NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: tamat
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Tentang Ban yang Kempes

Kamis sore ini sekolah sudah hampir sepi. Hanya ada beberapa anak basket yang sisa-sisa napasnya masih terdengar di lapangan, dan tentu saja, anak-anak mading yang sedang sibuk di lantai dua. Saya baru saja selesai mengerjakan tugas tambahan di perpustakaan bersama Dara. Kami berjalan menuju parkiran bawah, tempat Si Kumbang setia menunggu di bawah pohon kamboja yang bunganya mulai rontok satu per satu.

"Kamu yakin tidak mau saya antar?" tanya Dara sambil merapikan tasnya yang penuh buku.

"Tidak usah, Dara. Si Kumbang masih kuat kalau cuma buat menanjak ke arah rumah," jawab saya sambil tersenyum tipis.

Tapi senyum saya langsung hilang saat mata saya mendarat di parkiran. Si Kumbang tidak berdiri tegak. Dia miring ke kanan. Saat saya mendekat, saya melihat ban depan dan belakangnya sudah benar-benar rata dengan aspal. Ada bekas sayatan benda tajam di bagian samping karetnya. Sengaja. Ini bukan karena paku di jalan, ini karena amarah yang tidak tersalurkan lewat kata-kata.

"Ada meteorit yang baru saja jatuh di parkiranmu, Bumi," gumam Dara, suaranya terdengar sangat tajam.

Saya berjongkok, meraba ban motor kakek saya yang malang itu. Hati saya panas, tapi tangan saya dingin. Ini bukan cuma soal ban, ini soal Arkan yang tidak tahu cara bermain adil. Dia tahu motor ini adalah satu-satunya harta yang saya banggakan.

"Mencari pompa, Bumi? Atau mencari harga diri?"

Suara itu datang dari balik pilar gedung olahraga. Arkan berjalan keluar dengan santai, memutar-mutar kunci motor sport-nya di telunjuk. Dia tidak memakai seragam, melainkan jaket kulit hitam yang membuatnya terlihat seperti tokoh antagonis di film-film remaja murahan.

"Kamu yang lakukan ini, Kan?" tanya saya tanpa berdiri, masih menatap ban motor saya.

"Saya? Buktinya mana? Mungkin motor tua itu sudah bosan menanggung beban pikiran kamu yang terlalu berat," jawab Arkan sambil tertawa kecil. "Atau mungkin ini peringatan dari alam semesta supaya kamu berhenti mendekati Kayla."

Saya berdiri perlahan. Saya menatap mata Arkan. Di sana tidak ada penyesalan, yang ada hanyalah kepuasan seorang pemenang yang merasa bisa melakukan apa saja karena punya segalanya.

"Kamu benar-benar pengecut ya, Kan," kata saya pelan. "Kamu tidak bisa menang debat di perpustakaan, jadi kamu serang motor saya? Kenapa tidak sekalian kamu bakar saja sekolah ini biar kamu merasa paling berkuasa?"

Arkan melangkah mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah saya. "Hati-hati bicaranya, Bumi. Saya bisa bikin kamu tidak punya apa-apa lagi di sekolah ini selain debu di sepatumu."

Tiba-tiba, Kayla muncul dari arah lobi. Dia berlari menghampiri kami, wajahnya tampak sangat terkejut melihat kondisi Si Kumbang. "Arkan! Apa-apaan ini? Kamu beneran potong ban motor Bumi?"

"Aku tidak melakukan apa-apa, Kay! Kamu jangan asal tuduh!" Arkan membela diri, tapi kegugupan mulai terlihat di matanya.

"Aku lihat kamu bawa pisau lipat tadi di ruang OSIS, Arkan! Kamu bilang mau potong karton, tapi kenapa sekarang motor Bumi jadi begini?" suara Kayla melengking, penuh dengan rasa jijik. "Kamu jahat, Arkan! Kamu beneran sakit!"

Kayla menoleh ke arah saya, matanya berkaca-kaca. "Bumi, maaf... aku beneran minta maaf..."

"Jangan minta maaf buat kesalahan yang tidak kamu lakukan, Kay," kata saya sambil mengambil tas. "Dan buat kamu, Arkan. Terima kasih. Kamu baru saja menunjukkan pada Kayla siapa kamu sebenarnya tanpa perlu saya bicara sepatah kata pun."

Saya menuntun Si Kumbang keluar dari gerbang sekolah. Motor itu terasa sangat berat, seberat beban yang harus saya tanggung setiap kali berurusan dengan mereka. Dara berjalan di samping saya, ikut membantu mendorong setang motor. Kayla tetap berdiri di parkiran, dia tidak ikut dengan Arkan yang sudah menyalakan motor sport-nya dan pergi dengan suara knalpot yang memekakkan telinga.

Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa saat seseorang mencoba menghancurkan pijakanmu, mereka sebenarnya sedang menghancurkan diri mereka sendiri. Arkan mungkin merasa menang karena ban motor saya bocor, tapi dia tidak sadar bahwa kemanusiaannya jauh lebih bocor daripada ban Si Kumbang.

1
Vivi Zenidar
karya yg bagus... bahasanya puitis... semoga akan banyak yg baca
Vivi Zenidar
senja dan dara lebih baik
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!