NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 - Ego Bima

Denting kunci pas yang beradu dengan lantai semen terdengar nyaring di tengah sunyinya bengkel. Bima menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang kasar dengan punggung tangan yang kotor. Pikirannya masih tertahan pada kejadian tadi siang, saat dia lepas kendali dan membentak Bunda.

Rasa sesak langsung memenuhi dadanya. Bodoh lo, Bim. Bunda nggak salah apa-apa, kenapa malah dibentak? umpatnya dalam hati.

Penyesalan itu begitu besar sampai Bima tidak sanggup mendengar suara Bunda di telepon. Itulah alasan utamanya menekan tombol power ponselnya hingga layar itu mati total beberapa jam yang lalu. Dia tahu Bunda pasti akan menelepon terus walaupun Bima sudah mengatakan tidak akan pulang malam ini.Bima hanya ingin menghilang sebentar, bekerja sampai tenaganya habis supaya rasa bersalahnya pada Bunda sedikit berkurang.

Dia bekerja seperti kerasukan setan, membongkar mesin motor tanpa henti sampai dia kehilangan orientasi waktu. Baginya, setiap tetes keringat yang jatuh adalah penebusan dosa atas kata-kata kasarnya tadi.

"Bim, sudah malam. Kamu nggak pulang?" suara Cak Man memecah keheningan.

Bima mendongak, matanya yang merah menatap jam dinding tua yang berdebu di atas pintu bengkel. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat jarum jam sudah menunjuk angka tujuh lewat.

"Astagfirullah... jam delapan?" gumam Bima panik.

Dia langsung teringat Aura. Jam segini Aura pasti sudah di rumah, atau mungkin... masih menunggu jemputannya? Pikiran itu membuat keringat dingin bercucuran di punggungnya. Dia terlalu fokus pada rasa menyesalnya sampai lupa kalau ada adik perempuan yang harus dia jaga.

Bima segera meraih ponselnya. Tangannya gemetar saat menekan tombol samping. Begitu logo merk ponselnya muncul, hatinya berdegup kencang secara tidak wajar.

Satu detik setelah sinyal muncul, ponsel itu bergetar hebat. Tidak ada pesan marah dari Aura, tidak ada omelan dari Bunda. Hanya ada satu pesan singkat dari Bunda yang dikirim sepuluh menit yang lalu dengan huruf kapital semua.

"BIMA, CEPAT KE RS UMUM! AURA KECELAKAAN! NAK ARFAN KRITIS!"

Darah Bima seolah berhenti mengalir. Dunianya yang tadi sudah terasa berat, kini benar-benar runtuh berkeping-keping.

"Ra... Aura..... kecelakaan?" suaranya bergetar hebat.

Bima tidak peduli lagi pada tangannya yang hitam legam atau wajahnya yang kacau. Dia menyambar kunci motor dengan gerakan kalap. Di kepalanya hanya berputar satu pikiran yang menyiksa, gara-gara ego gue, gara-gara gue matiin HP, gue nggak ada di sana saat Aura butuh gue.

Dia melesat membelah jalanan dengan motornya, mengabaikan lampu merah, mengabaikan dinginnya angin malam. Air mata penyesalan mulai mengaburkan pandangannya di balik helm.

Ya Allah, jangan hukum Aura karena kesalahan hamba.

Bima sampai di depan ruang IGD dengan napas yang memburu. Matanya yang merah karena debu jalanan dan kurang tidur langsung menyisir lorong, hingga berhenti pada sosok gadis kecil yang sedang duduk gemetar sendirian.

"Aura!"

Bima menghambur, langsung mencengkeram kedua bahu adiknya. Matanya menyisir cepat, dan jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat perban di dahi Aura serta lebam di pelipis adiknya.

"Lo nggak apa-apa? Mana yang sakit? Jawab gue, Ra!" Suara Bima pecah, nggak ada lagi nada jagoan, yang ada cuma kepanikan seorang abang.

"Kak Bima..." Aura langsung pecah tangisnya, memeluk pinggang Bima erat-erat. "Aura takut, Kak... Aura nggak apa-apa, tapi Kak Arfan..."

Bima menarik Aura sedikit menjauh, dan saat itulah dia sadar kalau seragam putih adiknya merah pekat oleh darah. Tubuh Bima mendadak kaku, wajahnya pucat pasi seolah nyawanya baru saja dicabut. Tangannya yang kasar mulai gemetar hebat saat menyentuh bercak darah itu.

"Darah... ini darah siapa, Ra?" bisik Bima parau. Matanya mulai berkaca-kaca, ada rasa takut yang luar biasa kalau itu darah Aura yang keluar terlalu banyak. "Aura, jawab Kakak! Lo luka di mana lagi?!"

