"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - PEGAWAI YANG MELIHAT
Keesokan harinya, rumah keluarga Adisaputra ramai dengan gosip. Sari, pembantu yang sudah bekerja sepuluh tahun tiba-tiba hilang. Tidak ada yang tahu ke mana.
Tentu saja tidak ada yang tahu. Karena Sari sekarang ada di kantor polisi, memberikan kesaksian tentang keterlibatannya dengan Salma dan upaya peracunan terhadap Kiara.
Tapi Dara tidak memberi tahu siapapun tentang itu. Belum...
"Aneh sekali," kata Nyonya Devi di ruang makan. "Sari tidak pernah izin mendadak seperti ini."
"Mungkin ada keluarganya yang sakit, Bu," sahut Lenna lembut, menuangkan teh untuk Nyonya Devi. "Kasihan dia..."
Dara menatap Lenna dari seberang meja. Gadis itu terlihat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang kehilangan mata-mata utamanya.
Dia tidak tahu Sari sudah ditangkap. Bagus...
"Kiara, kamu baik-baik saja?" tanya Arkan tiba-tiba. "Wajahmu pucat."
"Aku tidak tidur nyenyak semalam, mimpi buruk."
"Tentang apa?"
"Tentang orang-orang yang berpura-pura peduli padaku tapi sebenarnya ingin aku mati."
Hening... Lenna berhenti menuang teh, tangannya sedikit gemetar.
"Kak Kiara, kenapa bicara seperti itu..." suaranya bergetar.
"Kenapa? Memangnya tidak benar?" Dara menatapnya tajam. "Atau kamu merasa tersindir?"
"Aku... aku tidak..."
"Sudah, sudah," Nyonya Devi memotong. "Pagi-pagi begini jangan bertengkar. Kiara, kamu sedang hamil. Jaga perasaanmu."
Dara tersenyum tipis. "Baik, Bu. Aku akan jaga perasaanku dan janinku. Dari siapapun yang mau menyakitinya."
Dia bangkit, meninggalkan ruang makan. Bisa merasakan tatapan Lenna membakar punggungnya.
Siang itu, Regan datang dengan kabar.
"Kak, aku dapat sesuatu yang menarik."
Mereka duduk di taman samping, tempat favorit mereka untuk bicara tanpa didengar.
"Apa?"
"Aku bicara dengan Bi Darmi, pembantu yang kerja di sini sebelum Sari. Dia pensiun lima tahun lalu, tapi masih tinggal tidak jauh dari sini."
"Terus?"
"Dia bilang, dulu dia sering lihat Lenna keluar malam-malam. Setiap hari Jumat, bilangnya mau ke pengajian. Tapi Bi Darmi pernah lihat Lenna naik taksi, bukan mobil jemputan pengajian."
"Itu kita sudah tahu, dia ke apartemen Rio."
"Iya, tapi ada yang lebih menarik." Regan membuka tasnya, mengeluarkan amplop cokelat tua. "Bi Darmi bilang, dia pernah lihat Lenna bertengkar dengan seorang wanita di gerbang belakang rumah ini. Sekitar tiga tahun lalu."
"Wanita siapa?"
"Bi Darmi tidak kenal. Tapi dia bilang, wanita itu terlihat marah, nunjuk-nunjuk Lenna, bahkan nyaris tampar Lenna. Lenna menangis, mohon-mohon. Setelah itu, wanita itu pergi dan tidak pernah muncul lagi."
"Bi Darmi tahu apa yang mereka perdebatkan?"
"Tidak dengar jelas. Tapi dia tangkap beberapa kata 'uang', 'janji', dan 'pengkhianatan'."
Dara berpikir keras... Tiga tahun lalu, artinya sebelum Kiara menikah dengan Arkan.
"Apa mungkin wanita itu adalah... kekasih Rio yang lain?"
"Atau..." Regan mengeluarkan foto dari amplop, "...ini."
Foto lama, agak buram, tapi jelas. Lenna dan seorang wanita paruh baya berdiri di gerbang belakang. Wanita itu menunjuk Lenna dengan wajah marah.
"Bi Darmi diam-diam foto mereka dari jendela kamarnya."
Dara menatap foto itu. Wanita paruh baya itu terlihat familiar, tapi dia tidak bisa mengingat dari mana.
"Regan, apa kamu bisa lacak siapa wanita ini?"
"Aku sudah coba tunjukkan foto ini ke beberapa pegawai lama di sini. Salah satunya tukang kebun, dia bilang pernah lihat wanita ini datang beberapa kali waktu Lenna baru diadopsi keluarga Adisaputra."
"Maksudnya?"
"Wanita ini mungkin ada hubungannya dengan masa lalu Lenna, sebelum dia jadi bagian dari keluarga Adisaputra."
Dara merasa ada benang merah yang mulai terlihat.
"Kita perlu cari tahu lebih banyak tentang latar belakang Lenna, dari mana dia berasal sebelum diadopsi."
"Aku sudah mulai cari, tapi catatan adopsi keluarga Adisaputra sangat rapat. Ibu tidak suka orang tahu detail tentang keluarga."
