Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuat semuanya terdiam
Yun Xiao merasa seperti di tusuk oleh tatapan tuan putri ketika dia bertanya seperti itu. Dia juga merasa seperti di sudutkan. Tatapan tuan putri seperti pedang yang di hunuskan. Itu juga membuatnya ingat jika dia adalah anak seorang pengkhianat keluarga dan bangsa. Tubuh ayahnya yang mati di aula muncul dalam bayang-bayang ingatannya ketika dia masih kecil, bersimbah darah dan bibirnya seolah berkata ‘ini tidak adil’
Keringat bercucuran dan nafasnya bergerak lebih cepat, bahkan aliran darahnya di pompa lebih aktif.
Dengan menelan ludahnya dia menunduk dan memberi hormat. “Yang mulia, aku putrinya.”
Yun Xiao ingin melawan dan berteriak dengan lantang bahkan dia putri orang pengkhiat, lalu apa masalahnya?! Namun di hadapan tuan putri yang dingin, dia tidak berdaya melakukan apa pun.
Dia tidak tahu mungkin ini yang dirasakan orang-orang jika berhadapan dengan para pemimpin pemerintahan yang dalam beberapa kata-katanya mampu membunuh dan menghukum seseorang.
Dua sudut bibir tuan putri tersenyum dan matanya semakin dingin. Dia menatap Yun Xiao yang ketakutan lalu berkata, “Kamu menjual kebohongan dan menjual tulisan kesedihan agar mendapatkan uang, benar-benar lancang. Seperti ayahmu, tulisanmu hanya mengumbar kesedihan dan kebangkitan pemberontakan. Kamu lihat ini,” Tuan putri mengeluarkan buku antalogi puisi Yun Xiao.
Ketika melihatnya, Yun Xiao tidak bertanya bagaimana itu bisa ada di tangan tuan putri, tapi menebak dirinya akan mendapatkan hukum seperti tetangganya dulu yang sedikit jauh dari rumahnya berada. Menelan ludahnya dan wajahnya dibanjiri keringat dia berusaha tenang lalu perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan dengan bibir gemetar berkata, “Yang mulia, itu tulisan saya. Saya juga menjual air suci. Tapi saya tidak menjual kebohongan ataupun kebencian. Menurut anda apa Tuan Tang benar-benar hidup ketika era Kaisar Zhao pertama masih hidup?”
“Siapa yang peduli,” jawab tuan putri enteng. “Bagiku kamu seorang anak pengkhianat harus mendapatkan hukuman.”
Ketika percakapan mereka berdua terus berjalan, orang-orang hanya diam saja. Tuan peramal memiliki wajah kasihan dan menggeleng seperti menyayangkan hal ini bisa terjadi kepada Yun Xiao. Lalu Nyonya penjual perhiasan tersenyum puas dan mengipasi wajahnya sembari memikmati drama yang sedang berlangsung.
Yun Xiao diam sebentar dan menggigit bibirnya yang gemetar. Pandangannya terlihat gelap dan kosong. Dia berusaha menatap tuan putri dan tuan putri melanjutkan, “Tuan Tang menulis sejarah kekaisar entah itu benar-benar terjadi atau tidak, setidaknya dia tidak pernah menyinggung kekaisaran atau mengatakan tulisannya asli. Sementara kamu adalah bibir dari orang pengkhiat. Aku hanya datang untuk mencabutnya agar tumbuhan yang lain tidak tercemar olehmu.”
Tuan putri berkata kepada pelayan di sampingnya, “Tangkap dia dan kita akan pergi.”
Pelayan di sampingnya membungkuk dan melangkah sedikit ke depan dan melambaikan tangannya. Tuan putri sudah berbalik dan ingin masuk ke keretanya. Sementara Yun Xiao bibirnya gemetar dan mulai membayangkan hukuman apa yang akan di terimanya.
Peramal dan orang-orang lain menyayangkan hal ini dan ada beberapa juga tidak peduli bahkan mencibir. Namun karena masih ada tuan putri, semuanya terdiam dengan sopan.
Ketika pelayan itu melambaikan tangannya, muncul aura putih yang menyebar seperti kabut lalu melesat. Tubuh Yun Xiao gemetar dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi padanya. Dia bertanya-tanya mengapa sangat takut sekali, seharusnya dia jauh lebih berani.
Kabut itu mendekat dan lebih dekat. Ketika mencapai Yun Xiao, berubah menjadi tangan yang siap menariknya.