"Ini darah Kak Arfan, Kak... bukan punya Aura semua," isak Aura sesenggukan. "Tadi... Aura dibawa ke gudang tua. Mobilnya nabrak kenceng banget sampai kepala Aura hantam kaca jendela. Aura pusing banget, Kak..."

Bima memejamkan mata, memegang kepalanya sendiri dengan tangan yang bergetar. Dia merasa gagal. Benar-benar gagal.

"Terus ada besi raksasa mau jatuh nimpa Aura... Kak Arfan nggak sempat narik Aura. Dia malah muterin badannya, dia jadiin punggungnya tameng buat peluk Aura. Dia kena besi itu demi jagain Aura, Kak Bima!"

Mendengar itu, Bima terduduk lemas di kursi tunggu, bahunya luruh. Dia terdiam cukup lama, menatap tangannya yang ikut terkena darah Arfan dari baju Aura. Ada rasa shock yang luar biasa. Dia benci Arfan, tapi kenyataan bahwa Arfan melakukan hal yang seharusnya dia lakukan sebagai kakak untuk melindungi Aura tentu membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Namun, rasa malu dan gagal itu justru berbelok menjadi amarah yang pahit. Bima mendongak, matanya merah menatap pintu ICU.

"Harusnya itu nggak perlu terjadi kalau dia nggak muncul di hidup lo," ucap Bima dengan suara yang bergetar menahan tangis dan amarah. Dia mencoba menutupi rasa kalahnya. "Dia kena besi itu... ya itu memang karma karena dia udah bikin lo celaka kayak gini, Ra. Tuhan adil, dia kena balesannya karena udah narik lo ke masalah dia."

Bima mengusap wajahnya kasar, mencoba menyembunyikan setetes air mata yang hampir jatuh. "Udah, jangan bahas dia lagi. Gue... gue nggak mau denger namanya."

"Bima? Ya Allah, Nak..."

Bunda yang baru saja datang dengan membawa nasi bungkus yang ia beli di depan rumah sakit. Wajahnya yang kelelahan mendadak cerah melihat sosok putra sulungnya berdiri di sana. Meskipun Bima terlihat kacau dengan baju penuh oli dan bau bensin, Bunda tidak marah. Ia justru mengusap lengan Bima dengan lembut, merasa lega karena setidaknya satu bebannya berkurang setelah Bima muncul.

"Syukurlah kamu nggak apa-apa, Bim. Bunda khawatir banget karena HP kamu nggak bisa dihubungi," ucap Bunda tenang, mencoba menyodorkan plastik makanan itu. "Kamu makan dulu ya? Kamu pasti belum makan dari siang."

Bima terpaku. Bukannya disambut amarah karena dia matiin HP, dia malah ditawari makan. Rasa bersalahnya makin menusuk-nusuk ulu hati, tapi egonya tetap setinggi langit.

"Gue nggak laper, Bun," sahut Bima ketus, matanya beralih ke arah Aura yang matanya sudah bengkak. "Sekarang Aura ikut gue pulang. Nggak ada gunanya berlama-lama di sini."

Bima baru saja mau menarik tangan Aura, tapi tangan Bunda menahannya dengan lembut namun bertenaga.

"Jangan sekarang, Bim," kata Bunda tegas. "Bunda nggak akan biarin kamu bawa Aura pulang dalam kondisi dia yang masih trauma kayak gini. Lagipula, kita nggak boleh pergi begitu saja. Nak Arfan lagi bertaruh nyawa di dalam sana karena nyelamatin adikmu."

Bima mendengus sinis, ia melepaskan pegangan Bunda di lengannya. "Nyelamatin? Bun, denger ya. Dia kena musibah itu bukan karena dia pahlawan. Itu karma buat dia karena udah berani ganggu Aura. Tuhan lagi kasih dia pelajaran."

"Bima! Jaga lisan kamu!" Bunda menegur dengan nada rendah tapi penuh penekanan. "Nak Arfan itu anak baik. Dia yang jagain Aura saat kamu nggak ada. Jangan jadi manusia sombong yang menutup mata dari kebaikan orang lain hanya karena ego kamu."

Bima membuang muka, tangannya mengepal kuat di samping tubuh. Rasanya panas sekali mendengar Bunda membela Arfan. Di matanya, Arfan tetaplah orang asing yang merebut perannya.

"Terserah Bunda mau bilang apa. Di mata Bima, dia tetap penyebab semua ini," gumam Bima dingin. Ia bersandar di pilar rumah sakit, menolak makanan dari Bunda, dan tetap mengawasi Aura dengan tatapan tajam. "Bima bakal nunggu di sini. Bukan buat nungguin cowok itu siuman, tapi buat mastiin adik Bima nggak kenapa-napa."

Bima berdiri di sana seperti patung, menolak empati, menolak makanan, dan menolak mengakui bahwa jauh di lubuk hatinya, dia gemetar ketakutan karena hampir kehilangan adiknya.

Bersambung......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!