NovelToon NovelToon
Aku Menyerah!

Aku Menyerah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / CEO / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:55.9k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.

Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.

Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Cemburu?

Setelah beberapa meter menjauh dari gerai sepatu dan tas, Ayra menghentikan langkahnya.

"Maaf, Mas Zavian, sebaiknya saya pulang saja," katanya. Zavian ikut menghentikan langkah dan menurunkan Kenzie dari gendongannya. Tadi ia mengambil alih anak itu dari gendongan Ayra.

"Tidak boleh, kamu harus ikut makan dengan kami. Bagaimana jika nanti kamu bertemu lagi dengan mereka?"

Ayra tersenyum tipis sambil menggeleng.

"Tidak apa-apa, mereka bukan orang-orang yang berbahaya, kok. Saya masih bisa mengatasinya."

"Tetap saja, satu lawan dua. Kamu tidak mungkin berubah jadi Superwoman seperti saat di kantor polisi tempo hari, kan?"

Zavian menahan senyumnya saat Ayra mendelik.

"Tante, ayo!"

Kenzie kembali merengek. Sepertinya bocah itu benar-benar lapar.

"Maaf sayang, tapi Tante tidak bisa ikut. Tante sedang ada keperluan lain."

Ayra berjongkok. Tangannya terulur membelai kepala anak itu. Ada perasaan berat saat melihat mata polos itu menatapnya sedih.

"Lain kali ya, Sayang."

Kenzie mengangguk lemah, lalu mendongakkan wajah menatap sang ayah dengan mata merah yang hampir menangis.

"Ayo, Pa..." ajaknya pelan. Ia melangkah lebih dulu. Mungkin jika sudah lebih besar sedikit, ia akan berkata terus terang kalau dirinya kecewa.

Tapi Ayra harus menguatkan dirinya. Dia pernah mengalami bagaimana hancurnya, suaminya diambil wanita lain. Jadi, dia pun bertekad tak akan pernah merampas laki-laki mana pun yang sudah memiliki pasangan, meski itu pasangan lewat perjodohan.

"Baiklah, meski saya tidak mengerti kenapa kamu sampai menolak ajakan kami." Ucap Zavian tanpa berusaha memaksa lagi. Ia membiarkan Ayra pergi dan dirinya pun berjalan mengikuti langkah putranya.

***

Tepat jam tujuh malam, Zavian sudah berada di depan pagar hitam rumah Ayra. Ia mematikan mesin mobil dan keluar dari sana.

Sejenak sebelum membuka pagar, ia merapikan pakaiannya sebentar. Barulah setelahnya ia menggeser pintu besi itu dan masuk ke halaman rumah. Di depan pintu utama, lelaki itu memencet bel sekali. Dengan sabar ia menunggu pintu dibuka.

Beberapa saat kemudian, Ayra dengan piama katun melekat di tubuhnya, berdiri di hadapan Zavian. Wajah wanita itu tampak polos dan bersih tanpa sapuan make-up atau apapun. Tapi justru ia terlihat semakin imut-imut dan cantik natural.

"Mas Zavian?" Sapanya kaget.

"Ganti bajumu, Ay, kita makan malam di luar. Saya tunggu di teras," ucapnya tanpa basa-basi. Tentu saja hal itu membuat Ayra bengong. Tapi Zavian langsung mendorongnya masuk lagi ke dalam.

"Cepat, kali ini saya tidak menerima penolakan!"

"Tapi saya tidak mau!"

"Kalau begitu, saya juga tidak akan pergi dari sini."

Ayra mendengus kesal. Dia masih terdiam beberapa saat di tempatnya. Sekali lagi Zavian mendorongnya sambil ikut masuk ke dalam ruang tamu.

"Apa mau saya yang menggantikan bajumu?" Dengan genitnya ia mengedipkan sebelah mata. Sontak wanita muda itu melotot sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kenapa sih harus memaksa?" tanya Ayra setengah tidak terima.

"Memang itu pekerjaan saya sekarang. Memaksa kamu."

Ayra kembali mendengus kesal.

"Tapi kan..."

"Ayo cepat atau saya akan bikin keributan supaya tetangga kamu berdatangan ke sini dan kita disangka melakukan yang tidak-tidak."

Ayra menghentakkan kaki saking kesalnya. Tapi is tidak tahu bagaimana cara mengusir laki-laki ini. Mau tidak mau akhirnya ia mengalah juga. Ia masuk lagi ke dalam kamarnya untuk berganti baju.

Meski tidak memiliki banyak pakaian yang bagus, tapi Ayra berusaha memilih salah satu pakaian terbaiknya yang begitu sempurna melekat di tubuhnya yang proporsional. Lalu memoles wajahnya dengan make-up tipis yang bisa dibilang alakadarnya. Tapi tetap tak mengurangi kadar kecantikannya.

