Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Buta
Dua minggu setelah suami Ima pergi, hubungan Rizky dan Ima semakin intens. Hampir setiap pulang sekolah, Rizky selalu mampir ke rumah Ima. Kadang hanya untuk makan siang bersama, kadang untuk bercinta, kadang hanya untuk berbaring berdua sambil menonton televisi.
Rizky mulai merasa nyaman dengan rutinitas baru ini. Terlalu nyaman.
"Lo tahu nggak, lo udah jarang banget kumpul sama kita?" Wira protes suatu hari saat mereka duduk di kantin. "Gue, lo, sama yang lain dulu tiap minggu main futsal. Sekarang lo nggak pernah muncul."
Rizky mengangkat bahu. "Gue sibuk, Ra."
"Sibuk apa? Sibuk ngecengin Bu Ima?" Wira mendesis pelan. "Zky, sadar. Lo tuh udah kecanduan. Hidup lo cuma dia, dia, dan dia."
"Emang salah?"
"Salah? Nggak salah. Tapi nggak sehat. Lo liat diri lo sendiri. Kurus, mata panda, nilai turun. Apa lagi yang lo korbankan buat dia?"
Rizky membisu. Sebenarnya ia tahu Wira benar. Tapi bagaimana cara berhenti ketika ketagihan sudah mendarah daging?
Ponselnya bergetar. Dari Ima.
"Pulang sekolah ke sini ya. Ima masak sop iga kesukaan kamu."
Rizky tersenyum membaca pesan itu. Wira yang melihatnya hanya bisa menggeleng.
"Lo kayak anjing kesayangan yang dipanggil majikan," gerutu Wira. "Dia kasi lo makanan, lo lupa diri."
Rizky memasukkan ponsel ke saku. "Gue pergi dulu, Ra. Istirahat mau habis."
Wira menahan lengannya. "Zky, satu hal. Lo yakin cuma lo yang dia ajak kayak gini?"
Rizky menatapnya tajam. "Apa maksud lo?"
Wira menghela napas. "Gue cuma bilang... lo nggak tahu kan apa yang dia lakukan kalau lo nggak di sana? Jangan-jangan lo bukan satu-satunya."
"Lo jangan asal ngomong, Ra."
"Gue nggak asal ngomong. Gue cuma nyariin lo. Pikir aja sendiri."
Rizky pergi meninggalkan Wira dengan perasaan campur aduk. Kata-kata temannya itu menancap di kepalanya seperti paku.
---
Sepulang sekolah, Rizky meluncur ke rumah Ima. Ima menyambutnya dengan senyum dan ciuman di pipi. Wangi masakan tercium dari dapur.
"Kamu capek?" tanya Ima sambil mengelus punggung Rizky.
"Biasa."
"Muka kamu kok kusut? Ada apa?"
Rizky menggeleng. "Nggak papa."
Ima menatapnya lekat. "Jangan bohong sama Ima. Cerita."
Mereka duduk di sofa ruang tamu. Rizky menghela napas panjang.
"Ima... selama ini Ima cuma sama Rizky aja, kan?"
Ima mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
"Maksud gue... apa Ima pernah deket sama murid lain? Sebelum Rizky?"
Ima diam. Matanya menghindar.
Pertanda buruk.
"Ima..." desak Rizky.
Ima menghela napas. "Rizky, sebelum kamu... Ima emang deket sama beberapa murid. Tapi nggak ada yang kayak kamu."
Rizky merasa dadanya sesak. "Beberapa?"
"Iya. Tapi itu coba-coba doang. Nggak serius."
"Siapa aja?"
Ima menatapnya. "Kenapa kamu tanya? Apa ini penting?"
"Penting buat gue."
Ima menghela napas lagi. "Ada... Dani. Kelas XII IPA 3 tahun lalu. Terus ada... Andi, kelas XI IPS 1. Udah, cuma itu."
Rizky menghitung. Dua orang. Dua murid lain sebelum dirinya.
"Waktu mereka lulus, Ima putusin?" tanya Rizky.
