"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN LEO
Di kejauhan, kepulauan asap hitam mulai terlihat membumbung tinggi dari arah puncak gunung tempat Istana Kerajaan Vampir berdiri.
Deg
Deg
Deg
Jantung Leo berdegup kencang seirama dengan denyutan panas dari cincin perak di jarinya yang kini telah hancur total.
Asap hitam membumbung tinggi menutupi kemegahan langit Istana Kerajaan Vampir.
Gerbang depan yang biasanya kokoh kini hancur berkeping-keping akibat hantaman sihir penghancur, dan ribuan prajurit pemberontak berseragam zirah merah darah merangsek masuk seperti air, menenggelamkan barisan pertahanan pengawal istana yang jumlahnya jauh lebih sedikit.
TRANG
TRANG
TRANG
DUARRR
Di tengah pelataran agung, Arion berdiri tegak dengan pedang hitam besarnya, setiap tebasannya melepaskan gelombang energi yang menerbangkan belasan musuh sekaligus.
Sementara di sampingnya, Serena bergerak dengan keanggunan yang mematikan, tangannya melancarkan sihir pembeku yang mengubah musuh menjadi patung es dalam sekejap.
DUARRRRRR
DUARRR
"Mereka terlalu banyak, Arion! Ini bukan sekadar pemberontakan biasa!" teriak Serena sambil menghancurkan seorang musuh yang mencoba mendekatinya dari belakang.
"Bertahanlah, Serena! Jangan biarkan mereka melewati tangga utama!" jawab Arion dengan napas yang mulai berat.
TRANG
TRANG
DUARR
Di barisan paling depan, Aurora bertarung layaknya dewi perang, gaun nya sudah robek di beberapa bagian, digantikan oleh noda darah musuh yang membasahi zirah ringannya.
Aurora bergerak cepat seperti angin, dengan pedang peraknya terus berdentang, menangkis tiga hingga empat pedang lawan sekaligus.
TRANG
TRANG
TRANG
"Maju kalian semua! Jangan harap bisa menyentuh istana ini selama aku masih bernapas!" teriak Aurora, matanya berkilat perak terang, memancarkan kemarahan yang luar biasa.
TRANG
TRANG
TRANG
Tiga prajurit bertubuh raksasa mengepung Aurora, menghantamkan kapak berat mereka secara bersamaan.
BRAKKKKKKK
Aurora melakukan salto ke belakang, menghindari hantaman yang membuat lantai marmer itu hancur. Namun, saat dia mendarat, sepuluh prajurit lain sudah menodongkan tombak ke arahnya.
"Putri Aurora, menyerah. lah! Ayahmu sudah terkepung, kau tidak punya harapan lagi!" seru salah satu komandan musuh sambil menyeringai.
Aurora melirik ke arah ayahnya, Arion, benar saja, Raja Vampir itu kini dikelilingi oleh puluhan penyihir hitam yang mulai merapalkan mantra pengikat, dan Ibunya pun sama, Serena mulai terdesak, energinya terkuras habis untuk melindungi para pelayan istana yang berlarian ketakutan.
"Tidak akan!" desis Aurora, dingin.
Aurora merasakan dadanya sesak, rasa lelah mulai menyerang sendi-sendinya, dan luka-luka kecil di tubuhnya mulai terasa perih.
Tiba-tiba, Aurora merasakan getaran aneh di pergelangan tangannya, cincin pemberiannya yang dia tahu ada pada Leo telah hancur, namun sisa energinya memberikan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Leo... kamu di mana? batin Aurora lirih.
"Habisi dia!" perintah ketua musuh.
Puluhan prajurit itu melesat maju, mengarahkan senjata mereka ke arah Aurora yang kini sudah tersudut di pilar besar.
Aurora menggenggam pedangnya erat-erat, memejamkan mata, bersiap untuk serangan terakhir yang mungkin akan merenggut nyawanya.
Tepat saat ujung tombak pertama hampir menyentuh lehernya, sebuah dentuman keras terdengar dari arah dinding samping istana.
BUMMMMM
DUARRRRRR
Dinding batu yang tebal itu hancur berkeping-keping seolah ditabrak oleh beda besar.
Bayangan bayangan hitam melesat keluar dari debu reruntuhan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa.
SRAKKKK
BRAAAAKKKKK
"AAAAAAAAKKKKKKKHHHHHHHHH!"
Dalam satu gerakan melingkar yang sangat dahsyat, sepuluh prajurit yang mengepung Aurora terpental jauh, tubuh mereka menghantam pilar-pilar istana hingga retak, dengan suara jeritan yang menggelegar.
