Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Tiba-tiba suara orang tergesa-gesa terdengar. Semua mata menoleh.
Seorang perempuan muda wajahnya tegang dan napasnya tersengal melangkah cepat menuju pasangan pengantin.
"Maaf… aku harus bilang!" suaranya bergetar tapi lantang di antara heningnya ruangan.
Semua orang terdiam udara seakan berhenti.
Dira dan Raka saling menatap bingung.
"Apa maksudmu?" suara Raka terdengar tegas tapi menahan emosi.
Anak perempuan itu menatap Raka matanya berkaca-kaca.
"Aku… aku hamil… anakmu Mas!"
Bisikan dan kaget terdengar di seluruh ruangan. Beberapa tamu menahan napas ada yang menunduk tidak percaya. Mama dan Abah Dira saling berpandangan wajah mereka tegang.
Dira menatap Raka matanya melebar.
"Raka… ini…?" suara Dira hampir tak terdengar gemetar.
Raka menatap anak perempuan itu wajahnya berubah tegang jantungnya berdebar.
"Apa… apa maksudmu?" suara Raka serak.
Abah berdiri tegap menatap Raka dengan serius.
"Raka… jelaskan ini sekarang!" suara Abah tegas tapi masih menahan emosi.
Raka menunduk memandang anak perempuan itu lalu menelan ludah.
"Kamu… kamu benar-benar hamil anakku?"
Anak perempuan itu mengangguk air matanya menetes.
"Iya… Mas. Maaf… aku tidak bermaksud mengganggu"
Dira menatap Raka hatinya rasanya seperti remuk. Namun di dalam kepanikan itu ia juga sadar ini adalah kenyataan yang harus mereka hadapi.
Penghulu menunduk menenangkan suasana.
"Kita berhenti sebentar… agar semuanya jelas sebelum melanjutkan akad"
Begitu anak perempuan itu menyatakan dirinya hamil anak Raka suasana berubah total. Semua tamu menahan napas bisik-bisik mulai terdengar di sudut ruangan.
Orang tua Raka yang sejak awal duduk di barisan depan langsung terpaku.
"Raka… apa maksudnya ini?!" suara Ayahnya bergetar tapi tegas.
"Anak… apa yang terjadi? Bagaimana bisa… di hari ini…" suara Ibunya nyaris terputus karena kaget dan tidak percaya.
Raka menunduk lagi menatap anak perempuan itu lalu menatap kedua orang tuanya.
"Ayah… Ibu… ini salahku. Aku akan jelaskan semuanya tapi aku mohon… jangan marah dulu sebelum kalian dengar kebenarannya"
Raka menahan napas lalu menatap semua orang dengan mata penuh penyesalan dan ketegangan.
"Dengar… semua orang. Aku harus jujur. Waktu itu… aku dijebak. Aku tidak tahu… minuman yang diberikan padaku oleh klien itu apa. Aku… aku tidak sadar…"
Semua orang terdiam. Suasana makin tegang. Dira menatap Raka matanya melebar hati campur aduk antara sakit marah tapi juga ingin percaya.
"Raka… maksudmu… perempuan benar hamil anak kamu…?" suara Dira nyaris tak terdengar.
"Iya Dira… aku tidak bermaksud. Aku dijebak dan… aku tidak tahu apa yang dia masukkan ke dalam minuman itu. Aku baru sadar setelah semuanya terjadi…" jawab Raka menahan air mata.
"Raka… ini hari bahagia anakku tapi kamu bikin semuanya kacau. Dira Nak… apa pun keputusanmu kami dukung" kata Abah tegas tapi tenang.
"Ini berat… tapi memang harus ada keputusan sekarang" ucap Ayah Raka mencoba tenang.
Dira menarik napas panjang menatap kedua orang tuanya.
"Ma Pa… aku… aku ingin pernikahan ini dibatalkan. Aku… aku nggak bisa… melanjutkan sekarang"
"Baik Nak… keputusanmu tepat kalau hatimu belum siap. Kami ada di sampingmu" jawab Mama lembut.
