"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Misik
..."Pahaga meledak, raga terbelah: Saat bahasa kuno menjadi pertanda maut."...
......................
Penyang berdiri kaku, membiarkan gelombang panas Pahaga yang amis dan busuk menghantam indranya. Ruangan itu kini bukan lagi toko cinderamata, melainkan liang teror. Syifa tidak lagi berdiri tegak; tubuhnya melengkung ke belakang dengan sudut yang mustahil, tulang-tulangnya berderak keras seperti dahan pohon yang patah serentak.
"Syifa! Lawan!" Penyang berseru, namun suaranya tenggelam dalam desis mengerikan yang keluar dari celah bibir Syifa.
Dengan Taring Malun, ia hanya melihat wajah cantik itu kini mengerut, kulitnya merenggang hingga nyaris robek, memperlihatkan rupa Kukang yang haus darah. Matanya yang kuning berpijar bukan sekadar warna, tapi seperti ada api belerang yang menyala di dalam tengkoraknya.
"Iye jetoh baya jipenku!" Suara itu bukan berasal dari pita suara manusia, melainkan gema dari ribuan jeritan yang menyatu. "Ikau dia tau manduan jipen je jadi manampa janji daha!"
Seketika, amarah gaib itu meledak. Kekuatan yang menyusup ke tubuh Syifa menarik paksa seluruh energi di ruangan itu. Tanpa disentuh, benda-benda di toko itu bangkit seperti memiliki nyawa yang jahat. Guci-guci tanah liat pecah, isinya yang berupa air kembang mendidih seketika. Rak-rak kayu besar bergetar hebat sebelum akhirnya terlempar ke arah Penyang dengan kecepatan yang mematikan.
Penyang hanya bisa menghindar, tubuhnya meliuk di antara pecahan kaca yang melayang bak belati. Hingga sebuah tombak tua dengan mata besi berkarat meluncur lurus, mengincar batok kepalanya dengan kekuatan yang sanggup menembus beton. Penyang terdesak ke dinding, ia memejamkan mata, bibirnya merapalkan nama para leluhur dalam diam. Ia berserah pada garis takdir.
CRAAANGGG!
Benturan logam berat menggetarkan fondasi bangunan. Sebilah Mandau tua yang sejak tadi tersembunyi di dalam peti kayu pusaka—yang terkunci dengan rantai—mendadak jebol keluar. Mandau itu melesat secepat kilat, menangkis mata tombak hanya beberapa milimeter dari dahi Penyang hingga tombak itu terpental dan menancap dalam di lantai.
Kukang di tubuh Syifa meraung murka, merasa haknya atas sang "budak" diganggu. Ia mengerahkan anak busur panah dari dinding untuk menyerang serentak. Mandau itu menari liar, menebas angin, menghancurkan setiap anak panah yang mendekat. Namun, satu serpihan anak panah yang patah melesat liar dan menyayat pipi Penyang.
SREEET!
Darah merah segar mengalir di pipi Penyang. Setetes darah itu jatuh tepat mengenai bilah Mandau yang sedang melayang.
Seketika, toko itu sunyi senyap. Udara mendadak sedingin es.
Darah Penyang seakan menjadi persembahan yang membangunkan "penghuni" mandau tersebut. Bilah baja itu mendadak mengeluarkan suara dengungan rendah yang membuat gendang telinga perih. Aura hitam pekat mulai menguar dari gagang mandau yang terbuat dari tanduk rusa, sementara ukiran pada bilahnya seolah-olah bernapas dan berdenyut.
Kukang di dalam tubuh Syifa mendadak membeku. Mata kuningnya yang tadi liar kini membelalak penuh ketakutan. Ia menyadari satu hal: darah yang baru saja tumpah bukan darah manusia biasa. Darah itu telah mengaktifkan penghuni yang kini menatapnya melalui mata Mandau yang telanjang.
Penjaga toko yang terjepit di pojokan hanya bisa merangkak, mulutnya komat-kamit tanpa suara, menyaksikan Syifa yang sedang kesurupan hebat mulai gemetar ketakutan di depan sebilah pedang terbang yang haus darah
Melihat darah Penyang terserap sepenuhnya ke dalam bilah besi tua itu, Mandau pusaka tersebut bergetar hebat seolah baru saja menelan nyawa yang segar. Seketika, ledakan energi metafisika menghantam ruangan.
PRANGG!
Seluruh etalase kaca meledak hancur menjadi debu kristal, sementara lantai semen retak menjalar bak akar pohon yang marah.
