NovelToon NovelToon
The Sketchbook

The Sketchbook

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Contest / Asmara / Romansa-Teen school / Gadis baik / Tamat
Popularitas:52.3k
Nilai: 4.2
Nama Author: @l_uci_ous

Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.

Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.

Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Ada sensasi tak nyaman di dalam diri Vita yang sudah ia ketahui apa penyebabnya. Ia tidak tahu bagaimana parasaannya pada Andra sebenarnya. Ia  langsung menolaknnya karena ia tak mau hubungannya dengan Rafka  rusak, dan memang ia tak kepikiran untuk berpacaran. Ia saja sudah memiliki cukup banyak masalah. Namun perasaannya jadi tak karuan sekarang karena mengatakan bahwa ia tak menyukai Andra. Padahal, ia tak tahu apa ia menyukai Andra atau tidak. Ia tak pernah serius memikirkan hal semacam itu. Ketidaktahuan itu memang membuat sengsara.

Vita menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menatap langit-langit kamarnya yang temaram. Sudah lewat senja, tapi Vita belum menyalakan lampu. Semenjak ia terenyak di kursi ini, ia malas sekali untuk bangun. Selain itu pikirannya penuh dengan Andra. Ia kira ia akan gila dengan segera.

Jika ia pikirkan lagi, Andra adalah orang yang menyenangkan, Vita merasa nyaman bersamanya walau kadang dia sedikit menyebalkan, betul-betul sedikit. Beberapa kali Andra bahkan membuatnya berdebar. Belakangan apa lagi. Apa itu artinya ia punya perasaan lebih pada Andra?

“Apa aku bilang aja, ya, sama Andra?” gumam Vita. “Tapi kalo aku ngasih tahu Andra, kesannya aku nge-PHP-in Andra, enggak, sih? Atau malah jadi terkesan labil?”

Vita menghembuskan napas pendek. Selanjutnya ia mengatupkan kelopak matanya. Sebentar lagi ia akan ujian, tapi ia malah memikirkan hal-hal tak penting seperti ini. Seharusnya ia belajar sekarang, bukannya bertanya-tanya bagimana perasaannya pada Andra. Dan lagi, ia sudah mencemaskan hubungannya dengan Rafka, padahal belum tentu laki-laki itu memiliki perasaan lebih padanya. Selama ini ia ‘kan hanya menduga-duga.

Aish!

Bisa jadi ia yang kegeeran berpikir Rafka menyukainya. Dan ia sudah menyakiti perasaan Andra, membohongi laki-laki itu tentang perasaannya sendiri. Konyol sekali jika ia hanya kegeeran.

Konyolnya aku ini.

Vita mengangkat punggungnya dan menjatuhkan keningnya ke daratan keras meja belajarnya. Ia menghantam-hantamkan kepalanya dengan pelan.

“Aku kira aku beneran suka sama Andra,” bisiknya kesal. “Udah lama banget gak ngerasa gak enak kayak gini kalo bohong.”

“Aku suka sama Andra. Aku suka Andra,” ia terus berbisik di antara hamtaman kepalanya, “Aku suka sama Andra. Aku suka sama Andra. Aku suka sama Andra. Aku suka sama Andra. Aku suka sama Andra. Aku suka sama And...”

Ponsel Vita berbunyi, menyela ucapannya. Ia mencari benda sumber bunyi tersebut tanpa mengangkat kepala. Tangannya menggapai-gapai ke sana ke mari, nyaris menjatuhkan pot bunga dari Rafka.

Dapat!

Vita mengangkat dan menempelkannya ke telinga, sedang keningnya masih bertumpu pada bibir meja. Ia sama sekali tak melihat nama yang tertera di layar ponsel. Meski ia punya dugaan yang bagus. Memang siapa lagi orang yang mau menelponnya pada Sabtu malam begini? Andra jelas tercoret, mengingat penolakkannya pagi tadi. Jangan-jangan Andra malah sudah menghapus semua kontaknya.

“Halo,” Vita bersuara, tak bersemangat.

“Kamu di rumah?”

“Mm.”

“Nonton yuk?”

“Di mana?”

“Bioskoplah, Cha, memang mau di mana lagi?”

“Di tempat yang waktu itu.”

“Yuk sekarang, gak pa-pa kalo kamu mau,” Rafka terkikik di ujung sana.