Mata Yun Xiao dipenuhi ketakutan dan bahkan sedikit gentar.
namun ketika itu tiba-tiba ada aura yang tidak terlihat, menyapu semua orang seperti angin yang berhembus cepat dan menghancurkan tangan kabut itu. Pelayan merasakan aura yang datang dan menyerangnya. Segera dia melambaikan tangannya dan sedikit terkejut.
Lalu sebuah tangan menepuk bahu Yun Xiao dan berkata, “tidak peduli apa kamu menjual kebohongan, jika itu demi kebaikan itu tidak masalah. Tidak peduli jika kamu menulis kesedihan dan kebencian, Tuan Li bahkan menulis ketika sedang mabuk. Hanya orang-orang bodoh yang mengatakan itu menyebarkan kesedihan.”
Tuan putri berhenti melangkah dan berbalik. Pelayan wanitanya memiliki wajah serius dan kedua tatatapnya menjadi waspada. Kusir yang bersandar dengan tenang sedikit mengangkat topi capilnya.
*****
Chen Li segera berdiri dan pandangannya menatap jauh ke arah orang yang menyerangnya. Dia terlalu fokus hingga lupa menjawab pertanyaan ibu Yun Xiao. Namun tidak lama dia menjawab, “Hanya angin lewat bibi. “
Rumah Yun Xiao hanya beberapa rumah darinya dan itu bahkan beberapa sudah hancur sehingga baik dari rumah Chen Li atau Yun Xiao, keduanya dapat melihat dengan jelas dan bahkan mendengar apa yang di ucapkan masing-masing.
Wajah ibu Yun Xiao dipenuhi keheranan dan pertanya. Namun tidak ada satu pun hal yang dapat di pikirkannya selain bencana alam. Jika itu peri abadi yang melakukannya, seharusnya dia dapat melihatnya. Jika hanya angin itu serangan peri abadi, itu terlalu lemah disebut seperti itu.
Karenanya, dia bingung dan menatap daun-daun yang berubah menjadi debu lalu berterbangan.
Chen Li tidak mempedulikannya lagi dan menatap kulit pohon dan dedaunan yang hancur menjadi debu. Dia merenung sebentar lalu berbalik masuk dan melihat lukisan wanita tua di ruang tamunya yang hampir tidak dipedulikan ibunya. Jika bukan kerena ayahnya, Chen Li juga akan membiarkannya terkubur dalam reruntuhan rumah.
Dia memandangnya sejenak lalu berpikir tidak sia-sia menyelamatkannya. Dan semua pertanya yang muncul dalam pikirannya kini terjawab; ada misteri di balik lukisan ini dan sekarang itu telah muncul melindunginya. Membungkuk sebentar berterima kasih lalu berjalan keluar.
Chen Li berjalan melewati gang. Dia terdiam di jalan ketika melihat burung yang hangus terbakar, menghitam. Dia menggeleng lalu tiba di jalan utama.
Melihat di mana sumber kekuatannya, itu berasal tidak jauh dari pasar. Orang-orang ibukota pasti ada hal penting yang dilakukan sehingga harus membawa orang kuat seperti itu. Dia penasaran dan segera melangkah, melihat orang-orang yang sibuk bekerja lalu akhirnya melihat kerukunan di pasar.
Dia diam sebentar dan mengamati sosok cantik dengan Han Fu putih abu-abu yang elegan dan caranya yang berdiri tegap, tangguh namun dingin.
Chen Li memberinya nomor 51 dan gadis kedua yang menarik perhatiannya selain nona Cha Yin.
Tuan putri memang benar-benar mengesankan dan mungkin barangkali dia adalah simbol kecantikan universal yang mengagumkan. Walau tidak memiliki tubuh yang terlalu berisi dan buah dada yang menonjol, semuanya terlihat elegan karena sikap dan bagaimana caranya membawa diri.
Dia mendengar kata-katanya beberapa saat dan berpikir tuan putri agaknya sedikit kasar dan dingin.
Dia menyukainya tapi terkadang itu juga sangat menyakitkan. Chen Li juga ingat dia mestinya hanya mengaguminya alih-alih mendekatinya. Dia tahu batas dan tidak mau pusing dengan itu.
Lalu percakapan pun terjadi dan Chen Li tahu siapa yang di serang. Tuan putri terlepas dari kecantikannya dia sama saja seperti produk keluarga kekaisar; berbicara banyak hal yang samar-samar untuk menutupi tujuan aslinya.
Setelah mendengar beberapa saat Chen Li tidak menyukai sikapnya yang arogan dan segera melangkah ke dalam kerumunan, menepuk bahu Yun Xiao dan mulai berbicara kemudian membuat semuanya terdiam