NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Cium Pipi

Cowok itu merunduk memainkan kunci motor di tangannya sambil tersenyum-senyum riang dengan pipi merona bodoh sejak tadi seraya memasuki rumah orang tuanya.

"Fattah, pulang!"

Tidak ada jawaban, membuat Fattah berjalan ke ruang tengah.

"Iya sayangku, iya. Aku juga nggak sabar rayain hari balikan kita yang ke 2 hari."

Fattah ternganga heran melihat Rebecca-adiknya, yang berselisih satu tahun darinya sedang video call sama kekasihnya.

"Makanya, kamu jangan bikin aku bete lagi, deh! Awas aja gitu lagi, aku putusin kamu dan cari cowok baru aja pokoknya." Rebecca menatap layar ponselnya, "Untung kamu ngajak aku balikan, nggak bayangin deh kalau kita putus selamanya."

"Ya iya, lah. Aku cinta mati banget sama kamu. Bahkan kalau disuruh ngelupain kamu, aku mau ke kelurahan dulu. Minta surat keterangan tidak mampu."

Fattah mengalihkan wajah, enek sendiri melihat gombalan Rebecca.

Mana garing pula.

Karena tak tahan, Fattah langsung melompat ke belakang Rebecca dan bergabung rusuh di sana, membuat Rebecca terlonjak.

"Bang Galen, jangan percaya, bang! Kemarin Eca habis titip salam kangen ke Noel," adunya.

Rebecca membelalak karena fitnah dakjalitu.

"Nggak, nggak bohong. Mana ada kayak gitu? Sayang, jangan percaya omongan aligator satu ini," kata Rebecca panik.

Fattah masih menempelkan pipinya ke pipi Rebecca ingin masuk ke layar.

"Dia bilang kalau Noel lebih ganteng dari elo. Eh, kemarin Eca juga bilang kalau Fares makin hari makin gemesin," kata Fattah, "Pokoknya jangan percaya sama mulutnya Sancawati!"

"HEEEE ANJENG!" Rebecca melotot dan mematikan video call, kemudian melompat mengejar Fattah yang berlari kabur, "ELO TUH EMANG TUKANG PHO, YA! TOBAT KAK YA ALLAH!"

Fattah berlari menghindari amukan Rebecca yang sudah melemparinya pakai bantal sofa.

"Sini nggak lo!?"

"Nggak mau," kata Fattah.

"Wah, rame-ASTAGA, INI APALAGI TUHANNN?" amuk Jordan-sang ayah yang terdorong kaget ketika Fattah ke belakangnya meminta perlindungan.

"Papi, kakak nih gangguin aku," adu Rebecca sebal, hendak melompat untuk menjambak rambut Fattah.

"Sudah-sudah, jangan ribut! Pusing papi baru pulang kerja," omel Jordan sambil duduk di sofa, "Fattah juga tiap pulang adiknya pasti di gangguin."

Rebecca bersorak senang merasa di bela dan memeletkan lidah pada sang kakak yang menonyornya cepat.

"Loh, Fattah pulang?" Amanda sang mama menuruni tangga.

"Mami!" panggilnya mendekat, "Mau cium, ya!" lanjutnya mengecup pipi sang ibu membuat Amanda terkekeh.

"Kamu nginep, kan? Biar mami suruh bibi bersihin kamar kamu."

"Enggak."

Amanda memicingkan mata, "Tumben pulang nggak nginep?"

"Ya aku nyaman di apartemen. Di sini ada penganggu."

Rebecca melirik sinis, "Gue denger ya, kak."

"Oh, ya udah. Sini!" ajak Amanda menarik tangan Fattah agar duduk.

"Tumben lo ingat rumah, kak? Pasti lo habis tawuran lagi, ya? Makanya sok baik-baikin papi sama mami, cih."

Fattah duduk di sofa tenang dan tersenyum lebar, "Udah tobat dong," jawabnya ceria membuat Rebecca mendelik.

"Halah, paling Minggu depan kumat."

Fattah tidak peduli dan merunduk ke ponselnya membalas chat Aqqela.

Aqqela: Nitip seblak boleh? :")

Fattah: Nggak mau.

Aqqela: Pelit banget lo.