“Ish...”

“Kalo ‘gitu nonton di rumahku aja ‘gimana? Cuma ada bibi di rumah, yang lain pada pergi makan di luar. Kalo kamu mau, sekarang aku jemput, nanti jam sambilan aku anterin pulang lagi.”

“Aku lagi gak pengen nonton. Aku punya banyak episode drama Korea yang belum di tonton.”

“Kalo ‘gitu makan aja ‘gimana? Aku bisa masak, loh.”

“Paling-paling juga masak mie instan.”

“Ck. Serius, aku bisa masak yang lain. Kamu ‘kan tahu aku ini anak yatim-piatu.”

“Rafka!” Vita menegurnya.

“Iya, iya. Anak piatu. Jadinya, aku ‘kan  harus mandiri.”

Yang benar saja, pikir Vita.

“Ta,” sebuah suara memanggil dari belakang Vita.  Ia terperanjat hingga melepaskan ponselnya yang seketika meluncur mulus ke lantai.

Astaga! Ia hampir terkena serangan jantung.

Sebelum memutar kursinya ia menghela napas dalam-dalam. Ia menemukan siluet ayahnya di mulut pintu.

“Kenapa, Yah?”

“Kamu udah makan?”

“Udah.” Vita mengangguk. Jantungnya masih berdegup kencang. Rasanya seperti ketahuan berbohong.

“Kenapa gak di-nyala-in lampunya?” Ayahnya menekan tombol untuk menghidupkan lampu. Ruangan menjadi terang selayaknya.

“Ah, itu, ketiduran,” ujar Vita, tangannya mengusap secara horizontal keningnya yang sedikit sakit. Kenapa ia harus punya kebiasaan buruk membenturkan kepalanya jika pikirannya sedang penuh, atau saat ia tak dapat menemukan jawaban dari suatu pertanyaan, atau ketika ia melakukan sesuatu yang bodoh, atau saat ia merasa menyesal, tak tahu harus bagaimana dan merasa frustrasi? Tidak bisakah ia seperti gadis lain yang akan melipat-lipat dirinya dipojokan gelap atau meringkuk di bawah selimut jika sedang frustrasi?

Arghhhh! Ia harus mencari kebiasaan lain, jika tidak mungkin suatu saat nanti ia akan gegar otak.

“Jangan terlalu stres,” ayahnya berkata melihat gerakkan Vita. Ia kemudian berbalik bersiap untuk berlalu, tapi Vita menghentikannya saat teringat sesuatu.

“Yah, aku boleh pergi ke rumah temanku?”

Ayahnya berbalik kembali, senyum kecil menghiasi bibirnya. “Siapa? Rafka? Atau yang lain?”

Vita merasakan wajahnya memanas. Ayahnya pasti berpikir ia dan Rafka ada prospek menjadi lebih-dari-teman. “Rafka.”

Ayahnya mengangguk. “Jangan pulang terlalu malam.” Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.

“Iya!” Vita menjawab, sedikit mengencangkan suaranya.

Dalam satu gerakkan, Vita memutar kursinya dan membungkuk memungut ponselnya yang terletak dalam posisi terbalik.

“Aku gak suka nunggu, jadi cepet.”

“Oke. Satu menit lagi aku sampe.”

“Kamu gak lagi di depan, ‘kan?”

“Ya, ‘gitulah.”

Vita berdiri, ia melongokkan wajahnya keluar jendela untuk melihat ke halaman depan. Benar. Dia ada di sana. Rafka berdiri di sana dengan satu tangan menempelkan ponselnya ke muka telinga sedang tangan lain melambai padanya. Senyum lebarnya yang tetap memesona membuat Vita tak tahan untuk tersenyum.

“‘Gimana kalo tadi aku gak mau pergi?”

“Aku bakal ngetok pintu rumah kamu dan bilang ke Ayah kamu kalo kita ada tugas yang harus banget dikerjain malam ini.”

“Benar-benar jawaban Rafka.” Senyum Vita semakin lebar. Andra sudah benar-benar tersapu dari benaknya.

***

“Hai! Mau jalan sama gue?”

“Di terima?”

“Di tolak.” Andra tersenyum tak enak.

“Udah gue duga. Vita itu belum mau pacaran.”

