam ketidakpastian.
"Tidur?" gumam Arka. "Aku rasa... aku tidak tidur. Aku rasa aku sedang berjalan kaki sangat jauh."
Ibunya hanya tersenyum getir, menganggap itu hanya halusinasi pasien yang baru bangun dari koma panjang. "Sudah, jangan dipikirkan dulu. Yang penting Arka sudah di sini. Ibu akan panggilkan suster untuk membantumu minum."
Hari-hari berikutnya adalah perjuangan panjang bagi Arka untuk belajar menjadi manusia kembali. Ia harus belajar cara mengunyah, cara duduk tegak, dan yang paling sulit: belajar cara berjalan. Setiap kali kakinya menyentuh lantai rumah sakit yang dingin, ia merasa seolah-olah pernah melakukan ini sebelumnya—berjalan di atas permukaan yang keras namun tidak pernah meninggalkan bekas.
Selama masa pemulihan, Arka sering menatap ke arah jendela rumah sakit yang menghadap ke arah pusat kota Bandung. Kadang, tanpa alasan yang jelas, dadanya terasa sesak saat melihat matahari mulai terbenam. Ia merasa ada sesuatu yang seharusnya ia lakukan saat jam-jam senja tiba, namun ia tidak tahu apa itu.
"Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin."
Arka tersentak. Kalimat itu tiba-tiba melintas di kepalanya seperti kilatan petir. Ia menoleh ke sekeliling kamar perawatan, namun hanya ada ibunya yang sedang mengupas buah apel.
"Ibu dengar sesuatu?" tanya Arka.
"Dengar apa, Nak? Hanya suara televisi," jawab ibunya heran.
Arka menggeleng pelan. Kalimat itu terasa sangat akrab, sangat hangat, namun ia tidak tahu siapa yang pernah mengucapkannya padanya. Ia merasa kalimat itu adalah sebuah "mantra" yang pernah menyelamatkannya dari kegelapan yang dalam.
Setelah Arka terbangun di rumah sakit dan dunianya perlahan kembali menjadi nyata, di sudut lain kota Bandung, Arunika justru sedang bergelut dengan kehampaan yang aneh.
Pagi itu, Arunika terbangun dengan perasaan seolah ada separuh dari jiwanya yang tercabut. Ia meraba meja samping tempat tidurnya, mencari kacamata kerjanya. Setelah lensa itu bertengger di hidungnya, ia melihat buku sketsa cokelat yang tergeletak terbuka. Di sana ada gambar seorang pria yang menatap menara, namun anehnya, garis-garis wajah itu terasa memudar, seolah tinta pensilnya menguap dimakan waktu.
"Senja?" bisiknya pelan.
Arunika segera bersiap. Ia mengabaikan tumpukan pekerjaan kantor yang seharusnya ia selesaikan. Ada dorongan yang jauh lebih kuat dari sekadar tanggung jawab profesional. Ia harus menemukan pria itu. Ia harus memastikan bahwa perpisahan di bawah lampu jalan Asia Afrika semalam bukanlah khayalan.
Arunika memulai pencariannya di Halte Braga. Ia berdiri di sana selama berjam-jam, membiarkan bus-bus kota lewat dan menurunkan penumpang, berharap sosok pria pucat dengan jaket tipis itu akan muncul dan menyapa dengan kalimat puitisnya. Namun, halte itu kosong. Hanya ada orang-orang yang sibuk dengan ponsel mereka, memandang sebelah mata ke arah Arunika yang tampak linglung.
"Kamu di mana?" gumamnya.
Ia kemudian berlari menuju Alun-Alun. Kakinya melangkah cepat di atas rumput sintetis, menuju pintu masuk Menara Kembar. Ia bertanya kepada petugas penjaga lift, mendeskripsikan ciri-ciri pria yang bersamanya kemarin.
"Maaf, Mbak. Kemarin Mbak naik ke atas sendirian. Saya ingat betul karena Mbak sempat bicara sendiri di balkon atas," ucap petugas itu dengan tatapan kasihan.
Arunika tertegun. Bicara sendiri? Tidak mungkin. Ia ingat betul hangatnya percakapan mereka, ia ingat betul bagaimana ia melepaskan kacamatanya agar bisa melihat Senja lebih jelas. Ia ingat janji yang mereka genapi.
Ia duduk di bangku taman, napasnya tersengal. Ia membuka tasnya dan mengambil kacamata kerjanya, lalu melepasnya lagi. Berkali-kali ia lakukan itu, berharap dengan penglihatan yang "kabur", sosok Senja akan kembali muncul sebagai bias cahaya di sampingnya. Namun, dunia tetap tampak kosong.
