NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua puluh Dua

Kegiatan saling pandang antara Meira dan Abil terpaksa harus berakhir ketika tiba-tiba seseorang membukakan pintu gerbang sampai terdengar suara decitan nyaring.

"Bil, kok gak langsung masuk?" tanya orang itu pada Abil yang masih diam di tempatnya. "Lho, ini siapa?" kali ini tatapan orang itu berpindah pada Meira.

Meira mengalihkan pandangannya kepada wanita berusia tiga puluhan yang baru saja muncul dari arah dalam panti. Wanita itu menatap Meira dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kamu..." perkataan wanita itu menggantung ketika memperhatikan Meira yang balas menatapnya penuh senyum.

"Eh, i-ini teman kelas Abil." jawab Abil terbata.

"Kamu.." lagi-lagi wanita itu terlihat kesulitan mendeskripsikan sosok Meira yang seolah sangat dikenalnya.

Abil sudah menduga akan seperti ini jadinya. Bukan hanya dirinya, Ilham dan Rey yang langsung menyadari Meira begitu mirip dengan Lyra. Nyatanya, Kakaknya pun merasakan hal yang sama dengannya.

"Kak, ini teman satu kelasku." Abil mencoba menyadarkan Kakaknya.

Meira menampilkan senyumnya ketika wanita itu mulai menatapnya dan menatap Abil bergantian. Kemudian, tanpa permisi, wanita itu mendekat ke arah Abil dan memegang lengannya. Hal itu membuat Meira langsung bergeser sedikit menjauh, pikirannya kini dipenuhi banyak pertanyaan. Siapa perempuan ini, dan mengapa ia terlihat sangat dekat dengan Abil?

"Oh, kamu cewek yang pernah Abil ceritain itu ya?" wanita itu masih menatap Meira lekat. "Kenalin, gue Rania, tunangannya Abil." wanita itu mengulurkan tangan kanannya, sedangkan sebelah tangannya masih tetap memeluk lengan Abil.

Meira hampir saja membulatkan matanya mendengar perkataan wanita itu. Jadi benar apa kata Ayara waktu itu, bahwa Abil sudah bertunangan? Tapi kenapa tunangannya terasa jauh lebih tua dari Abil? Atau mungkin itu hanya perasaannya saja.

Melihat ekspresi wajah Meira yang berubah, Abil segera melepaskan lengannya dari pelukan wanita itu. Namun, sepertinya wanita itu enggan melepaskan lengan Abil begitu saja.

"Dia bukan cewek yang aku ceritain kemarin. Ini Meira, dia emang murid baru juga. Tapi bukan dia." bisik Abil pada Rania, tetapi masih bisa Meira dengar dengan jelas.

"Bukan?" Rania menatap Abil, lalu kembali menatap Meira sekilas. "Tapi dia mirip sama—"

"Iya, bukan. Sekarang lepasin tangan Kakak." potong Abil kemudian berusaha membebaskan tangannya kembali dari genggaman Rania.

"Sorry, Mei. Ini Kak Rania, Kakak kandung gue. Tadi dia salah orang." Abil menelungkupkan tangannya di depan dada.

"Hehe, maafin Kakak ya. Kakak kira kamu cewek yang namanya Ayara itu." Rania tersenyum malu.

Sedetik kemudian, wanita itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Sementara itu, Abil sudah memalingkan wajahnya seraya menggerutu pelan.

Meira yang melihat hal itu terkekeh geli. Sekarang terjawab sudah pertanyaan yang ada di kepalanya. Tunangan Abil yang diceritakan oleh Ayara tiga tahun lalu ternyata adalah Kakak kandung Abil yang menyamar. Alasannya tentu saja karena Abil tidak mau diganggu terus-menerus oleh Ayara yang memang saat itu menyukainya.

"Nggak apa-apa, Kak." Meira menghentikan kekehannya, kemudian mengulurkan tangannya. "Saya Meira, temannya Abil."

"Rania." uluran tangan Meira disambut oleh wanita bernama Rania itu, walau masih dengan malu-malu.

"Oh iya, saya kesini mau ketemu sama pemilik Panti disini, barangkali Kakak tau." ucap Meira to the point akan tujuannya.

