NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulai dekat?

  Setelah masuk, Winda langsung meletakan tas dan sesuatu yang dia bawa. Winda duduk di samping Rama, dipandangnya wajah pucat dan keringat yang membanjiri dahinya.

  "Kemarin kamu masih baik-baik saja, Rama. Ini pasti karena kamu buru-buru pulang, jadi kena air hujan." Kata Winda sambil memegang dahinya, "panas sekali, sudah minum obat belum?" tanya Winda yang dijawab gelengan kepala oleh Rama.

 Galih semakin tidak nyaman, "kenapa ibu malah nyuruh bu Winda datang ke sini? Sengaja banget pasti ini ibu." Batin Galih kesal.

  "Loh kok, belum?" Winda menatap Galih, "pak Galih juga belum minum obat?" tanya Winda yang membuyarkan lamunannya.

 Galih tak menjawab, pandangannya tertuju pada obat yang masih utuh diatas meja, yang langsung membuat Winda mengerti.

  "Emm, ya sudah. Sebelumnya aku minta maaf ya, pak Galih. Aku mohon ijin ke dapur," ucapnya.

  Galih tersenyum paksa sambil menahan tulang yang terasa ngilu, "iya bu Winda, silahkan." Katanya.

  Bu Winda mengangguk, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air putih, piring kosong dan pisau untuk mengupas buah. Meski baru pertama masuk dapur bu Susi, namun Winda langsung paham dimana letak-letak barang yang dia cari.

  "Kak Rama, kalau demam harusnya segera minum obat, atau periksa ke dokter biar cepat sembuh." Kata Rania.

  "Iya, Rania. Mbah ibu sudah menyiapkan obat, tapi aku sama ayah nggak minum." Kata Rama dengan tubuh yang mengigil.

  Winda datang, sambil mengamati wajah Galih yang terlihat tidak nyaman. Ia meletakan piring, membuka bungkus makanannya, lalu mengupas buah yang dia bawa. Meski menyadari tidak nyamannya Galih, namun Winda tetap melanjutkan niat yang sudah ada di dalam hatinya.

  "Aku minta maaf ya, pak Galih." Ucapnya sambil menunduk mengupas buah, "sebenarnya di sini aku tidak punya keluarga sama sekali. Jadi, aku sangat senang punya murid seperti Rama, bukan hanya karena kepintarannya. Tapi dia mau dekat sama aku, dan—" ia menjeda ucapannya, lalu menghela napas, "dan saat dia meminta aku mengenal keluarganya, aku sangat senang sekali. Aku jadi merasa, kalau aku di sini tidak sendirian." Katanya, yang membuat Galih jadi membuka suara.

  "Terimakasih bu Winda sudah bersedia datang ke sini, maaf kami jadi merepotkan." Ucapnya datar.

  "Dengan senang hati, pak Galih. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, tapi maaf lo ini, aku terlalu bebas di sini."

  "Tidak masalah bu Winda." Jawab Rama, "anggap saja ini rumah bu Winda sama Rania, biar kita seperti keluarga." Ucap Rama yang membuat sang ayah melotot ke arahnya.

  Seketika wajah kakunya berubah menjadi senyum paksa, saat Winda tiba-tiba menoleh ke arahnya.

  "Pak Galih tahu?" tanya Winda. "Ayahnya Rania hampir tidak pernah sakit." Ia kembali menjeda ucapannya, suaranya seperti tertahan di tenggorokan yang membuat Galih sedikit luluh hatinya. Bibirnya mengukir senyum, namun matanya basah, "ayahnya Rania kalau sudah ada indikasi, justru menjaga tubuhnya selalu bersih, perutnya dibuat kenyang, banyak-banyak minum air putih untuk mengantikan cairan tubuh yang hilang karena keringat. Sama satu lagi, dia pasti istirahat cukup. Aku hampir nggak pernah lihat ayahnya Rania seperti pak Galih."

  Winda terdiam kala menyadari dirinya terlalu banyak bicara, "maaf, aku jadi curhat." Katanya.

  "Nggak apa-apa, bu Winda. Bu Winda benar, iya kan ayah?" kata Rama yang dibenarkan oleh Galih.

