Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman CCTV
Stella bahkan pernah bertemu Kayson, saat ia datang ke gym untuk menemui mantannya, Cristian.
Orang tua Kayson mengenalkan dia dan adiknya pada bela diri sejak remaja. Kayson menyukai semua yang dipelajarinya. Ia terus berlatih dan mendalami berbagai aliran, taekwondo, karate, judo. Namun yang paling ia sukai adalah Krav Maga.
Sebelum Stella masuk kuliah, Kayson bahkan memaksanya ikut kelas. Katanya, Stella harus bisa melindungi dirinya sendiri.
Jadi, Stella tahu Kayson kuat. Ia tahu Kayson cepat. Tapi tadi, Kayson sudah memukul Milan, bahkan sebelum Stella sempat berkedip.
“Pacar baru lo kelihatannya … protektif banget.” Suara Milan terdengar berat saat ia mendekat.
Stella berdiri di samping mobil Kayson, pinggulnya bersandar pada bodi kendaraan. Ia memiringkan kepala.
“Protektif banget anjooyyy! Huuft!” ulang Milan. “Dan bahaya banget. Stella, lo pilih sendiri orang kek begini?"
Stella menelan ludah. Kayson sedang berbicara dengan dua anggota timnya dan seorang polisi berseragam yang baru datang. “Dia bukan pacar gue dan dia enggak berbahaya.”
“Iya? Coba bilang gitu ke rahang gue yang hampir copot gara-gara dia.”
Stella mengembuskan napas pelan. “Belakangan ini ada beberapa … kejadian. Dia itu … Kayson itu kayak bodyguard gue. Waktu lo maju tadi, dia kira lo mau nyerang gue, jadi dia refleks.”
Milan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. Ia menatap Stella dengan lekat. “Gue nggak bakal pernah ngelakuin itu ke lo. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Gue nggak bohong tadi. Lo yang nyelametin gue.”
Stella mengalihkan pandangan. Kenangan lama kembali berputar di kepalanya.
Waktu itu ia sedang membuang sampah, berjalan di gang sempit di belakang gedung galerinya, dia menemukan Milan. Pingsan, dengan botol Jack Daniel yang sudah pecah di sampingnya.
Stella tidak sanggup meninggalkannya karena teringat semua momen saat Mamanya pulang dan pingsan di sofa, sampai hari ketika Mamanya tidak pernah pulang lagi.
Stella menyeret Milan, benar-benar menyeretnya dengan susah payah, kembali ke galeri miliknya. Dia membuatnya sadar dengan kopi. Lalu dia bertanya, kenapa.
Adik perempuan Milan dibunuh setahun setelah hari ketika Stella menemukannya di gang itu.
Saat Milan menceritakan semuanya, dia bilang itu salahnya. Seharusnya dia menjemput adiknya sepulang kerja, tapi dia tidak melakukan itu. Dia datang satu jam terlambat.
Adiknya sudah meninggal saat dia menemukannya. Ditikam berkali-kali dengan brutal. Pembunuhnya pun tidak pernah tertangkap.
Stella bisa melihat dari mata Milan bahwa rasa bersalah itu menggerogotinya dari dalam.
"Sejak kejadian sama Millea, ohh sial ... Pokoknya sekarang gue pingin bantu lo. Kalau ada bajingan yang lagi ngincer lo, ngomong sama gue. Biar gue bantu!"
Stella mengembuskan napas pelan. "Kayson itu yang pimpin Sheridan Securities. Dia lagi bantuin gue. Kasih perlindungan dua puluh empat jam." Dia menunjuk ke arah Kayson. "Timnya yang nangani semuanya."
Saat itu Kayson mengangkat kepala. Tatapannya langsung tertuju pada Stella.
Lalu Kayson menoleh, dan Stella tahu dia sedang melihat Milan. Kayson mengatakan sesuatu pada orang-orang di sekitarnya, lalu berjalan tegas ke arah mereka.
"Seseorang bakar rumah gue tadi malam," kata Stella pada Milan. "Dan sekarang lukisan-lukisan gue juga dihancurin. Gue nggak tahu siapa pelakunya, tapi, Milan ... kalau lo lihat apa pun, maksud gue kalau ada orang mencurigakan di galeri gue, atau ada hal aneh apa pun, tolong kabarin ke gue."
"Gue nggak lihat siapa-siapa," jawab Milan tegas. "Tapi gue bakal cek semua rekaman keamanan gue."
"Gue mau akses rekamannya!" ujar Kayson ketika tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka.
Lagi-lagi dia gunakan langkah ninjanya.
Milan mengumpat. "Dengar ya, gue nggak suka sama lo—"
"Gue juga nggak suka sama lo, jadi kita impas. Tapi gue mau rekamannya!"
