Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Jantung Axlyn berdetak tak menentu. Rasanya bagaikan bermimpi melihat Spencer yang membuang semua harga diri dan kehormatannya hanya untuk meminta maaf serta pengampunan dari dirinya. Mengingat Spencer yang dulu begitu sombong, angkuh, gila dan bahkan psikopat kejam yang tak pandang bulu pada siapapun. Axlyn bahkan merasa Spencer sedang kerasukan hantu baik, hingga bersikap sejauh ini.
“Aku tahu kau takut padaku,” lanjut Spencer. “Dan kau berhak takut. Lima tahun lalu… aku hampir membunuhmu dan juga Kakakmu.”
Kata-kata itu menggantung di udara, kasar dan menyakitkan. “Aku dibutakan oleh amarah, karena kau yang mengacaukan dan menghancurkan semua rencana besarku saat itu.” Ia menelan ludah. “Padahal akulah yang hampir menghancurkan hidupmu dan hidup Kay sepenuhnya.”
Axlyn merasa kakinya lemas. Ia tak pernah membayangkan pria itu akan mengakui kesalahannya, terlebih dengan cara seperti ini. Berlutut di bawah kakinya, penuh rasa bersalah dan penyesalan yang begitu mendalam.
“Aku menyesal,” bisik Spencer. “Setiap hari, setiap saat aku mengingatnya.”
Air mata Axlyn jatuh tanpa ia sadari. Inikah permintaan maaf yang ia tunggu selama ini? Permintaan maaf yang tulus dari orang yang menjadi penyebab kehilangan dan kehancuran hidupnya selama ini. Orang yang hampir membunuhnya dan juga kakaknya saat itu.
“Aku tak meminta kau memaafkanku,” lanjutnya.
“Aku hanya ingin kau tahu… aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Apalagi anak-anakmu…”
“…terlebih lagi itu juga anaknya Kay yang mengalir darah keluarga Xavier. Bisa-bisa aku beneran menjadi penghuni neraka jahaman, jika berani melukai darah Xavier.” Sambungnya lirih, terdengar seperti sedang bergumam pada diri sendiri.
Refleks, tangan Axlyn kembali melindungi perutnya. Spencer kembali beranjak dari sikap berlututnya. Ia menunduk hormat, seolah mengakui keberadaan dua kehidupan kecil di sana sebagai sesuatu yang suci atau sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
“Begini saja, aku akan memberimu pilihan,” kata Spencer kemudian.
“Pilihan?”
“Ya, pilihan pertama,” Spencer menatapnya lurus, “kau harus mengatakan semuanya pada Kay. Bahwa kau ‘lah perempuan yang selama ini dia dan keluarganya cari. Bahwa kau ‘lah wanita yang tidur dengannya saat di Praha. Dan…” Ia berhenti sejenak, sorot matanya turun ke perut Axlyn yang masih samar. “Tentang kehamilanmu.”
Dunia seakan berhenti. Axlyn memeluk dirinya sendiri tanpa sadar. Rahasia itu seperti bara yang ia simpan sendirian… hangat sekaligus membakar hatinya disaat yang bersamaan. Meski Spencer mengatakan bahwa Kay masih mencintainya, tanpa mengingat tentangnya dan keluarga Xavier pasti akan menerima dirinya dan juga anak dalam kandungannya. Entah mengapa Axlyn masih merasa ragu untuk mengungkapkan kebenarannya begitu saja.
“Kalau aku bilang sekarang,” suara Axlyn gemetar, “dia mungkin akan bersamaku karena terpaksa. Bertahan bukan karena cinta… tapi karena tanggung jawab terhadap anak ini.”
“Benar.” Spencer mengangguk. “Itu risikonya yang mungkin akan terjadi. Aku juga tidak bisa menjanjikan seratus persen untuk perasaan Kay saat ini jika tiba-tiba ia tahu bahwa kau adalah wanita yang dia cari selama ini.”
“Lalu pilihan kedua?” bisik Axlyn.
Spencer menarik napas panjang, seolah apa yang akan ia katakan sama beratnya. “Kamu tetap merahasiakannya.”