Ima mengangguk. "Iya. Mereka lanjut kuliah. Hubungannya nggak mungkin dilanjutin."
"Dan sekarang gue... bakal gitu juga?"
Ima meraih tangan Rizky. "Sayang, kamu beda. Ima sayang kamu."
"Tapi pas gue lulus nanti? Ima bakal cari lagi? Bakal deket lagi sama murid lain?"
Ima tak menjawab. Diamnya lebih menyakitkan daripada seribu kata.
Rizky menarik tangannya. "Jawab, Ima."
"Ima nggak tahu, Rizky. Ima nggak bisa janji. Yang Ima tahu, sekarang Ima sayang kamu."
Rizky bangkit berdiri. "Gue pulang."
"Rizky, tunggu—"
"Gue bilang gue pulang!"
Rizky ke luar dari rumah Ima dengan langkah cepat. Ia menyalakan motor dan melaju kencang, meninggalkan Ima yang berdiri terpaku di depan pintu.
---
Malam itu, Rizky tak membalas pesan Ima. Ia mematikan ponselnya dan merebahkan diri di kasur. Pikirannya kacau balau.
Dani. Andi. Mungkin masih ada yang lain yang tidak diceritakan Ima.
Rizky merasa bodoh. Selama ini ia mengira hubungan mereka spesial. Ternyata ia hanya satu dari sekian banyak. Hanya pengisi waktu saat suami Ima pergi. Hanya mainan yang bisa dibuang saat tidak diperlukan lagi.
Pintu kostnya diketuk. Wira masuk tanpa menunggu jawaban.
"Lo kenapa? Ponsel mati. Gue khawatir."
Rizky tak menjawab. Wira duduk di samping kasur.
"Cerita, Zky."
Dan Rizky pun cerita. Tentang Dani. Tentang Andi. Tentang ketakutannya bahwa ia hanya satu dari banyak.
Wira mendengarkan tanpa menyela. Saat Rizky selesai, ia menghela napas panjang.
"Gue udah bilang, kan?" katanya pelan. "Dia tuh bukan cuma sama lo. Dia punya sejarah."
"Gue tahu. Tapi gue nggak nyangka..."
"Lo nggak nyangka karena lo buta. Lo cuma lihat sisi manisnya. Ciumannya. Sentuhannya. Tapi lo nggak lihat siapa dia sebenarnya."
Rizky menatap Wira. "Terus gue harus gimana?"
"Lo harus mutusin. Mau terus kayak gini, sadar kalau lo cuma salah satu dari banyak? Atau lo berhenti sekarang, sebelum tambah sakit?"
Rizky membisu. Ia tahu jawabannya. Tapi melakukannya? Itu cerita lain.
---
Dua hari Rizky tak datang ke rumah Ima. Dua hari ia tak membalas pesan Ima. Dua hari ia berusaha keras melupakan.
Tapi malam kedua, Ima datang ke kostnya.
Rizky terkejut saat membuka pintu dan melihat Ima berdiri di sana, dengan gamis panjang dan hijab, wajahnya basah air mata.
"Rizky..." bisik Ima.
"Ima? Lo gila? Ke sini jam segini?"
Ima masuk tanpa diminta. Ia memeluk Rizky erat.
"Ima minta maaf. Ima salah. Ima nggak seharusnya sembunyiin semuanya dari kamu."
Rizky diam, tubuhnya kaku.
"Tapi Ima jujur, Rizky. Mereka nggak ada artinya. Cuma pelarian. Tapi kamu... kamu beda. Kamu bikin Ima jatuh cinta beneran."
Rizky mendorong Ima pelan. "Lo bilang gitu ke Dani? Ke Andi? Pas mereka mau pergi?"
Ima menggeleng. "Nggak. Ima nggak pernah bilang sayang ke mereka. Cuma sama kamu."
Rizky menatapnya lama. Matanya mencari-cari kebohongan. Tapi yang ia lihat hanya ketulusan.
Atau mungkin ia terlalu bodoh untuk melihat kepalsuan?