Arunika tidak menyerah. Ia berjalan menyusuri trotoar menuju arah rumah sakit besar di pusat kota. Entah kenapa, hatinya terasa bergetar saat melewati gerbang rumah sakit itu. Ia teringat ucapan Senja—atau pria misterius yang diceritakan Senja—bahwa hati punya sinyalnya sendiri.
Ia duduk di koridor ruang tunggu rumah sakit, hanya untuk beristirahat sejenak. Di depannya, ada sebuah televisi yang menyiarkan berita lokal tentang "Keajaiban Medis: Pasien Koma 3 Tahun Terbangun".
Arunika menatap layar itu tanpa minat pada awalnya. Namun, saat kamera menyorot sekilas wajah seorang ibu yang sedang menangis bahagia di depan sebuah kamar, Arunika merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia tidak mengenal ibu itu, tapi ia mengenal "rasa" yang ada di sana.
"Kenapa aku merasa harus ke sana?" pikirnya.
Ia berdiri dan mulai berjalan menyusuri bangsal demi bangsal. Ia mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa. Hingga ia sampai di depan sebuah kamar bernomor 302. Pintu itu tertutup rapat, namun di baliknya, ia mendengar suara tawa kecil dan isak tangis haru.
Arunika berdiri mematung di depan pintu kayu itu. Tangannya terangkat, hendak mengetuk, namun ia ragu. "Kalau aku bertemu dengannya sekarang, apakah dia masih 'Senja'-ku? Atau dia sudah menjadi orang lain?"
Arunika menyadari satu hal. Pencariannya mungkin sudah berakhir di sini. Senja tidak hilang karena musnah, tapi Senja hilang karena ia telah kembali menjadi dirinya yang utuh. Pria yang ia cari tidak lagi ada di jalanan Braga, melainkan ada di dalam kamar ini, sedang belajar mengenali ibunya kembali.
Arunika tersenyum getir, air mata jatuh di balik bingkai kacamatanya. Ia tidak mengetuk pintu itu. Ia hanya meletakkan tangannya sebentar di permukaan pintu, seolah memberikan salam perpisahan terakhir pada "Senja" dan salam pembuka bagi pria yang baru saja terbangun itu.
"Selamat pulang, Senja... atau siapapun namamu," bisiknya.
Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan koridor rumah sakit dengan langkah yang lebih ringan. Ia tahu, suatu saat nanti, jika "sinyal hati" itu benar adanya, mereka akan bertemu lagi di bawah langit Bandung yang berbeda. Bukan sebagai hantu dan penolongnya, tapi sebagai dua orang asing yang merasa pernah saling mengenal dalam mimpi yang sangat panjang.
Suasana kamar rumah sakit itu mendadak senyap, menyisakan deru pendingin ruangan yang terdengar seperti bisikan parau dari masa lalu. Pria yang baru saja terbangun itu duduk bersandar pada tumpukan bantal putih yang kaku, sementara pikirannya bekerja keras menyusun kepingan yang berantakan.
Bayangan tentang aspal Jalan Asia Afrika yang basah, aroma kopi di sebuah halte, dan wajah seorang gadis berkerudung bernama Arunika itu masih ada di sudut kepalanya. Namun, ingatan itu kini terasa sangat jauh, seperti klise film tua yang diputar di bioskop yang hampir tutup—gambarnya kabur, warnanya pudar, dan pita seluloidnya perlahan-lahan terbakar hingga hilang menjadi abu hitam yang tak bisa lagi disentuh.
Dokter Pramono mendekat, membawa sebuah cermin genggam berbingkai perak. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu kandungnya mematung di ambang pintu, meremas ujung kerudungnya dengan tatapan hancur.
"Arka... sebelum pulang, kamu harus mengenali wajahmu," ucap Dokter Pramono dengan nada yang sangat hati-hati.
Pria itu tertegun. Ia menatap dokter itu dengan bingung. "Dokter panggil saya Arka? Tapi... nama saya Senja, kan? Seseorang memanggilku Senja."
Dokter Pramono tidak menjawab, ia perlahan memposisikan cermin itu tepat di depan wajah sang pasien. Saat permukaan cermin itu menangkap bayangannya, Arka tersentak. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Ia menatap pantulan itu dengan mata membelalak, meraba rahangnya yang tegas dan hidungnya yang nyata.
"Ini aku," ucapnya dengan napas tertahan. Ia merasa sangat yakin. Wajah di cermin ini adalah dirinya yang sesungguhnya. Namun, di dalam labirin memorinya, ada sebuah pertentangan yang hebat. Di dalam "mimpi" panjang yang baru saja ia lalui sebagai sosok yang berjalan di trotoar Bandung, wajah yang ia miliki tidak seperti ini. Di mimpi itu, ia merasa memiliki wajah yang berbeda—wajah yang ia yakini milik "Senja".