“Kamu tidak mengatakan apa pun tentang masa lalumu dengannya, tentang kejadian di Kota Xennor. Tidak tentang bahwa kau tidur bersamanya saat di Praha. Dan tidak tentang bayi itu.” Nada suaranya melembut. “Tapi sebagai gantinya, kamu bekerja sama denganku.”
“Bekerja sama?” Axlyn mengernyit.
“Aku akan membantumu membuktikan bahwa Kay bisa terus jatuh cinta padamu tanpa perlu mengingat masa lalu kalian.” Sorot mata Spencer berubah tajam, penuh keyakinan. “Bahwa cinta Kay padamu bukan sekadar ingatan. Bahwa meskipun memorinya hilang, hatinya tidak. Hatinya akan selalu memilihmu, Axlyn.”
Axlyn terdiam, tanpa berniat menginterupsi sedikitpun. Jujur saja, mendengar apa yang Spencer katakan barusan membuat hatinya merasa hangat. Seakan ia selalu dicintai tanpa syarat meskipun Kay sama sekali tidak mengingat tentangnya.
“Kita akan menguji perasaannya,” lanjut Spencer.
“Aku akan berpura-pura ingin mendekatimu sebagai lawan jenis. Menunjukan perhatian layaknya seorang pria yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Kalau dia tetap merasa tidak cemburu, maka semua ucapanku sebelumnya memang omong kosong. Namun, jika reaksi Kay sebaliknya… maka kamu akan tahu bahwa cintanya selalu nyata padamu.”
“Apa keuntunganmu?” tanya Axlyn lirih. “Kenapa kau melakukan ini?”
Spencer tersenyum tipis, getir. “Karena dia sahabat sekaligus saudaraku. Dan karena aku tidak sanggup melihatnya hidup dalam kebohongan. Entah itu kebohongan karena kau diam, atau kebohongan karena dia bertahan tanpa cinta.”
“Kamu harus memilih, Axlyn.” Suara Spencer kini tegas. “Mengatakan semuanya dan menerima kemungkinan dia tinggal karena rasa tanggung jawab… atau diam, dan membiarkan hatinya yang memutuskan tanpa tekanan.”
Axlyn membuka mata. Air mata menggantung, tapi tak jatuh. Di dalam dirinya, ada tiga denyut yang berdetak bersamaan yaitu miliknya dan milik dua kehidupan kecil yang belum mengenal dunia. Jika ia jujur sekarang, ia mungkin mendapatkan Kay kembali… tapi dalam bayang-bayang kewajiban. Jika ia memilih diam, ia mempertaruhkan segalanya pada sesuatu yang tak terlihat seperti cinta tanpa ingatan.
“Berapa lama aku punya waktu untuk memilihnya?” tanya Axlyn akhirnya.
“Tidak lama,” jawab Spencer pelan. “Keluarga Kay hampir menemukanmu. Kalau bukan darimu, kebenaran itu akan datang dari orang lain. Sebentar lagi aku harus pergi menemui Kay untuk menyelesaikan sedikit masalah. Jika kau memilih pilihan pertama, maka aku akan langsung memberitahunya tentangmu dan bayi itu. Tapi jika kau—”
“Aku memilih pilihan kedua!” potong Axlyn tanpa ragu mengambil pilihan yang ia yakini. “Aku ingin tahu apakah benar Kay memang mencintaiku, meski tidak mengingat tentangku.”
“Kau yakin dengan pilihanmu ini?” Spencer kembali memastikan.
Axlyn hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Melihat keyakinan di sorot matanya, Spencer pun hanya menghela napas panjang. Padahal jujur adalah cara termudah untuk mereka bersama. Tapi kenapa wanita selalu suka mempersulit segala hal.
“Baiklah, jangan terkejut kalau mulai besok sikapmu padamu akan berubah sangat drastis. Itu bagian dari kerjasama kita,” ujar Spencer penuh arti.
Bersambung ….
Aku masih nungguin loh 🤭☺
Dan tanpa Kay sadari, kedua perempuan itu adalah orang yang sama 😝
Wah, seru ini 🤭
Eh, maksudnya mantan bocah psikopat.. Kan Levi udah bukan bocah lagi... ☺✌