Saat kembali ke hadapan Zavian, sesaat lelaki itu terpana. Matanya sulit untuk berkedip dan berpaling dari wajah wanita di hadapannya ini. Siapa sangka wanita ini pernah mengalami masa terburuk dalam hidupnya. Orang yang tidak tahu, tak akan ada yang menyangka kalau dia seorang janda.

"Mas!" Ayra pura-pura kesal demi menyamarkan kegugupannya ditatap seintens itu oleh pria tampan di hadapannya.

"Lumayan." Katanya tanpa dimintai pendapat. Tapi Ayra mengernyit.

"Lumayan apa?"

"Tidak, ayo berangkat!"

***

Zavian memilih sebuah restoran yang berada di atas rooftop. Angin malam berembus pelan, membawa suasana tenang di tengah kerlap-kerlip lampu kota yang mulai menyala di bawah sana. Ayra merasa sedikit canggung saat Zavian menarikkan kursi untuknya di salah satu meja dengan pemandangan terbaik.

"Kenapa mengajak saya ke sini?" tanya Ayra sambil merapikan helai rambutnya yang tertiup angin.

Zavian tidak langsung menjawab. Ia justru memesan menu untuk mereka berdua dengan sangat santai, seolah sudah hafal apa makanan kesukaan Ayra. Setelah pelayan pergi, barulah ia menatap Ayra dalam-dalam.

"Hanya ingin makan tenang. Kamu terlihat seperti orang yang butuh suasana baru," jawab Zavian singkat.

"Saya sudah cukup tenang di rumah tadi kalau saja Mas tidak datang memaksa," gerutu Ayra, sangat pelan. Tapi telinga Zavian yang tajam masih bisa mendengarnya.

Zavian terkekeh. Bukannya marah, ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat tangan di dada.

"Kalau saya tidak memaksa, kamu pasti hanya akan makan mi instan di depan televisi sambil melamunkan hal-hal yang tidak penting."

Ayra terdiam karena tebakan pria itu tepat sasaran. Memang itulah yang biasanya ia lakukan untuk membunuh waktu dan rasa sepi.

"Mas Zavian selalu begini ya? Senang sekali mengatur hidup orang?" tanya Ayra akhirnya.

"Hanya orang-orang tertentu yang beruntung saya atur hidupnya, Ayra. Kamu harusnya merasa spesial," sahut Zavian dengan nada yang separuh bercanda namun separuh lagi terasa sangat serius.

Pesanan mereka datang tepat waktu. Aroma hidangan laut segar menggugah selera Ayra yang tadi sempat hilang karena rasa kesalnya. Kini matanya terlihat berbinar, karena pas sekali ia memang sedang ingin makan seafood.

Selama makan, Zavian tidak banyak bicara. Ia seolah memberi ruang bagi Ayra untuk menikmati suasana. Namun, saat makanan mereka hampir habis, Zavian meletakkan sendoknya dan menatap Ayra lagi dengan raut wajah yang lebih formal.

"Saya lihat kamu saat datang ke wahana permainan di mal tadi."

Ayra menghentikan kunyahannya sebentar. Tapi kemudian ia menunduk melanjutkan makannya demi menghindari kontak mata dengan mata elang Zavian.

"Seharusnya Mas Zavian mengajak Mbak Marissa ke sini, bukan saya," ucapnya.

Zavian paham kalau perempuan di hadapannya ini sudah terkena jebakan kata-kata Marissa.

"Kenapa saya harus mengajak dia?"

"Karena Mbak Marissa kan calon istri Mas Zavian."

Seketika Zavian tertawa lepas.

"Apa yang lucu?" Ayra mendelik.

"Kamu cemburu, kan?"

Ayra ternganga. Dia ingin membantah tapi Zavian tidak juga menghentikan tawanya. Akhirnya ia hanya bisa cemberut sambil melanjutkan menikmati makanan penutupnya.

"Marissa bukan calon istri saya. Dia cuma mantan adik ipar. Justru saya sedang menyelidiki dia."

Ayra semakin mengerutkan keningnya, belum paham arah bicara Zavian.

"Apa yang harus diselidiki?"

Akhirnya tawa Zavian terhenti. Dia menatap Ayra lebih serius lagi.

"Saya curiga dialah yang mengancam keselamatanmu, Ayra."

Kini giliran Ayra yang tergelak sampai air matanya keluar.

"Itu tidak mungkin, Mas!"

