Namanya adalah Haidee Tsabina, wanita cantik dengan hijabnya yang merupakan istri seorang Ibrahim Rubino Hebi. Kehidupan keluarga mereka sangat harmonis. Ditambah dengan seorang anak kecil buah cinta mereka yaitu Albarra Gavino Hebi
Tapi semua berubah karena sebuah kesalahpahaman dan egois yang tinggi. Rumah tangga yang tadinya harmonis berubah menjadi luka dan air mata.
Sanggupkah Haidee dan Ibra mempertahankan keluarga kecil mereka ditengah banyaknya rintangan dan ujian yang harus mereka hadapi? Atau mereka akan menyerah pada takdir dan saling melepaskan? Yuk baca kisahnya.
Follow Ig author @nonamarwa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Marwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Jangan lupa like, vote dan komentarnya yaa teman-teman
Jangan lupa follow Instagram author @nonam_arwa
🌹HAPPY READING🌹
Al masih menangis sesegukan dalam pelukan Kevin. Tangannya mencengkram erat ujung baju Kevin menyalurkan ketakutannya. Agam yang duduk di samping mereka mengusap lembut punggung Al. Memberikan ketenangan untuk anak itu.
Kevin merenggangkan pelukannya dan memegang kedua bahu kecil Al. "Al, dengerin Uncle, ya. Mulai sekarang, Al nggak boleh takut sama Aunty Naina. Kalau Al sayang Umi, Al haru tunjukkin sayang Al sama Umi. Al harus buat Abi sama Umi bangga karena memiliki anak seperti Al. Al adalah Hero bagi Abi dan Umi Al. Jadi Al harus bisa melawan semua ketakutan Al," ucap Kevin. Al mengangguk menyetujui ucapan Kevin.
"Apapun yang terjadi, kalau Al tidak bisa mengatakannya pada Abi Al, Al bilang sama Uncle Agam atau Uncle Kevin. Uncle pasti akan selalu asa untuk Al. Kita akan melindungi Abi dan Umi Al dari Aunty Naina. Jadi Al harus berani," ucap Agam ikut memberi semangat kepada Al.
Al tersenyum dalam sesegukannya. "Iya, Uncle. Sekalang Al udah nggak takut. Kalena Umi sudah ada di sisi Al. Ditambah lagi ada Abi dan Uncle yang melindungi Al. Walaupun Abi tidak tahu, Al yakin, Abi pasti akan melindungi anaknya, bukan?" ucap Al semangat.
Agam dan Kevin mengangguk membernarkan ucapan Al. "Benar sekali. Abi Al sangat menyayangi, Al," jawab Agam.
Kevin ikut mengangguk mendengar ucapan Agam. "Sekarang ayo kita tidur, Boy. Kalau telat bangun subuh, Uncle bisa dihajar oleh Abi Al nanti," ucap Kevin merebahkan tubuh Al di tengah-tengah mereka.
Al menoleh kepada Kevin, "Selamat tidul, Uncle Kevin," ucap Al. Setelahnya dia menoleh kepada Agam, "Selamat tidul, Uncle Agam," ucap Al.
"Selamat tidur, Boy," jawab Kevin dan Agam serentak.
Tangan Agam terulur mengusap lembut rambut Al, agar anak itu tidur lebih nyenyak. Tak lama setelahnya, terdengar dengkuran halus dari mulut mungil Al. Menandakan bahwa anak itu sudah tertidur.
"Vin, gue mau kasih perhitungan sama Naina. Bagaimana bisa dia tega melukai anak sahabatnya sendiri. Ini benar-benar gila, Vin," ucap Agam setelah memastikan Al benar-benar tidur.
"Naina emang sudah keterlaluan, Gam. Tapi kita jangan langsung bertindak dulu. Untuk saat ini kita turuti ucapan Al. Kita harus pura-pura tidak tahu mengenai ini. Yang penting kita harus selalu lindungi Al dan Dee. Sasaran Naina sebenarnya adalah Dee, Gam. Naina mencintai Ibra," jawab Agam.
"Itu bukan cinta, Vin. Itu obsesi namanya. Gue benar-benar nggak habis pikir dengan jalan pikiran Naina. Kemana perginya Naina yang lembut dan ramah. Kenapa sekarang bisa jadi Lalat Hijau begitu?" ucap Agam menggebu-gebu melampiaskan kekesalannya kepada Naina.
"Jangan kerasin suara Lo, bego," ucap Kevin dengan suara tertahan menyuruh Agam mengecilkan suaranya.
"Iya, maaf. Kesel, gue," jawab Agam setengah berbisik.
"Kita akan bongkar semuanya kalau bukti udah ditangan kita, Gam. Al tidak cukup untuk kita jadikan bukti. Lo tahu sendiri gimana Ibra, dia nggak akan percaya kalau kita ngomong tanpa bukti," ucap Kevin.
"Luka ditubuh Al sudah menunjukkan bukti, Vin," jawab Agam tidak terima.