"Ima," suara Rizky serak. "Gue capek. Capek mikirin ini semua."
Ima mengusap wajahnya. "Ima tahu. Maafin Ima."
"Cuma satu yang gue mau tahu."
"Apa?"
"Jujur. Apa bakal ada lagi setelah gue?"
Ima diam sejenak. Lalu ia menjawab dengan suara berbisik, "Ima berjanji. Setelah kamu, nggak akan ada lagi. Ima berhenti."
Rizky menghela napas. Ia ingin percaya. Sangat ingin.
"Ima..."
"Ima serius, Rizky. Kalau Ima bohong, Ima rela... diapa-apain."
Rizky menatapnya. "Oke. Gue percaya lo."
Ima tersenyum, menangis, dan memeluknya lagi. Mereka berciuman di kamar kost Rizky yang sempit itu. Lalu malam itu, Ima tak pulang.
---
Keesokan harinya, Rizky dan Ima sepakat untuk lebih berhati-hati. Hubungan mereka harus lebih rahasia dari sebelumnya.
Tapi rahasia, sebaik apa pun dijaga, selalu punya cara untuk terbongkar.
Dua minggu kemudian, sebuah kejadian membuat dunia Rizky jungkir balik.
Saat Rizky masuk ke rumah Ima seperti biasa, ia melihat sepasang sepatu pria di teras. Bukan sepatu suami Ima—ia hafal betul sepatu itu. Ini sepatu lain. Sepatu kets merek terkenal, ukuran 42. Ukuran yang sama dengan sepatu Rizky.
Jantung Rizky berdegup kencang. Ia masuk perlahan. Dari dalam kamar, ia mendengar suara. Suara yang ia kenal. Suara Ima. Dan suara lain. Suara pria muda.
"Kamu manis banget," bisik Ima.
Rizky membeku. Ia berjalan mendekati kamar. Pintu kamar terbuka sedikit. Dari celah itu, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Ima, wanita yang semalam bersumpah setia padanya, sedang berbaring dengan pria lain. Pria muda. Mungkin seusia Rizky. Mungkin lebih muda. Wajahnya asing, bukan siswa SMA Negeri 6.
Rizky tak bisa bergerak. Ia hanya mematung, menatap adegan di depannya.
Ima tertawa. "Ima suka kamu, Nak."
Nak. Panggilan yang sama untuk Rizky. Panggilan yang dulu terasa manis, kini menusuk seperti ribuan duri.
Rizky mundur pelan-pelan. Ia ke luar dari rumah itu tanpa suara. Ia menaiki motornya dan melaju pergi.
Air mata mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rizky menangis. Bukan karena fisik, tapi karena hatinya benar-benar hancur.
---
Wira menemukan Rizky duduk di taman belakang sekolah, di tempat yang sama seperti dulu. Sudah gelap, lampu taman hanya menerangi sebagian.
"Zky? Lo ngapain di sini? Lo nggak pulang-pulang, kost lo gelap. Gue khawatir."
Rizky tak menjawab. Wira duduk di sampingnya.
"Ada apa?"
Rizky menoleh. Wajahnya basah, matanya sembab.
"Dia... dia selingkuh."
Wira menghela napas. "Selingkuh? Lo kan juga selingkuhin suaminya. Jadi kalian sama aja."
Rizky menggeleng. "Bukan gitu, Ra. Dia... selingkuh dari gue. Dengan orang lain."
Wira membelalak. "Maksud lo?"
"Gue lihat sendiri. Di rumahnya. Dia sama pria lain. Mungkin lebih muda dari gue."
Wira diam sejenak, mencerna informasi itu. Lalu ia menghela napas panjang.
"Gue udah bilang, Zky. Orang kayak dia... nggak bisadipercaya."
Rizky menunduk. "Gue bodoh, Ra."
"Lo nggak bodoh. Lo cuma jatuh cinta sama orang yang salah. Itu beda."
Mereka duduk diam di bawah lampu taman. Jangkrik bernyanyi di kejauhan.