"Jangan naif, Ayra. Apa yang terlihat oleh matamu belum tentu seperti itu kenyataannya. Suatu saat, saya akan mendapatkan bukti siapa yang sudah membuatmu hampir kehilangan kesucian."

Mendengar Zavian bicara begitu membuat Ayra melongo tak percaya.

"Maukah kamu bekerja sama dengan saya?"

"Maksudnya?"

"Kita ikuti permainan dia, tapi kita tetap harus waspada."

Ayra terdiam. Sejujurnya ia masih belum percaya kalau Marissa sejahat itu. Tapi setiap bertemu wanita itu, Ayra memang selalu merasakan ketidaknyamanan. Meskipun begitu, semua rasa itu biasanya tertutupi oleh baiknya sikap Marissa padanya selama ini.

"Tapi benarkah Mama kamu sudah menjodohkan kalian?"

"Itu tidak penting untuk dibahas. Justru kamu seharusnya paham bagaimana karakter dia yang sebenarnya. Pembohong dan manipulatif!"

Zavian menyeka mulutnya dan meminta pelayan untuk membersihkan meja mereka. Sementara itu, ia mengajak Ayra untuk menikmati kerlip lampu kota yang indah dari jarak yang lebih dekat lagi.

Mereka berdiri di dekat pagar pembatas.

"Saya tunggu kamu besok di rumah setelah kamu pulang kuliah."

"Untuk apa?"

"Jadi nanny-nya Kenzie."

"Jadi saya diterima?"

Zavian mengangguk. "Nanti juga kamu bisa tanyakan langsung ke Ibu saya, apa benar beliau menjodohkan saya dengan Marissa?"

"Buat apa?" Ayra melengos demi menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Supaya kamu tidak ragu kalau saya laki-laki single."

"Maksudnya?"

Zavian tidak menjawab, tapi ia meraih tangan Ayra dan membawa ke bibirnya. Lalu dikecupnya lama.

"Saya lelaki normal yang menyukai wanita cantik. Tapi saya bukan player!"

1
Daulat Pasaribu
cocoknya kau mati marisa gk pantas hidup iblis macam kau
Daulat Pasaribu
cocoknya Marissa itu mati thor,karena gak guna hidup,uda banyak korban si marissa.hukuman yg pantas untuk dia ya mati
Ermi Yenti
lanjut,,, untk marissa..
Ma Em
Thor jgn sampai Marissa mengganggu ketentraman rumah tangga Zavian dgn Ayra yg baru saja dimulai , jauhkan godaan atau kejahatan orang2 yg iri pada kebahagiaan Ayra .
Dini Yulianti
ooo ternyata hanya anak pungut to
Yul Kin
lanjut kak
Anonymous
ENTAH KENAPA SAYA INGIN MEMBUNUH ORANG INI SI LITZHA
Ummi Rafie
jangan² Monalisa yg maksa masuk di pernikahan ayra
Dini Yulianti
akhirnya sah jg
Cookies
lanjut thor
Dini Yulianti
musuh terberat ayra hanya si sasa marisa, psyco dia, kalo semacam elly sama lizta mah hanya kelas teri
Ramlah Ibrahim
kna sambungan nya kenpa tiba2 kerlur cerita lain
Ma Em
Bu Elly sok soan mau manas2 in Zavian agar TDK jadi menikah dgn Ayra kalau Zavian tdk dengar Rayyan ngancam mau keluar dari perusahaan Zavian lah emang kalian siapa samapi Zavian mau mendengar omongan Rayyan dasar orang tdk tau malu , semoga Ayra bahagia bersama Zavian .
Yul Kin
pecat Rayyan dan lita kak, gedeg aku sama mereka, klg mak Lampir jg
Ma Em
Elly ,Anika dan Serly sombong didepan nyonya Euginia , Elly kamu itu tdk ada apapa nya kalau dibandingkan dgn nyonya Euginia dasar norak pake perhiasan kayak toko emas berjalan , Elly ,Ayra itu bkn jadi pengasuh tapi calon istri orang kaya .
Dini Yulianti
nah gitu ay jangan egois, zavian jadi leluasa lindungin kamu, kuliah masih bisa jalan meski udh nikah, zavian beda sama rayyan
Anonymous
Pantau terus si marissa van.. Gunakan semua aksea yg dikau punya
Anonymous
Please zavian.. Jgn butek2 banget... Gunakan kekuasaan keluarga loe..
Ma Em
Demi keamanan dan perlindungan penuh dari Zavian Ayra tentu hrs mau cepat menikah dgn Zavian jgn ditunda lagi karena Marissa sangat berbahaya .
Ma Em
Zavian seorang pengusaha yg berkuasa masa kalah oleh kelicikan Marissa .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!