Rania dan Abil saling bertatapan beberapa saat, kemudian Rania mengangguk cepat. "Boleh, kebetulan Panti ini milik suami Kakak. Ayo masuk aja." ajaknya.

Meira tersenyum senang. "Terima kasih banyak, Kak."

Rania dan Abil mulai berjalan mendahului Meira. Meira di ajak memasuki Panti lebih dalam. Sepanjang perjalanan, Rania tak henti-hentinya mengoceh pada Abil.

"Kamu kok gak bilang kalau mau kedatangan teman, Bil. Kakak kan jadi malu." bisik Rania sepelan mungkin.

"Abil gak tahu dia mau datang kesini, Kak. Dan juga aku gak pernah kasih tahu alamat Panti ke teman sekolah." timpal Abil, suaranya juga ikut memelan.

Rania menoleh sekilas pada Meira yang berada di belakangnya seraya tersenyum kaku. Takut-takut kalau Meira mendengar ucapannya.

Padahal, sedari awal Meira sudah mendengar semuanya. Ia sedang berusaha menahan kekehannya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Langkah Rania dan Abil mengarah pada sebuah ruangan yang lumayan luas, terdapat dua orang pria di depan pintu. Meira menatap satu persatu dari dua pria itu yang terlihat sedang berbincang serius.

"Baik, Pak. Besok lusa akan saya siapkan berkas-berkasnya. Terima kasih sudah berkunjung ke Panti ini."

Pandangan keduanya seketika beralih pada Rania, Abil dan Meira yang berjalan semakin mendekat. Tatapan Meira terkunci pada salah satu pria berpakaian formal dengan jas berwarna abu tersampir rapi di tubuh tegapnya. Tampak sopan dan menawan.

"Kak ... Ian?" perkataan Meira menggantung ketika memperhatikan pria itu yang balas menatapnya penuh tanya.

"Kamu .." Pria itu bersuara. Keningnya berkerut,

"Aku Meira." Meira berkata lirih. "Kak Ian masih ingat aku?"

...\~\~\~...

"Hari ini kenapa pada banyak yang gak masuk gini sih?" Haris garuk-garuk kepala melihat pemandangan di kelasnya saat ini. Di tangannya terdapat sebuah buku catatan absen, yang tertuliskan bahwa delapan orang murid di kelas ini tidak masuk sekolah. Termasuk kedua teman dekatnya, Ilham dan Abil.

Haris memandangi teman-temannya yang berada di kelas satu persatu. Hanya ada enam orang yang tersisa dari sebagian siswa lain yang pergi ke kantin. Ada Lana, Risa dan Gean yang sibuk dengan ponselnya masing-masing, Rey yang sedang membaca buku paket Matematika yang ia pinjam dari perpustakaan, kemudian juga Hesty dan Ayara yang duduk melamun di bangkunya. Biasanya dua orang itu yang paling heboh ketika di dalam kelas.

Haris mulai dapat membaca situasi. Ia kemudian duduk di meja depan keduanya. "Lo berdua kenapa pada melamun gitu? Mikirin apaan, hei?!"

"Galau kali." Lana merespon tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya.

Haris berdecak kesal. "Begini nih urusannya kalau cewek lagi suka sama cowok. Bawaannya galau melulu!" ia kemudian menghadap ke arah Hesty. "Lo juga. Ilham baru gak masuk sehari aja, dipikirinnya sepanjang hari."

Hesty mendelik. "Dih, siapa juga yang lagi mikirin Ilham. Sotoy banget lo!" ia melemparkan tempat pensil milik Lana tepat ke arah perut Haris.

Lana tidak menoleh sama sekali. Ia masih sibuk dengan ponselnya. "Tumben temen lo gak masuk, pada kemana?" tanyanya cuek. "Abil juga, baru kali ini dia bolos sekolah."

"Abil bukan bolos. Hari ini dia izin buat nemuin calon tunangannya."

Ketiganya menoleh kompak ke arah Haris karena terkejut dengan apa yang baru saja cowok itu katakan.

"Tunangan?" Hesty mengulang. "Bukannya tunangan dia udah men—"

Hesty tak melanjutkan ucapannya ketika diberi isyarat pelototan mata oleh Haris.

