Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Cahaya di Balik Kabut
Pagi itu, rumah sakit diselimuti oleh kabut tipis yang merayap di sela-sela gedung beton tinggi Jakarta. Di dalam kamar ICU yang sunyi, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah irama teratur dari mesin pemantau jantung yang seolah menjadi nyanyian pengiring bagi napas Raga yang masih bergantung pada bantuan teknologi. Nala duduk di samping tempat tidur, memandangi sosok suaminya yang masih terbungkus perban putih bersih dari kepala hingga dada. Sudah satu minggu berlalu sejak malam tragis itu, dan bagi Nala, setiap detik terasa seperti satu tahun penantian yang melelahkan.
Nala mengambil selembar kain kecil yang telah dibasahi air hangat. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyeka jari-jari tangan Raga yang tidak tertutup perban. Ia melakukan rutinitas ini setiap pagi dengan penuh ketelitian, seolah-olah melalui sentuhan itu, ia bisa mengirimkan seluruh energinya agar Raga segera kembali. Nala memperhatikan setiap lekukan di jari Raga, jari yang dulu sering mengetuk meja dengan angkuh saat sedang memberikan perintah ketus padanya. Kini, jari-jari itu diam, pasrah dalam genggaman Nala.
"Mas Raga, matahari sudah terbit di luar," ucap Nala dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan. "Sera bilang saham perusahaan sedikit bergejolak karena rumor tentang kecelakaanmu, tapi jangan khawatir. Pak Hadi dan tim direksi yang setia sedang mengatasinya. Mereka bilang, mereka merindukan omelanmu yang tajam di ruang rapat."
Nala tersenyum tipis, meski matanya berkaca-kaca. Ia selalu mengajak Raga berbicara, berharap suara yang ia keluarkan bisa menembus kegelapan koma suaminya. Dokter bilang bahwa pasien koma terkadang bisa mendengar apa yang terjadi di sekitar mereka, dan Nala tidak ingin Raga merasa sendirian di tengah kegelapan itu.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Pak Hadi masuk dengan membawa sebuah tablet digital dan beberapa berkas. Wajah pria tua itu tampak lelah, namun ia tetap menjaga wibawanya sebagai orang kepercayaan keluarga Adhitama.
"Nyonya, ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Anda sebagai perwakilan sah Tuan Muda untuk sementara waktu," ucap Pak Hadi dengan nada rendah yang penuh hormat.
Nala meletakkan kain yang ia pegang dan bangkit dari kursinya. Ia menerima tablet itu dan membacanya dengan saksama. Selama seminggu ini, Nala terpaksa belajar banyak hal tentang bisnis Raga. Ia tidak ingin membiarkan kekaisaran yang dibangun Raga hancur hanya karena sang raja sedang tertidur.
"Ini tentang pengambilalihan aset Burhan yang sudah disita oleh bank, kan?" tanya Nala.
"Benar, Nyonya. Sesuai rencana Tuan Muda sebelum kejadian ini, kita harus segera mengamankan aset tersebut agar tidak jatuh ke tangan pihak ketiga yang bisa merugikan perusahaan," balas Pak Hadi.
Nala membubuhkan tanda tangannya di layar digital dengan tangan yang mantap. Ia bukan lagi gadis pemalu yang hanya tahu cara memegang kuas lukis. Keadaan telah memaksa mentalnya untuk sekeras baja. "Pastikan semuanya berjalan sesuai hukum, Pak Hadi. Saya tidak ingin ada celah sedikit pun bagi pengacara Burhan untuk mencari celah di masa depan."
"Semuanya sudah diatur oleh tim hukum kita, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir," ucap Pak Hadi. Ia kemudian menatap Raga yang terbaring kaku. "Tuan Muda akan sangat bangga melihat bagaimana Anda mengelola semuanya saat ini."
Nala menggeleng perlahan, matanya kembali tertuju pada perban di wajah Raga. "Saya tidak butuh dia bangga, Pak Hadi. Saya hanya butuh dia bangun. Saya lebih suka dia memarahi saya karena salah membaca laporan keuangan daripada melihatnya diam seperti ini."
Sera masuk ke dalam ruangan beberapa menit kemudian. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai keramik. "Nyonya, ada masalah di lobi bawah. Nyonya Siska dan Bella memaksa untuk naik. Mereka membawa beberapa wartawan dari media yang kurang kredibel untuk membuat keributan. Mereka menuduh kita menyekap Anda dan menyembunyikan kondisi Tuan Muda."
Nala menghembuskan napas panjang. Rasa muak kembali muncul di dadanya. "Mereka benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti, ya? Di saat ayahnya sendiri sedang dirawat karena kakinya yang remuk, mereka malah memikirkan cara untuk mendapatkan sorotan kamera."
"Apa yang harus kami lakukan, Nyonya? Apakah saya harus mengusir mereka secara paksa lagi?" tanya Sera dengan nada yang sudah siap untuk bertindak.