Milan mengangguk. "Oke. Buat Stella. Karena gue bakal lakuin apa pun buat dia."
Kayson berdiri di sisi Stella, tubuhnya sedikit maju untuk melindungi, sementara tatapannya tetap menilai pria di depannya. "Lo cinta sama dia?"
Stella merasakan wajahnya memanas. Tidak, Milan tidak mencintainya. Dia hanya merasa berutang budi. Dia ingin membalas apa yang pernah Stella lakukan untuknya.
Soal percintaan, hubungan mereka tidak pernah berkembang. Mereka berada di zona (Frienzone). Setiap kali Stella menatap Milan, yang muncul hanya keinginan untuk membantu. Tidak ada gairah, tidak ada intensitas.
"Lo juga, kan sialan!" balas Milan. "Kalau nggak, lo nggak bakal berdiri di sini dengan muka marah. Lo kira gue nggak bisa lihat? Lo kehilangan kontrol waktu gue deketin dia."
Kayson mengangkat bahu. "Dia ketakutan. Gue nggak bisa biarin dia ketakutan."
"Karena lo cinta sama—"
"Dia nggak cinta sama gue!" potong Stella cepat. "Kita cuma teman. Teman lama."
Kayson menggenggam tangan Stella, menyelipkan jari-jarinya ke sela-sela jari Stella. "Dengar ya, Milan, gue udah bilang dua kali buat Lo jangan deketin dia. Lo harusnya nurut. Kalau lo nggak cari gara-gara duluan, gue nggak perlu tonjok lo."
"Dan lo juga harusnya bilang apa yang sebenarnya terjadi! Kalau gue tahu lo baru datang dari galeri lukisan dia yang diobrak-abrik, gue pasti sadar lo udah di ambang meledak—"
"Gue rasa lo nggak benar-benar ngerti banyak hal tentang gue." Suara Kayson datar. Lalu dia menoleh pada Stella. Ketika berbicara lagi, nadanya melunak. "Babby, kita harus pergi. Tim gue yang urus di sini, dan polisi nggak bakal selesai dalam waktu dekat. Biar gue antar lo pulang."
Tapi rumahnya sudah dibakar.
"Rumah gue," lanjut Kayson, seolah membaca pikirannya. "Gue perlu pastiin lo aman."
Tawa getir lepas dari Stella. "Iya."
Sudahlah.
Dia akan pulang bersama Kayson.
Untuk apa juga Milan melawan?
Saat ini Stella cuma butuh rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh pria itu.
Stella melirik cepat ke arah Milan. "Kasih dia rekamannya secepatnya."
"Bakal gue lakuin semuanya buat lo."
Stella berjalan ke mobilnya. Saat agen-agen Kayson tiba di lokasi, Kayson memerintahkan salah satu dari mereka untuk membawa mobil Stella ke galeri.
Stella bersyukur Kayson melakukan itu. Dia ingin mengemudi sendiri. Jarinya menyentuh gantungan kunci, membuka kunci mobil.
Sebelum dia sempat meraih pintu, Kayson sudah lebih dulu membukakannya dan mundur sedikit, mengawasi saat Stella masuk ke kursi pengemudi.
"Gue ikut di belakang lo."
Stella menatap lewat kaca depan, melihat galeri miliknya. Garis polisi sudah terpasang di depan gedung.
Rasanya mimpi buruk belum juga ada tanda akan berhenti, malah semakin parah.
Kayson menutup pintu mobilnya dan menjauh. Stella melihat lewat kaca spion saat Kayson kembali menghampiri Milan.
Dia mengatakan sesuatu, dan Stella bertanya-tanya apa yang mereka bicarakan. Kayson menyerahkan sesuatu yang tampak seperti kartu nama. Milan menerimanya, mengangguk singkat, lalu mundur.
Tak lama kemudian, Kayson sudah berada di mobilnya. Lampunya menyala.
Air mata mengalir di pipi Stella ketika dia mulai melaju.
Malam ini kacau. Minggu ini hancur. Bajingan yang melakukan semua ini padanya memang benar-benar brengsek.
Stella sudah menemukan kehancurannya. Dia datang ke galeri dan melihat ulah penguntit itu. Dia yakin kalau bajingan itu sudah menunggunya.
Seni adalah jiwa Stella. Jadi tidak mungkin dia menjauh dari Galeri.
Stella berlalu perlahan, langsung diikuti pria bodoh dengan Benz. Pria yang bertingkah seolah punya hak atas dirinya. Padahal Kayson tidak berhak apa pun atas dirinya.
Sekarang Stella tidak akan bisa bersembunyi lagi. Ke mana pun dia pergi, penguntit itu bisa saja menemukannya.
Apakah Stella menyadari betapa terobsesinya bajingan itu padanya?