Fattah: Bodo amat

Aqqela: Nanti uangnya gue ganti, deh.

Fattah: Emang punya uang?

Aqqela: Ada, nanti minta suami gue. Dia kaya 7 turunan.

"Gue, ya?"

Fattah tertawa kecil dengan senang, sudah larut dalam dunianya sendiri. Tersenyum-senyum riang dengan lesung pipi tak kunjung hilang.

Aqqela: Yang sekarang lagi merasa tersanjung

Tawa Fattah luntur dan mendelik maksimal.

Fattah: Nggak, dih. Geer banget lo.

Aqqela: Jangan lama-lama pulangnya! Elo belum kasih gue makan.

"Kangen, nih?" Ryshaka tersenyum miring.

Fattah: Habis ini pulang.

Aqqela: Ya.

"Cuek banget nih cewek," gerutunya.

Fattah: Y

Read

Fattah menghembuskan napas jengkel dan mengetik chat lagi.

Fattah: Tugas gue banyak banget, Za.

Aqqela: Kerjain, lah.

Fattah: Lo tau sendiri gue nggak pinter.

Andai istri gue peka mau ngerjain tugas gue.

Aqqela: Hilih

Fattah menggigit bibir, menahan tawa keras ingin meledak puas.

"Anying lah, anyinggemes."

Jordan dan Rebecca kompak melempar pandang, lalu menarik diri horor menatap cowok itu.

"Apa sih lo kak? Merinding gue," kata Rebecca menjauhkan diri takut-takut, "Elo ketempelan jin dimana?"

Fattah menoleh sengit, "Diem deh lo!" katanya merunduk ke HP lagi.

"Aduh, nggak sanggup gue di sini," kata Rebecca berpindah ke samping sang ayah.

Berbeda dengan Amanda yang malah tertawa melihat sang putra.

"Fattah udah punya pacar sekarang? Kok happy banget mukanya?" goda Amanda.

Fattah mendongak, "Belum, kok."

"Oh, masih pedekate, ya? Cantik nggak? Kenalin ke mami, dong!"

"Nggak tau, bingung."

"Hah, kok nggak tau? Hubungan tanpa status? Aduh, ya di sah-in dong sayang! Biar nggak ilang."

"Udah sah sih," balas Fattah keceplosan membuat Jordan jadi membelalak panik.

"Hah? Maksudnya?" tanya Amanda.

"Sayang, itu mending kamu siapin makan, aku lapar banget," kata Jordan memasang muka melas.

"Oh iya lupa, aduh. Bentar, ya!" kata Amanda dan berdiri.

"Eca, sana ikut mami! Kamu itu loh, anak cewek masa nggak pernah ikut maminya ke dapur?" omel Jordan.

Rebecca memanyunkan bibir dan menurut. Walau sempat-sempatnya menoleh sengit ke Fattah.

Sepeninggal keduanya, Jordan menoleh galak ke Fattah.

"Hampir aja kamu keceplosan. Kamu mau hah, papi di cambuk sama mami kamu karena udah nikahin putranya diem-diem?" omel Jordan geram.

"Ya, maaf! Fattah kan lupa."

Jordan mencibir sinis, "Udah baikan? Nggak minggat lagi dia, kamu tinggal begini?" sindirnya.

"Enggak, lah. Sekarang, Fattah nggak mau berantem-berantem lagi sama Aqqela," katanya sungguh-sungguh.

"Halah, bentar lagi juga kamu di tinggal. Kan dia pacaran sama Oliver."

"Ya jangan, dong."

"Kenapa? Udah suka beneran kamu?"

Fattah mengerjap pelan, "Eh, nggak tau, ya?"

Jordan ternganga melihat putranya.

"Aku pikir-" Fattah terdiam saat ponselnya berdering.

Aqqela is calling...

"Bentar pi, aku angkat telpon dulu," pamitnya membuat Jordan mengangkat alis.

"Halo, Ca?" serunya sambil menjauh dari sang ayah.

"Fattah, gue beneran nitip seblak, loh. Awas ya kalau nggak di beliin, gue cekek lo."

"Cerewet banget sih lo. Iya-iya gue beliin."