Nala terdiam sejenak, berpikir. Ia tahu jika ia terus mengusir mereka, rumor negatif akan terus berkembang. "Tidak, Sera. Biarkan mereka masuk ke ruang tunggu VIP di lantai ini, tapi jangan biarkan wartawan itu ikut. Saya sendiri yang akan menemui mereka. Saya ingin mengakhiri drama ini sekarang juga."
Pak Hadi tampak sedikit cemas. "Apakah Anda yakin, Nyonya? Kondisi Anda sendiri belum sepenuhnya pulih."
"Saya yakin, Pak Hadi. Jika saya terus bersembunyi, mereka akan menganggap saya lemah. Dan Nyonya Adhitama tidak boleh terlihat lemah di depan pemakan bangkai seperti mereka," ucap Nala dengan nada bicara yang sangat berwibawa, nada yang sangat mirip dengan cara Raga berbicara saat sedang menghadapi lawan bisnisnya.
Nala berjalan keluar dari ruang ICU, melewati lorong yang dijaga ketat oleh tim keamanan berpakaian sipil. Di ruang tunggu VIP yang mewah, ia melihat Siska sedang duduk dengan wajah yang dibuat-buat sedih, sementara Bella sibuk merapikan riasan wajahnya di depan cermin kecil. Begitu melihat Nala masuk, Siska langsung berdiri dan berlari mendekat, mencoba memegang tangan Nala, namun Nala segera menghindar dengan gerakan yang sopan namun sangat tegas.
"Nala! Akhirnya kamu keluar juga! Kami sangat khawatir padamu, Sayang," ucap Siska dengan suara yang terdengar sangat palsu. "Kenapa kamu sangat sulit dihubungi? Dan kenapa ada banyak penjaga di sini? Kita ini keluarga, Nala."
Nala duduk di kursi tunggal di depan mereka, menyilangkan kakinya dengan anggun. Ia menatap ibu tirinya itu dengan pandangan yang dingin dan tak terbaca. "Keluarga? Setelah kalian membiarkan Burhan menyeret saya ke atap gedung itu, Anda masih berani menggunakan kata keluarga di depan saya?"
Wajah Siska sedikit memucat, namun ia segera menguasai diri. "Itu kecelakaan, Nala! Kami juga korban di sini! Ayahmu sekarang cacat, dia tidak bisa berjalan lagi karena hantaman tongkat itu. Kami butuh bantuanmu, Nala. Adhitama punya banyak sumber daya, setidaknya berikan kami kompensasi atas penderitaan ini."
"Kompensasi?" Nala tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat sinis. "Suami saya sedang bertaruh nyawa di dalam sana karena melindungi saya dari kegilaan orang-orang yang bekerja sama dengan Ayah. Dan Anda datang ke sini meminta uang?"
Bella yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara dengan nada ketus. "Jangan sok suci, Nala! Kamu hanya beruntung karena Raga melompat demi kamu. Sekarang dia koma, dan kemungkinan besar wajahnya akan hancur selamanya. Apa kamu masih mau setia pada pria yang bahkan tidak bisa melihatmu? Lebih baik kamu urus pembagian harta sebelum semuanya terlambat."
Nala berdiri, ia mendekati Bella dan menatap kakaknya itu tepat di mata. Keberanian Nala membuat Bella sedikit mundur. "Dengar baik-baik, Bella. Harta Adhitama adalah milik Raga, dan selama saya masih bernapas, tidak akan ada satu rupiah pun yang jatuh ke tangan kalian. Jika kalian berani membawa wartawan atau membuat keributan lagi, saya pastikan biaya rumah sakit Ayah akan dihentikan detik ini juga. Saya juga punya bukti rekaman pembicaraan kalian dengan Burhan sebelum kejadian itu. Mau saya serahkan ke polisi sekarang?"
Ancaman itu benar-benar efektif. Siska dan Bella terdiam seribu bahasa. Mereka tahu bahwa Nala tidak sedang menggertak. Kekuasaan yang kini ada di tangan Nala adalah sesuatu yang nyata dan sangat berbahaya bagi mereka yang tidak punya apa-apa lagi.
"Sekarang, silakan pergi. Jangan pernah tunjukkan wajah kalian di lantai ini lagi kecuali saya yang memanggil," ucap Nala dingin.
Setelah Siska dan Bella pergi dengan wajah penuh kemarahan yang tertahan, Nala bersandar di pintu ruang tunggu. Tubuhnya bergetar sedikit. Ia tidak pernah menyukai konfrontasi, namun ia merasa lega karena akhirnya bisa membela dirinya sendiri dan suaminya.
Ia kembali ke ruang ICU. Begitu masuk, ia melihat Dokter Gunawan sedang melakukan pemeriksaan rutin pada perban di wajah Raga.
"Ada perkembangan, Dok?" tanya Nala sambil mendekat.