“Entah emang gak mau pacaran atau dia udah punya perasaan sama Rafka.”

Tiara terdiam mendengar ucapan Andra. Ia keceplosan bicara. Kalau Vita menolakkannya karena Rafka, bukan hanya dia yang sakit hati, tapi gadis cantik di depannya ini pun akan merasa hal yang sama.

“Mau gak jalan sama gue?” Andra bertanya untuk kedua kalinya dalam usaha memperbaiki atmosfer.

Kening Andra mengernyit saat Tiara menyusuri penampilannya dengan pandangan menilai. Ia cukup yakin ia lolos penilaian untuk keluar dengan Tiara. Ia cukup tampan, rapi, dan begitu wangi malam ini. Seharusnya, jika tak ditolak Vita, dengan gadis itulah ia akan pergi, bukan dengan sepupunya.

“Kasian gue sama lo. Rambut lo udah licin banget, sayang kalo gak dipamerin di luar.”

Keduanya tertawa kecil.

Tiara mendekatkan wajahnya ke arah Andra sembari mengendus. “Belum lagi parfumnya. Ayo masuk dulu, gue mau ganti.”

“Ah,” Andra mengikuti Tiara ke dalam, “Gue kira parfum gue bakal mubazir. Thanks banget.”

“Tapi kita gak akan makan mie instan lagi ‘kan malam ini?” Tiara berbalik sebelum menghilang dari pandangan.

***

“Sepi banget rumah kamu,” Vita berkata begitu turun dari motor.

“Mm. Ayo masuk.”

Jadi seperti ini rumah Rafka. Vita kira rumah ini tiga kali lipat luas rumahnya, bisa jadi lebih. Rumahnya cantik, tapi dingin. Rumah ini di dominasi warna putih dan memiliki banyak jendela kaca yang membuatnya akan sangat terang di siang hari. Selain itu, rumah ini punya banyak hiasan mahal, tapi ada sedikit sekali foto di dinding, dan nyaris tak ada di atas banyak meja yang ditemui Vita. Hanya ada satu foto keluarga yang sangat lebar di lihat Vita sejauh ini, dan seperti yang Tiara katakan, tak ada Rafka di dalamnya. Bahkan Rafka tak ada di dalam bingkai mana pun, di meja maupun di dinding. Tak ada tempat yang diisi sosok tampan Rafka yang diwarisinya dari ayahnya. Entah tempat ini yang menolak memiliki Rafka sebagai bagiannya, atau sebaliknya.

“Duduk,” suruh Rafka.

“Katanya mau ngasih makan,” Vita mengingatkan.

“Iya. Kirain mau duduk dulu.”

“‘Kan bisa duduk sambil nungguin kamu masak.”

“Ayo!” Rafka beranjak dari duduknya. Ia semangat sekali. Membuat Vita yang mengekorinya tersenyum. Ia suka Rafka yang seperti ini. Ah, tidak hanya ini, ia menyukai Rafka di banyak kesempatan, dan ini salah satunya.

Setibanya di dapur, Vita duduk di kursi tinggi di depan counter. Baru saja duduk, seorang wanita datang dari pintu belakang. Ia melirik pada Vita dan tersenyum, Vita balas tersenyum juga. Kemudian wanita itu menghampiri Rafka.

“Den Rafka mau ngapain?”

“Masak,” jawab Rafka santai.

“Udah biar Bibi aja. Den Rafka mau makan apa, biar Bibi masakin.”

“Gak usah. Bibi istirahat aja sebelum keluarga penyihir pulang.”

Tak perlu dijelaskan lebih jauh, Vita tahu siapa yang Rafka maksud ‘keluarga penyihir’.

“Gak semua penyihir jahat, ya.”

“Aku gak bilang jahat, ‘kan?” Rafka berkata, menyeringai.

“Tapi, Den...”

“Gak pa-pa, Bi. Aku lagi pengen masak sesuatu yang spesial buat orang spesial.” Rafka melirik Vita yang balas memandangnya sejenak, lalu berpaling, setelah sebelumnya mengerjap.

Bila Rafka seperti ini, bagaimana mungkin Vita tak berpikir bahwa laki-laki tidak memiliki perasaan lebih padanya. Mengerikan sekali membayangkan Rafka menyatakan cinta padanya di hari yang sama saat ia menolak Andra. Tidak mungkin ‘kan Rafka akan melakukan itu?