"Raka… sekarang yang penting bertanggung jawab atas apa yang terjadi jangan lari dari masalah" kata Abah tajam tapi tenang.
Suasana hening semua orang menahan napas. Akad yang semula akan diucapkan hari itu batal.
Tiba-tiba terdengar suara kaki melangkah.
"Ada apa ini!" suara hangat Om Daniel terdengar dari belakang kerumunan.
"Ada apa? Sejak tadi saat aku melangkah ke tenda aku dengar ribut dari rumah… apa yang terjadi?"
Abah menarik napas panjang mengajak teman lamanya dan istrinya menepi ketempat yang sepi dan mulai menjelaskan kronologi pengakuan anak perempuan tentang kehamilan, pembatalan pernikahan.
Tante Lia menunduk sebentar, matanya melebar.
"Ya ampun… serius ini terjadi hari ini?" ucap Tante Lia kaget.
"Raka… ini gila! Aku nggak nyangka…" kata Om Daniel.
"Eh… gimana pengantin prianya diganti? Hah… diganti?!" celetuk Tante Lia.
"Lia… jangan bercanda sekarang! Ini serius!" tegur Mama.
"Andreas… gimana kamu mau nggak gantiin pengantin pria? Daripada nanti malu-malu keluarga Dira…" lanjut Tante Lia.
"Kok aku sih Mah?
"Lah… siapa lagi anak Mami kan kamu… doang!" balas Andreas bingung.
"Boleh deh… kalau Nak Andreas. Om mohon ya mau gantiin calon pengantin prianya… lagi om percaya sama kamu bisa jagain anak om" kata Abah pelan.
"Eh… serius? Aku… aku kan nggak kenal sama anak Om…" jawab Andreas.
"Udah nanti juga kenal kok. Santai saja Andreas. Jangan tegang" ujar Papa menenangkan.
"Ya Allah… ini gila…" bisik Dira pelan.
"Le… keluarga ini lagi butuh pertolongan" kata Om Daniel.
"Aku terserah pengantian perempuannya aja?" tanya Andreas pelan.
"Aku juga nggak tahu harus gimana…" jawab Dira lirih.
"Aku nggak mau kamu merasa ini paksaan"
"Aku juga nggak mau kamu terpaksa…"
"Kalau kita jalanin… kita jalanin baik-baik. Tapi kita harus jujur sama perasaan masing-masing. Jangan ada yang merasa terjebak"
Akad berlangsung cepat.
Semua orang lega.
Tapi malam itu, ketika tamu sudah pulang, orang tua Andreas pun pulang jam 5 sore dan rumah mulai sepi, Andreas duduk sendirian di teras.
Abah Adi menghampirinya.
“Kamu marah sama Abah?” Om Daniel malam itu.
Andreas terdiam lama.
"Bukan marah… cuma… ini terlalu cepat"
"Abah tahu. Tapi kadang hidup nggak kasih kita waktu mikir"
"Aku takut nggak bisa jadi suami yang baik… karena aku pernah gagal"
Kalimat itu berat.
Andreas masuk perlahan setelah mengobrol panjang dengan Abah Adi orang tua Dira.
Melihat Dira duduk di tepi ranjang, masih memakai mukena.
Mereka sama-sama canggung.
“Aku nggak akan menyentuh kamu sebelum kamu benar-benar siap” ucap Andreas tenang.
Dira menatapnya, terkejut.
“Dan kalau kamu merasa ini salah… kita bisa pelan-pelan. Kita nggak harus langsung jadi pasangan seperti orang lain”
Dira terisak kecil.
“Terima kasih…”
Malam itu, mereka tidur terpisah.
Bukan karena benci.
Tapi karena sama-sama sedang belajar menerima keadaan.
"Aku nggak akan menyentuh kamu sebelum kamu benar-benar siap" ucap Andreas tenang.
"Dan kalau kamu merasa ini salah… kita bisa pelan-pelan. Kita nggak harus langsung jadi pasangan seperti orang lain"
"Terima kasih…"