NovelToon NovelToon
Sinyal Dari Lantai 4.5

Sinyal Dari Lantai 4.5

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Action / Tamat
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.

Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peraturan tidak tertulis tentang tombol nomor 4

Genta selalu percaya bahwa nasib buruk itu seperti jerawat; dia muncul di saat yang paling tidak tepat, biasanya tepat sebelum kencan atau wawancara kerja. Tapi bagi Genta, nasib buruk adalah deskripsi pekerjaannya. Sebagai teknisi lift di Jakarta, tugasnya bukan cuma memperbaiki kabel yang putus atau sensor yang macet, tapi mendengarkan keluhan orang-orang kaya yang panik karena terjebak di dalam kotak logam selama lima menit tanpa sinyal Wi-Fi.

"Genta, ini lantai empat belas, bukan lantai empat! Kamu bisa baca angka tidak?" suara cempreng dari radio panggilnya membuat Genta menghela napas.

"Iya, Bu Mira. Sabar. Liftnya tidak sedang amnesia, dia cuma sedang kalibrasi ulang," jawab Genta sambil menyeka keringat dengan punggung tangan yang belepotan oli.

Genta berdiri di atas atap kabin lift yang gelap, di antara kabel baja tebal yang tampak seperti urat-urat raksasa gedung Menara sembako . Gedung ini punya reputasi aneh. Secara resmi, gedung ini punya 40 lantai. Tapi seperti gedung-gedung lain yang pemiliknya takut sial, tidak ada angka 4 atau 13 di panel tombol. Habis angka 3 langsung 5. Habis angka 12 langsung 15.

Logikanya, lantai 4 itu tetap ada secara fisik, cuma namanya saja yang diganti jadi 3A. Tapi siang itu, Genta menemukan sesuatu yang merusak logikanya.

Saat dia sedang memeriksa sensor di antara celah lantai 3 dan 5, dia melihat sebuah celah beton yang seharusnya tidak ada. Di sana, tertempel sebuah stiker kecil bergambar wajah kucing yang sedang memakai kacamata hitam dengan tulisan: “Lantai 4.5: Khusus Karyawan yang Sudah Bosan Hidup.”

"Apa-apaan ini?" gumam Genta.

Dia mengeluarkan obeng panjangnya, mencoba mengintip ke dalam celah itu. Tiba-tiba, lift yang tadinya mati total itu bergerak menyentak. Kabel baja di atasnya berderit keras seperti jeritan naga yang terjepit pintu. Genta kehilangan keseimbangan. Alih-alih jatuh ke lubang lift yang gelap, tubuhnya justru terjerembap masuk ke dalam celah lantai 4.5 tersebut.

Genta mendarat di atas tumpukan karung yang baunya seperti kombinasi antara kertas lama dan kopi sachet murah. Dia meringis, memegangi pinggangnya.

"Sialan. Kalau pinggangku geser, asuransi kantor pasti bilang ini kesalahan prosedur karena aku tidak pakai helm standar SNI," gerutu Genta sambil berusaha berdiri.

Dia melihat sekeliling. Tempat itu tidak tampak seperti lantai gedung perkantoran mewah. Langit-langitnya rendah, dipenuhi kabel fiber optik yang menyala redup warna biru elektrik. Di depannya, ada sebuah meja resepsionis yang terbuat dari tumpukan kardus mie instan yang dilem rapi. Di atas meja itu, ada sebuah papan nama dari plastik: "Bagian Penyesuaian Kebetulan -Divisi Jakarta Pusat.

"Permisi? Ada orang?" panggil Genta. Suaranya bergema, tapi tidak ada jawaban.

Dia berjalan mendekat ke arah sebuah koridor yang pintunya otomatis terbuka. Di dalam, ada puluhan layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari berbagai sudut kota. Bukan CCTV biasa. Di bawah setiap wajah orang yang terekam, ada angka-angka yang terus berubah.