“Bilang kalo butuh apa-apa, ya, Den,” ucap Bibi Rafka sebelum menghilang.

“Nah,” Rafka mengembalikan pandangan Vita padanya lagi, “kamu mau makan apa?”

“Apa, ya...? Mmm... Sop buntut.”

“Cha...” Rafka berkata dengan lemas, “mana bisa aku bikin yang kayak ‘gitu.”

“Katanya bisa masak,” ejek Vita.

“Yang lain.”

“Apa aja menunya?”

“Ng...” Rafka bagai berpikir, “Nasi goreng omelet, pasta, telor mata sapi, mie instan,” ia tersenyum saat menyebut menu terakhir.

“Apa aja, deh, yang penting—”

“Tanpa MSG. Alright.” Ia langsung melangkah ke arah kulkas dengan gesit.

“Kamu belum makan malem, ‘kan?”

“Belum.”

***

“Kita mau ke mana sebenernya?” tanya Tiara ketika ia dan Andra mulai menjelajahi trotoar. Berbagai macam kendaraan melaju di sisi kanan Tiara.

“Ndra?” Tiara menoleh pada Andra yang mundur sedikit dan sekonyong-konyong sudah menjadi jarak antara dirinya dan jalan raya. Andra sudah melangkah di sisi kanannya. Alangkah baiknya laki-laki satu ini, pikir Tiara. Seandainya Rafkalah yang melakukan hal itu. Ia akan melayang seperti Bibi Marge, bibi Harry Potter. Atau ia akan meleleh seperti keju mozarela di dalam oven. Tahulah.

Andra nyengir. Tiara balas tersenyum.

“Jadi kita mau ke mana?”

“Siapa yang terakhir nyampe ke tempat bakpao di ujung sana, dia yang traktir!!” Andra berteriak, lalu berlari mendahului Tiara.

“ANDRA! CURANG!!!”

Tiara belari mencoba menyusul Andra yang sudah jauh di depan sana. Sembari berlari ia tersenyum, nyaris tertawa. Kapan terakhir kali ia berlari-larian seperti ini selain saat pemanasan pelajaran olahraga? Sudah lama sekali. Ia tak mengingatnya. Tapi ia senang. Sempat terpikir juga olehnya bahwa mungkin malam ini ia jadi pelarian Andra, namun cepat-cepat ia tepis dari pikirannya. Andra ‘kan tak setega itu. Andra terlalu baik untuk membuat temannya menjadi pelarian, atau cadangan, pengganti teman malam Minggunya yang gagal. Ia yakin Andra tak sampai hati menempatkannya di posisi itu.

Iya, ‘kan? Tiara jadi ragu. Mana ia tahu apa yang ada di dalam otak Andra.

Tak mungkin. Tiara membuang prasangkanya. Ia sudah berteman dengan Andra lumayan lama. Ia kira ia cukup mengenal laki-laki itu. Dan ia kira, Andra buka tipe orang yang akan menjadikan gadis lain sebagai cadangan. Andra tidak seperti itu.

Semakin dekat posisi Tiara dengan Andra, ia menjadi sadar jika kecepatan Andra semakin berkurang, bukan kecepatannya yang semakin bertambah. Saat jaraknya dengan Andra tambah sempit, Tiara mendengar Andra yang terbungkuk berucap, “Aaa... paru-paru gue kebakaran...”

Bagi Tiara itu kalimat tak biasa yang diucapkan oleh seorang Andra Hermawan. Kalimat itu lebih pantas di ucapkan oleh orang seperti Rafka.

Ketika berpapasan dengan Andra, Tiara memukulkan telapak tangannya pada kepala Andra yang memegangi dadanya. Sambil melakukan itu berkata, “Lebay!” dan ia berlalu mendahului Andra.

Tak diketahui Tiara bahwa Andra tersenyum saat melihat gadis itu meninggalkannya semakin jauh. Tiara mungkin tak sadar bahwa Andra sengaja melakukannya agar Tiara yang sampai duluan. Mana bisa ia membiarkan Tiara yang membayar makanan yang mereka habiskan. Lagi pula ia tahu belakangan ini hari Tiara tak berjalan begitu baik, seperti buruknya harinya hari ini.