Samar-samar, suara obrolan mereka tertangkap indra pendengaran Jordan, membuatnya tersenyum.

Entahlah, melihat putranya yang dulu sempat nyaris depresi berat karena kehilangan kekasihnya, sekarang bisa se-ceria itu lagi, rasanya...melegakan.

Jordan membenci Michael, karena perbuatannya membuat kehidupan putranya hancur. Tapi Jordan sadar, jika Aqqela memberikan banyak warna baru di hidup Fattah.

***

Aqqela terlihat tengkurap di atas kasur kamarnya sambil membalikkan halaman buku Fisika-nya dan menulis rangkuman di buku catatan.

"Fattah, volume musiknya jangan kenceng-kenceng dong, gue lagi belajar. Gue sundul ya lo," teriak Aqqela.

"IYA!" sahutan dari luar, membuat Aqqela mendengus sebal dan lanjut menulis.

Ceklek!

Sosok Fattah masuk sambil membawa segelas jahe susu hangat.

"Lo segitu frustasinya gue tinggal minggat kemarin, sampai rambut lo ubanan gitu?" sindir Aqqela menatap kotoran putih-putih di rambutnya.

Fattah mendelik, "Ini gara-gara habis cari buku resep di gudang, jadi rambut gue kotor."

"Buku resep?"

"Nih, minum! Flu kan lo?"

Aqqela agak kaget meraih minuman hangat itu, "Tumben baik? Ada maunya ya lo?" tudingnya curiga.

diri." "Ck, gue selalu baik. Lo aja yang nggak tau

Aqqela meneguk minuman itu, membuat Fattah menatapnya.

"Kenapa? Elo berharap gue muji minuman lo?"

katanya meledek balik kelakuan Fattah dulu saat sakit.

Fattah ternganga, "Serius, enak nggak?"

"Iya."

Fattah tersenyum senang, lalu menatap Aqqela yang kembali membaca bukunya.

"Lo belajar?"

"Bukan, lagi ngemilin batako, nih."

"Bisa nggak, jawabnya yang serius?" katanya malas.

Aqqela terkekeh.

"Kok gue baru tau kalau lo bisa baca?" katanya membuat Aqqela melirik.

"Nggak usah ganggu, deh! Sana lo minggat!" usirnya sebal.

"Dih, ngusir? Orang ini apartemen gue. Suka-suka lah," cibirnya.

"Lo nggak belajar apa?"

"Nggak. Gue mau pergi balapan malam ini."

Aqqela melirik sinis, "Pantesan rangking lo paling bawah di IPS. Mending lo belajar."

Fattah menipiskan bibir, "Gue nggak pernah belajar, sih. Terakhir sama Arsen bulan lalu. Itu pun di paksa sama pak Dafi."

"Gue nggak mau punya suami bego."

Fattah membelalak lebar, merasa tersinggung, "Gue bukan bego, cuma males. Gue ikut belajar sama lo, boleh?"

Aqqela mengangguk, membuat Fattah langsung berlari keluar kamar mengambil bukunya.

"Nggak usah lari-larian, gue tungguin," kata Aqqela.

Tidak lama, Fattah kembali dan menaiki kasur-tengkurap di sebelah Aqqela, membuat lengan mereka bersentuhan.

"Kita mau belajar apa? Sejarah? Matematika?

Ah-ekonomi?" Fattah menoleh semangat padanya membuat Aqqela mendelik horor.

"Kenapa elo jadi semangat banget belajarnya? Perasaan tadi enggak."

"Entar kalau gue males, elo nggak mau ngajarin. Ck, salah terus ya gue di mata lo?" keluhnya.

"Coba mana bukunya!"

Fattah langsung memberikan, membuat Aqqela menopang pipi melihat buku catatan Fattah yang terdapat tulisan bulat kasar.

"Ini tulisan atau ceker Avatar, sih? Jelek banget." Aqqela memicingkan mata ke buku Fattah.

"Nggak usah ngatain!" kata Fattah datar.

"Serius, nggak bisa di baca. Terus kenapa catatannya cuma selembar doang? Elo nggak pernah nulis?"

Fattah menggeleng, membuat Aqqela mendelik tak habis pikir.