Kukang di dalam raga Syifa tidak takut; ia justru terkekeh hingga air liur hitam menetes dari sudut bibirnya yang robek. Ia tak menyangka pria di depannya memiliki Darah Murni, darah keramat yang sanggup membangkitkan hawa Pahaga paling tatu hiang—kekuatan dari para leluhur yang sudah ada sejak zaman tatau—dari sebuah besi. Namun, ia adalah Kambe Kukang, entitas penghisap sumsum yang tak kenal tunduk.
"Iye jetoh jipenku!" raungnya, suaranya kini tumpang tindih dengan suara ratusan arwah yang tersedak darah.
Kukang itu merentangkan tangan Syifa ke atas. Seketika, atmosfer toko berubah menjadi pekat dan dingin yang membakar. Ia melakukan ritual Misik—membangkitkan seluruh penghuni yang tertidur di benda-benda antik. Topeng-topeng kayu di dinding mulai menangis darah, patung-patung leluhur bergetar dan mengeluarkan suara geraman, sementara mandau-mandau dekorasi di langit-langit berputar liar.
Kini, di mata batin Penyang, toko itu telah menjelma menjadi neraka kecil. Bukan hanya satu Kukang, melainkan bala tentara kasat mata muncul dari balik bayang-bayang. Makhluk-makhluk hitam bertangan panjang, wajah-wajah tanpa mata, dan entitas merayap yang haus akan nyawa saling berseberangan. Sebagian kecil berpihak pada darah Penyang, namun mayoritas mengikuti perintah jahat sang Kambe Kukang.
Pertempuran pecah dengan kebiadaban yang tak terlukiskan. Udara dipenuhi desing senjata gaib dan suara cabikan daging tak kasat mata. Penyang berdiri di tengah pusaran maut, tubuhnya meliuk menghindari serangan yang bisa merobek jiwanya. Ia melihat bagaimana "tentara" Mandau-nya ditebas, hancur, dan bangkit kembali dalam perkelahian yang sengit dan berdarah secara metafisik.
Hingga akhirnya, Mandau yang telah meminum darah Penyang mencapai puncak amarahnya. Mandau itu mengeluarkan dengungan frekuensi tinggi yang membuat telinga manusia normal berdarah. Dengan satu sabetan melingkar yang membelah dimensi, semua entitas liar itu dipaksa tunduk—beberapa hancur menjadi asap hitam, sisanya merayap ketakutan kembali ke benda asalnya.
Energi Mandau itu meredup, bilahnya mulai retak karena dipaksa melampaui batas, namun ia menolak untuk jatuh. Bak predator yang sedang sekarat, ia bergerak bangun dengan sisa kekuatan terakhir untuk memastikan Penyang aman. Mandau itu melesat rendah, membelah udara yang masih berbau amis Pahaga.
Sasarannya hanya satu. Ujung mata Mandau yang tajam dan haus itu mengarah lurus, terkunci mati pada ulu hati Syifa—pusat di mana jantung sang "budak" dan jantung sang "Kukang" berdetak dalam satu irama terkutuk.
Syifa mendelik, tubuhnya gemetar hebat di bawah dominasi roh itu. "Pe-nyang... sakit..." rintihnya, sementara tangan Kukang di tubuhnya masih mencoba mencakar udara.
Mandau itu merayap maju dengan gerakan lambat namun pasti, membelah udara yang pengap oleh hawa Pahaga. Suaranya berdesing rendah, sebuah nada kematian yang hanya mengincar satu titik: ulu hati Syifa. Penyang terpaku, napasnya tertahan melihat senjata tatu hiang itu menagih janji darah.
Namun, sebelum ujung baja itu merobek kulit Syifa, sebuah bayangan melesat lebih cepat dari nalar.
SRAAAK!
Sepasang tangan kekar mencengkeram bilah tajam itu tepat di depan dada Syifa. Agung. Pria itu berdiri dengan napas menderu, wajahnya tegang antara ngeri dan tekad yang nekat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Agung melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah benda mati—yang selama ini ia anggap sekadar pajangan—bernapas dan bergerak layaknya predator lapar.
Darah segar dari telapak tangan Agung mengalir deras, menyusuri ukiran pada bilah Mandau, lalu terserap masuk ke dalam besi yang haus itu. Mandau itu memberontak, bergetar hebat di dalam genggaman Agung seolah-olah marah karena mangsanya dihalangi. Suara gesekan antara besi pusaka dan tulang telapak tangan Agung menimbulkan bunyi ngit yang menyayat hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamus
Iye jetoh baya jipenku!"
Arti :
Dia ini cuma budakku!
Ikau dia tau manduan jipen je jadi manampa janji daha!"
Arti :
Kamu tidak bisa mengambil budak yang sudah membuat janji darah!
Iye jetoh jipenku!
Arti
Dia adalah budakku!
karena apa coba