Target A: Peluang tersandung tali sepatu sendiri: 87%. Target B: Peluang menemukan uang sepuluh ribu di saku celana lama: 12%. Target C: Peluang diputusin pacar lewat WhatsApp saat makan bubur: 99.9%.

Genta mengerutkan kening. "Ini... tempat judi atau apa?"

Tiba-tiba, sebuah suara langkah kaki yang ritmis terdengar dari balik lorong. Klik, klik, klik, klik. Suara sepatu pantofel yang dipoles sangat mengkilap. Genta panik. Secara insting, dia bersembunyi di bawah sebuah meja kerja yang berantakan dengan tumpukan map berwarna merah darah.

Dua orang pria muncul. Mereka memakai setelan jas hitam yang sangat kaku, sampai-sampai Genta curiga mereka menggunakan lem kayu untuk menyetrikanya. Salah satu dari mereka membawa tablet transparan.

"Kenapa Protokol Sial untuk pengusaha di lantai 38 belum jalan? Dia seharusnya kehilangan kontrak besar hari ini," ujar pria yang lebih tinggi. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti suara robot GPS yang sedang sariawan.

"Ada kendala teknis, Pak. Kurir yang seharusnya mengantar dokumen pembatalan terjebak macet karena ada demo masak di depan gedung," jawab pria yang satunya lagi.

"Cari cara lain. Kirimkan burung gagak untuk buang kotoran tepat di atas dokumen yang dia tanda tangani. Kita harus menjaga keseimbangan alam. Kalau dia terlalu beruntung hari ini, besok satu kecamatan bisa kena diare masal."

Genta menahan napas sampai dadanya terasa mau meledak. Burung gagak? Diare masal? Apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan?

Saat Genta mencoba sedikit bergeser untuk melihat lebih jelas, sikunya menyenggol sebuah benda kecil di di atas meja. Sebuah remote kecil berbentuk seperti kunci mobil, tapi dengan layar LCD mini yang menampilkan angka: LUCK: -500.

Benda itu jatuh ke lantai dengan suara dentang yang nyaring.

Kedua pria berjas hitam itu berhenti bicara. Mereka menoleh serempak ke arah meja tempat Genta bersembunyi. Gerakan kepala mereka sangat sinkron, seolah-olah mereka punya satu otak yang dibagi dua.

"Ada anomali di bawah meja," ujar si pria

Tinggi.

Genta tahu, ini adalah saatnya dia harus menggunakan jurus andalannya: kabur secepat kilat sambil teriak.

"WOI! ADA TIKUS RAKSASA!" teriak Genta sambil melompat keluar dari persembunyiannya dan melempar remote tadi ke arah kedua pria itu.

Dia tidak menunggu untuk melihat hasilnya. Genta berlari kembali ke arah celah lift tempat dia masuk tadi. Di belakangnya, dia mendengar suara teriakan yang aneh. Bukan teriakan marah, tapi suara seperti alarm komputer yang rusak.

"Subjek tidak terdaftar! Aktifkan Protokol Penghapusan!"

Genta berhasil mencapai celah lift. Dia melihat kabin lift tadi masih diam di sana. Tanpa pikir panjang, dia melompat ke atap lift dan menutup lubang beton itu dengan penutup darurat yang dia bawa.

Sambil gemetar, Genta merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Dia ingin menelepon temannya, tapi tangannya justru menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.

Dia menarik benda itu keluar. Matanya membelalak.

Remote Luck: -500 tadi. Ternyata saat dia melemparnya, benda itu memantul kembali ke dalam saku celana kargonya yang longgar.

Tiba-tiba, layar di remote itu berkedip-kedip merah. Angkanya berubah menjadi: Owner Register : Genta.

"Waduh," bisik Genta. "Ini lebih buruk daripada lupa bayar tagihan listrik."

Genta masih mematung di atas atap kabin lift yang bergoyang pelan. Remote di tangannya terus berdenyut redup, seolah-olah benda itu memiliki detak jantung sendiri. Bau oli yang tajam biasanya menenangkan sarafnya, tapi kali ini, bau itu tercampur dengan aroma ozon yang aneh seperti bau udara tepat sebelum petir menyambar.