Rey yang mendengarkan dari jauh tanpa sadar langsung meremas pinggiran buku paketnya. Suasana kelas yang biasanya bising seketika berubah menjadi tegang. Informasi dari Haris seolah menjadi bom waktu yang meledak di tengah keheningan. Ayara, yang sedari tadi hanya melamun, kini mendongak dengan tatapan kosong namun penuh tanya.

"Kenapa?" Ayara bertanya bingung.

"Nggak, maksud gue..." Hesty berusaha memutar otak mencari alasan. Namun, ia tampak kesusahan, apalagi sekarang Ayara menatapnya dengan tatapan curiga.

"Udah deh, Ay. Lo gak usah terlalu mikirin Abil. Semua udah ada jodohnya masing-masing. Kalau Abil jodoh lo, pasti dipermudah." kata Lana mengalihkan pembicaraan.

Haris mengganguk setuju. "Bener tuh kata Lana. Lo jangan kebanyakan mikirin yang nggak pasti, mending lo mikirin yang pasti-pasti aja, masa depan misalnya." tambahnya.

Ayara melirik ketiga temannya bergantian. Suara tepuk tangan Haris membuat semuanya menoleh, termasuk Risa, Gean dan Rey yang sedari tadi sibuk dengan kegiatan mereka.

"Bijak banget kata-kata gue barusan." ucapnya membanggakan diri. "Kalau terus-terusan gini, gue mau ganti nama gue deh." Haris bangkit dari duduknya. "Haris Teguh." sebelah tangannya terangkat ke atas, seolah sedang membacakan proklamasi.

Ayara ikut bangkit dari duduknya dan menggebrag meja dengan keras. "Lo bener, Ris." serunya. "Gue harus lebih mentingin masa depan gue!" kata Ayara menggebu-gebu.

Haris yang merasa dirinya dibenarkan semakin menjadi-jadi. Ia berkali-kali menepuk dadanya yang sengaja dibusungkan kepada semua orang yang ada di kelas.

"Kalau gitu cepetan lo shareloc rumah Abil sekarang. Pulang sekolah nanti, gue mau temuin masa depan gue!" Ayara berkata sangat santai. "Kantin, yuk!" ajaknya tanpa menoleh pada teman-temannya.

Haris melongo dibuatnya. "Lho, kok gitu sih, Ay. Perasaan tadi gue ngomong udah bener deh." keluhnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Lana dan Hesty tertawa lepas melihat perubahan wajah Haris. Ia yang awalnya membanggakan diri kini menundukkan bahunya lesu.

"Kalau kalian nggak mau, gue sendiri aja ke kantinnya nih." tanpa menoleh, Ayara berjalan sendiri meninggalkan kelas menuju kantin.

Haris berdecak pelan. Kalau sudah begini, tentu saja tidak ada pilihan lain selain membubarkan diri. Ia mengikuti Hesty dan Lana dibelakang dengan langkah lesu, membuntuti kedua cewek yang belum juga berhenti menertawakannya.

Sementara itu, tersisa Rey, Risa dan Gean yang berada di dalam kelas. Mereka kembali sibuk dengan kegiatannya. Sebelum akhirnya Rey memecah keheningan dengan menutup buku paket Matematikanya dengan suara debuman yang cukup keras.

"Teman lo kemana?" Rey bertanya, nada bicaranya terdengar dingin.

"Peduli lo?" Risa balik bertanya tak kalah ketus.

Rey tersenyum miring. "Setelah masukin oranglain ke jurang masalah, dia malah seenaknya pergi tanpa rasa bersalah?"

"Sebenernya lo kenapa ngotot banget nyalahin Giani sih? Udah jelas-jelas cewek baru itu yang maling. Lo masih belum ngerti sama pengakuan dia kemarin?" Risa menatap Rey sinis.

Rey melebarkan senyumannya yang berubah menjadi seringai lebar. "Kita lihat aja nanti. Siapa yang lebih berhak bertanggungjawab atas perbuatannya!"

Rey melangkah keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi. Raut wajahnya yang biasanya datar kini tampak lebih dingin dan mengeras. Cowok itu memasukkan kedua tangannya pada saku celana dengan seringai yang tidak pernah hilang sepanjang perjalanan. Tujuannya kali ini adalah ruang multimedia.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!