"Mending lo baca dulu deh di buku paket! Biar nggak bego-bego banget waktu pembahasan nanti," kata Aqqela membuat Fattah melirik sinis.

"Ya udah, sini!" Fattah meraih bukunya dan mulai membaca.

"Kalau belajar, poninya di jepit, biar nggak ganggu." Aqqela menarik poni rambut Fattah ke atas, kemudian menjepitnya pakai jepitan teddy.

"Ck, paan nih, kayak anak cewek," keluhnya hendak mengambilnya.

"Heh, udah! Sementara doang," omel Aqqela melihat rambut belakang Fattah yang kotor, "Elo tuh habis nyasar kemana aja, sih? Kotor banget rambutnya."

"Kan udah di bilang dari gudang," kata Fattah sambil menatap buku.

"Kayak gembel tau."

Fattah melirik sinis, "Bersihin, dong! Jangan komentar doang!"

Aqqela mencibir-namun menurut, mengacak-acak sedikit rambutnya, agar kotorannya jatuh.

"Kayak anak kecil. Udah nih, udah bersih."

lagi. Fattah masih merunduk membaca LKS-nya

"Thanks!"

Aqqela mengangguk, "Belajar yang bener loh habis ini! SPP mahal. Ya... seenggaknya bokap lo nggak rugi-rugi banget sekolahin elo."

Fattah menoleh, "Kenapa elo mendadak bawel? Gue berasa kayak lagi di omelin pacar," tanyanya sambil tersenyum miring, "Ah, elo udah mulai sayang sama gue, ya?" ledeknya.

"Stop halu!" kata Aqqela, "Belajar lagi sana! Yang rumus-rumus itu tulis di buku, biar hapal."

Fattah mendesis jengkel dan meraih bolpoin -mulai menulis.

***

Sudah satu jam Aqqela dengan kegiatannya menerangkan pelajaran ke Fattah, sementara cowok itu justru menguap lebar sambil menggaruk kepalanya.

"Nah, habis ketemu yang x ini, langsung cari y-nya. Masukin hasil x ini, di kali sama 2. Paham?"

Hadeh, sampai mual kepala gue dari tadi nggak paham-paham.

"Oh, cari y-nya, ya? Iya-iya gue paham," balas Fattah membuat Aqqela memicingkan mata.

"Paham beneran nggak?"

"Iya, paham."

Aqqela kembali menjelaskan.

Tapi Fattah malah asik sendiri menaruh bolpoin ke atas bibirnya yang manyun supaya seimbang.

Tidak sadar lirikan sinis yang di layangkan Aqqela padanya.

"Elo dengerin penjelasan gue nggak, sih?"

omel Aqqela naik pitam membuat Fattah terlonjak dan segera menyembunyikan bolpoinnya.

"Elo dari tadi sibuk sendiri. Nggak hargain gue. Ya udahlah terserah," kata Aqqela memilih belajar sendiri dengan wajah masam.

"Enggak, enggak. Tadi di dengerin kok. Ya udah maaf, ayo belajar lagi!" kata Fattah.

"Nggak usah," jawab Aqqela.

Merasa di abaikan, Fattah langsung menarik kunciran rambut Aqqela iseng.

"Apa, sih? Nggak usah usil!" Decak Aqqela menoleh sengit.

"Makanya, ajarin lagi!" Fattah merangkul pundak Aqqela dan mengguncang tubuh cewek itu gemas.

"Nggak mau." Aqqela membuang muka dan lanjut menulis catatan sambil manyun.

"Kenapa manyun? Ngode minta cium?"

Aqqela mendecih, tidak menggubris.

Membuat Fattah jadi kelimpungan sendiri karena terus di diamkan. Dia segera meraih sesuatu.

Aqqela tersentak saat cowok itu justru menempelkan sticky notes di keningnya.

Dengan wajah keruh, Aqqela mengambilnya.

-Sorry()~

Aqqela tetap tidak peduli.

Fattah yang kesal, langsung menempelkan sticky notes lagi di kening Aqqela yang mendecak, meraihnya.

-Muka lo kalau lagi ngambek kayak gini Ca aa

Tawa Aqqela seketika meledak, "Masa jelek banget gini?"