Dokter Gunawan menoleh dan tersenyum optimis. "Ada respons yang sangat menarik hari ini, Nyonya. Saat saya melakukan tes rangsang cahaya pada pupil matanya, ada sedikit reaksi gerakan dari kelopak matanya. Meskipun matanya belum terbuka sepenuhnya, ini menunjukkan bahwa kesadarannya mulai mencoba untuk kembali."
Nala merasakan jantungnya berdetak kencang karena bahagia. "Benarkah, Dok? Lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Teruslah ajak dia berbicara. Berikan dia stimulus emosional yang kuat. Kadang-kadang, suara orang yang paling dicintai adalah obat yang lebih kuat daripada bahan kimia apa pun," saran Dokter Gunawan.
Nala duduk kembali di samping tempat tidur setelah dokter keluar. Ia meraih tangan Raga, kali ini ia menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Mas, kamu dengar itu?"
Nala kemudian menceritakan banyak hal. Ia menceritakan tentang lukisan badai yang ia selesaikan di studio, tentang bagaimana ia merindukan saat-saat Raga menatapnya dengan tajam dari balik meja kerja. Ia berbicara berjam-jam tanpa lelah, hingga tenggorokannya terasa kering.
Sore itu, saat sinar matahari mulai berubah warna menjadi jingga dan masuk melalui celah gorden, Nala melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.
Jari telunjuk tangan kanan Raga bergerak. Bukan sekadar kedutan halus seperti beberapa hari lalu, tapi sebuah gerakan yang jelas, seolah sedang mencoba mencengkeram kain seprai. Nala segera berdiri, matanya terpaku pada tangan itu.
"Mas Raga? Mas?" panggil Nala dengan suara bergetar.
Lalu, sebuah suara erangan yang sangat lemah keluar dari balik selang ventilator yang terpasang di mulut Raga. Dada Raga tampak naik turun dengan ritme yang lebih cepat. Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata Raga yang tertutup rapat itu bergetar.
Nala menekan tombol darurat untuk memanggil perawat, namun matanya tidak berpaling sedikit pun dari wajah Raga.
Mata Raga terbuka sedikit. Pandangannya tampak sangat kosong dan buram, namun ia seolah sedang mencari arah suara yang selama ini menemaninya di dalam kegelapan. Nala menangis bahagia, ia menutup mulutnya agar tidak berteriak kegirangan.
"Aku di sini, Mas. Aku di sini," isak Nala.
Mata Raga perlahan-lahan fokus ke arah Nala. Meskipun ia tidak bisa berbicara karena selang di mulutnya, ada tatapan pengenalan yang sangat dalam di sana. Tatapan yang mengatakan bahwa ia telah menempuh perjalanan jauh hanya untuk kembali pada wanita di hadapannya.
Tim medis segera masuk dan melakukan pemeriksaan cepat. Mereka semua tampak terkejut sekaligus kagum dengan kecepatan pemulihan Tuan Muda Adhitama.
"Ini adalah mukjizat, Nyonya. Kesadarannya sudah kembali sepenuhnya. Kita bisa melepas ventilator ini secara bertahap mulai malam ini karena fungsi paru-parunya sudah membaik," ucap salah satu dokter saraf dengan nada bangga.
Malam itu, setelah ventilator dilepas dan digantikan dengan masker oksigen sederhana, Raga akhirnya bisa mengeluarkan suara, meski hanya berupa bisikan yang sangat tipis.
Nala mendekatkan telinganya ke bibir Raga.
"Na... la..." bisik Raga. Namanya terdengar seperti melodi paling indah yang pernah Nala dengar seumur hidupnya.
"Iya, Mas. Aku di sini. Jangan banyak bicara dulu. Kamu aman. Semuanya sudah berakhir," ucap Nala sambil mencium kening Raga yang tidak tertutup perban.
Raga mencoba menggerakkan tangannya untuk menyentuh perban di wajahnya sendiri, namun Nala segera menahannya dengan lembut.
"Jangan disentuh dulu, Mas. Dokter bilang wajahmu sedang diperbaiki. Kamu akan menjadi jauh lebih tampan nanti. Percayalah padaku," janji Nala.
Raga menatap Nala dengan tatapan bertanya, namun ia kemudian memejamkan matanya kembali karena kelelahan yang luar biasa. Meski begitu, kali ini ia tidur bukan lagi dalam kegelapan koma, melainkan dalam istirahat yang sesungguhnya. Ia tahu, di sisinya ada seorang wanita yang tidak akan pernah meninggalkannya, apa pun rupa wajahnya nanti.
Nala duduk kembali di kursinya, menggenggam tangan Raga dengan rasa syukur yang meluap. Badai besar memang telah menghancurkan banyak hal, namun dari puing-puing itu, sebuah kekuatan baru telah lahir. Kekuatan cinta yang tidak lagi membutuhkan kontrak atau kepura-puraan. Malam itu, di bawah cahaya bulan yang masuk ke ruangan ICU, Nala tahu bahwa babak baru kehidupan mereka yang lebih indah baru saja dimulai.
ceritanya bagu😍