Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Pertama di Pegunungan Hitam
Darah hangat dan kental menyembur, membasahi wajah dan pakaian Ye Chenxu. Tubuh besar serigala itu terhuyung, kakinya gemetar hebat sebelum akhirnya roboh dengan dentuman berat yang menggetarkan tanah.
Ye Chenxu melompat turun dan terengah-engah hebat. Dadanya naik-turun tajam, paru-parunya terasa seperti akan terbakar habis.
Tubuh fana ini benar-benar telah mencapai batas maksimalnya hanya dalam satu pertarungan singkat.
Jika pertarungan itu berlangsung satu detik lebih lama, jantungnya mungkin akan berhenti berdetak.
Namun di dalam matanya yang dalam, api dingin menyala dengan lebih terang.
Tanpa membuang waktu, ia membelah kepala siluman itu dengan tangan gemetar. Dari dalam tumpukan daging dan tulang yang hancur, ia mengeluarkan sebuah permata roh kelabu seukuran ibu jari.
Permata itu kotor, namun memancarkan kilau energi yang murni dan liar.
"Permata Siluman Tingkat Rendah ..." bisik Ye Chenxu. Jarinya gemetar saat menyentuh permata itu.
Ia tidak kembali ke kota, melainkan mencari sebuah pohon tua yang akarnya membentuk rongga alami yang terlindung.
Setelah menemukannya , Ye Chenxu segera duduk bersila di sana dan mengatur posisi tubuhnya dalam postur meditasi kuno.
Dia meletakkan Rumput Esensi dan Akar Seribu Daun di mulutnya, lalu mengunyahnya hingga menjadi pasta pahit yang membakar tenggorokannya, kemudian menelannya.
Segera setelah itu, ia menggenggam permata siluman erat-erat dengan kedua telapak tangannya.
"Sutra Kehampaan Awal ... mulailah."
Dalam sekejap, atmosfer di sekitar pohon tua itu bergetar. Udara seolah-olah tersedot ke satu titik. Energi kehampaan yang sangat tipis mulai turun dari langit, menyatu dengan energi liar dari permata siluman di tangannya, lalu menyerbu masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
Rasa sakit yang meledak jauh lebih hebat dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya seolah-olah ada ribuan semut api yang masuk ke dalam pembuluh darahnya, diikuti oleh sensasi tulang-tulangnya yang diremukkan oleh palu godam satu per satu.
Meridian yang tersumbat mulai dipaksa terbuka oleh arus energi yang tak kenal ampun.
Keringat yang mengucur dari tubuhnya kini berwarna kehitaman dan berbau busuk—kotoran sisa-sisa racun dan sumbatan yang dikeluarkan paksa dari tubuhnya.
Ye Chenxu tidak mengeluarkan satu suara pun. Giginya terkatup rapat hingga gusinya berdarah. Wajahnya tetap tenang layaknya permukaan laut di tengah badai, matanya tertutup rapat, membiarkan kehampaan memurnikan setiap sel di tubuhnya.
KREKK!!!
Sebuah suara kecil terdengar dari dalam dadanya. Itu bukan suara tulang patah, melainkan suara penghalang pertama—titik meridian pertama—yang akhirnya hancur dan terbuka.
Arus energi mulai mengalir, meski hanya sekecil aliran air di selokan, namun itu adalah aliran kehidupan.
Penghalang pertama akhirnya runtuh.
Ketika matahari mulai condong ke barat memberikan warna oranye yang membara pada kabut pegunungan, Ye Chenxu perlahan membuka matanya.
Napasnya kini lebih stabil dan lebih dalam. Meski tubuhnya masih terasa lelah dan sakit, tapi ada perasaan ringan yang belum pernah dirasakan oleh Ye Chenxu sebelumnya.
Ia menunduk melihat telapak tangannya. Permata siluman yang tadi berkilau kini telah berubah menjadi debu kelabu yang tidak berharga, tertiup angin pegunungan.
Lalu dia berdiri, merasakan kekuatan ototnya yang kini lebih padat dan responsif. Di dalam dirinya, jalur kultivasi telah resmi terbuka.
Sekarang pemuda yang dianggap sampah itu bukan lagi manusia biasa, melainkan adalah seorang praktisi tingkat awal di Jalan Kehampaan.
Ye Chenxu menatap ke kejaluan, ke arah puncak-puncak Pegunungan Hitam yang masih menyimpan ribuan rahasia dan bahaya.
"Pegunungan Hitam masih luas," ucapnya dengan nada dingin yang sarat janji. "Siluman masih banyak. Dan jalannku baru saja dimulai."
Dunia di sekelilingnya masih diselimuti warna abu-abu fajar yang melankolis. Embun pagi yang dingin dan murni menetes dari ujung dedaunan lebar, jatuh ke atas tanah berbatu dengan suara yang nyaris tak terdengar oleh telinga manusia biasa.
Di sekelilingnya, Pegunungan Hitam terhampar luas seperti binatang purba yang sedang mengamati penyusup.