Fattah mengangguk, "Udah nggak marah, kan?"

Tawa Aqqela luntur dan wajahnya datar lagi, "Bodo."

"Ck, ayo belajar lagi! Kali ini gue beneran, nggak main-main. Ya?"

Intonasi lucu seperti anak-anak itu, membuat Aqqela terkekeh pelan dan mengacak-acak rambut Fattah gregetan, "Iya-iya, bawel."

Fattah tersentak. Diam-diam menahan senyum, lalu memandang Aqqela dingin.

"Nggak usah usep-usep, deh! Gue bukan anak kecil," cibirnya sok sinis.

"Dih?" Dia malah terkekeh.

Fattah mulai serius belajar dan manggut-manggut mendengarkan penjelasannya.

"Ck Ca...nggak ngerti juga. Ini apa, sih?"

keluhnya.

"Hadehhh, susah emang kalau udah bloon," katanya membuat Fattah mengumpat, "Ini namanya sistem eliminasi. Cara ini lebih gampang. Samain koefisien-nya dulu, nanti bisa ketemu x sama y-nya!"

"Oh..." Fattah mengangguk paham.

"Coba lo kerjain soal yang nomor dua! Caranya sama, angkanya doang yang beda," suruhnya.

Fattah menurut dan meraih pensil.

Aqqela menopang pipi, memandangi cowok yang tengkurap di sebelahnya.

"Fat, kenapa lo milih buat jadi bandel dan urakan? Elo ngerasa bahagia ya, saat semua orang cap lo berandalan? Atau ketua gengster?" tanyanya serius.

Fattah menoleh, "Kenapa?"

"Gue penasaran aja, kenapa orang-orang milih jadi bandel, padahal hidup lurus lebih enak? Dan setau gue, rata-rata orang bandel itu, dia yang bermasalah di keluarganya. Tapi gue lihat... keluarga lo harmonis kok," kata Aqqela menatapnya.

"Gue kayak gini terbentuk karena lingkungan." Fattah lanjut menulis jawabannya, "Bagi gue, waktu remaja, melanggar peraturan itu adalah hal yang wajib di coba."

"Gaya lo sok paling yes."

Fattah terkekeh, "Lo mau gue ajarin jadi bandel?"

Aqqela mendelik, "Nggak deh, makasih!"

"Kenapa lo tiba-tiba bahas ini? Lo nggak suka cowok bandel, ya?"

"Bukan. Gue nggak suka nge-hakimi sesuatu tanpa mau lihat sudut pandangnya. Tapi saran gue...tau batasan aja kalau mau nakal. Jangan terlalu sering minum alkohol, itu ngerusak badan lo."

"Hm?"

"Dunia udah kejam sama lo dengan ambil Sandrina. Jadi jangan jahat ke diri sendiri juga. Dia nggak salah."

Fattah terpana. Dia tidak bisa menahan untuk tak tersenyum. Bahkan dia meraih kedua pipi Aqqela, menariknya gemas, membuat Aqqela membelalak kecil dan mendorong jidatnya menjauh.

"Lo cari mati, ya?" omelnya sebal sambil menjewer telinga cowok itu, menyadari bahwa Fattah ingin menciumnya.

"Sakit, anjir. Gila lo ya? Aduh," gerutunya mengusap telinganya.

lo." "Makanya jangan rese! Nyosor mulu kerjaan

"Lah, istri gue," balas Fattah tak mau kalah.

"Tapi beneran loh, Ka. Elo nggak boleh sampai pakai obat terlarang gitu. Kasihan image orang tua lo juga. Dan jangan suka tawuran lagi!"

"Iya bawel, udah enggak," jawab Fattah gemas, "Udah selesai nih, cek dulu! Gue mau ambil charger."

Aqqela mengangguk meraih buku Fattah, sementara cowok itu keluar dari kamarnya.

"AZAAAAAAAAAAAAAAA!"

Aqqela terlonjak kaget setengah mati saat Fattah memasuki kamarnya sambil melompat ke kasur.

"Ini maksudnya apa?" tanya Fattah geram, memperlihatkan foto yang di kirimkan Noel padanya.

"Apa, sih?"