Sosok pria berdiri di depan Aurora. Napasnya memburu, uap panas keluar dari tubuhnya yang berselimut aura perak dan cokelat yang liar, bajunya sudah koyak, menunjukkan otot-ototnya yang tegang karena dipacu melampaui batas.
Leo Alistair telah kembali, dia tidak menoleh, namun suaranya yang parau terdengar sangat protektif di telinga Aurora.
"Maaf aku terlambat, Putri Galak. Perjalanannya sedikit sulit," ucap Leo dingin, matanya yang kini berwarna perak pekat menatap tajam ke arah ribuan musuh di depan mereka.
Aurora tertegun, sebuah senyum lega yang tipis muncul di bibirnya yang pucat, melihat kedatangan pria yang merupakan pelindung nya, tapi dia gengsi untuk mengatakan nya secara langsung.
"Dasar serigala bau, kamu benar-benar suka datang tiba-tuba, dengan dramatis, ya?" ucap Aurora, mendengus pelan.
"Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka kan?" tanya Leo, menatap Aurora, penuh ke khawatiran.
"A-aku tidak apa-apa, Leo," jawab Aurora, memalingkan wajahnya gugup.
Gelombang kejut dari pendaratan Leo telah membersihkan area di sekitar Aurora, memberinya ruang bernapas sejenak. Namun, kedatangan Leo juga menarik perhatian ribuan pemberontak yang tadinya fokus pada Arion dan Serena.
"Ini dia si Serigala Darah Campuran! Bunuh dia!" teriak salah satu dari mereka.
"Kau terlalu berisik," desis Leo, tanpa ragu, dia melesat maju.
BHUK
BRAKK
DUARR
Leo bertarung seperti monster, setiap pukulan dan tendangannya memancarkan energi perak, menumbangkan musuh-musuh dengan mudah.
Pria berdarah campuran itu tidak lagi menahan kekuatannya, sisi vampirnya memberikan kecepatan mematikan, sementara insting serigalanya memberikan kekuatan brutal yang menghancurkan.
DUARRRRRR
DUARRRRRR
DUARRRRRR
Aurora, yang kini berada di samping Leo, tidak tinggal diam, energinya yang sempat terkuras habis tadi, kini kembali membara, Aurora kembali menerjang dengan pedang peraknya, menebas setiap musuh yang mencoba menyerang Leo dari samping.
BRAKKK
DUARRRRR
DUARRRRR
DUARRRRR
Ledakan dimana-mana, satu persatu musuh mulai berjatuhan, tapi seperti tidak ada habis-habis nya, Aurora dan Leo, bertarung saling memunggungi, tidak menciptakan celah di antara lautan musuh.
"Ini dia Pasangan Darah Campuran! Tangkap mereka hidup-hidup!" teriak seorang penyihir vampir dari kejauhan, suaranya dipenuhi kegembiraan.
Di tengah pertarungan sengit itu, Arion dan Serena yang kini sudah berhasil membebaskan diri, menatap Leo dan Aurora dengan takjub.
"Kekuatan mereka berdua saat bertarung bersama, tidak bisa dipercaya," bisik Serena, menatap Leo dan Aurora dengan takjub.
"Tanpa sadar, mereka sudah mengaktifkan, ikatan Jiwa mereka," jawab Arion, matanya menyipit.
"Ini jauh lebih cepat dari yang kuduga," lanjut Arion.
Namun, di tengah fokus mereka yang terbagi, para pemberontak menunjukkan kelicikannya.
Saat Leo tengah menghajar seorang prajurit raksasa dengan rentetan pukulan mematikan, sebuah bayangan hitam melesat dari balik kerumunan, mengincar Aurora.
Srettt
Bayangan hitam itu adalah Pangeran Maxime, sepupu Aurora yang memimpin pemberontakan, seorang vampir murni yang dikenal dengan kecepatan dan sihir bayangannya.
"Aurora! Awas!" teriak Leo, saat melihat bayangan itu.
Leo mencoba berbalik, namun sudah terlambat, dia masih terjebak dalam pertarungan dengan prajurit raksasa yang kokoh.
SRETTT
Maxime muncul di belakang Aurora, dan sebelum gadis itu sempat beraksi, sebuah kain hitam berisi ramuan pembius murni sudah membekap mulut dan hidungnya.
SRAKK
TRANG
Aurora meronta, pedangnya jatuh ke lantai.
"Hummmppp!"