“Udah makan berapa, Ra?” tegur Andra, sesampainya ia di sisi Tiara yang sedang meniupi bakpaonya yang mengepul seraya menggigitnya sesekali.

“Baru juga satu.” Tiara memandang Andra dari sudut matanya. “Karena ini gratis, gue bisa makan lima puluh,” ia tersenyum konyol, lalu menggigit bakpao yang coklatnya meleleh.

“Gue gak mau lagi temenan sama lo, Ra, kalo lo makan lima puluh.”

“Kenapa?” Tiara sepenuhnya berpaling pada Andra. Bakpaonya yang setengah jalan menuju mulut, mundur kembali.

“Rugi!”

“Yeee! Gue juga gak mau temenan sama orang yang gak mau bayarin gue makan.”

“Yaudah. Kalo gitu kita gak usah temenan.”

“Oke!” Kemudian ia berpaling lagi pada penjualnya makanan yang sedang dinikmatinya.

“Tapi lo harus bayar yang ini, ya,” kata Tiara, suaranya pelan. Saat mengatakan ‘ini’ ia menggeser bakpaonya yang tinggal dua per tiga sedikit ke samping, bermaksud memperlihatkannya pada Andra.

“Enggak mau, ya.”

“Lo udah janji, ya.”

“Janji bisa diba—”

“Cobain, deh, Ndra!” Tiara menjejalkan bakpao di tangannya ke mulut Andra yang terbuka. Mau tak mau Andra menggigitnya.

“Enak, ‘kan?”

Andra mengunyah sejenak, lalu berkata, “Lumay...” ia teriangat si penjual dan meliriknya sebentar, “Enak!”

“Kalo gitu bayar!” Tiara berlalu, meninggalkan Andra yang tersenyum tak enak pada penjual bakpao. Ia mengatakan ia menginginkan tiga bakpao lagi lalu memberikan sejumlah uang untuk membayarnya.

Andra melangkah cepat untuk menyusul Tiara. Di lihatnya gadis itu mengluarkan ponsel dari saku jaketnya sembari tetap menikmati makanannya. Tiara berhenti di sisi jalan, posisinya siap menyebrang.

Benar-benar gadis bernama Tiara ini!

Andra berlari sangat cepat untuk mencegah Tiara yang telah turun dari trotoar, sedang mata gadis itu masih fokus pada ponsel.

Andra menarik tangan Tiara untuk mengehentikannya lalu menghelanya naik kembali ke trotoar tepat sebelum sebentuk mobil melintas melewati keduanya, menyisakan angin hangat.

“Lo mau bunuh diri di tolak Rafka?” tanyanya jengkel.

“Eh?” Ia melepaskan tangannya dari cengkraman Andra, wajahnya kebingungan. Begitu ia sadar apa yang didituduhkan Andra, Tiara berkata dengan tegas, “Ya enggaklah! Memangnya gue setolol itu?!”

Tidak akan pernah ia berpikir untuk mati hanya karena seorang laki-laki, remaja pula. Yang benar saja! Menurut Vita itu tidakkan yang sangat drama dan menggelikan. Vita akan mengejeknya habis-habis jika ia melakukan tindakan gila itu. Mau di taruh di mana mukanya?

Hidupkan tidak berpusat hanya pada satu orang. Disumpah-sumpahi ibunya saja tak ada ia niat ingin mati, mana mungkin karena di tolak oleh Rafka ia ingin mati. Ia memang tak seperhitungan Vita, tapi akalnya tak begitu pendek juga.

“Kalo ‘gitu lihat-lihat kalo mau nyeberang. ‘Kan gak lucu kalo lo kecelakan waktu lagi jalan sama gue.” Wajah Andra masih tetap kesal.

Tiara tertawa.

“Gue tuh lihat-lihat, Andra,” ucapnya, masih ada sisa tawa dalam suaranya.

“Lihat dari mana? Nunduk mulu mandangin HP. Bayangin! Kalo lo ketabrak tadi, apa yang mau gue bilang ke nyokap lo?!”

“Tapi gue ‘kan gak ketabrak.”

“Hampir.”

“Baru hampir.”

“Tetep aja.”

“Sorry kalo ‘gitu. Gue janji gak akan merhatiin HP lagi kalo mau nyeberang.”

