NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. The Thorns in the Bouquet

Suasana di dalam SUV antipeluru itu sangat sunyi, hanya terdengar deru mesin yang stabil saat mereka mulai mendaki jalanan berkelok menuju pegunungan Catskills. Di sanalah terletak sebuah biara tua milik keluarga besar Elizabeth Vane, sebuah tempat yang tak tercatat di peta digital mana pun.

Julian duduk sangat rapat di samping Alice, tangannya melingkar protektif di bahu istrinya. Di pangkuan Alice, terdapat sebuah vas kecil berisi beberapa tangkai mawar putih pilihan dari pusara Leo yang sengaja ia bawa sebagai kenangan.

"Kau kedinginan, Al?" tanya Julian sembari merapatkan selimut wol di tubuh Alice.

"Tidak, Julian. Aku hanya merasa sedikit mual," bisik Alice, wajahnya masih pucat. Ia mengelus kelopak mawar putih itu dengan jarinya. "Terima kasih sudah mengizinkanku membawa mawar-mawar ini. Rasanya Leo masih ada bersama kita."

Julian tersenyum tipis, namun matanya terus waspada menatap kaca spion. Samuel Vane duduk di depan bersama sopir kepercayaannya, memegang sebuah alat pemindai frekuensi di pangkuannya.

Tiba-tiba, alat di tangan Samuel berbunyi bip dengan nada tinggi yang memekakkan telinga.

"Berhenti!" teriak Samuel. "Joe, tepikan mobilnya sekarang!"

Mobil berhenti mendadak di pinggir tebing yang curam. Julian langsung mendekap Alice. "Ada apa, Pa?"

Samuel berbalik, wajahnya sangat tegang. "Ada sinyal pelacak aktif di dalam kabin ini. Sangat kuat. Seseorang menanam GPS dengan frekuensi militer."

Samuel mulai memeriksa kolong kursi dan saku pintu, namun nihil. Matanya kemudian tertuju pada vas mawar putih di pangkuan Alice. Dengan gerakan cepat, Samuel mengambil vas itu dan menuangkan isinya ke lantai mobil.

"Pa! Apa yang Papa lakukan?" Alice terperanjat.

Samuel membelah salah satu batang mawar yang tampak sedikit lebih tebal dari yang lain dengan pisau lipatnya. Di dalamnya, tersembunyi sebuah chip kecil berwarna perak yang berkedip merah.

"Iblis itu..." geram Julian. Matanya berkilat marah. "Mereka menggunakan bunga mawar dari pemakaman anakku untuk melacak kita? Benar-benar biadab!"

"Mereka sudah tahu kita bergerak, Julian," ujar Samuel sembari membuang chip itu ke jurang di samping jalan. "Joe, pacu mobilnya! Kita harus sampai ke biara sebelum mereka mencegat di persimpangan hutan!"

Mobil itu melesat membelah salju yang mulai turun. Di belakang mereka, dua buah lampu high-beam muncul dari kejauhan, melaju dengan kecepatan tinggi.

"Mereka di belakang kita!" teriak Alice panik. Ia mulai merasa sesak napas karena stres.

Julian segera memutar tubuhnya, memegang wajah Alice dengan kedua tangan agar istrinya fokus padanya. "Al, lihat aku! Tarik napas. Ingat bayinya. Jangan biarkan mereka menguasaimu. Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu dan anak kita!"

"Tapi Julian, mereka tidak akan berhenti!"

"Aku tahu. Dan aku juga tidak akan berhenti melindungimu," Julian mencium kening Alice dengan sangat lama, memberikan kekuatan melalui sentuhannya. "Pa, berikan aku pistolnya."

Samuel ragu sejenak. "Julian, kau sudah berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan lagi."

"Ini bukan kekerasan, Pa. Ini perlindungan!" tegas Julian. "Mereka mengincar istriku yang sedang hamil. Aku tidak akan membiarkan prinsipku membunuh keluargaku!"

Samuel akhirnya menyerahkan sebuah senjata laras pendek dari laci dasbor. Julian memeriksa pelurunya dengan dingin, sebuah sisi gelap dari masa lalunya sebagai pria yang dibesarkan di jalanan industri keras muncul kembali, namun kali ini demi tujuan yang benar.

"Joe, belok ke jalan setapak di depan! Kita akan menjebak mereka di jembatan kayu tua!" perintah Samuel.

Mobil mereka melakukan manuver tajam, masuk ke jalan setapak yang sempit dan licin. Mobil pengejar mengikuti dengan liar. Saat sampai di sebuah jembatan kayu yang sudah rapuh, Joe menginjak rem sedalam-dalamnya.

Julian membuka pintu sedikit, mengeluarkan tangannya, dan menembak ke arah ban mobil pengejar dengan akurasi yang luar biasa. Mobil musuh tergelincir, menghantam pagar jembatan, dan nyaris jatuh ke sungai yang membeku di bawahnya.

"Jalan, Joe! Jalan!" teriak Julian.

Begitu mereka menjauh, Julian segera menutup pintu dan membuang senjatanya ke lantai. Ia gemetar, bukan karena takut, tapi karena ia benci harus kembali menjadi pria bersenjata. Ia langsung memeluk Alice yang menangis ketakutan.

"Maafkan aku, Al... Maaf kau harus melihat itu," bisik Julian, suaranya kembali lembut dan penuh penyesalan. "Aku benci ini. Aku benci mereka."

Alice memeluk leher Julian sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. "Terima kasih sudah menjaga kami, Julian. Aku tahu itu sulit bagimu."

Samuel menoleh ke belakang, napasnya juga memburu. "Kita sudah dekat. Gerbang biara sudah terlihat. Di sana ada tim keamanan dari firma hukumku yang sudah berjaga. Mereka tidak akan bisa masuk ke tanah suci itu."

Saat gerbang biara yang terbuat dari besi tua terbuka, Julian merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Ia menggendong Alice keluar dari mobil menuju bangunan batu yang kokoh.

"Al," bisik Julian saat mereka masuk ke dalam ruangan yang hangat oleh perapian. "Di sini, kita hanya akan bicara tentang masa depan. Tidak ada lagi mawar yang berduri, tidak ada lagi pelacak. Hanya kau, aku, dan mukjizat kecil di perutmu."

Alice menatap mata Julian, melihat pria itu benar-benar lelah namun tetap berdiri tegak demi dirinya. "Aku mencintaimu, Julian Reed. Lebih dari nyawaku sendiri."

"Dan aku akan mencintaimu sampai napas terakhirku, Alice Vane," balas Julian, mencium bibir istrinya dengan rasa syukur yang mendalam di bawah bayang-bayang salib di dinding biara.

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!