Hutan ini sunyi, namun kesunyiannya bukanlah ketenangan, melainkan sebuah ancaman yang tertunda.
Ada bau kematian yang samar, bau tanah lembap yang bercampur dengan aroma amis dari sisa-sisa perburuan malam sebelumnya.
Ye Chenxu mencoba menggerakkan bahunya, dan seketika itu juga, ia meringis kecil. Tubuhnya masih terasa sangat nyeri akibat proses pemurnian kehampaan yang ia lakukan kemarin.
Meridian yang baru saja terbuka paksa seolah-olah dialiri oleh cairan logam panas. Setiap kali mencoba menarik napas dalam, aliran energi itu memicu rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang, membuat keringat dingin kembali membasahi punggungnya.
Namun di balik penderitaan fisik yang menyiksa itu, ia merasakan sebuah perubahan nyata yang mendebarkan.
Napasnya kini terasa jauh lebih panjang dan teratur. Pendengarannya tajam, ia bisa mendengar gesekan sayap serangga di balik kulit pohon yang jauhnya puluhan meter.
Langkah kakinya, saat mencoba berdiri, terasa lebih ringan, seolah-olah gravitasi dunia ini sedikit melonggarkan cengkeramannya pada tubuh fananya.
Ye Chenxu berdiri perlahan, merentangkan jemarinya dan mengamati telapak tangannya sendiri di bawah cahaya pagi yang remang.
Di sana, sebuah energi samar berwarna kelabu, setipis asap rokok, berputar lemah di sekitar kulitnya. Energi itu tampak rapuh, hampir tak terlihat, seolah akan lenyap jika ia berkedip terlalu lama.
Itu adalah hasil dari penyerapan satu permata siluman Serigala Batu Bermata Merah kemarin. Sebuah pencapaian besar bagi "si sampah" dari Klan Ye, namun bagi sang Dewa Kehampaan, itu hanyalah setetes air di tengah samudra yang kering.
“Masih terlalu lambat,” gumamnya lirih. Suaranya pecah, membawa nada ketidakpuasan yang dalam.
Bayangan tentang pengkhianatan di puncak kehampaan masih menghantuinya seperti duri yang tertanam di dalam jiwa.
Musuh-musuhnya adalah penguasa dimensi, entitas yang mampu menghancurkan ribuan dunia hanya dengan sekali ayun pedang.
Waktu tidak pernah menjadi sekutu bagi mereka yang jatuh, dan Ye Chenxu tahu benar bahwa ia harus melaju lebih cepat, mendaki lebih tinggi, tanpa melakukan satu pun kecerobohan yang fatal.
Tatapannya menyapu hutan di sekitarnya, bukan lagi dengan mata seorang pemuda yang ketakutan, melainkan dengan naluri seorang predator purba.
Ye Chenxu kembali menutup matanya dan melepaskan kesadaran ilahinya yang masih rapuh untuk menyatu dengan frekuensi alam.
Naluri Dewa Kehampaan membimbingnya, merasakan denyut-denyut energi yang tersembunyi di balik materi.
Ia merasakan sebuah getaran kuat—denyut kehidupan siluman yang lebih padat dan lebih ganas—berasal dari arah lembah sempit yang tersembunyi di balik tebing batu besar di sebelah timur.
Tanpa membuang waktu, Ye Chenxu mulai bergerak. Langkahnya menyusuri lereng terjal yang dipenuhi semak berduri dan batuan licin akibat lumut pagi.
Setiap gerakannya diatur dengan presisi yang mengerikan. Ia memanfaatkan teknik Langkah Kehampaan tingkat dasar, setiap kali kakinya menyentuh tanah, dia seolah-olah memindahkan berat tubuhnya ke celah ruang yang berbeda, membuat langkahnya tidak menimbulkan suara dan jejaknya hampir tidak terlihat.
Bagi siluman-siluman tingkat rendah yang mungkin berpapasan dengannya, ia kini hanyalah sekelebat bayangan yang lewat bersama angin.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sebuah suara geraman berat yang menggetarkan dada mulai terdengar dari balik rimbunnya pepohonan kuno.
Ye Chenxu segera merapatkan tubuhnya ke sebuah batang pohon besar yang kulitnya kasar dan berlumut. Ia menahan napas, menekan denyut jantungnya hingga ke titik terendah, dan mengintip ke arah lembah kecil di depannya.
Di sana, seekor Beruang Punggung Perunggu tengah sibuk menggali tanah dengan cakar-cakarnya yang mengerikan.
Binatang itu sedang mencari umbi roh yang tertanam di bawah akar pohon. Tubuhnya luar biasa besar, setinggi dua manusia dewasa jika ia berdiri tegak.
Bulunya tidak tampak seperti rambut, melainkan lebih mirip dengan lapisan baja kelabu yang kasar.
Yang paling mencolok adalah di sepanjang tulang punggungnya, di sana tumbuh tonjolan-tonjolan keras berwarna perunggu gelap yang memancarkan aura berat.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