NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Permadi tidak mempedulikan tatapan orang-orang di kantin.

Dengan gerakan sigap, ia menyambar tubuh Rengganis dan menggendongnya ala bridal style.

Wajahnya yang kelelahan kini tertutup oleh kilat kemarahan dan kekhawatiran yang luar biasa.

"Apa yang ada di pikiranmu, Ganis?! Kamu dokter, tapi kamu mencabut infus sendiri sampai tanganmu berdarah begini!" bentak Permadi sambil melangkah lebar menuju kamar VVIP.

"Lepas sendiri Mas tadi, bukan aku yang..."

Rengganis mencoba membela diri dengan suara yang nyaris hilang, namun kebohongannya terlalu mudah dibaca.

"Cukup! Jangan banyak alasan!" potong Permadi tajam.

Napasnya memburu, bukan karena berat beban yang digendongnya, tapi karena rasa takut yang menghujam jantungnya saat melihat istrinya berkeliaran di luar kamar dengan kondisi menyedihkan.

Begitu sampai di kamar, Permadi membaringkan Rengganis dengan sangat hati-hati di atas ranjang.

Ia segera menekan tombol darurat untuk memanggil perawat.

Saat ia hendak berbalik untuk mengambil kapas pembersih, ia terpaku melihat wajah istrinya.

Permadi terdiam sejenak, amarahnya luluh seketika.

"Tunggu sebentar, kamu menangis? Kenapa?" tanya Permadi, nadanya melunak, penuh dengan rasa bingung.

Rengganis tidak bisa lagi menahan sesaknya. Ia menganggukkan kepalanya pelan, air mata kembali mengucur deras membasahi pipinya yang pucat. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat.

"Aku bangun tidur dan kamu tidak ada di sofa. Aku cari ke kamar mandi juga tidak ada," isak Rengganis di sela tangisnya.

"Aku kira, Mas sudah bosan denganku karena aku sakit. Aku kira Mas pergi menemui Laras untuk mencari kesenangan yang tidak bisa aku berikan semalam."

Permadi tertegun. Ia merasa seperti baru saja dipukul oleh kenyataan pahit.

Ia berlutut di samping ranjang, meraih kedua tangan Rengganis yang menutupi wajahnya, lalu mencium telapak tangan yang terluka akibat bekas infus itu.

"Ganis, lihat aku," pinta Permadi lembut.

Rengganis membuka matanya yang sembab.

"Laras itu sampah masa lalu yang sudah kubuang jauh-jauh. Demi Tuhan, aku di kantin karena aku sedang 'menghukum' diriku sendiri, bukan mencari wanita lain. Aku takut jika aku tidur di sampingmu, aku akan menyakitimu lagi karena nafsuku yang bodoh ini," jelas Permadi dengan tatapan mata yang begitu jujur dan penuh penyesalan.

"Jangan pernah berpikir aku akan pergi hanya karena kamu sedang sakit. Justru di saat seperti ini, aku sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpamu, meski hanya untuk beberapa jam di malam hari."

Rengganis terdiam, rasa hangat perlahan menyelimuti hatinya, menghapus segala prasangka buruk yang sempat menghantuinya pagi itu.

Pintu kamar terbuka dengan cepat. Seorang perawat masuk dengan wajah panik sekaligus kesal setelah melihat alarm di ruang jaga.

Ia segera menghampiri Rengganis, memeriksa tangan yang berdarah, dan dengan cekatan menyiapkan peralatan untuk memasang kembali selang infus.

"Dokter Rengganis, kenapa begitu nekat?" ucap perawat itu sambil menggelengkan kepala.

"Ibu sendiri kan dokter, tahu risikonya kalau infusnya dicabut paksa begini. Bisa infeksi, dan pengobatan Ibu jadi terhambat."

Rengganis hanya menunduk malu, tak berani menatap rekan sejawatnya itu. Permadi berdiri di samping ranjang dengan wajah penuh penyesalan, tangannya masih gemetar melihat bekas darah di tangan istrinya.

Setelah selesai memfiksasi selang infus yang baru, perawat itu beralih menatap Permadi dengan tegas.

"Pak Permadi, mohon bantuannya. Sepertinya Ibu Rengganis sedang merasa cemas. Saya minta Bapak menemani istrinya di sini, di sampingnya. Jangan ditinggal-tinggal dulu sampai kondisinya benar-benar stabil secara emosional," pinta perawat itu sebelum membereskan nampannya dan keluar dari kamar.

Suasana kembali hening. Permadi menatap Rengganis yang masih nampak sembab.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera melepas jaketnya dan naik ke atas ranjang VVIP yang luas itu.