  "Baiklah, jika pak Galih dan Rama ingin seperti ayahnya Rania, silahkan makan makanan yang sudah aku bawa ini, ya. Sedikit juga nggak masalah, yang penting perutnya terisi," ucapnya sambil memberikan makanan untuk mereka.

 Ucapan Winda membuat Galih dan Rama ingin meniru ayahnya Rania. Mereka makan, minum obat, lalu beristirahat.

  "Ibu, pak Galih sama kak Rama sedang tidur, sebaiknya kita pulang saja." Ajak Rania yang dijawab anggukan oleh ibunya.

  "Iya, ibu bereskan barang-barang dulu, ya." Kata Winda, lalu membuang bungkus makanan dan kulit buah yang masih berada di atas meja itu.

  Sebelum keluar dari rumah bu Susi, Winda sudah membersihkan meja dari sisa makanan dan juga mencuci piring.

  * *

   "Mbah ibu...!" teriak Tya sambil berlari ke arah bu Susi yang sedang mengecek catatan di pasar.

"Tya, kamu ke sini sama siapa?" tanya bu Susi sambil celingukan. "Di mana ibumu?"

"Ibu masih belanja, aku mau nunggu di sini." Katanya.

Bu Susi menganggap Tya seperti cucunya sendiri. Saat Tya menyusul ke pasar, bu Susi menawarkan berbagai macam barang dan makanan yang mungkin Tya sukai.

"Wah, anak siapa ini, bu?" tanya bu Neli, saat melihat Tya pertama kali datang ke kios bu Susi yang sebelumnya disewa orang lain.

"Ini anaknya Arumni, bu Neli." Kata bu Susi yang membuat bu Neli tersenyum lebar.

"Cantik sekali? Namanya siapa, dek?" tanya bu Neli.

"Tya," jawabnya sambil mencium tangan bu Neli.

"Arumni sampai punya anak sebesar ini, aku baru tahu." Kata bu Neli heran.

Bertahun-tahun bu Susi tidak berjualan membuat bu Neli tidak tahu perjalan hidup mereka, yang ternyata Galih dan Arumni sudah berpisah sejak lama.

Mereka jadi mengobrolkan banyak hal, hingga Arumni datang untuk menjemput Tya.

Bu Susi langsung melebarkan tangannya saat menyambut kedatangan Arumni. Lalu mereka saling sapa, bu Susi juga memperkenalkan dua karyawan barunya pada Arumni.

"Alhamdulillah, usaha ibu semakin lancar." Kata Arumni.

"Iya, ibu sangat bersyukur atas ini semua." Kata bu Susi yang tiba-tiba teringat sesuatu, "oh ya, Arumni. Galih sama Rama lagi pada sakit di rumah." Katanya.

"Sakit? Sakit apa, ibu? Perasaan kemarin baik-baik saja." Kata Arumni.

"Iya, mbah ibu. Om Galih sama kak Rama sakit apa?" timpal Tya.

"Demam, badanya panas banget, tapi tetap ibu tinggal, soalnya tadi banyak pelangan yang sudah menelpon ibu. Tapi ibu sudah meningalkan makanan dan obat di meja mereka."

"Ditinggal? Harusnya ibu paksa mas Galih dulu, bu. Aku yakin makanan sama obatnya masih utuh." Kata Arumni.

"Oh, iya ya, Arumni. Ibu nggak ingat kalau Galih susah minum obat," ucap bu Susi yang langsung teringat akan sesuatu. "Tapi aku sudah menyuruh Winda untuk menjaga mereka," kata bu Susi yang membuat kelopak mata Arumni melebar.

"Winda? Siapa Winda, ibu?" Entah mengapa hatinya berdebar saat bertanya hal itu.

"Oh iya. Ibu belum cerita sama kamu ya? Jadi, Winda itu ibu gurunya Rama yang baru mulai mengajar awal tahun ini, Rama sangat dekat dengannya. Tadi dia datang ke sini, makanya ibu suruh ke rumah saja buat ngurus Rama sama Galih."

"Jadi mas Galih sudah mulai dekat sama wanita? Syukurlah kalau begitu." Bathin Arumni.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!