"Owner Registered... Genta," bisiknya sekali lagi, mencoba mencerna kata-kata di layar LCD kecil itu. "Nama saya Genta Pratama. Spesialisasi memperbaiki lift, bukan pemilik properti mistis lantai empat setengah!"

Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari lubang beton tempat dia keluar tadi. Seseorang atau sesuatu sedang mencoba mendobrak keluar dari Lantai 4.5. Suaranya bukan seperti manusia yang menggedor pintu, tapi lebih mirip suara mesin hidrolik yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

BUM! BUM! BUM!

Genta tersadar. Dia harus bergerak sekarang atau dia akan berakhir menjadi catatan kaki di laporan kecelakaan Gedung yang tidak akan pernah dipublikasikan. Dengan gerakan yang lebih lincah dari biasanya (mungkin efek adrenalin, atau mungkin remote di sakunya sedang memberikan sedikit 'keberuntungan' paksa), dia merayap naik melalui kabel-kabel baja menuju pintu darurat di lantai 5.

Saat dia berhasil mencongkel pintu lantai 5 dan berguling keluar ke koridor yang terang benderang, dia disambut oleh pemandangan yang sangat kontras: seorang kurir makanan yang sedang bingung melihat peta di ponselnya dan seorang ibu-ibu kantoran yang sibuk memarahi seseorang di telepon.

Dunia normal. Dunia yang membosankan. Genta belum pernah merasa sesenang ini melihat orang marah-marah di telepon.

"Mas, kalau mau akrobat jangan di sini, ganggu jalan," tegur si kurir makanan sambil melirik sinis ke arah baju Genta yang compang-camping dan penuh oli.

"Maaf, Mas. Tadi ada... tikus sebesar kambing di dalam lubang lift," jawab Genta asal. Dia segera berdiri, mencoba menepuk-nepuk debu dari bajunya sambil terus menyembunyikan remote aneh itu jauh di dalam saku celananya.

Genta berjalan cepat menuju tangga darurat. Dia tidak berani naik lift lagi. Bayangan pria-pria berjas hitam dengan wajah kaku itu masih menghantui kepalanya. Dia butuh kopi. Dia butuh duduk. Dan yang paling penting, dia butuh penjelasan kenapa namanya bisa terdaftar di sebuah alat yang bisa mengatur kesialan orang.

Warung kopi "Pak Haji" di belakang gedung Menara Sembako adalah tempat persembunyian favorit Genta. Tempat itu sumpek, panas, dan gorengannya lebih banyak mengandung minyak daripada nutrisi, tapi di sana tidak ada CCTV.

Genta duduk di pojok paling gelap, memesan kopi hitam yang saking kentalnya mungkin bisa digunakan sebagai pelumas mesin lift. Dia mengeluarkan remote itu dan meletakkannya di atas meja plastik yang lengket.

"Luck: -500," Genta membaca angkanya. "Kalau angka ini artinya kesialan, berarti aku sedang dalam masalah besar."

Dia mencoba menekan tombol kecil di samping remote. Layarnya berubah menjadi menu daftar nama. Genta tertegun. Di sana ada daftar orang-orang yang ada di gedung Menara Sembako tadi.

Target: Ibu Mira (Lantai 14) Status: Sedang Marah Action: Tumpahkan kopi ke keyboard (Execute?)

Genta menelan ludah. "Jadi ini bukan cuma alat pemantau? Ini alat eksekusi?"

Belum sempat dia bereksperimen lebih jauh, sebuah bayangan menutupi meja kopinya. Genta hampir melompat dari kursinya. Di depannya berdiri seorang pria tua dengan topi veteran dan kacamata hitam yang salah satu lensanya retak. Pria itu memegang piring berisi pisang goreng dengan cara yang sangat protektif.

