Setelah bertahun-tahun bercerai, dan memiliki jalan hidup masing-masing, api cinta yang pernah membara diantara mereka masih saja terasa.
Dan meskipun telah tertutup oleh debu waktu, akankah takdir dapat membawa mereka kembali bersatu?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Rasa khawatirnya bertambah, usai mendatangi sekolah yang hanya menyisakan guru-guru. Arumni segera mendatangi rumah Zayra yang merupakan teman terdekat Tya, Namun Zayra pun mengatakan tidak bersama Tya sejak pulang sekolah tadi.
Setelah tiga puluh menit kesana kemari mencari anak, sambil terus menghubungi suaminya, akhirnya Arumni menemukan Tya di depan rumah tua yang terbuat dari kayu jati, dia sangat terkejut mendapati anaknya yang sedang berkelahi dengan Rania.
Tya terus ingin memberontak meski sudah dipegang erat-erat oleh salah seorang pria yang berada di sana. Sementara Rania sedang menangis dengan rambut acak-acakan sambil dipeluk oleh seorang wanita.
"Apa yang terjadi di sini?!" Arumni bertanya, mencoba menenangkan situasi.
"Dia memanggil ayahku penjahat!" teriak Tya sekuat tenaga yang dibalas isak tangis dari Rania.
Arumni melihat anaknya yang masih dalam keadaan marah, lalu bertanya, "apa yang kamu katakan, sayang?" Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Tya.
Tya tampak susah payah mengatur napasnya.
"Ibu, siapanya anak ini?" Tanya wanita yang sedang memeluk Rania.
"Aku—aku ibunya," kata Arumni dengan mata berkaca dan suara yang bergetar.
"Anak ibu terus menyerang, Rania." Kata seorang pria yang memegangi Tya.
"Sebentar lagi ibunya akan datang, aku sudah menelponnya." Imbuh wanita yang memeluk Rania.
Arumni memeluk anaknya, merasa bangga dengan anak yang membela ayahnya, namun juga khawatir dengan tindakannya. "Kita tidak boleh berkelahi, sayang. Kita harus berbicara dengan baik," ucap Arumni sambil mengusap punggung Tya, mencoba menenangkannya.
Beberapa saat kemudian, Adit datang bersamaan dengan Winda. Mereka meningalkan tugas masing-masing karena mendengar kabar tentang anaknya yang berkelahi.
Winda segera memeluk anaknya agar bisa tenang. Rania masih gemetar, tatapannya kosong, dan wajahnya pucat. Winda tahu apa yang sedang dirasakan oleh anaknya, karena dia juga masih merasakan luka yang sama.
Rania hampir tidak dapat bicara, hanya mengangguk atau mengelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari ibunya.
"Stop, pak!" Teriak Winda saat Adit hendak mendekati mereka, "sebaiknya kalian pulang." Ucap Winda dengan suara gemetar.
"Tapi bu, kami harus—" kata Arumni yang langsung dicegah oleh Adit.
Winda menatap Adit dengan mata merah dan berair seperti sedang memohon atas sesuatu. Adit langsung mengerti dan menganggukan kepalanya, lalu mengajak anak dan istrinya pulang begitu saja.
Winda tahu, anaknya masih trauma dengan apa yang terjadi di beberapa bulan yang lalu, saat dimana Rania melihat ayahnya ditembak oleh oknum polisi di depan matanya sendiri.
Winda jadi teringat kembali pada hari itu, saat dirinya menerima kabar bahwa suaminya di tembak oleh polisi. Dia berlari ke rumah sakit, namun sudah terlambat. Suaminya meninggal di depan mata anaknya sendiri, meninggalkan mereka berdua dengan rasa sedih yang mendalam.
Winda mencoba kuat meski sebenarnya rapuh. Ia memeluk erat anaknya, mengerahkan kekuatan dan cinta yang dia miliki. "Ibu ada di sini, anakku. Ibu tidak akan meninggalkan kamu," ia bisikan di telinga anaknya, lalu menciumi pipinya yang lembut.
* *
Adit memandang anak perempuannya yang sedang menunduk, masih dengan napas yang tidak teratur. "Tya, apa yang terjadi?" Adit bertanya dengan suara tegas tapi lembut, "kenapa kamu berkelahi dengan teman mu?"
Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh Tya, dia hanya menggelengkan kepalanya, namun amarahnya terlihat sudah mulai mereda.
Adit mencoba menenangkan diri, ia menghela napas dalam-dalam, lalu berjongkok di depan Tya yang duduk di kursi. "Sayang, kita tidak boleh menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Kamu harus bisa berbicara dengan baik, dan mencari solusi yang tepat untuk setiap masalah."
"Tapi Rania mengatakan kalau ayah adalah penjahat, aku nggak terima, ayah." Ucap Tya yang membuat Adit mengangguk.
"Terimakasih sudah membela ayah. Tapi kamu tetap harus belajar untuk mengontrol emosi dan mencari solusi yang tepat untuk setiap masalahmu." Ucapnya yang langsung membuat Tya memahami.
Cairan bening mulai membasahi pipi, "maaf, ayah." Ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Jangan diulangi ya, sayang?" kata ayah dan ibunya secara bersamaan lalu sama-sama memeluknya.
"Ayah pergi dulu, ya?" pamit Adit, setelah mengurai suasana tegang itu.
"Mau ke mana, mas?" tanya Arumni.
"Ayah masih ada sedikit urusan, kalian tunggu di rumah saja, ya?" Katanya, lalu pergi meningalkan Arumni dan Tya di rumahnya.