"Kalau begitu kita cari dari sumber lain." Dara berdiri. "Kita perlu bicara dengan Bi Darmi langsung, mungkin dia ingat lebih banyak detail."
Rumah Bi Darmi sederhana, rumah kontrakan di kawasan Tebet. Wanita paruh baya itu menyambut mereka dengan ramah.
"Regan, sudah lama tidak mampir! Dan ini... Nyonya Kiara, kan?"
"Ya, Bi. Terima kasih sudah mau ketemu kami."
Mereka duduk di ruang tamu kecil yang bersih. Bi Darmi menyajikan teh manis dan kue.
"Bi, tentang wanita yang Bi foto bersama Lenna dulu... Bi masih ingat kejadian itu?"
Bi Darmi mengangguk. "Ingat, waktu itu aku sedang bersih-bersih kamar atas. Tiba-tiba dengar suara keras dari gerbang belakang. Aku lihat dari jendela, Lenna dan wanita itu bertengkar hebat."
"Bi dengar mereka bicara apa?"
"Tidak semua jelas. Tapi wanita itu bilang 'Kamu janji akan bayar utang ibumu! Sekarang kamu hidup enak, tapi kamu lupakan kami!'. Lenna nangis, bilang dia tidak punya uang. Wanita itu marah, bilang 'Kamu tinggal di rumah orang kaya, pasti ada cara!'. Terus Lenna bilang dia akan cari cara."
Dara dan Regan bertukar pandang.
"Utang ibu Lenna?"
"Sepertinya begitu, Nyonya. Aku juga dengar wanita itu sebut nama 'Maya'. Aku kira itu nama ibu kandung Lenna."
"Bi tahu siapa wanita yang bertengkar dengan Lenna itu?"
"Tidak tahu namanya. Tapi dari cara bicaranya, sepertinya dia tetangga atau kenalan keluarga Lenna yang dulu."
"Bi Darmi, boleh aku tanya kenapa Bi tidak pernah ceritakan ini ke keluarga Adisaputra?"
Bi Darmi terlihat tidak nyaman. "Karena... karena waktu itu Lenna datang ke kamarku malam harinya. Dia minta aku tidak ceritakan pada siapapun. Dia bilang itu masalah pribadi yang memalukan. Dia nangis, mohon-mohon. Aku kasihan..."
"Lenna memberikan sesuatu pada Bi waktu itu?"
Bi Darmi terdiam lama, lalu mengangguk pelan. "Dia kasih uang lumayan banyak. Dan bilang itu untuk 'jaga rahasia'. Aku butuh uang waktu itu karena anakku sakit, jadi aku terima..."
"Bi tidak salah," kata Dara lembut. "Bi cuma berusaha bertahan hidup, seperti kita semua."
Bi Darmi menitikkan air mata. "Tapi sekarang aku merasa bersalah. Kalau saja aku bicara waktu itu, mungkin Nyonya tidak akan menderita seperti ini..."
"Bi tidak tahu apa-apa, jadi Bi tidak salah." Dara memegang tangan Bi Darmi. "Tapi sekarang, Bi bisa bantu aku dengan jujur. Apa Bi ingat hal lain tentang Lenna? Apapun yang mencurigakan?"
Bi Darmi berpikir keras. "Ada satu hal lagi... Waktu itu aku pernah lihat Lenna bicara dengan tukang pos. Lenna kasih amplop cokelat tebal ke tukang pos itu. Aku lihat sekilas isinya uang... Banyak. Lenna bilang itu untuk dikirim ke alamat di Tangerang."
"Bi ingat alamatnya?"
"Tidak ingat persis. Tapi aku masih sedikit ingat nama jalannya, Jalan Mawar ada di daerah Cikokol, Tangerang."
Regan mencatat cepat.
"Bi, terima kasih banyak. Ini sangat membantu."
Setelah keluar dari rumah Bi Darmi, Regan menatap Kiara.
"Jalan Mawar, Cikokol. Kita ke sana sekarang?"
"Harus. Kalau Lenna masih rutin kirim uang ke sana, mungkin wanita itu masih ada di sana. Dan mungkin dia bisa bongkar rahasia masa lalu Lenna."
"Tapi Kak... hari ini hari Kamis. Besok hari Jumat, hasil tes DNA keluar."
Dara mengangguk. "Aku tahu. Kita harus cepat, kita ke Tangerang sekarang, cari wanita itu, dapat informasi, lalu besok kita hadapi hasil tes DNA dengan senjata lengkap."
"Senjata?"
"Bukti bahwa Lenna bukan malaikat yang mereka kira, bukti bahwa dia punya masa lalu gelap, bukti bahwa dia berbohong tentang segalanya."
Regan tersenyum. "Aku suka cara berpikir Kakak."
Mereka naik mobil, menuju Tangerang, menuju masa lalu Lenna yang selama ini tersembunyi rapi.
Masa lalu yang akan menghancurkan semua kebohongannya.
lupita namanya siapa ya