Ia membaringkan tubuhnya di samping Rengganis, menarik istrinya masuk ke dalam dekapan posesifnya.

"Aku mengantuk, Sayang. Dan jangan mengganggu aku," gumam Permadi dengan suara serak yang menunjukkan betapa lelahnya ia setelah berjaga di kantin dan berperang dengan pikirannya sendiri.

Meski suaranya terdengar ketus, tangannya justru bergerak sangat lembut.

Ia melingkarkan lengannya di pinggang Rengganis, menarik kepala istrinya agar bersandar di dada bidangnya.

Ia memastikan posisi mereka nyaman agar tidak menyenggol area yang sedang terluka.

"Mas..." bisik Rengganis pelan.

"Sstt, tidur, Ganis. Aku tidak ke mana-mana. Aku di sini," sela Permadi sambil mengecup pucuk kepala istrinya.

Permadi kembali memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rengganis yang selalu menjadi candunya.

Rasa kantuk yang luar biasa akhirnya mengalahkan segalanya.

Dalam hitungan detik, napas Permadi mulai teratur dan ia jatuh tertidur pulas dalam posisi memeluk erat istrinya, seolah-olah ia sedang menjaga harta paling berharga di seluruh dunia agar tidak hilang lagi dari pandangannya.

Rengganis terjaga dalam keheningan, mendengarkan detak jantung Permadi yang berdegup stabil di bawah telinganya.

Meski tubuhnya masih lemas, pikirannya sebagai seorang dokter kandungan mulai bekerja secara otomatis.

Ia menatap wajah suaminya yang tertidur pulas—wajah yang tampak begitu tenang namun menyimpan gejolak yang luar biasa saat terjaga.

Sebagai dokter spesialis, Rengganis sangat paham apa yang sebenarnya dialami suaminya.

Permadi bukan sekadar pria dengan gairah tinggi; suaminya menunjukkan tanda-tanda hypersexual yang sangat nyata.

Apalagi, Permadi baru berusia 25 tahun. Di usia produktif emas seperti itu, hormon testosteron seorang pria sedang berada di puncaknya.

Secara biologis, dorongan seksualnya sedang kuat-kuatnya, dan bagi seseorang seperti Permadi, kebutuhan itu bisa menjadi berkali-kali lipat lebih intens.

"Pantas saja semalam dia sampai harus melarikan diri ke kantin," batin Rengganis sambil mengusap pelan rahang tegas suaminya.

Rengganis merasa bersalah sekaligus terharu. Ia tahu betapa tersiksanya Permadi harus menahan dorongan instingtif yang begitu kuat demi menghormati luka fisiknya.

Sebagai dokter kandungan, ia sering melihat kasus di mana suami tidak sabar dan justru menyakiti istrinya yang baru melahirkan atau sedang dalam masa nifas. Namun Permadi, dengan segala kekuasaan dan sifat keras kepalanya, justru memilih menderita sendirian di kursi kantin yang keras.

"Maafkan aku, Mas. Sebagai dokter, aku seharusnya lebih paham bagaimana mengimbangi kebutuhanmu tanpa harus melukai diriku sendiri," bisiknya lirih.

Ia menyadari bahwa pernikahan mereka bukan hanya soal cinta romantis, tapi juga soal manajemen kesehatan seksual yang sehat.

Permadi adalah "singa muda" yang butuh penanganan khusus, dan Rengganis bertekad, setelah ia pulih nanti, ia akan menggunakan ilmunya untuk memastikan kebutuhan suaminya terpenuhi tanpa ada lagi drama masuk rumah sakit.

Tiba-tiba, Permadi menggeliat dalam tidurnya. Ia mempererat pelukannya, seolah-olah secara tidak sadar ia takut Rengganis akan menghilang lagi.

Rengganis tersenyum, ia mengecup dada suaminya lembut, membiarkan pria itu mendapatkan istirahat yang sangat layak ia dapatkan.

1
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
Fitra Sari
makasihh Thor ...update selalu ..pkoknya lope2 seneng banget 🤣🤣😍
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 🤣😍😍😍😍
my name is pho: ok kak
sabar 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel2 up donk ..syuka banget sama karya2 KK ...seru banget pkok ya greget banget 🤣😍😍
my name is pho: ok kak
🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk 😍😍😍
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
Sherin Loren
lanjut thor😎
Fitra Sari
lanjut KK ...serius bagus banget ..doubel2 pkoknya 🙏🙏😘
Fitra Sari
lanjut doubel donk KK
my name is pho: sudah kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!