Mata gadis itu melebar melihat sebuah screenshoot foto, dimana saat pipinya di cium Oliver waktu di mall.

Dan foto di posting di akun Instagram Oliver, dengan caption, "Te quiero♡".

"Apa-apaan kayak begini? Kenapa lo mau di cium sama Oliver, sementara sama gue nggak pernah mau?"

Aqqela mendesah pelan, "Itu foto udah lama," katanya ngeles-enggan berdebat.

"Cih, nggak mungkin. Elo aja udah pakai seragam SMA Taruna. Ini pasti yang di mall waktu itu, kan? Waktu gue marah-marah? Iya, kan?" tudingnya marah.

Aqqela mengulum bibirnya sebentar dan mengangguk, "Iya. Tapi itu Oliver tib-"

"TUH, KAN!" Fattah menghembuskan napas panjang, menggeram dan belingsatan sendiri, "Kenapa lo harus kayak gitu? Kalau mau pacaran ya pacaran aja, nggak usah cium-cium kayak gini juga," katanya marah-marah.

"Kan Oliver yang nyium. Bukan gue."

"Tetep aja itu yang di cium pipi lo, bukan pipinya pak Bondan. Kenapa lo diem aja waktu di cium?" katanya makin naik pitam.

"Bukan gitu..."

"Bukan gitu apa? Ini buktinya udah ada, kan? Ya masa elo...ck ya udahlah terserah lo." Fattah melempar HP-nya kesal.

Aqqela meruntuk kecil.

Baru juga baikan, udah ada tsunami aja.

"Ya terus gimana? Udah terlanjur," balas Aqqela.

"Lo pasti seneng kan di cium sama Oliver begini. Iya, kan? Udahlah, lo tuh emang nggak bisa di percaya," katanya mengalihkan wajah, karena benar-benar marah sekarang.

Aqqela merapatkan bibir. Walau sok menulis -berlagak tidak peduli, dia diam-diam melirik Fattah yang kini mengeraskan rahang samar.

Cowok itu sepertinya benar-benar tersinggung sekarang.

"Gue minta maaf!"

"Nggak usah ngomong sama gue!" amuk Fattah lalu menelungkupkan wajahnya di bantal.

Aqqela menggaruk pelipisnya, benar-benar bingung bagaimana harus meredakan emosinya.

"Apa, sih? Kok lo jadi ngambek beneran gini?"

"Udah gue bilang, lo nggak usah ngomong apa-apa!" katanya menoleh tajam. Fattah melengos keras, kembali menutupi wajahnya pakai bantal.

Aqqela mencibir pelan, dan meraih ponsel Fattah yang memperlihatkan foto dirinya dan Oliver.

Aqqela menghela napas.

"Nanti gue suruh Oliver hapus fotonya. Ya?

Udah, nggak usah marah lagi!" kata Aqqela dewasa, tetapi Fattah masih menyembunyikan wajahnya pakai bantal dengan posisi tengkurap.

Aqqela mendengus tak habis pikir melihatnya.

Sejak kapan cowok monster itu jadi se-menggemaskan ini?

"Fattah, ini jawaban lo salah. Sini gue ajarin lagi!"

"Nggak perlu."

Aqqela menghela napas.

"Terus lo maunya gue gimana?"

"Gue nggak peduli."

Aqqela menipiskan bibir sesaat.

Dia mengalihkan wajah sambil menggigit bibir, mencoba untuk meyakinkan diri.

"Fat-Fattah!" hebohnya menepuk bahu cowok itu, "Fatt, lihat deh! Itu cicaknya lagi kawin. Hihhh, lucu banget."

Fattah mendongak jengkel, "Mana?" tanyanya serak menoleh mencari.

"Itu di sana!" Aqqela menunjuk.

Fattah mendelik kecil seakan baru sadar, lalu menatap Aqqela geram, "Kenapa juga gue ngurusin cicak lagi ka-"

CUP!!!

Fattah membelalak saat Aqqela tiba-tiba mencium pipi kanannya. Mulut Fattah terbuka samar sambil memegangi pipinya pakai tangan-masih syok tak menyangka.

Fattah mengerjap pelan, berusaha menguasai diri. Meski tidak bisa di pungkiri, dia mati-matian menggigit bibir menahan senyum lebarnya dengan pipi memerah padam.