"Jangan ditekan tombolnya, Nak. Kalau kamu tekan itu sekarang, Ibu Mira tidak cuma menumpahkan kopi, tapi dia akan meledak karena frustrasi, dan itu akan menciptakan lubang hitam kecil di lantai empat belas," suara pria tua itu serak, seperti suara amplas yang digosokkan ke kayu jati.

Genta mengerjap. "Siapa... Bapak siapa?"

Pria tua itu duduk tanpa diundang. Dia mengambil satu pisang goreng dan menggigitnya dengan khidmat. "Panggil saja aku Aki. Aku dulu yang memasang sistem hidrolik di gedung itu tahun delapan puluh delapan. Dan aku tahu, kamu baru saja bertamu ke tempat yang tidak seharusnya ada di denah arsitek."

Aki menunjuk ke arah remote di meja. "Benda itu namanya 'The Shifter'. Di tangan orang benar, itu alat penjaga keseimbangan. Di tangan Konsorsium, itu alat perbudakan nasib. Dan di tanganmu... itu cuma bikin kamu jadi target tembak paling menarik di Jakarta."

Genta merasa tenggorokannya kering. "Aki tahu soal Lantai 4.5?"

"Aku bukan cuma tahu," Aki mencondongkan tubuh, bau minyak kayu putih tercium kuat dari bajunya. "Aku adalah orang yang membangun pintu rahasianya. Tapi mereka mengkhianatiku. Mereka pikir aku sudah mati terbakar saat 'kecelakaan' lift tahun sembilan puluh lima. Mereka tidak tahu kalau aku punya remote cadangan yang sayangnya, baterainya sudah habis sepuluh tahun lalu."

Genta menatap remotenya, lalu menatap Aki. "Terus saya harus gimana? Mereka ngejar saya! Mereka bilang saya 'Subjek tidak terdaftar'!"

Aki terkekeh, memperlihatkan satu giginya yang tersisa di depan. "Tentu saja. Kamu itu 'bug' dalam sistem mereka, Genta. Dunia ini diatur oleh algoritma yang sangat rapi. Setiap orang punya jatah sial dan jatah untung. Tapi kamu? Kamu baru saja mencuri 'admin panel'-nya."

Tiba-tiba, suara ban mobil mengerem mendadak terdengar dari depan warung. Dua mobil SUV hitam dengan kaca gelap berhenti tepat di pinggir jalan.

Aki langsung berdiri dengan gesit yang tidak masuk akal untuk orang seumurannya. "Gorengannya belum lunas, tapi nyawamu lebih mahal. Ayo lari!"

"Lari ke mana?!" teriak Genta panik sambil menyambar remotenya.

"Ke mana saja yang tidak punya lift! Dan jangan pernah, sekali-kali, kamu tekan tombol 'Execute' di tempat umum kecuali kamu mau melihat dunia jadi kiamat dalam bentuk yang sangat konyol!"

Genta dan Aki berlari keluar lewat pintu belakang warung, tepat saat empat pria berjas hitam turun dari SUV dengan membawa alat yang terlihat seperti pemindai barcode, tapi ukurannya sebesar senapan mesin.

"Target terdeteksi. Koordinat 4.5. Mulai pembersihan," suara dingin itu terdengar lagi.

Genta berlari menyusuri gang sempit, jantungnya berdegup kencang. Dia hanya seorang teknisi lift. Pagi tadi masalah terbesarnya hanyalah kabel putus dan omelan pelanggan. Sekarang? Dia adalah buronan dari organisasi yang mengatur takdir, ditemani oleh kakek-kakek misterius yang hobi makan pisang goreng.

"Selamat datang di dunia nyata, Genta!" teriak Aki sambil melompati tumpukan ban bekas. "Dunia di mana keberuntunganmu adalah hasil curian!"

Genta terus berlari, tanpa tahu bahwa di dalam sakunya, angka di remote itu perlahan mulai berubah.

Luck: -499... -498...

Permainan baru saja dimulai, dan Genta belum sempat membaca buku petunjuknya.

1
Melissa McCarthy
mantap bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!