* *
Adit merasa harus meluruskan masalah anaknya tadi, ia kembali mendatangi rumah Winda, namun tampak terkunci rapat. Mobilnya pun tidak terparkir di depan rumah.
"Kemana mereka, ya?" Gumam Adit sambil bersandar di mobilnya, mengamati rumah Winda yang tampak sepi.
"Cari siapa, pak?" tanya salah seorang warga.
"Saya mencari pemilik rumah ini, namanya bu—"
"Oh, bu Winda?" Potong laki-laki itu yang dijawab anggukan oleh Adit.
"Iya, pak. Bu Winda kira-kira ke mana ya, pak?" tanya Adit.
"Sepertinya ke rumah sakit, anaknya pingsan, tadi buru-buru pergi jadi saya tidak sempat bertanya." Katanya.
"Baik, pak. Terimakasih atas informasinya." Kata Adit lalu bergegas pergi ke rumah sakit.
Di rumah sakit, wanita itu duduk di ruang tunggu, matanya terus menatap nanar ke arah pintu ruang pemeriksaan. Dia menggenggam erat tas yang berada di tangannya, mencoba menahan kecemasan yang semakin meningkat, karena Rania pingsan setelah berkelahi dengan Tya di depan rumahnya sendiri.
Winda masih tidak bisa percaya bahwa Rania bisa berkelahi seperti itu. Karena yang dia tahu Rania adalah anak yang lembut dan tidak suka kekerasan.
"Ini pasti karena ayahnya Tya seorang polisi." Ia bicara sendiri di bangku itu.
Pikiran-pikiran negatif mulai menghantuinya. "Apakah Rania akan baik-baik saja?" Gumamnya lagi.
Winda melihat jam tangannya, sudah 30 menit sejak Rania dibawa ke ruang pemeriksaan. Dia mulai merasa tidak sabar, ingin sekali tahu kabar tentang anaknya itu.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka, dan dokter keluar dengan wajah yang tenang. Wanita itu langsung berdiri, mencari jawaban dari dokter. "Bagaimana kabar anak saya, Dok?" tanya Winda.
Dokter itu tersenyum, "Tenang, Bu. Anak Anda sudah stabil sekarang. Dia mengalami luka ringan dan beberapa goresan di wajah, tapi tidak ada yang serius. Kami akan terus memantau kondisinya, tapi dia akan baik-baik saja." Kata dokter yang membuat Winda merasa lega.
Air mata bahagia mengalir di wajahnya. "Terima kasih, Dok. Apa yang menyebabkan dia pingsan?"
"Dia hanya kelelahan dan stres. Kami akan memberikan dia obat dan memantau kondisinya selama beberapa jam ke depan." Kata dokter yang dijawab anggukan oleh Winda.
Wanita itu jadi merasa lebih tenang. "Terima kasih, Dok. Bisakah saya melihatnya sekarang?"
Dokter itu mengangguk, "Tentu, Bu. Tapi jangan terlalu lama, dia perlu istirahat."
Winda mengangguk, lalu ingin segera masuk ke ruang rawat anaknya.
"Tunggu, bu!" Kata Adit yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Winda menoleh dengan wajah sedihnya, di kota itu dia hanya tinggal berdua dengan anaknya saja, tanpa saudara. Setelah kepergian suaminya, seluruh keluarga dari kota asalnya selalu memandang Winda dengan sebelah mata, dia merasa tersisih akibat meninggalnya sang suami yang di tembak oleh oknum polisi, semua orang jadi mengira suaminya penjahat dan dia mendukung pekerjaan suaminya selama ini. Oleh sebab itulah dia pindah ke kota kecil untuk mencari kedamaian.
Mereka menyempatkan diri untuk membicarakan tentang anak-anak mereka yang baru saja berkelahi. Adit berhasil membujuk Winda untuk memberi ijin, agar dirinya menemui Rania yang masih trauma saat melihat polisi.
Rania masih gemetar ketika melihat Adit yang datang menyambangi dirinya di rumah sakit.
"Tidak apa-apa, nak. Polisi itu datang untuk menjenguk kamu, bukan ingin menyakiti kita," Winda menjelaskan sambil terus memeluk Rania agar lebih tenang.
Rasa takut masih terlihat di wajahnya, namun sudah tidak seperti sebelum ibunya menjelaskan.
Adit mendekat, lalu duduk di sebelah Rania yang masih terlihat trauma saat menatap dirinya. Dielusnya puncak kepala Rania, "Rania, aku tahu kamu pasti ingat apa yang terjadi pada ayahmu. Aku sangat menyayangkan hal itu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa tidak semua polisi seperti itu." Ucapnya lembut.
Rania sudah berani mengangkat dagunya, dia menatap Adit meski masih ada sedikit takut. "Selain polisi, aku juga ayah dari teman mu, kan? Aku janji akan membuatmu merasa aman, jadi Rania jangan takut lagi, ya?" Sambung Adit meyakinkan.
Perlahan Rania mulai mengerti, dia mulai merasa lebih tenang, Adit dapat merasakan pandangan matanya yang lebih percaya.
Rania akhrinya mengulas senyum tipis, "aku percaya padamu, pak polisi." Ucapnya yang membuat Winda dan Adit jadi bahagia.
"Benarkah?" Gurau Adit sambil meyakinkan.
Rania tersenyum sambil mengangguk.
"Jadi sekarang kita teman?"
Rania mengangguk.
"Jadi sudah tidak takut lagi sama polisi?"
Rania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Winda merasa lega, ketika melihat anaknya yang sudah tidak takut lagi dengan polisi. Rasa trauma yang menghantui Rania dalam beberapa bulan terakhir, kini mulai memudar berkat penjelasan dari Adit.
...****************...