Kevin menggeleng, "Gue tau Ibra, Gam. Dia nggak akan percaya semudah itu. Apalagi orang yang melakukan ini adalah Naina. Lo tahu sendirikan, bagaimana Ibra sangat percaya kepada Naina. Kalau luka Al bisa jadi bukti, maka luka di tubuh Dee juga bisa jadi bukti kalau dia tidak menusuk Tante Raina, Gam. Tapi Ibra masih saja nggak percaya, kan. Jadi kita harus cari bukti dulu. Untuk sekarang kita cukup lindungi Al dan Dee," ucap Kevin menjelaskan kepada Agam.
"Huh, gue nggak habis pikir sama sahabat gue yang satu itu," ucap Agam mengingat bagaiman keras kepalanya Ibra.
Waktu subuh telah datang. Suara adzan berkumandang membangunkan wanita cantik berkepala botak dari tidurnya. Dee perlahan membuka mata. Yang pertama kali dia lihat adalah bulu halus yang ada di dada bidang suaminya. Dee mendongak, dia melihat Ibra yang masih memejamkan mata.
"Terpesona karena ketampanan suamimu, sayang," ucap Ibra tiba-tiba dan langsung membuka mata. Manik mata coklatnya bertemu dengan manik Hitam pekat milik Dee.
"Cup. Morning kiss," ucap Ibra memberikan kecupan lembut di bibir Dee.
Wajah Dee memerah karena malu. Dengan segera Dee menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ibra.
"Padahal ini bukan yang pertama kalinya, tapi kamu masih saja malu, sayang," ucap Ibra.
Dee memukul pelan dada Ibra, "Mas, ih. Malu," rengek Dee.
Ibra tergelak mendengar suara manja istrinya. "Ya sudah, sekarang kita bangun dan sholat subuh, ya," ajak Ibra.
Dee mengangguk, "Mas sholat di mesjid saja. Sekalian ajak Al sama yang lainnya. Pahalanya akan lebih banyak," ucap Dee tersenyum.
"Iya, sayang,"
Dee bangun dari tidurnya dan mengambil hijab instan yang ada di meja samping ranjang. "Kalau gitu, Mas bangunin Al sama yang lainnya dulu. Biar Dee yang siapkan baju kokonya," ucap Dee setelah memasang hijabnya.
Dengan patuh Ibra turun dari ranjang dan keluar kamar untuk membangunkan Al dan kedua sahabatnya. Sampainya di kamar Al, Ibra melihat anak dan kedua sahabatnya tidur dengan keadaan kasur yang memperihatinkan. Selimut dan bantal sudah tergeletak indah di lantai. Entah bagaimana cara mereka tidur, kaki Al Audah berada di kepala Agam. Ibra hanya geleng-geleng kepala melihat anak dan sahabatnya ini.
"Woi, bangun!" ucap Kevin mengguncang bahu Agam dengan kencang. Agam sama sekali tidak terusik dari tidurnya.
Ibra beralih membangunkan Kevin. "Woi, bangun!" sama sepeti Agam, Kevin malah makin menenggelamkan kepala kedalam bantal.
Ibra tak kehabisan akal, dia pergi ke kamar mandi. Tak berselang lama, Ibra kembali dengan segayung air di tangannya.
Byuur,, Ibra menyiram Agam dan Kevin bergantian.
"Anjir, ngapain Lo siram gue, sih?" kesal Kevin yang terlonjak kaget karena merasakan dingin di wajahnya.
"Dasar manusia gila," gerutu Agam mengusap Wajahnya yang basah.
Sedangkan Al masih setia dalam tidurnya. "Anak, Lo?" ucap Kevin karena melihat Ibra tidak menyiram anaknya.
"Anak gue dibangunin pakai kasih sayang. Kalau Lo berdua Nggak apa-apa main kasar," ucap Ibra santai.
Ibra langsung menggendong Al tanpa membangunkan anak itu. Al yang merasakan melayang dalam tidurnya perlahan membuka mata. "Abi," panggil Al dengan suara seraknya ketiak melihat Ibra yang telah menggendongnya.
"Ngapain sih, Lo bangunin kita subuh begini? Masih ngantuk gue," ucap Kevin kembali merebahkan diri.
"Buruan siap-siap, kita ke mesjid sholat subuh. Kalau enggak, Lo berdua nggak boleh sarapan nanti," ancam Ibra cuek dan berlalu membawa Al ke kamar mandi.
"Dasar gila!"
"Emang bang sat!"
Gerutu Kevin dan Agam melihat Ibra yang telah membawa Al ke kamar mandi.
......................
Terimakasih sudah setia mengikuti kisah receh yang author tulis.
Tunjukan sayang kalian dengan kasih vote, like dan komentarnya untuk novel ini, ya.
Author sayang kalian 🌹🌹😘
tapi seruuu puas bgt bacanya
terimakasih thooor
semoga karya mu selalu d gemari
berbahagialah dee
paling buat berobat Jaka 15rb tuuh beli betadine