"Sekarang lo mau ngapain?" tanya Wira akhirnya.
Rizky mengangkat bahu. "Gue nggak tahu."
"Lo mau balikan?"
"Nggak. Udah cukup. Gue udah muak."
"Bagus." Wira menepuk bahunya. "Itu keputusan yang tepat."
Rizky menatap Wira. "Tapi Ra... gue masih sayang dia."
"Itu wajar. Nggak bisa ilang dalam semalam. Tapi percaya sama gue, lama-lama lo bisa move on."
Rizky menghela napas. "Gue harap lo benar."
---
Tiga hari kemudian, Ima datang ke sekolah. Rizky menghindar. Setiap kali melihat Ima di koridor, ia berbalik arah. Ponselnya penuh dengan pesan dari Ima, tapi tak satu pun ia baca.
Sampai suatu sore, Ima mencegatnya di parkiran.
"Rizky!" Ima memanggil, suaranya setengah berbisik. "Tunggu!"
Rizky berhenti, tapi tak menoleh.
"Rizky, Ima tahu kamu marah. Tapi tolong, dengerin Ima dulu."
Rizky berbalik. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. "Buat apa? Lo mau bohong lagi?"
Ima terlihat tersentak. "Ima nggak—"
"Udah, Bu." Panggilan Bu kembali ia gunakan. Jarak. "Saya udah tahu semuanya. Saya lihat sendiri. Di rumah Ibu. Dengan pria itu."
Ima membeku. Wajahnya pucat pasi.
"Rizky, itu... itu bukan..."
"Apa? Bukan apa? Bukan selingkuh? Terus apa namanya?" Rizky tertawa getir. "Gue percaya lo. Gue percaya lo waktu lo bilang gue beda. Gue percaya lo waktu lo bilang berhenti. Dan lo..." suaranya pecah. "Lo permainin gue."
Ima meraih tangannya. "Rizky, tolong—"
Rizky menarik tangannya kasar. "Jangan sentuh gue. Udah cukup. Gue udah muak jadi mainan lo."
"Ibunya siapa yang mau dijadikan mainan?"
Suara berat dari belakang membuat mereka berdua terpaku. Rizky menoleh. Seorang pria tinggi besar berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya merah, matanya menyala.
Suami Ima.
Ima terlihat seperti melihat hantu. "Mas... Mas Heru... kok udah pulang?"
"Untung aku pulang lebih cepat, Ima." Suami Ima—Heru—berjalan mendekat. Matanya beralih ke Rizky. "Kamu muridnya?"
Rizky tak bisa menjawab. Lidahnya seperti kelu.
Heru menatap Ima. "Jadi ini laki-laki terbarumu? Anak kecil?"
"Mas, dengerin—"
"DIEM!" bentak Heru. "Aku dengar semuanya. Dari awal sampai akhir. Jadi kau selingkuh dengan murid sendiri?"
Ima menangis. "Maaf, Mas... maaf..."
Heru menatap Rizky. "Kamu, pulang. Ini urusan rumah tangga. Jangan ikut campur."
Rizky ingin lari, tapi kakinya tak bergerak.
"PERGI!" teriak Heru.
Rizky akhirnya tersadar. Ia berlari ke motornya dan melaju pergi. Di spion, ia melihat Heru menarik tangan Ima dengan kasar. Ima menjerit.
Tapi Rizky tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melarikan diri dari neraka yang ia ciptakan sendiri.
---
Malam itu, Rizky tak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi bayangan Ima yang ditarik suaminya. Apakah Ima baik-baik saja? Apa yang dilakukan Heru padanya?
Ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.
"Halo?"
"Ini Polsek setempat. Apakah Anda kenal dengan Ima Nurjanah?"
Jantung Rizky berhenti berdetak. "K-Kenapa?"
"Ibu Ima melaporkan suaminya melakukan KDRT. Kami perlu keterangan Anda sebagai saksi."
Rizky mematung. Dunianya runtuh dalam satu malam.
---