NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Selected Distance

Fajar — gerbang Istana Araluen

Kabut pagi masih menggantung ketika kereta Blackwood disiapkan.

Kuda-kuda mengentakkan kaki, suara logam beradu pelan. Para pengawal bergerak rapi—tidak mencolok, namun terlatih. Anthenia berdiri di depan kereta, mantel hitamnya berkibar ringan.

Ia tidak menoleh ke belakang.

Tidak perlu.

Ia tahu siapa yang ada di sana.

“Lady Anthenia.”

Suara William terdengar datar, seperti biasa. Namun pagi ini, ada jeda kecil sebelum namanya disebut—sebuah keraguan yang tak pernah ada sebelumnya.

Anthenia menoleh.

William berdiri beberapa langkah jauhnya. Tanpa zirah perang. Tanpa lambang kebesaran. Hanya mantel gelap dan pedang yang digantung rapi—sikap seorang panglima yang memilih diam.

“Pengawalan sudah kuatur,” katanya.

“Rute aman. Tidak langsung.”

“Aku mengerti.”

Hening kembali.

Angin pagi berembus, membawa dingin yang tipis namun tajam.

“Araluen akan… lebih sunyi,” ucap William pelan.

“Tanpamu.”

Anthenia tersenyum kecil—singkat.

“Tenanglah,” jawabnya.

“Istana ini tidak bergantung padaku.”

William menatapnya lama.

“Tidak,” katanya.

“Tapi aku—”

Ia berhenti.

Menarik napas.

“Kembalilah dengan selamat.”

Itu saja.

Tidak ada janji.

Tidak ada larangan.

Tidak ada kata yang terlalu berbahaya untuk diucapkan.

Anthenia mengangguk.

“Jaga dirimu, William Whiston.”

Nama lengkap itu meluncur tenang—namun berat.

William membalas anggukan.

“Lady Blackwood.”

Anthenia naik ke kereta.

Pintu tertutup.

Dan kereta mulai bergerak.

Dari kejauhan

William berdiri hingga bayangan kereta menghilang di balik kabut.

Barulah ia bergerak.

“Panggil Komandan Rhea,” katanya singkat pada seorang perwira.

“Dan kirim pesan ke unit bayangan.”

Perwira itu menegang.

“Unit… yang itu, Yang Mulia?”

“Ya.”

William menatap arah jalan yang dilalui kereta Blackwood.

“Tidak ada yang menyentuhnya,” ucapnya dingin.

“Bahkan bayangan sekalipun.”

Sayap selir — pagi yang sama

Heilen Valerius menerima laporan sambil tersenyum tipis.

“Jadi dia pergi,” gumamnya.

“Bagus.”

Alistair berdiri di dekat jendela.

“Justru itu berbahaya,” katanya pelan.

“Blackwood adalah wilayah yang tidak mudah disentuh.”

Heilen meliriknya.

“Justru karena itu,” jawabnya dingin,

“kita tidak menyerang wilayahnya.”

Ia tersenyum.

“Kita menyerang jarak.”

Di dalam kereta Blackwood

Anthenia memejamkan mata sesaat.

Araluen menjauh.

Namun bayangan William tetap tinggal—bukan sebagai panglima, bukan sebagai putra mahkota.

Melainkan sebagai seseorang yang berdiri di titik yang tidak ia rencanakan.

Ia membuka mata, menatap jalan di depan.

“Ini pilihanku,” gumamnya pelan.

“Dan aku akan menanggungnya.”

Kereta melaju, meninggalkan istana.

Dan di balik keheningan pagi,

permainan memasuki fase baru.

Jalan perbatasan Araluen — siang hari

Kereta Blackwood melaju stabil di jalan berbatu. Hutan pinus menjulang di kiri kanan, angin membawa aroma tanah basah.

Anthenia duduk tegak, pandangannya terarah ke luar jendela.

Terasa… berbeda, pikirnya.

Lebih sunyi.

Bukan karena jalan sepi—

melainkan karena ia benar-benar menjauh dari pusat permainan.

“Kita akan berhenti sebentar di pos Sungai Grey,” ujar kapten pengawal dari luar.

“Untuk mengganti kuda.”

“Lakukan,” jawab Anthenia tenang.

Kereta melambat.

Pos Sungai Grey

Bangunan batu sederhana berdiri di tepi sungai. Beberapa prajurit lokal memberi hormat. Situasi tampak normal—terlalu normal.

Anthenia turun sebentar, menghirup udara segar.

Saat itulah ia merasakannya.

Tatapan.

Tidak jelas dari mana, tidak terlihat siapa.

Namun naluri lamanya—naluri Jane—berbisik tajam.

Ada yang mengikuti.

“Kapten,” ucapnya pelan tanpa menoleh.

“Formasi rapat. Jangan ubah rute.”

Kapten mengangguk tanpa bertanya.

Di balik pepohonan

Bayangan bergerak.

Tiga orang berpakaian gelap, wajah tertutup. Mereka tidak mendekat—hanya mengamati.

Salah satu dari mereka mengangkat tangan…

lalu menurunkannya kembali.

Isyarat batal.

Mereka mundur perlahan, menghilang seperti kabut.