"Wajah ini..." gumam Arka lagi, jemarinya gemetar menyentuh pipinya sendiri. "Di mimpi itu... aku rasa itu bukan wajahku. Di mimpi itu, aku punya wajah lain."
"Bukan, Nak," sela Dokter Pramono dengan suara berat, mencoba menarik Arka kembali ke realitas medis. "Namamu adalah Arka. Dan wajah yang kamu lihat di cermin sekarang adalah wajah aslimu. Senja... itu bukan namamu, dan wajah yang kamu ingat di mimpimu itu bukan milikmu."
Arka menatap dokter itu dengan tatapan kosong. Dokter sama sekali tidak membahas. Baginya, Arka hanyalah pasien yang sedang berhalusinasi pasca-koma.
"Senja hanyalah nama 'arwah' yang melekat pada ingatanmu saat jiwamu terlepas dari kesadaran selama tiga tahun ini," lanjut dokter itu.
Arka menggelengkan kepala. "Tapi kenapa aku merasa wajah di mimpi itu lebih nyata daripada wajah ini? Kenapa nama Senja terasa lebih pas di lidahku?"
Dokter Pramono menghela napas panjang, memberikan isyarat agar ibu Arka mendekat untuk memberikan dukungan moral.
"Tiga tahun lalu, di malam kecelakaan itu, ada dua ambulans yang datang bersamaan ke UGD," Dokter Pramono mulai bercerita dengan nada dingin yang logis. "Satu membawa kamu, Arka, yang mengalami benturan hebat. Ambulans kedua membawa seorang pria seumurmu yang mengalami kecelakaan di waktu yang hampir bersamaan, tidak jauh dari lokasimu. Nama pria di ambulans kedua itu adalah Senja."
Dokter itu menepi sedikit, membiarkan Arka mencerna kenyataan yang mengerikan itu.
"Pria bernama Senja itu meninggal di meja sebelahmu malam itu, tepat saat kamu akan jatuh koma. 'Senja' adalah nama terakhir yang kamu dengar sebelum kesadaranmu hilang sepenuhnya. Kamu mendengar perawat memanggil-manggil namanya dengan panik saat melakukan CPR di sebelahmu. Jiwamu yang saat itu sedang berada di ambang maut menangkap nama itu, dan entah bagaimana, memori visualmu juga menangkap bayangan wajah pria itu. Kamu menjadikannya identitas perlindunganmu selama kamu tersesat dalam tidur panjang."
Arka mematung. Cermin di tangannya hampir terjatuh. "Jadi... wajah di mimpiku itu adalah wajah orang mati yang terbaring di sebelahku?"
"Benar," sahut Dokter Pramono. "Kamu hidup dalam delusi sebagai Senja agar otakmu tidak perlu menghadapi trauma sebagai Arka. Kamu meminjam nama dan wajah pria malang itu untuk tetap 'hidup' di pikiranmu sendiri."
Arka kembali menatap cermin. Ia kini dipaksa menerima bahwa wajah yang ada di hadapannya sekarang—wajah Arka—adalah jati dirinya yang benar, sementara wajah yang ia banggakan di depan Arunika hanyalah sebuah pinjaman dari maut. Seiring dengan penjelasan dokter, bayangan tentang Arunika di kepalanya semakin hilang. Sosok gadis itu seolah tersedot ke dalam lubang hitam masa lalu yang dianggap medis sebagai sekadar halusinasi.
"Jadi, semua itu bukan aku?" bisik Arka dengan suara yang hancur. "Semua perasaan itu... hanya mimpi?"
"Semua itu adalah mekanisme pertahanan otakmu, Arka," jawab dokter itu tenang, seolah-olah perasaan Arka bisa dijelaskan hanya dengan istilah biologis.
Arka memejamkan matanya rapat-rapat. Ia merasakan sensasi aneh seolah jiwanya sedang dipaksa masuk kembali ke dalam raga "Arka" dan membuang topeng "Senja" selamanya. Bayangan tentang lambaian tangan Arunika di jalanan Bandung pun akhirnya benar-benar hilang, menyisakan ruang kosong yang dingin di hatinya.
"Aku bukan Senja," gumam Arka, suaranya terdengar asing bagi dirinya sendiri. Ia meletakkan cermin itu di meja samping. "Aku Arka."
Ia kini terbangun sepenuhnya sebagai Arka, namun ia merasa seperti orang asing di tubuhnya sendiri. Nama Arunika sudah hilang dari bibirnya, namun di dasar hatinya yang paling dalam, masih ada denyut kecil yang terasa perih setiap kali ia melihat matahari mulai turun ke ufuk barat.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