“Gak perlu minta maaf ke gue. Memangnya lo salah apa sama gue? Yang lo bahayain ‘kan nyawa lo sendiri. Jadi, lo seharusnya minta maaf sama diri lo sendiri.”

“Ya, udah.” Tiara menahan senyum agar terlihat lebih serius. “Ehem,” ia membersihkan tenggorokannya, “Gue minta maaf, ya, Ra.” Kedua tangan Tiara saling bertangkupan seperti orang-orang yang ada di banner-banner menjelang lebaran yang dilengkapi tulisan ‘selamat hari raya idul fitri’ beserta tahun hijriahnya.

“Udah?” Tiara tak tahan lagi membendung senyum. Ia senang saat Andra ikut tersenyum dan mengajaknya beranjak dari situ. Mereka pun menyeberang dengan tangan saling bertautan.

Setelah sampai di seberang, sembari melangkah santai, keduanya kembali menikmati bakpao yang di bawa Andra. Mereka sama sekali tak kekurangan bahan obrolan sedikit pun. Jeda terlama keduanya tak ada bahan hanya 30 detik, setelah itu mereka kembali lanjut bercerita dan bergurau.

“Lo tahu,” ujar Tiara melihat bakpaonya yang isi ayam, “Vita gak suka sama bakpao isi ayam. Dia bilang itu kombinasi yang aneh.”

“Oh, ya?”

“Mm. Padahal kalo dia masak telor, kombinasi yang dia ciptain jauuuuuh lebih aneh. Bayangin, dia pernah bikin omelet di campur potongan anggur sama jeruk.”

“Serius?”

“Iya,” balas Tiara dengan semangat. “Pernah juga di campur bubuk kopi. Dia bilang itu eksperimen.” Tiara mengakhirinya dengan tawa.

Andra tertawa sedikit, dan tersenyum mengerti.

“Kayaknya lo kangen sama Vita.”

“Eh?”

“Iya, enggak?”

“Sedikit.”

“Belum baikkan sampe sekarang?”

Tiara menggelang.

“Kenapa gak minta maaf?”

***

1
Ochi_Ara Alleta
aku kira Vita bakalan gak ada gara2 penyakitnya,tapi gak nyangka banget dia gak ada gara2 kecelakaan pasca lolos dari penyakit kronisnya☹️ini drama mengaduk aduk perasaan banget...menguras emosi,menguras air mata di ujung cerita
Ochi_Ara Alleta
ini skenario terburuk yang pernah kamu buat kak....tapi aku tetep like karya kamu.jahat banget lho kak kamu......
Ochi_Ara Alleta
kok jadi drama kayak gini sih kak😭😭😭😭
Ochi_Ara Alleta
kak Vita sedang berjuang dengan penyakitnya,vindhy....
Ochi_Ara Alleta
gak bisa bayangin,seandainya Vita pas udah gak ada tapi mereka pada belum baikan.....bakal semenyesal kayak apa temen2nya😭😭.waktu gak bisa diputar kembali
Ochi_Ara Alleta
berarti ini yang kemarin Vita kasih tau ke rafka ya???
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
Ochi_Ara Alleta
nangis kejer we😭😭😭😭😭😭
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
Ochi_Ara Alleta
kak Uci ini pindah lapak berbayar???apa emang udah gak nulis cerita lagi ???
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
Ochi_Ara Alleta
next karya ke-2 dr kak Uci yg aq baca❣️❣️❣️
Ochi_Ara Alleta
sad ending😭😭😭
Trusthi Widhi
keren pake bangett😍💝
yul,🙋🍌💥💥💥
ceritanmu kenapa tidak ada oksiginya thor.. bikin aq sesak nafas...
yul,🙋🍌💥💥💥
hik hik hik
MWi
sukaa
MWi
sukaaa
MWi
sukaaaa
MWi
like
Suri Hadassa
Buka Hati sudah mendaratkan jempolnya ❤️❤️❤️

jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊

semangat up Thor 💪💪
Ruliyah Yu Yah
makasih thor udah nurutin emak2 kayak kita buat nerusin ceritanya biarpun yg ngasih jempol dikit.cumungut ya thor lupyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Pitara Lusiana: Thank u udah mau nyempetin baca cerita gak jelas ini
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!