Beberapa saat kemudian

Kereta kembali berjalan.

Anthenia tetap berdiri di pijakan, matanya menyapu jalan.

“Tidak ada insiden,” lapor kapten.

Anthenia mengangguk.

“Karena memang tidak direncanakan untuk terjadi,” katanya pelan.

Kapten menegang.

“Maksud Lady…?”

“Mereka hanya ingin memastikan aku benar-benar pergi,” jawabnya.

Jauh di belakang — bukit rendah

Seorang pria berdiri dengan mantel gelap, menurunkan teropong.

“Target aman,” katanya singkat.

Di balik mantel itu, lambang kecil tersembunyi—

unit bayangan Aurelius.

“Lanjutkan pengawalan jarak jauh,” perintah suara lain dari balik bayangan.

“Tanpa terlihat.”

Pria itu mengangguk.

“Perintah Putra Mahkota.”

Sore hari — di dalam kereta

Anthenia duduk kembali, jari-jarinya menyentuh pinggiran mantel.

Dia benar-benar melakukannya, pikirnya.

Tanpa bilang. Tanpa pamer.

Entah kenapa, dadanya terasa hangat—dan itu membuatnya kesal.

“Bodoh,” gumamnya lirih.

“Ini tidak seharusnya menenangkan.”

Namun ketegangan di pundaknya perlahan mengendur.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Araluen,

ia merasa… dijaga.

Menjelang senja

Menara Blackwood mulai terlihat di kejauhan.

Anthenia menatapnya lama.

Rumah, pikirnya.

Dan medan baru.

Ia menarik napas dalam.

“Apa pun yang menungguku,” katanya pelan,

“aku siap.”

Di kejauhan, matahari tenggelam perlahan.

Dan di balik senja itu,

jarak yang dipilih mulai menunjukkan harga dan perlindungannya.

Menjelang malam — Kediaman Duke Blackwood

Menara hitam Blackwood menjulang kokoh di bawah langit senja. Api obor menyala di sepanjang dinding batu, menyambut kepulangan sang putri.

Kereta berhenti.

Pintu terbuka.

Anthenia turun dengan langkah mantap.

“Lady Anthenia telah kembali!” seru seorang penjaga.

Langkah kaki berat terdengar dari dalam aula.

Duke Kaelen Blackwood muncul—mantel hitamnya terbuka, wajahnya keras seperti pahatan batu. Namun begitu matanya menangkap sosok di depannya, ketegangan itu retak.

“Anthenia,” ucapnya.

Anthenia menunduk hormat.

“Ayah.”

Untuk sesaat, tidak ada kata.

Lalu Duke Kaelen menariknya ke dalam pelukan singkat—kasar, kaku, tapi nyata.

“Kau terlambat,” katanya.

“Dan istana terlalu berisik.”

Anthenia tersenyum kecil.

“Aku setuju.”

Aula dalam — beberapa saat kemudian

Api perapian menyala hangat. Teh diletakkan, tapi tidak disentuh.

Duke Kaelen menatap putrinya lama—terlalu lama untuk sekadar memastikan keselamatan.

“Kau berubah,” katanya akhirnya.

Anthenia mengangkat alis tipis.

“Semua orang mengatakan itu.”

“Bukan caramu berbicara,” lanjut Duke.

“Tapi caramu berdiri.”

Ia menyandarkan siku di meja.

“Dan aku mendengar laporan yang… tidak masuk akal.”

Anthenia diam.

“Katanya,” Duke melanjutkan pelan,

“kau berduel dengan Putra Mahkota. Panglima perang Aurelius.”

Suara api berderak.

“Sejak kapan Anthenia bisa mengayunkan pedang?”

Nada Duke rendah—bukan marah. Terkejut.

Anthenia menatap nyala api.

“Sejak aku berhenti takut,” jawabnya jujur.

Duke Kaelen terdiam.

Ia menatap putrinya—seolah melihatnya untuk pertama kali.

“Kau tahu,” katanya pelan,

“aku membesarkanmu untuk bertahan. Bukan untuk berdiri di tengah badai.”

Anthenia menoleh padanya.

“Dan aku berdiri karena Ayah mengajariku,” katanya.

“Bagaimana caranya tidak runtuh.”

Keheningan mengendap.

Akhirnya, Duke Kaelen menghela napas panjang.

“Jika istana mulai mengincarmu,” katanya tegas,

“Blackwood tidak akan diam.”

Anthenia mengangguk.

“Aku tidak mengharapkan apa pun selain itu.”

Malam — balkon Blackwood

Anthenia berdiri sendiri, menatap wilayahnya yang gelap namun tenang.

Di kejauhan, patroli bergerak rapi.

Aku kembali, pikirnya.

Namun permainan tidak berhenti.

Ia menyentuh dadanya pelan.

Nama itu muncul lagi—tanpa diminta.

William.

Anthenia menghembuskan napas.

“Jarak,” gumamnya.

“Katanya bisa meredakan.”

Namun yang ia rasakan justru sebaliknya.

Di balik tembok Blackwood yang kokoh,

dan di balik jarak yang ia pilih dengan sadar—

benang antara mereka tidak putus.

Ia hanya… ditarik lebih kencang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!