Sial, dia ambyar.

Fattah berdehem sok cool. Menoleh sengit ke Aqqela yang jadi gelagapan panik dan buru-buru menelungkupkan wajahnya ke bantal, merasa malu sambil meruntuki kebodohannya.

"Wah, apa nih lo cium-cium?" tanya Fattah membuat Aqqela makin meruntuk.

Gadis itu berdehem sok cool, "Buruan belajar lagi. Banyak omong lo," katanya sok galak.

"Mulai centil ya lo sekarang?" tanya Fattah sok kesal, membuat Aqqela membuang muka.

"I-ini...anu, jawaban lo salah deh. Benerin dulu," kata Aqqela berlagak sibuk lagi dengan buku-bukunya.

"Nggak bisa nih, nggak terima gue. Ini namanya pelecehan. Bisa gue laporin ke polisi," kata Fattah serius membuat Aqqela mendelik.

"Apaan sih lo? Alay. Daripada lo ngamuk gitu. Biar adil, kan?"

Fattah mengalihkan wajah, menahan senyum ceria. Rasanya dia pengen salto sekarang, tapi sayangnya dia harus jaga image.

"Kalau mau adil, yang kiri di cium juga, dong!" pintanya.

Aqqela membelalak dan menjambak rambut Fattah sesaat dengan kesal, membuat Fattah merintih kaget.

"Nggak usah nyebelin, ya!"

"Nggak nyebelin kok," kata Fattah mencolek pipi Aqqela.

"Apa sih, colek-colek? Nggak usah centil. Gue botakin tau rasa," katanya geram.

"Galak banget. Padahal elo lebih centil," kata Fattah tak mau kalah membuat Aqqela mengumpat.

"Serah lo lah," katanya membuang muka malas.

Fattah mengulum senyum, "Yakin, nggak mau yang kiri juga? Gratis kok nggak usah bayar. Kapan lagi lo bisa cium cowok ganteng?" katanya iseng sambil merapatkan tubuhnya ke Aqqela.

Aqqela menggeser tubuhnya agak menjauh, "Nggak mau."

"Mau," balas Fattah halus sambil menggeser tubuhnya mendekati Aqqela lagi.

"Nggak mau, Fattah! Deketan lagi awas ya!" ancamnya serius dengan bibir cemberut sambil sok menulis di bukunya.

Fattah terkekeh pelan dan merengkuh kepala Aqqela, membuat gadis itu memekik kaget, dengan wajahnya menempel di leher Fattah.

"Gemesin banget sih lo," katanya mengacak-acak rambutnya.

Aqqela tidak menjawab dan hanya diam membaca bukunya lagi, walau Fattah malah iseng memainkan pipi Aqqela dan di tarik-tarik gemas.

"Eh, lo deg-degan nggak waktu cium gue?" tanyanya iseng.

Aqqela membelalak saat di tanya begitu.

"Ck, paan sih lo?" katanya sewot.

"Ya kan pengen tau," balas Fattah tak mau kalah, "Ayo bilang!" godanya.

Rasanya Aqqela ingin menenggelamkan mukanya ke rawa-rawa sekarang.

Fattah menahan tawa, "Eh, lo ada rencana buat sayang gue nggak?"

Aqqela makin membelalak, "Nggak usah bahas aneh-aneh ya, Aqqela! Belajar!"

Fattah melengos, "Ya udah lah, lagian kan yang lo sayang emang si Oliver Obet itu."

"Oliver Roberts."

"Giliran Oliver aja di bela-bela, cih."

"Mulai dramanya. Udah deh, nggak usah pundungan!"

"Hoo, gue pundung. Cium pipi gue lagi, cium, biar gue nggak pundung," katanya sungguh-sungguh.

Aqqela mendelik tak habis pikir, "Dasar kardus pro!"

Fattah malah tertawa dan menggelitik pinggang Aqqela membuat cewek itu meronta kegelian. Tak mau kalah, Aqqela malah memiting leher Fattah, membuat keduanya bergulat ceria di sana.

Fattah tidak pernah tau, bahwa bersamanya, waktu bisa jadi se-menyenangkan ini.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!